
Satria melajukan mobilnya ditengah jalanan sunyi. Perasaannya kini sedang bercampur aduk.
"siapa pria tua itu..? Mengapa Ia seperti mengenaliku? Lalu memanggilku cucunya?" Satria berguman lirih.
Sesampainya dihalaman rumah, Satria bergegas turun dari mobilnya, lalu memasumi rumah.
Saat sampai diruang tengah, Ia tak melihat Mala disana, Ia mencoba mencari Ibunya didapur. Ia melihat ibunya sedang membersihkan sisa-sisa masakan yang berserakan dilantai dapur.
"Ibu.. Kenapa dibersihkan? kan tadi Satria sudah bilang kalau nanti Satria yang kerjakan." ucap Satria dengan lembut.
"tidak apa koq Nak, luka Ibu juga sudah mendingan." jawab Mala sembari mengepel sisa bumbu yang melekat.
Satria mengambil piring dan sendok. Mala juga sudah selesai membersihkan dapur. Satria meletakkan 3 porsi mie goreng diatas meja. "kita makan yuk Nu..?" Ajak Satria menawarkan.
Mala menganggukkan kepalanya. Lalu menghampiri meja makan dan membuka bungkusnya.
"Ayahmu belum makan, coba ibu periksa dulu dikamar ya..?" ucap Mala, lalu beranjak ke kamar, memeriksa kondisi Roni yang saat ini hanya mendekam dikamar saja.
Sesampainya dikamar, Mala melihat Roni sedang memandang nanar pada dinding kamar yang menghadap jendela luar. Mala memeriksa jendela tersebut, memastikan sudah terkunci dengan benar.
Setelah memeriksanya, Mala kembali ke sisi ranjang. "Bang, kita makan bareng yuk? Mau kedapur atau Adik bawakan kemari makanannya?" ucap Mala lembut.
Namun Roni hanya diam membisu tanpa jawaban apapun.
Mala menghela nafasnya dengan berat, mendekap kepala Roni fan meletakkan tepat didadanya. "sembuhlah Bang.. Aku merindukanmu yang dahulu." ucap Mala dengan hati sendu.
Ia mencoba mengucap ujung kepala Roni dengan cinta penuh kasih, sembari membelai lembut rambut suaminya.
Mala merasakan kehampaan yang luar biasa. Ia merindukan kehangatan suaminya, yang penuh gairah cinta.
"Ada cinta untukmu.. Meski semua kini berbeda. Aku menunggumu, dipenghujung hari, hingga kita menua bersama.. Meskipun harapan dan asa hanyalah sebuah impian belaka, namun kesetiaanku padamu yakkan pernah memudar.. I love u forever.." Mala berguman lirih tepat ditelinga Roni. Meskipun Ia menyedari jika suaminya itu kkni tak lagi memahami apa yang diucapkannya, namun Ia berharap ada secercah cahaya yang akan datang, menerangi segala harapan dan doanya.
Satria sudah menghabiskan makanananya. Namun, Ia tidak melihat Ibunya kembali kedapur.
Satria berinisiatif membawakan makanan itu kedalam kamar. Ia membawa kedua porsi makanan itu kedalam kamar.
Sesampainya didalam kamar, Ia menemukan Ibunya yang sedang mendekap kepala Ayahnya. Satria mampu merasakan, betapa sulitnya hati Ibunya kini.
Melihat kehadiran Satria, Mala membenahi letak duduknya, dan menyandarkan kepala Roni disandaran ranjang.
"Ibu makanlah, biar Satria yang menyuapin Ayah." ucap Satria dengan tulus.
Mala menganggukkan kepalanya dan mulai menyuapkan mie goreng tersebut kemulutnya.
Satria berusaha menyuapkan Mie goreng tersebut kepada Roni, Ayahnya dengan berbagai rayuan. Hanya dua suapan saja, Roni mengatupkan rapat mulutnya. Sehingga Satria tak mampu lagi membujuknya.
__ADS_1
Satria menghentikan suapannya. Lalu membiarkan Roni dengan dunianya.
Tampak mata pria itu mulai meredup, lalu memilih tidur.
Satria mencoba membenahi posisi tidur Ayahnya agar lebih nyaman. Satria membaringkannya dengan lembut, lalu menyelimutinya.
Mala sudah selesai dengan makannya. Ia tau jika Roni akan menolak makan, karena itu sudah menjadi kebiasaan suaminya semenjak menderita penyakit tersebut.
Mala membereskan sisa makanan tersebut.Ia beranjak ke dapur, sekaligus ingin sesak buang air kecil.
Satria memandangi Ayahnya sedang tertidur lelap.
Satria melihat obat salep yang digunakan ibunya terletak diatas nakas. Ia berniat untuk menyimpannya kembali kedalam laci.
Saat Ia memasukkan salep tersebut, Ia melihat album pernikahan Ayah dan Ibunya.
Ia merasa penasran, lalu mengamnil album foto tersebut.
Satria membuka lembar perleembar album foto tersebut. Tampak ibunya sangat cantik pada waktu itu, begitu juga Ayahnya yang masih tampak kekar.
Saat pada lembaran berikutnya, Ia melihat seorang pria separuh baya dan wanita yang juga pasangannya dengan umur yang hampir sama, mengapit pasangan Mala dan Roni.
"pria...ini..? Bukankah dia yang menyebutku cucunya? Sedangkan selama ini aku tidak pernah melihat orang tua itu berada disini." Satria berguman lirih.
Mala memasuki kamarnya, Ia sangat terkejut ketika Satria membuka album foto pernikahan miliknya.
"Ibu.. Maaf lancang, membuka tanpa izin Ibu.." Satria merasa sungkan.
"oh.. Tidak apa-apa, toh semuanya juga harus kamu ketahui." jawab Mala santai.
"Bu.."
"Ya.."
"siapa pria ini separuh baya ini..? Tadi seolah-seolah aku melihatnya dalam kondisi renta, dan memberikanku amanah yang cukup besar." ucap Satria sembari mengingat kembali kejadian tadi dan memperlihatkan foto pria yang mengapit Mala dihari pernikahan.
Mala menatap sendu. "dimana kamu bertemu dengannya?" Mala kembali balik bertanya.
"Dirumah panggung kayu yang ada tak jauh dari puskesmas. "Jawab Satria menjelaskan.
Mala menarik nafasnya dengan dalam, dan menghelanya dengan berat.
"Dia kakekmu, Dia bernama Ki Karso.. Dan rumah itu dulunya ada milik mereka, dan menjadi warisan untuk Ibu. karena sudah beberapa puluh tahun yang lalu meninggal dunia, dan tidak ada yang merawat, maka ibu jual kepada orang pendatang dari kota, dan uangnya ibu belikan mobil untuk Hadi, sebagai kendaraannya kuliah." Mala menggantung ucapannya.
"n
__ADS_1
Namun, mobil itu sekarang masuk bengkel, dan kerusakannya cukup parah, dan biaya yang mahal." ucap Mala dengan sedih.
Saat ini, Satria hanya ingin menjadi pendengar dahulu.
""ternyata yang orang katakan jika harta warisan itu panas benar. Jika kita menjual rumah, maka belukan kerumah, jika sudah memiliki rumah, ya renovasi rumah. Jika menjual tanah warisan, maka ya belikan kembali tanah. karena jika menggunakan penjualan harta warisan untuk usaha dan membeli kendaraan, maka usaha itu perlahan hancur dan bangkrit, sedangkan jika kita belikan kendaraan, maka kendaraan itu akan menghilang dengan caranya." Mala kembali menarik nafasnya, dan menghelanya, ada penyesalan disetiap kata-katanya.
"Dan kini, semua terbukti. Kendaraan yang ibu beli, masuk bengkel dan mengalami kerusakan parah." ucap Mala sedih.
"ibu menginginkan mobil itu lagi?" tanya Satria.
Mala menganggukkan kepalanya.
"untuk apa..?" cecar Satria.
"ingin dijual kembali, lalu uangnya disedekahin kefakir miskin dan anak Yatim." sahut Mala.
"kerusakan dan harga jualnya tidak seimbang, jika Ibu berniat seperti itu, besok akan Satria ganti uangnya, sesuai harga mobil saat ibu beli waktu itu." jawab Satria sembari menatap sendu pada ibunya.
Sattia dapat merasakan jika saat ini Ibunya itu merasa bersalah kepada Almarhum kakeknya.
"Oh.. Iya bu.. Ada satu lagi yang ingin Satria tanyakan.."
"Apa itu..?"
"Mengapa makhluk itu begitu sangat mendendam kepada keluarga ini?" tanya Satria memyelidik.
Mala terperanjat mendengar pertanyaaan Satria.
"Karena Ia merasa dicampakkan. Sesuatu yang awalnya dipuja-puja, lalu tiba-tjba dicampakkan begitu saja, maka akan menimbulkan sakit hati dan dendam." Jawab Mala datar, matanya menerawang jauh, mengingat berpuluh tahun yang lalu, saat Mbah Karso alias Ayahnya yang selalu merawat makhluk itu dengan sangat begitu baik, memberikan sesaji yang yang mengerikan, bahkan tak segan-segan Mbah Karso melakukan santet menggunakan makhluk itu bagi siapa saja yang menentangnya.
Setiap wanita hamil muda selalu menjadi sasarannya, Ia akan melakukan ritual dan pengambilan janin tersebut.
Saat Mbah Karso melakukan pertaubatan, Ia mencampakkan makhluk itu begitu saja, sesuatu yang dulu dipuja dengan sepenuh hati, lalu dicampakkan dengan sadis. Sungguh hal yang menyakitkan.
Ditengah pertaubatannya, Makhluk itu diambil dan dipelihara oleh musuh bebuyutannya, yang kini entah dimana rimbanya.
Hingga akhirnya, dari semua peristiwa dimasa lalu, Mbah Karso menuai dari apa yang Ia tanam. Mala tidak pernah mendapatkan anak, setiap kandungannya berusia 3 bulan selalu hilang.
Bahkan Mala harus menerima karma dari perbuatan Mbah Karso. Yaitu kehilangan bayi dalam kandungannya yang sudah siap akan dilahirkan. Namun, karwna karomah dari keluarga Roni, Ia akhirnya dipertemukan kembali dengan anaknya yang pernah hilang secara ghaib, dengan cara yang indah. Maka Mala mensyukurinya.
"Satria akan mencari cara menghancurkan Makhluk itu, hingga tidak akan kembali mengusik kekuarga kita.." janji Satria dengan tegas.
"terimakasih atas segalanya, dan maafkan Ibu, yang sudah melibatkanmu dalam masalah ini." ucap Mala merasa bersalah.
Satria menghampiri Mala, membawa dalam pelukannya. "Anggap ini baktiku kepada kedua orangtuaku. Besok kita membuat acara pembagian sembako untuk anak yatim dan fakir miskin, kita niatkan untuk almarhum kakek dan nenek, serta almarhum Mama Jayanti dan papa Bram, semoga mereka husnul khatimah." ucap Satria menatap nanar. Ia teringat kembai akan kedua orang tua angkatnya. Mereka juga terbaik dalam hidupnya.
__ADS_1