
Hadi terhenti langkahnya diambang pintu dapur. Ia melihat Shinta yang kini sedang merayu hati Ibunya yang sedang kesal terhadap Papa mertuanya.
Hadi juga merasa bingung harus berbuat apa, karena yang mereka hadapi bukanlah anak kecil, namun orang dewasa yang seharusnya dapat bersikap dewasa.
Hadi nerasa jika hal ini adalah cara yang bijak buat Shinta untuk mengembalikan suasana yang menegang.
Eheeeem..
Hadi mencoba mendehem agar keduanya menyadari kehadirannya.
Lalu Shinta melepaskan pelukannya. "Mana sarapannya Bu, biar Shinta yang sajikan.." Ia mencoba mengambil alih semuanya, karena Ia yakin Mala pasti masih kesal dengan Papanya.
"Masih ada Pan, kamu bisa meletakkannya kedalam wadah mangkuk keramik itu, dan sajikan saja dimeja makan, Ibu ingin kamar mandi dulu.." ucap Mala, lalu beranjak pergi kekamarnya.
Shinta mempersiapkan sarapan dan menyajikannya dimeja makan. Setelah selesai, Ia mencoba memanggil Papanya, meskipun kesal, namun apalah daya mereka dalam menghadapi permasalahn hati orang dewasa.
Mala memasuki kamarnya dengan hati yang teramat kesal.
Ia memasuki kamar mandi, lalu mencuci bibirnya berulang kali bekas dari kecupan liar Chandra. Ia seperti terkena najis yang harus segera disucikannya.
"Dasar pria gila.." umpat Mala dengan ketus. Rasanya Ia ingin sekali menenggelamkan Chandra kedasar lautan segitiga bermuda. Agar pria itu terserap air pusaran dan tidak lagi dapat naik kepermuakaan.
Sementara itu, Chandra merasa puas dapat melampiaskan rasa penasarannya. Jikapun itu semua harus mendapat sebuah hadiah tamparan.
"Akhirnya aku dapat juga menikmati manisnya bibirmu.. Sebuah tamparan tidak masalah bagiku, yang penting rasa penasaranku telah hilang.." Chandra berguman lirih dalam hatinya.
Lalu suara panggilan Shinta membuyarkan segala angannya. Ia bergegas menuju meja makan untuk sarapan.
Shinta sarapan dengan sesekali melirik Papanya. Rasanya Ia ingin memberikan bogeman mentah diwajah papanya, namun karena tidqk ingin menambah suasana menjadi ricuh, Ia lebih memilih untuk diam saja, meski hatinya sangat kesal.
Sedangkan Hadi yang sedari tadi melirik raut wajah kesal Istrinya yang ditujukan kepada Papa mertuaya berpura-pura tidak melihatnya. ketiganya sarapan dengan berdiam-diaman diri.
👻👻👻👻👻👻👻
"Bu.. Kami pulang dulu.. Kapan ibu ingin kekota Ibu tinggal hubungi Hadi saja, dan akan ada yang orang yang aku suruh menjemput Ibu." ucap Hadi lembut, sembari memeluk Mala dengan perasaan tak rela.
__ADS_1
Mala mengangguk dengan lemah. Ia sebenarnya masih ingin Hadi untuk lama menemaninya, namun anak lelakinya kini memiliki dunianya sendiri, dan itu sudah menjadi garis hidupnya.
Kemudian Shinta datang untuk memberikan pelukan dan berpamitan.
Sedangkan Chandra, Ia mencoba mengulurkan tangannya, namun Mala diam tak bergeming.
Hadi dan Shinta berpura-pura tidak melihat semuanya. Mereka memilih untuk masuk kedalam mobil dan meninggalkan keduanya.
Melihat Mala tak memberi respon, Chandra nyengir sembari melangkah masuk kedalam mobil. lalu mobil bergerak meninggalkan rumah Mala.
Setelah kepulangan Hadi dan keluarga barunya, Mala kini memasuki rumah, dan duduk termenung di sofa. Ia benar-benar merasakan sepinya hidupnya, tanpa teman yang dapat menghiburnya. Ia tampak begitu hampa, apalagi tinggal dirumah sebesar itu seorang diri.
👻👻👻👻👻👻👻👻
Malam berganti. Dinginnya udara malam begitu sangat terasa. Kesunyian kian mencekam. Saat ini menunjukkan pukul 10 malam.
Mala seperti orang yang sedang uring-uringan. Ia mencoba duduk diteras rumahnya, mengusir rasa sepinya dengan melihat jalanan yang masih saja ada orang berlalu lalang.
Mala duduk disebuah kursi teras, memandangi jalanan dengan tatapan nanar.
Beberapa menit berlalu, dinginnya angin malam tak mampu lagi dapat Ia cegah, rasa dingin menembus kulit dan tulangnya, Ia mulai menggigil.
Mala memilih masuk kedalam rumah. Saat Ia masih berada diambang pintu, Tampak olehnya sekelebat bayangan hitam tinggi besar melintas kearah dapur.
Mala yang merasa curiga, mencoba memeriksanya. Saat Ia sudah dipintu penghubung, tiba-tiba saja..
Beeeettt...taaak...
Lampu dapur mati dengan sendirinya. Seketika Mala tersentak, dan merasakan hawa negatif sedang berada dirumahnya. Bulu kuduknya tiba-tiba meremang, Mala merasakan seuatu yang tidak beres.
Belum hilang rasa terkejutnya, sesosok makhluk berbulu datang menghampirinya. Seketika mata Mala membeliak, nafasnya tersengal dan debaran didadanya memburu.
Sosok itu semakin mendekat, dan jarak dengan Mala sangat begitu dekat.
Sosok berbulu yang tak lain adalah genderuwo, mencengkram pundak Mala hingga tersandar didinding dapur.
__ADS_1
Sosok itu menatap dengan tatapan mata menghujam jantung. Rasa takut dan gemetar yang kini mengalir deras diseluruh aliran darahnya.
"Kini kau sedang sendiri, tak ada sesiapa yang dapat membantumu.. Maukah kau melayaniku untuk malam ini..? Sudah lama sekali aku menantikan saat malam ini tiba, Kau begitu teramat menggodaku." ucap sosok makhluk berbulu itu dengan suara parau, tatapannya penuh hasrat yang begitu liar.
Mala tak mampu berkutik, namun dalam diam, Ia masih mengingat pada Rabb-Nya, tentang dirinya yang kini dalam bahaya.
Makhluk iblis itu dengan tak sabar menyeret Mala ke sofa, dengan bringasnya Ia berusaha menggagahi Mala yang kini sudah dalam kondisi tak tak berdaya.
Tanpa diduga, Mala berhasil mengeluarkan suaranya dengan berteriak meminta tolong.
Suasana sepi yang sudah beranjak hampir tengah malam. Suara teriakan meminta tolong menggema dikeningan malam, membuat seorang pengintai terperanjat.
Ia merasa tidak ada seorangpun yang masuk kedalam rumah itu, namun rasa penasaran membuatnya memberanikan diri untuk memasuki rumah tersebut. Dengan bergegas Ia memasuki rumah Mala yang tidak terkunci.
Ia menyaksikan sesosok makhluk berbulu tampak sedang berusaha untuk menggagahi wanitanya. Tanpa menunggu lama, Ia memberikan pukulan telak pada makhluk itu, lalu meenggeram marah. Seketika terjadi perkelahian sengit diantra keduanya.
Hingga akhirnya makhluk itu melihat keris yang bersemayam didalam tubuh sang pria yang sebagai lawannya, dengan cepat Ia menghilang dan meninggalkan aroma sesuatu yang terbakar.
Mala yang masih dalam kondisi syok, tak mampu lagi mengontrol detak jantungnya menderu. Konsentrasinya tak lagi fokus, sehingga Ia memandang pria didepannya adalah sosok Hadi atau Satria.
Dengan refleks, Mala menghamburkan dirinya kepelukan pria itu dengan tangisannya yang memilukan hati. Ia tersedu hingga bahunya terguncang dan membuatnya menumpahkan rasa takut dan kesedihannya pada pria tersebut.
Setelah merasa dirinya cukup tenang, Ia melepaskan pelukannya, dan seketika Ia terperanjat dan menyadari jika Ia telah salah memeluk orang.
Dengan cepat Mala melangkah mundur 3 langkah, karena pria itu adalah sosok misterius yang tak pernah Ia tahu siapa sebenarnya.
"Ma..maaf.." Ucap Mala memucat dan gemetar.
Sosok pria itu memandangnya dengan tatapan sendu..
"Ya..." jawab pria lirih. Lalu beranjak melangkah pergi.
"Terimakasih.." ucap Mala lirih, sembari merundukkan kepalanya.
"Ya.." jawabnya singkat. Lalu Ia bergegas pergi. Meminggalkan rumah Mala, dengan membawa sejuta rasa yang tak mampu Ia lukiskan dengan kata.
__ADS_1
Mala bergegas menuju pintu depan, lalu menutup rapat pintu dan kembali kekamarnya.