
Sesampainya dirumah, Chandra merasakan dirinya uring-uringan. Cintanya yang belum juga berbalas membuatnya begitu sangat kacau.
"Mala.. Tidakkah kau ingat kisah kita waktu remaja..? Kau begitu mencintaiku.. Lalu mengapa kau begitu mudahnya melupakan semua tentang kita...? Serapuh itukah cintamu padaku..?" Chandra meremas bantal yang berada disisi kanannya. hatinya teramat sakit.
Dalam keterpurukannya, Ia membuka phonsel canggihnya. Ia membuka galeri foto yang mana disana tersimpan foto Mala yang diambilnya secara diam-diam saat wanita itu lengah.
"Kamu.. Wanita yang membuatku betah menduda selama ini.." jemari tangannya menelusuri wajah dalam foto tersebut.
"Tahukah kamu..? Sudah sangat lama sekali aku menatikan hal ini terjadi, aku menantikan jandamu, namun kau tak pernah memahaminya.. Apakah aku terlalu jahat jika berharap seperti itu..?" Chandra mengajak foto Mala berbicara, dengan perasaan hampa yang terus bertahan didalam hatinya.
Sesaat terdengar suara ketukan dipintu kamarnya.
Tok..Tok..Tok..
Chandra menoleh kearah pintu, lalu meletakkan phonselnya diatas ranjang, dan menuju kearah pintu.
Saat Ia membuka pintu, tampak Shinta berdiri diambang pintu. "Pa.. Temani ke dokter Kandungan.. Kak Hadi sedang ada urusan penting."Ucap Shinta dengan wajah menghiba.
"Baiklah.. Tunggu Papa kekamar mandi dulu.." jawab Chandra, lalu beranjak dari pintu dan menuju kamar mandi.
Shinta mengekor dari belakang, lalu duduk ditepi ranjang, sedangkan Chandra telah masuk kedalam kamar mandi.
Shinta merasa tangannya sangat gatal sekali untuk menyentuh phonsel milik Papanya. Rasa penasaran membuatnya nekad membuka layar phonsel tanpa kuci tersebut.
Seketika matanya terbeliak melihat apa yang terpampang dilayar pbonsel milik Chandra, Papanya. Sepertinya Papanya baru saja membuka galeri foto yang belum sempat di tutupnya.
Digaleri itu terdapat ada banyak foto ibu mertuanya dalam berbagai pose, yang pastinya diambil secara diam-diam.
Shinta menutup mulutnya dengan satu tangannya, Ia tak menduga jika sedalam itu perasaan Papanya terhadap ibu mertuanya.
Shinta lalu mengunci kembali layar phonsel tersebut dan beranjak keluar dari kamar Chandra.
"Mengapa begitu dalam perasaan Papa terhadap ibu mertuaku..? Apakah karena itu cinta pertamanya atau karena kecantikannya, atau juga sebab lainnya..?" Shinta masih menduga-menduga tentang perasaannya.
Ia tak memungkiri, jika Mala sang ibu mertua memanglah sangat cantik meski kini berada diusia yang cukup setengah baya.
Namun.. Kecantikannya belumlah memudar dimakan usia..
Shinta berpura-pura membenahi riasannya dicermin saat mendengar pintu kamar mandi Papanya dibuka.
__ADS_1
Tampak Chandra menuju lemari pakaian, mengambil jaket kukitnya, lalu mengajak Shinta pergi untuk check up tanpa curiga sedikitpun jika phonselnya sudah disatroni oleh Shinta puterinya.
*******
**********
Dalam perjalanan ke dokter kandungan, tampak Chandra menyetir dengan diam membisu, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Shinta diam-diam mencuri pandang kearah Papanya yang kini tampak berubah menjadi seorang pendiam.
"Pa.. Sehabis dari dokter kandungan, kita makan bentar yuk di cafe..? Lagi pengen makan sup daging Pa.." rengek Shinta mencoba mencairkan suasana kebisuan tersebut.
Chandra menoleh kearah puterinya, lalu tersenyum datar dan mengangguk. Apapun itu, Ia tak bisa menolak keinginan puteri semata wayangnya, karena baginya, Shinta adalah kekuatannya dalam menjalani kehidupan ini.
Sesampainya mereka di depan praktik dokter, Chandra menghentikan mobilnya, lalu segera turun dan membukakan pintu untuk Shinta. Ia memapah Shinta berjalan masuk kedalam ruangan praktek tersebut.
Tanpa menunggu lama, karena Shinta sudqh memesan secara online pendaftarannya, maka Ia dengan mudah memasuki langsung tanpa menunggu antrian.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dan dokter mengatakan semuanya baik-baik saja, lalu mereka meninggalkan ruangan praktik dan menuju cafe yang diinginkan oleh Shinta.
"Pa.. Aku pengennya makan daging terus deh.." ungkap Shinta dengan manja.
"Masa sih..? Papa tau dari mana??" tanya Shinta dengan penasaran.
"Karena nenekmu yang bilang.. Kata beliau saat saat mengandung Papa bawaanya pengen makan makanan yang berbahan olahan daging." ungkap Chandra sembari fokus menyetir.
Shinta mencoba manggut-manggut dan memahami apa yang dikatakan oleh Papanya.
Tak berselang lama, mereka sampai dicafe tersebut. Lalu mereka menuju meja kosong yang terdapat di sudut ruangan.
Seorang pelayan datang menyodorkan buku menu yang ada dicafe mereka.
"Sup daging dua porsi ya.." ucap Chandra kepada pelayan, sembari mengangkat tangannya dengan dua jari yang ditujukan kepada pelayan cafe tersebut.
"Baik pak, silahkan tunggu pesanannya.." jawab pelayan itu ramah.
Sembari menunggu pesanan, mereka mengobrol ringan tentang pekerjaan yang tengah dikerjakan oleh Chandra.
Tiba-tiba saja datang seorang wanita cantik dengan penampilan yang elegant yang menggambarkan sebagai wanita karir sukses. Wanita itu sebaya dengan Chandra.
__ADS_1
Wanita itu berjalan menghampiri meja Chandra, lalu membuat Shinta dan pria itu saling pandang dan tercengang memandang wanita dihadapan mereka.
"Hai tampan..? Masih ingatkah denganku..?" wanita itu menatap dengan senyum sumringah.
Chandra mencoba mengingat wanita dihadapannya. Seketika ingatannya kembali kepada saat masa kuliah dulu, dimana seorang gadis cantik yang berusaha mencuri hatinya.
"Shindy..? Itukah kamu..?" ucap Chandra berusaha untuk memastikan.
"Woow.. Ternyata ingatanmu masih bagus.. Lama tak bertemu, dan ternyata kamu suka dengan daun muda.." Ucap wanita bernama Shindy sembari melirik pada Shinta.
"Oh, No.. Ini puteriku, Shinta. Aku baru pulang membawanya dari check up, karena suaminya sedang sibuk bekerja.." ungkap Chandra dengan senyum datar.
"Sorry.. Aku salah menduga.. Shindy.." ucap Wanita itu sembari mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan.
"Shinta.." jawab Shinta, dan menyambutnya dengan senyum sumringah.
"Boleh bergabung..?" tanya Shindy mencoba mencari celah diantara keduanya.
"Silahkan.." jawab Shinta tanpa persetujuan dari Papanya.
"Terima kasih.." jawab Shindy mencoba mengakrabkan diri.
Shinta mencoba memanggil pelayan yang sedang melintas, lalu melambaikan tangannya agar pelayan itu menghampiri mereka.
"Tanyakan pada tante ini untuk pesanannya.." ucap Shinta kepada pelayan tersebut. Sedangkan Chakra masih sibuk dengan phonselnya.
Shindy terkekeh melihat sikap Shinta.."Tidak perlu, karena saya pemilik cafe ini.." jawab Shindy dengan senyum termanisnya.
Seketika Shinta dan Chandra saling menatap, dan Chandra menghentikan kegiatannya yang bermain phonsel.
"Jadi kamu pemilik cafe ini..? Wah.. Seorang arsitek merambah kuliner.." kelakar Chandra yang mulai tampak terbawa suasana percakapan itu.
"Yah.. Terkadang apa yang tertulis diijazah tidak sesuai ekspektasi.. Begitu juga dengan kehidupan kita, berharap mendapatkan sesuatu, namun tidak sesuai dengan harapan, maka kita harus menerimanya agar hidup menjadi tenang.." ucap Shindy menyindir Chandra, karena dahulu pernah mengejar pria iru, namun terabaikan.
Seketika Chandra merasa tertampar atas apa uang diucapkan oleh Shindy. Mungkin ada benarnya. Ia harus dapat melupakan Mala karena sesuatu itu tidak dapat dipaksakan, dan Ia juga harus belajar bagaimana caranya mengikhlaskan cintanya yang tak lagi bersambut, agar Ia mendapatakan kualitas hidup yang lebih baik.
Bersambung..
Shalat ashar dulu...
__ADS_1