
Satria menapaki jalanannsemak belukar. Ia memanggul tas ransel dipundaknya. Ia menyibakkan semakkan dengan menggunakan sebilah golok yang dipegangnya.
Suara nyanyian alam yang dihasilkan oleh hewan-hewan liar terdengar riuh bersahutan.
Seorang pemuda yang selama ini hidup dengan kemewahan dan dimanjakan, kini harus berada dihutan belantara tanpa kawan, sendirian, dan melewati semua kesakitan.
Seekor ular kobra raksasa sebesar pohon kelapa berusia ratusan tahun sedang melingkar ditanah dengan menegakkan kepalanya. Sembari memejamkan matanya.
Suara derap langkah dan tebasan golok untuk membuka jalan yang berasal dari golok Satria membuatnya merasa terusik.
Ular kobra raksasa berwana hitam pekat itu membuka kedua matanya. Ia mewaspadai sesuatu yang datang. Satria telah mengusik pertapaannya.
Seketika Ia menjalar membentangkan diri untuk menghalangi jalan Satria.
Kreeeees...
Tanpa sengaja golok Satria mengenai sesuatu. Satria menghentikan langkahnya, lalu memeriksa sesuatu yang berada didepannya.
Benda berwana hitam dan bersisik menghalangi jalannya. Satria membeliakkan bola matanya, goloknya yang menggores kulit tebal benda didepannya hanya sebuah goresan bisa saja.
Sebelum sempat pemuda itu sadar dari tercengangnya, Benda hitam yang merupakan ular raksasa tersebut dengan cepat melingkarkan tubuhnya diatas tanah yang penuh dengan rerumputan.
Satria memandang keatas melihat tubuh seekor ular raksasa yang menjulang tinggi dan siap memangsanya hanya dengan satu telan saja.
"Apa yang kau lakukan dihutan ini hai anak muda..?" tanya ular itu dengan suara menggema. Jika ditelisik dari suaranya, ular itu berjenis jantan.
Satria kembali tercengang mendapati ular itu dapat berbicara dengannya.
"A..aku tidak berniat mengusikmu, aku memiliki sebuah keperluan lain yang sangat mendesak, maka jangan halangi langkahku, karena aku juga tidak berniat menghalangi langkahmu, maafkan aku jika tanpa sengaja melukaimu kulitmu.." jawab Satria setenang mungkin, meskipun hatinya sedikit gentar.
Ular itu merundukkan kepalanya uang semula tinggi tegak. Lalu Ia mensejajarkannya dengan Satria. Kepala Ular itu tepat berada didepan wajah pemuda yang kini siap untuk ditelannya.
__ADS_1
Satria menatap mata ular tersebut dengan sendu. Lalu ular itu menatapnya dengan tatapan tajam. "Kau sudah lancang memasuki hutan ini, maka kau harus menerima akibatnya.." jawab Ular itu dengan suara lantangnya. Tubuhnya meliuk bagaikan seorang penari.
"Maafkan aku, maafkan aku sekali lagi.. Aku tidak berniat mengusikmu, maka menyingkirlah dari jalanku.." ucap Satria dengan tenang.
Ular itu bergerak mengitari tubuh Satria, lalu dengan cepat melilitkannya. Satria merasa sangat sesak untuk bernafas.
"Heei.. Lepaskan aku.. Apa masalahmu padaku..? Aku tidak memiliki urusan denganmu.." teriak Satria dengan kesal.
Namun, ular tersebut tidak memperdulikan Satria yang terus mengomel dan mencoba meloloskan dirinya dari lilitan ular tersebut. Ular itu membawanya kesuatu tempat.
Sebuah Istana megah bak berada disebuah kerajaan yang sangat indah. Duduk seorang puteri nan cantik jelita disinggasana ke besarannya. Namun sayang, puteri itu adalah siluman ular.
Melihat ular raksasa datang membawa bangsa manusia kedalam istnanya, Ia seketika beranjak dari duduknya, lalu menghampiri ylar raksasa tersebut yang kini dengan sangat mudahnya melemparkan tubuh Satria dilantai istana.
Melihat ketampanan Satria, seketika sang puteri jatuh cinta. Ia begitu terpesona akan ketampanan pemuda dihadapannya, serta keluhuran hati pemuda itu.
"Siapakah dia Bopo..? tanya sang puteri kepada ular raksasa yang dipanggilnya Bopo.
"Dia adalah bangsa manusia yang telah lancang memasuki kawasan hutan terlarang.. Maka Ia kini menjadi tawananmu.. Kau boleh memperlakukan apapun terhadapanya, termasuk menjadikannya budakmu.." jawab ular raksasa itu dengan tatapan seringai kepada Satria.
Seketika Satria tersadar, jika kini Ia telah ditawan oleh makhluk dari bangsa jin, dan Ia harus mencari cara untuk meloloskan dirinya.
Ular raksasa hitam itu seketika menghilang setelah melemparkan tubuh Satria.
Kini tinggal Satria dan ular siluman betina itu beserta para dayang dan pengawal istana.
"Pergilah kalian semuanya, jangan kembali sebelum aku minta, tinggalkan aku bersama anak manusia ini.." titah puteri siluman ular itu kepada para pelayannya.
Seketika mereka merundukkan tubuhnya memberi hormat dan mematuhi titah sang puteri, lalu mereka menghilang dari hadapan puteri siluman ular dan Satria.
Setelah semuanya pergi. Puteri siluman ular merubah wujudnya menjadi seorang puteri nan cantik jelita. Keelokan tubuh yang tergambar begitu sempurna bagi pria yang memandangnya.
__ADS_1
Pakaiannya yang menggoda, akan membuat siapa saja terpana dibuat oleh keelokan wujudnya. Ia berjalan dengan begitu anggun, mendekati Pemuda yang kini masih bingung dengan apa yang dilihatnya.
"Jangan mendekatiku..! Kau telah menodai mataku yang masih suci.." jawab Satria sembari memalingkan wajahnya dari sang puteri Ular.
Seketika sang puteri telah berada tepat dihadapan wajah Satria telah menolak memandangnya.
Seketika Satria merasa.kaget, karena siluman itu tiba-tiba berada tepat dihadapannya tanpa sehelai benangpun.
Satria segera memejamkan matanya, mencoba menghindari pandangan matanya. "Apakah kau tidak menginginkanku..? Lihatlah aku.. Aku akan memuaskanmu dengan sesuatu yang belum pernah kau rasakan sebelumnya.." ucap Puteri siluman itu mencoba merayu Satria.
"Pergilah.. dan lepaskanlah aku.. Karena aku memiliki sebuah misi yang masih belum kuselesaikan.." Ucap Satria mencoba memberikan pengertian kepada puteri siluman ular itu.
Sssssssshhhhts...
Terdengar suara desisan dari sang puteri. Ia merengkuh tubuh Satria dalam dekapannya, melepaskan tas ransel yang berada dipunggung pemuda itu dan menjatuhkannya kelantai.
Satria menggigil ketakutan dengan perlakuan sang puteri siluman. Bagaimanapun Ia adalah seorang lelaki normal. Mendapatkan perlakuan yang sungguh menggairahkan seperti itu tentulah sangat menggetarkan naluri kelakiannya.
sang Puteri siluman tentu mampu membaca isi hati pemuda tersebut yang kini berusaha berjuang meredam hasratnya.
"Puaskanlah aku, maka aku akan melepaskanmu.." ujar Sang Puteri yang terus saja memberikan sentuhan yang sangat membuat terbakar hasrat kelakian sang Pemuda.
"Pergilah.. Sebelum aku melakukan hal kasar terhadapmu.." ujar Satria yang mencoba menguasai kesadarannya.
"Aku ingin melihat seberapa besar imanmu dalam menolak sesuatu yang tersaji dalam sebuah kesenangan surgawi. Apakah kau tidak ingin mencobanya..? Pandanglah aku.. Aku akan memberikannya untukmu, sesuatu yang belum pernah kau rasakan sebelumnya.." bisik sang puteri tepat ditelinga Satria.
Bukan saja hal yang menggiurkan ditawarkan sang Puteri Siluman, Namun semua kemewahan dunia telah dijanjikannya jika Satria mau menjadi budak kesenangan surawinya.
Sentuhan demi sentuhan yang terus melenakan pemuda itu gencar diberikan oleh sang puteri Ular. Siliman itu terus membuat Satria terpedaya dengan pesona kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Ia merasakan sebuah kemenangan telah menanti dihadapannya, Ia hanya tinggal selangkah lagi menyeret Satria kedalam jurang perbudakannya.
Sang Puteri siluman tersenyum menyeringai saat melihat Satria yang mulai tampak oleng dengan semua hasrat yang menggelora.. Ia sangat yakin jika sebentar lagi Satria akan menjadi tawanannya yang sejati..
__ADS_1