
seorang pemuda tampan sedang berada disebuah laboratorium. Ia sedang melakukan uji coba serum yang efektif untuk melawan serangan Virus yang sedang mewabah.
pemuda bernama Satria, sedang begitu fokus dengan berbagai zat kimia yang berada pada tabung-tabung kaca yang beranekan bentuk dan ukuran.
seorang gadis cantik mendekatinya. "Hai..Sat.. Gimana hasil uji cobamu? berhasil..?" cecar sigadis.
Satria menoleh padanya, hanya tatapan teduh dan juga dingin. tak ada jawaban.
Satria adalah mahasiswa kedokteran semester 6. Ia tergolong mahasiswa genius. namun sikapnya sangat dingin, irit bicara.
Sinta, sigadis cantik yang menjadi Primadona di kampus, sudah berulangkali ingin menaklukkan hati si Pemuda dingin itu, namun tak jua membuahkan hasil.
Namun, Sinta bukanlah type cewek yang mudah menyerah. Ia tak akan mundur, sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.
Satria tak menggubris ucapan Sinta, Ia terus fokus memperhatikan reaksi kimia yang sudah dicampurkannya sesuai analisinya. namun masih gagal.
Satria, si pemuda dingin, keluar dari ruangan laboratorium, Ia berjalan dikoridor kampus. hingga terdengar suara kegaduhan dibelakang kampus.
"Ampun kak...ampun..jangan pukul saya lagi..?" ucap Seorang pemuda tampan yang dibully oleh Rey dengan wajah pucat dan ketakutan. darah mengalir dari sudut bibirnya yang robek.
ternyata pemuda yang sedang dibully itu adalah anak baru, pindahan dari kampus lain. Ia mendapat beasiswa karena memiliki IQ yang tinggi dan direkomendasikan kekampus ini.
Pemuda Junior itu memiliki IQ dengan skor 150. Dimana ukuran rata-rata skor normal IQ adalah skor 70-130. jika seseorang memiliki IQ 150-160 maka sudah masuk kategori jenius. seperti bapak **. Habibie, yang memiliki skor IQ 200.
Albert Einsten memiliki skor IQ 160. begitu juga dengan Satria yang dianugerahi IQ 152.
Pemuda bernama Hadi itu menjadi pusat bully-an senior karena berasal dari desa, dan dapat masuk universitas ternama karena beasiswa.
Maka, mereka yang berasal dari keluarga kaya raya, tidak begitu menyukainya.
sebuah pukulan dan tendangan Ia rasakan, namun tak seorangpun yang mampu melerainya, Karena mereka takut dengan sosok Rey.
Rey adalah anak seorang konglemerat yang berkuasa. maka Ia merasa jika dirinya juga berkuasa dan menindas yang lemah dengan semena-mena.
biasanya, Satria sangat malas berhubungan dengan Rey. Ia tak pernah ingin ikut campur dengan urusan siapapun.
Satria sudah sering melihat Rey bersikap semena-mena terhadap Juniornya. Namun Satria terkadang terkesan acuh saja.
Namun..suara rintihan Hadi yang meminta ampun kepada Rey, menggetarkan hatinya. Ia sedang berniat hendak keperpustakaan, Ia merasa penasaran dengan siapa yang sedang dibully oleh Rey dan gengnya.
Ia melihat seorang pemuda yang berlutut, sedang dihajar dan memohon ampunan dari para pelaku pembully. bahkan Ia dikrumuni oleh mahasisiwa lainnya yang hanya menjadi penonton, namun tak mampu mencegah perbuatan Rey dan genknya.
seorang salah satu dari dari mereka mengambil sebatang tongkat, ingin menghantamkannya kepada Pemuda yang sudah pasrah menerima perlakuan mereka. namun Satria yang melihat gelegat tidak baik, berlari kencang membelah kerumunan, dan melayang memberikan tendangan kepada sipembully.
__ADS_1
si Pembully terjerembab. lalu Satria meraih tangan Hadi dan menuntuntunya untuk bangkit.
Mahasiswa yang semula jadi penonton, tiba-tiba bersorak. mereka seperti mendapatkan seorang pahlawan kesiangan. apalagi pahlwan itu seorang Pemuda yang terkenal dingin, dan irit bicara.
Sinta yang melihatnya dari kejauhan, merasa takjub dan semakin terpana. Ia begitu tersihir oleh pesona Satria.
siapa sangka, pemuda yang selama ini selalu acuh tak acuh, ternyata memiliki rasa empati yang besar dan tidak gentar dengan Rey dan genknya.
Si pembully yang terjatuh, merasa sangat geram atas tindakan ikut campur Satria. Ia bangkit dan hendak balik menyerang Satria.
Ia mengayunkan tongkatnya kedepan, dengan gerakan mirip kapak membelah kayu, namun satria berhasil menghindarinya dengan menggeserkan tubuhnya kesisi kanan.
Satria mendorong tubuh Hadi , agar berada di kerumunan. si pembully merasa jengkel, Ia kembali mengayunkan tongkatnya dengan membabi buta, lalu Satria berhasil menangkap tongkat tersebut dan mencengkramnya dengan satu tangan.
dengan kekuatan penuh, Satria mampu menahan tongkat itu, sehingga si pembully tak mampu melepaskan tongkat tersebut dari cengkraman Satria.
Dengan tatapan sorot mata yang tajam, Satria terus mencengkram tongkat kayu tersebut.
si Pembully merasakan energi yang kuar biasa, tatapan satria seperti tatapan seekor naga yang sedang marah. Si pembully melihat siluet naga berwarna jingga diatas kepala Satria. Naga itu seolah-olah ingin menyerangnya,. Si Pembully melepaskan tongkatnya dan berlari menghindari Satria.
Rey yang sedari tadi memperhatikan Satria dengan senyum liciknya, bertepuk tangan dengan raut wajah tak suka.
"Wow...lihatlah para penonton.. si Kutub dari Utara ternyata punya nyali juga." ucap Rey dengan berjalan mengelilingi Satria.
Rey tidak suka jika ada orang lain yang mencampuri urusannya.
sebenarnya Rey adalah juniornya Satria, sama seperti Hadi. namun karena merasa kedua orangtuanya yang sangat kaya, Ia bertindak semena-mena.
Satria menanggapinya dengan tatapan dingin, lalu beranjak dari hadapan Rey yang menyebalkan. saat kakinya baru saja melangkah, Rey mengayunkan tinjunya kearah Satria.
Namun satria berhasil menghindar dengan menangkap kepalan tinju Rey. lalu dengan gerakan cepat, Satria menekuk pergelangan tanga Rey keatas, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
wajah Rey meringis dan memerah menahan sakit. lalu dengan gerakan satu dorongan saja, membuat Rey tersungkur ditanah.
suara sorak sorai dari mahasiswa yang menonton kejadian itu begitu menggema. mereka sangat bersyukur jika ada yang berani menantang Rey, karena sejatinya mereka juga tidak menyukai Rey.
Satria beranjak pergi meninggalkan Rey yang memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit.
"Heei..Satria brengsek..!! aku akan membalas perbuatanmu..!! ingat itu..!!" ucap Rey penuh nada ancaman.
Satria menghentikan sejenak langkahnya, lalu berbalik menatap Rey, dengan sorot mata yang tajam. membuat gentar hati Rey.
Rey bangkit dengan terhuyung, lalu pergi meninggalkan kerumunan bersama genknya dengan hati penuh amarah dan dendam.
__ADS_1
Mahasiswa yang berkerumun lalu membunarkan diri, mereka bergosip ria dengan kejadian yang baru saja dilihat mereka.
Hadi, pemuda tampan yang baru saja di selamatka oleh Satria mengejarnya. Ia ingin berterimakasih kepada Satria, sang pahlawannya.
setelah berhasil mensejajarkan dirinya dengan Satria, Ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan "kenalkan, aku Hadi kak.. terimakasih ya sudah menyelamatkanku. kakak hebat deh.." cecar Hadi.
"Satria.."jawabnya singkat. saat memandang kedua bola mata Hadi, Ia seperti melihat seseorang disana. tapi entah apa..
perasaannya begitu kuat. Ia tak mengerti dengan apa yang dirasakannya.
Satria merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. namun ketika melihat Hadi, ada getaran yang membuatnya ingin menelisik dan mengenali Hadi lebih jauh.
sesungguhnya Satria orang yang sangat irit bicara, namun karena rasa penasarannya mendorongnya ingin berbicara lebih banyak.
"asal kamu dari mana..?" ucap Satria
"aku berasal dari desa kak. aku direkomendasikan dari kampus lamaku ke kampus ini karena beasiswa." jawab Hadi tulus.
Satria mengangguk.."Apa nama desamu..?" ucap Satria penasaran.
"Desa B kak.." jawab Hadi bersemangat.
Entah mengapa, ada getaran dihati Satria, saat mendengar nama desa itu. namun Ia sendiri juga tak mengerti. seolah-olah Ia pernah berada disana.
"Kakak tinggal dulu ya, kakak ada keperluan yang lain" ucap Satria, mengakhiri lamunannya. sembari tersenyum kepada Hadi. Ia melihat Hadi seorang pemuda yang baik dan polos.
"boleh minta nomor handphonenya kak..?" ucap Hadi dengan nada memohon.
Satria menatap lembut kepada Hadi. " Boleh.." ucap Satria dengan anggukan kecil, lalu menyebutkan nomornya. siapa sangka, saat Satria menyebutkan setiap angka dar nomor Handphonenya, diam-diam seorang gadis cantik juga mencatatnya.
selama inj Ia sangat sulit untuk mendekati Pemuda tampan nan dingin itu, namun Hadi, dalam hitungan menit sudah mampu mendapatkannya.
setelah Hadi mencatatnya, Satria permisi dari hadapan Hadi.
***
setelah Satria pergi dari hadapannya, Hadi sangat bahagia, dapat bertemu dengan orang baik seperti Satria.
Diam-diam Hadi mengagumi pemuda itu. Ia seperti melihat seorang kakak dalam diri Satria.
kini Ia bersemangat lagi, untuk melanjutkan kuliahnya. rasa perih dibibirnya yang pecah, tak lagi dirasakannya.
Hadi berjalan dengan penuh semangat dan hati yang bahagia.
__ADS_1