
Mala membuka isi kantong kresek yang dibawa oleh Bayu. Ada beberapa lauk pauk yang tersedia didalamnya.
"Kita buat telur dadar saja Shin, buat tambahannya, ini ada banyak lauk, tinggal memindahkan wadahnya saja." ujar Mala, lalu memindahkan lauk pauk itu kedalam wadah keramik.
Sudah sangat lama Mala menginginkan wadah prasmanan, agar jika ada tamu yang datang dapat menata hidangan dengan sangat simple, namun Ia tidak berani meminta kepada anak-anaknya, karena selama ini anak-anaknya sudah menanggung semua kebutuhannya, dan harga prasmanan itu sangat mahal.
Shinta beranjak membuat telur dadar yang dititahkan Mala, sementara itu, Mala menyalin semua lauk yang dibeli oleh Bayu.
Sementara itu, diruangan tengah suasana seperti tampak kaku. Bayu merasa bingung mengenalkan dirinya dan menysusn kalimat yang tepat untuk memeperkenalkan diri kepada ketiga pria tersebut.
"Emmmm...perkenalkan.. Saya suami Mala.." ucap Bayu dengan gugup.
Meskipun ketiganya sudah mengetahuinya, namun tetap saja mereka memandang dengan kaget, dan tak tahu harus berkata apa.
Disisi lain, Mala yang sedang menyalin lauk pauknya begitu amat bergetar dan thremor, saat Bayu memperkenalkan dirinya kepada ketiga pria tersebut.
Mala merasa sangat sungkan terhadap Hamdan, selaku mantan kakak iparnya. Dimana Ia merasa jika Hamdan akan berfikir Ia telah mengkhianati Adiknya, Roni yang baru saja meninggal dan belum genap 100 hari.
Mala beranggapan, jika nanti mereka menganggap Ia begitu mudah dan cepatnya melupakan Roni, apakah mereka nanti percaya akan apa yang ingin dikatakannya.
Mala dalam dilema, hatinya kalut, dan tak tau harus berkata apa.
Ketiga pria itu saling pandang, saat Bayu memperkenalkan dirinya. Mereka sudqh menduga sebelumnya siapa Bayu, karena Ia begitu bebas memasuki rumah Mala.
"Bagaimana kamu dapat kemari..?" tanya Chandra penasaran.
Bayu terdiam dan menghela nafasnya sejenak. "Setelah Aku resigin dari Perusahaan Bram, Aku mencoba suasana baru, ingin kembali kekampung Pamanku yang rumahnya terbenhkalai." ucap Bayu berbohong, padahal Ia sengaja untuk mengikuti Mala.
Deeeeeegh..
"Paman..? Jadi Almarhum Reza adalah Pamannya Bayu.." Mala berguman dalam hatinya, mendengar pengakuan Bayu. "Bagaimana jika Ia sampai tahu jika Bang Roni adalah pembunuh Pamannya.." Mala mulai resah dan memucat. Namun Ia berusaha untuk menyembunyikan kekatukatannya.
Mala berusaha untuk tenang, dan bersikap biasa saja, namun Ia tidak membayangkan jika sampai Bayu mengetahui bahwa Roni adalah pembunuh pamannya, akankah Bayu juga menyeretnya kejalur hukum.
__ADS_1
Sementara itu, Hamdan sedari tadi terus memperhatikan gerak ketidak nyamanan keris yang bersarang didalam tubuh Bayu. Ia dapat mengetahui jika saat ini Bayu merasakan rasa nyeri didalam perutnya, meski Ia mencoba menutupinya.
Hamdan kemudian mencoba tidak berpura-pura memperhatikannya, agar Ia dapat mencari waktu yang tepat untuk memusnahkan keris tersebut.
Dari arah dapur, tampak Mala menghidangkan makan siang diatas karpet yang terbentang diruang keluarga. Shinta ikut membantunya.
"Ayo makan siang.." ajak Mala kepada ke empat pria yang berada didepan ruang tamu.
"Mari, silahkan.." ajak Bayu, seolah-olah pemilik rumah.
Chandra merasa jengah dengan sikap Bayu yang seolah-olah sebagai pemilik utuh rumah dan Mala.
Bayu beranjak dari duduknya, lalu diikuti ketiga pria tersebut.
"Ayo Pa, paman.. Kita makan siang dulu.. Dah keroncongan ne perut.." ucap Hadi sembari mengusap-ngusap perutnya.
Mereka telah berkumpul diruang keluarga dengan menghadap hidangan. Shinta mencoba mengambilkan nasi berserta lauknya untuk Hadi sang suami. Baginya Hadi adalah anugerah cinta yang dikirimkan oleh Allah untuknya, sehingga Ia harus memperlakukannya dengan sangat istimewa.
Sementara itu, Mala tetlihat duduk menjauh dari Bayu. Chandra merasakan kejanggalan atas hubungan Mala dan Bayu yang tampak sangat kaku.
Chandra meraasakan jika nasi yang ditelannya searasa bagai duri, sebingga begitu sulit untuk menelannya.
Hingga akhirnya makan siang berakhir, Mala dan Shinta mebereskan sisa makanan dan membersihkannya, lalu keeempat pria itu kembali bersantai diruang tengah.
"Maaf, saya ada pekerjaan, saya tinggal dulu.. Silahkan bersantai.." ucap Bayu, yang ingin beranjak pergi dari ruang tamu.
"Tunggu..! Jam berapa kamu kembali..?" tanya Hamdan mencegah.
"Biasanya sore, sekitar pukul 6 sore.. Ada apa ya Mas.?" tanya Bayu penasaran.
"Tidak ada apa-apa.. Hati-hati dijalan.." ucap Hamdan berusaha tenang.
"Iya Mas.. Saya permisi dulu" ucap Bayu sembari melangkah keluar rumah. Lalu terdengar suara deru mesin mobil yang meninggalkan halaman rumah.
__ADS_1
Chandra tampak merebahkan tubuhnya disofa. Sementara Hamdan tampak mengedipkan matanya kepada Hadi, lalu beranjak pergi menuju halaman rumah, dan duduk dibawah sebuah pohon nan rindang.
Hadi yang mengerti maksud dari Hamdan sang Paman lalu beranjak keluar mebgikuti pamannya.
Hadi ikut duduk disisi kanan Hamdan." Bagaimana Paman..? Apakah Ia dapat dipercaya untuk menjadi pendamping hidup Ibu..?" tanya Hadi meminta pendapat pamannya.
Hamdan menghela nafasnya dengan berat. "Sebenarnya Ia orang yang memiliki pribadi sangat baik. Namun warisan ilmu hitam yang bersarang ditubuhnya harus dibersihkan terlebih dahulu, jika tidak, bukan hanya membahayakan Ibumu, tetapi juga Dirinya dan juga Shinta yang kini sedang mengandung." ucap Hamdan dwngan berat.
Deeeeeeegh..
"Sebahaya itukah pengaruhnya..? Lalu mengapa Shinta harus ikut terimbas.?" tanya Hadi penasaran.
"Ilmu hitam itu adalah warisan dari leluhurnya yang memiliki dendam kepada leluhurmu mbah Karso. Maka janin yang berada didalam rahim Shinta adalah garis keturunan Mbah Karso juga, maka Ia ingin membalaskannya juga." ucap Hamdan menjelaskan.
Hadi merasakan ketakutakan yang luar biasa. " Bagaimana agar Shinta tidak terkena imbasnya..?" tanya Hadi meminta solusi.
"Perintahkan kepada Shinta agar selalu berdzikir meminta perlindungan kepada Allah selama berada disini, dan hembuskan ketelapak tangannya, lalu usapkan keseluruh tubuhnya." titah Hamdan mengingatkan.
Hadi menganggukkan kepalanya, menyetujui perintah Hamdan.
"Kapan waktu yang tepat untuk memusnahkan ilmu hitam yang bersarang ditubuh Suami baru Ibu..?" ucap Hadi, yang belum bisa menyebut kata Ayah untuk Bayu, karena Ia juga butuh waktu untuk menyesuaikan dirinya.
Hamdan tampak gelisah. "Kekuatan Iblis itu sangat kuat, namun akan saya usahakan semaksimal mungkin, agar keluarga ini hidup dengan damai dan tentram.." Janji Hamdan dengan bersungguh.
Sementara itu Chandra yang bersantai disofa, sesekali melirik kearah Mala yang tampak sibuk didapur. Shinta tak dapat membantu banyak, karena Ia mudah lelah, dan Mala memintanya untuk beristirahat.
Shinta memasuki kamarnya, untuk beristirahat. Ia sempat melihat sikap papanya yang sedang memperhatikan Mala didapur. "Semoga Papa bisa move on dengan menerima kenyataan, jika Ibu mertuaku bukanlah jodohnya.." Shinta berguman dalam hatinya, lalu masuk kedalam kamarnya dan beristirahat.
Tak berselang lama, tampak Mala melintasinya dan mengarah kedalam kamar. "Brengsek si Bayu.. Pasti Dia sudah berbulan madu dengan Mala dan merasakan semua keindahannya.." Fikiran kotor Chandra mulai berkelana dan dan membayangkan hal-hal kotor.
Sementara itu, Mala sedang berfikir didalam keras kamar. Bagaimana malam nanti jika ketiga pria itu tak melihatnya sekamar dengan Bayu, terutama Chandra.
"Apakah ini kesempatanku, untuk memanasi Chandra agar tidak lagi mengejarku..? Tetapi aku juga belum bisa menerima kehadiran Bayu dihidupku.. Aku harus bagaimana.?" Mala merasa dilema.
__ADS_1
Wanita itu bagaikan buah siamalakama. Merasakan jika semua yang akan dilakukannya serasa serbah salah.