
Shinta yang kini mengetahui jika Satria adalah kakaknya Hadi, seakan tak percaya dan menjadi ragu akan perasaannya kepada Hadi. "apakah aku pantas untuknya? Dan betapa malunya aku, saat melihat wajah Satria, pernah menyaksikanku digilir Rey dan yang lainnya saat hendak menyelamatkan kedua kakak beradik itu.
Sejak penyelamatan Shinta dari penyekapan yang dilakukan oleh Rey dan Rianti. Shinta banyak sekali mengalami penderitaan dan penyiksaan. Bahkan Shinta pernah beberapa kali mengalami keguguran. jika ditelisik, maka bukankah sebagai wanita Ia akan disebut gadis bukan perawan? dan hal ini akan membuatnya merasa minder, saat ingin memperjuangkan cinta Hadi, si pemuda polos.
"aku hanya seorang gadis yang mirip bagaikan pungguk merindukan bulan. Rasa cintaku padanya, hanya sebuah angan yang tak mungkin dapat tercapai.." Shinta duduk dikursi ruangan magangnya, menyandarkan punggunya disandaran kursi, dan menyedekapkan kedua tangan didadanya .
Ia memejamkan matanya, mencoba membuang bayangan akan wajah Hadi, namun semakin Ia membuangnya, semakin hadir wajahnya, dengan senyum yang begitu menawan hatinya, sehingga Ia tersenyum sendiri membayangkan wajah pemuda itu, Terkadang bersikap konyol, dan juga polos, terkadang juga dapat menjadi dewasa. Semuanya menjadi paket complite yang lengkap, dan menjerat hatinya.
Hadi tiba-tiba memasuki ruang magang Shinta. Ia yang memiliki sedikit keperluan dengan gadis itu, tiba-tiba saja kaget melihat Shinta sudah berkhayal dipagi hari. "Ya elah.. Ne anak pagi-pagi dah bekhayal jorok deh.." Hadi menggerutu dalam hatinya. Namun Ia berniat ingin mengerjai teman maganyanya yang masih larut dalam khayalan.
Hadi meletakkan kedua siku tanganya diatas meja, lalu menopangkan dagunya diatas telapak tangan kekarnya. Ia memasang wajah manyun dan ingin mengagetin Shinta.
"apakah yang membuatmu tersenyum dipagi ini..?" tanya Hadi dengan suara lembut menggoda Shinta.
Shinta yang mengira suara itu adalah halusinasinya, menjadi semakin bekhayal dengan angannya. "Hadi.. " bisiknya lirih, tanpa membuka matanya.
""Iya.." jawab Hadi, Ia semakin meras geli, karena Shinta ternyata sedang benar-benar berhalusinasi.
"Maukah kau.." Shinta menggantung ucapannya.
"iya.. Aku mau sarapan pagi, maukah kau membelikannya untukku?" jawab Hadi dengan nada yang dibuat sengau. Ia semakin merasa jika Gadis itu sedang mengkhayalkannya.
Shinta yang merasa curiga dengan suar sengau tersebut, merasa tersentak. Ia ingin memastikan apakah ini nyata atau hanya khayalannya. Ketika Shinta membuka matanya, Ia melihat wajah konyol Hadi tepat dihadapannya. Dengan rasa kaget Ia terlonjak.. "Haaah..!! Hadi, kamu ngagetin tau..!!" Antara kaget dan Malu menjadi satu. Ternyata Ia kepergok sedang berkhayal tentangnya.
"weei.. Kamu pagi-pagi sudah mengkhayalkanku..? Emang kamu mau apa..? mau minta traktir sarapan atau mau yang lainnya? Atau kamu lagi berkhayal jorok tentang aku ya.?" Hadi mencecarnya dengan pertanyaan konyol, sembari menaik turunkan kedua alisnya. Membuatnya semakin merasa malu sampai ke ubun-ubun. Wajahnya bersemu merah dan semakin gelisah.
Shinta memanyunkan bibirnya, lalu beranjak dari kusrinya, dan hendak keluar dari ruangan, untuk mencari sarapan, dan tentunya menghindari pria yang kurang peka itu.
Jika dilihat dari penampilan fisik, tentu Shinta adalah gadis cantik nan aduhai.. sebuah kesempurnaan yang tak dapat dipungkiri bagi kaum Adam yang melihatnya.
Visual untuk Shinta ya.. Mudah-mudahan syuka..
__ADS_1
Shinta sudah berjalan menyusuri koridor puskesmas yang tampak memanjang. Ingin rasanya Ia memakai sebuah topeng dan menyembunyikan wajahnya disana. Ia begitu sangat malu saat kepergok Hadi tadi.
Namun berbeda bagi Hadi, Ia menganggap semua itu hanya angin lalu, dan tidak mempermasalahkannya. Seorang pemuda yang tidak peka.
Hadi mengekorinya, lalu mensejajarkan dirinya disisi kanan Shinta, sehingga membuat jantung gadis itu semakin tak menentu. "Heii... Pelan sedikit donk jalannya, kamu mau beli sarapan dan traktir aku kan?" bisik Hadi ditelinga Shinta. Membuat Gadis itu bergidik merinding.
"Gak..akh.." sahut Shinta, semakin mempercepat langkah.
"heeei.. Bukankah tadi kamu yang bilang sendiri..?" cecar Hadi.
"kapan..??!" Shinta mengeryitkan keningnya.
"Waktu mengkhayal tadi.. Bukannya kamu bilang..Hadi maukah kau..?" Hadi menirukan ucapan Shinta saat berada diruangan tadi..
Shinta membulatkan matanya dan terperangah. lalu menepuk keninganya.. " oh..Tuhan, mengapa aku bisa jatuh hati pada pemuda yang tidak peka ini..?" Shinta berguman nelangsa didalam hatinya.
"Ya sudah.. Kalau kamu gak punya uang, biar aku yang traktir kamu.." ucap Hadi sembari menggandeng pergelangan tangan Shinta, yang semakin membuat gadis itu tak berdaya.
Sesampainya dikantin puskesmas, Hadi membawa Shinta pada meja yang masih kosong. "Nah.. Kita duduk disini saja, kamu mau pesan apa?" tiba-tiba saja Hadi berkata lembut, membuat Shinta semakin meleleh.
"emmm..ngikut kamu saja..?" jawab Shinta sekenanya.
"jangaan.. Kamu jangan ngikut saya.." tiba-suaranya kembali konyol.
Shinta tidak dapat menebak pribadi Hadi yang terkadang berubah-ubah.
"Ya sudah..aku pesan lontong sayur saja." jawab Shinta ketus. baru saja tadi hatinya berbunga, kini harus layu lagi sikap konyol Hadi.
"naah.. Aku juga pesan lontong kok.." jawab Hadi tanpa dosa. Membuat Shinta menggelengkan kepalanya. "bukannya tadi kamu bilang aku gak boleh ngikut..?! Tapi sekarang kamu yang ngikut saya..?!" tanya Shinta kesal.
"lho.. Emang kamu gak boleh ngikut saya.." ucap Hadi seenaknya, membuat hati Shinta sedikit tergores luka.
"emang kenapa..?" tanya Shinta yang kini mencoba menahan bulir bening dimatanya, Ia tidak ingin sampai Hadi tau tentang perasaannya saat ini.
__ADS_1
"ya..Karena saya saat ini saya sedang sesak pipis.. Kamu gak boleh ikut, tunggu pesanannya sampai datang." Hadi mengingatkan, lalu beranjak bangkit dari duduknya.
Shinta melongo tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Hadi.. "Oh Tuhan.. Betapa konyolnya Dia.." Shinta tidak tahu, apakah Ia harus menangis atau tertawa untuk kelakuan Hadi yang gak ada peka-pekanya.
Saat akan melangkah kekamar mandi, Hadi berbalik menghadap Shinta, sembari kembali menggoda gadis yang sedang galau itu. "kamu jadi ikut gak..?" sembari tersenyum menggoda Shinta.
Dengan membulatkan matanya, Shinta mengambil tissu yang ada diatas mehmja, menggulungnya menjadi bola kecil lalu melemparkannya kepada Hadi. Lau seenaknya saja ia berlalu pergi menuju kamar mandi.
-------♡♡♡♡♡-------
Pesanan telah datang, dua porsi lontong sayur dan dua gelas teh manis telah terhidang di atas meja.
Hadi sudah selesai dengan ritual kamar mandinya. Lalu menghadap pesanannya. Tetapi Ia merasa kurang puas ." buk dhe.. Bakwannya 5 ya.." teriak Hadi kepada ibu pemilik kantin.
Shinta tak percaya, jika Hadi memiliki selera makan yang tinggi. Pantesan saja badannya gede, makannya banyak sih.. " celetuk Shinta menyindir Hadi.
orang uang disindir hanya tertawa renyah, gak begitu serius menanggapi ocehan Shinta.
Wanita yang dipanggil buk dhe itu mengacungkan jempolnya. Lalu, membawa pesanaan yang diminta Hadi.
Ia meletakkan pesanannanya. "waaah.. Pacarnya kak Hadi cantik sekali ya.." celetuk Buk Dhe sembari melirik Shinta.
Seketika Shinta tersedak dan terbatuk mendengar ucapan Buk dhe. Lalu mengambil minum untuk meneguknya.
"ah.. Masa sih Buk dhe..? Buk dhe liatnya dia cantik pasti dari lubang sedotan ya.?" uacp Hadi sembari menguyah sarapannya.
Shinta menginjak kaki Hadi dengan cepat, membuat Hadi terpekik, dan meringis. Lalu Hadi terkekeh melihat wajah manyun Shinta.
"Beneran lho Nak Hadi.. Cantik, pakai banget.." jawab Buk dhe jujur. lalu beranjak pergi.
"tuu.. Terimakasih ma Buk dhe.. Udah bilang kamu cantik." Hadi kembali menggoda Shinta.
Shinta semakin memanyunkan bibirnya, lalu menghabiskan dengan segera sarapannya.
__ADS_1