Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Goa-6


__ADS_3

Lembayung menggantung dilangit senja, pertanda waktu maghrib akan segera tiba. 


Widuri tersadar jika Ia belum mencari sesuatupun untuk Satria  berbuka. Ia bergeges  pergi keluar hutan untuk menuju rumah Mala. 


Ia kembali menyamar sebagai nenek tua nan renta. Saat ini, Mala tak terlihat didepan teras. Waktu sudah sangat mendesak sekali.


Sementara itu, Satria sudah merasakan detik-detik waktu berbuka, dan perutnya yang keroncongan seakan semakin meronta-ronta meminta untuk diisi makanan.


"Kemana Widuri..? Dia berjanji padaku untuk membawakan makanan berbuka, namun seharian ini Ia tidak juga muncul." Satria berguman lirih dalam hatinya.


Detik waktu berbuka sudah hampir tiba, namun Widuri belum juga tampak tanda-tanda kehadirannya.


Bersamaan dengan itu, muncul seekor ayam hutan yang tampak tersesat. Ia berlarian kesana kemari, lalu menghampiri Satria seolah ingin menyerahkan dirinya. 


Satria menangkapkanya dengan mudah. Perut yang sudah berkeroncongan menuntun nalurinya untuk memotong ayam hutan tersebut. Ia menuju tas ranselnya, mengambil pisau sangkur pemberian Hadi, lalu mengucapkan shalawat dan memotong hewan tersebut.


Ia mengulitinya hingga bersih, lalu mencucinya menggunakan rembesan air yang mengalir deras didinding goa.


Lalu Ia memanfaatkan suluh bambu yang dibuat oleh Widuri, sebagai sumber penerangan yang tak pernah padam, seolah bahan bakarnya tak pernah habis. 


Satria memanggangnya diatas suluh bambu, membolak baliknya hingga menimbulkan aroma wangi yang menggoda. 


Meski sedikit kehitam-hitaman, namun tak mengurangi rasa nikmat ayam panggang tersebut.


Waktu berbuka telah tiba, dan ayam bakar juga sudah tersaji didepan mata. 


Satria menggenggam  kaki ayam panggang tersebut dengan sangat antusias, Ia sudah mendekatkan daging ayam tersebut kemulutnya, namun saat Ia akan berusaha mengigitnya, sebuah benda yang merupakan batu kerikil melesat dengan sangat kencang dari arah depan, lalu mengenai tangan Satria, hingga membuat ayam panggang itu terlepas dari genggamannya.


Ayam panggang itu terjatuh dialantai goa yang berdebu. Seketika Satria tersentak kaget dan membeliakkan matanya, melihat siapa pelakunya. "Kau.. mengapa kau tega membuat menu berbuka puasaku jatuh kelantai..?" Ucap Satria dengan wajah bersungut.

__ADS_1


Tanpa berbicara sepatah katapun, Widuri lalu melenyapkan ayam panggang itu dari hadapan Satria. Hal itu membuat Satria semakin kesal kepada sang Peri.


"Apa yang Kau lakukan..?" Omel Satria dengan wajah masamnya. Ia tampak terlihat sangat kesal.


Widuri berganti menatap Satria dengan tatapan tajam, tatapan yang menghujam dengan intimidasi.


"Apakah Kamu lupa petunjuk sebelumnya..? Kamu dilarang memakan hewan untuk menu berbuka selama menjalani ritual mendapatkan ajian segoro geni.." ujar Widuri dengan nada penuh penekanan.


"Petunjuk yang mana..?" Ujar Satria merasa bingung. Ia sepertinya melupakan salah satu petunjuk yang telah dituliskan.


"Sudahlah.. ini aku membawakanmu menu berbuka, nasi putih saja, dan juga air putih. Kamu harus menjalani puasa mutih, tidak boleh memakan yang lain."Ucap Widuri menjelaskan.


Satria kemudian menerima 2 bugkus nasi putih yang dibawa oleh Widuri. Simpan sebungkus lagi untuk makan sahurmu.." Widuri mencoba mengingatkan.


"Makanlah.. jangan hanya kau pandangi, itu tidak akan membuatmu kenyang.." Widuri tampak ketus melihat sikap Satria yang memandang nasi putih tersebut tanpa selera. "Itu nasi pemberian Ibumu, apakah kau tidak ingin memakannya.." Widuri mencoba mengingatkan Satria.


Seketika wajah Satria berubah. "Benarkah..? Kamu tidak berbohongkan..?" Ucap Satria, lalu dengan bersemangat membaca doa dan melahap nasi putih tersebut, lakasana melahab nasi rendang padang. Seketika Ia melupakan ayam panggangnya yang terbuang sia-sia.


Satria telah menghabiskan menu berbukanya, lalu menuju dinding goa yang terdapat rembesan air, dan meminumnya. Lalu Widuri dengan segera membersihkan sisa sampah yang dibuat Satria.


Tampak Satria sedang bersuci, mungkin Ia hendak sekalian shalat maghrib, dan memperdalam ajian segoro geni nya, agar lebih cepat meresap, harus dibaca 333 kali setiap selesai shalat fardhu, dan ditiupkan ketelapak tangan lalu di sapukan keseluruh tubuh, agar hawa ghaibnya meresap kedalam tubuh.


*********


Flash back Widuri


Widuri yang kini sudah berada didepan rumah Mala, tampak celingukan. Tubuhnya merubah wujud menjadi seorang nenek tua renta, kini sedang berdiri didepan teras.


Ia melihat Mala dengan kekuatan sihirnya, jika wanita cantik itu sedang berwudhu menantikan waktu maghrib tiba.

__ADS_1


Setelah mengetahui Mala selesai berwudhu, Widuri mengambil kesempatan untuk memberi salam, agar Mala mengetahui jika ada seseorang didepan rumahnya.


"Assalammualaikum.." ucap Widuri dengan suara paraunya. Ia menantikan Mala membuka pintunya.


Tak berselang lama, terdengar sahutan dari arah dalam rumah "Waalaikum salam" jawab suara seorang wanita, sembari diiringi suara derap langkah kaki seseorang. 


Tampak wanita yang sedang mengenakan mukena itu berjalan keluar menghampiri Widuri yang berwujud wanita renta. "Waah.. Nenek.. apa kabarnya..? Mari silahkan masuk.." ucap Mala ramah.


Widuri menyungguingkan senyumnya, "Maaf, Cu, nenek tidak bisa berlama-lama, bileh nenek meminta makanan nasi putih seikhlas kamu.." ucap Widuri dengan suara menghiba.


"Bisa Nek, bentar ya, saya ambilkan, dan nenek masuklah dulu." Mala menawarkan, lalu Ia begegas menuju dapur untuk memberikan nasi yang diminta si nenek renta. Sedangkan Widuri menunggu didepan teras.


Tak selang berapa lama, Mala membawa 2 bugkus nasi putih, yang terpisah dengan lauk pauknya. Lalu Ia menyerahkannya kepada Widuri.


"Ini nek, semoga bermanfaat ya.." ucap Mala dengam dengan senyum ikhlas.


Widuri menerimanya. "Makasih ya Cu, Nenek pulang dulu, besok nenek kemari lagi, jika tidak merepotkan kamu.." ucap Widuri, sembari menenteng kantong kresek tersebut.


"Iya nek, datanglah kapan saja jika nenek mau.. saya mau menunggu waktu shalat nek.." ujar Mala, lalu dijawab anggukan oleh Widuri. 


Karena hari semakin senja, Mala segera menutup pintu rumahnya, sedangkan Widuri sudah menghilang dari pandangannya, saat Mala menutup pintu rumah.


Peri itu dengan segera membawa 2 bungkus nasi putih untuk Satria. Namun Ia dikejutkan dengan aroma daging ayam bakar. "Siaall.. jika sampai Satria memakannya, itu akan membuat puasanya sia-sia.." ujar Widuri dan mempercepat dirinya untuk menghampiri sang pemuda.


Benar saja dengan dugaannya, Widuri tersentak saat melihat pemuda itu sudah menggengam ayam bakar ditangannya dan siap melahabnya. Maka Widuri mengambil cara untuk mencegah daging ayam itu masuk kedalam mulutnya. Widuri lalu mengangkat sebuah kerikil dan menjentikkannya mengenai tangan Satria, dan daging ayam itu terlepas dari genggamannya.


Widuri memilih keluar goa. Ia mengeluarkan ayam bakar milik Satria yang dihilangkannya tadi. Lalu Widuri menyesap sari ayam bakar tersebut, dan membuang ampasnya kesemak belukar, agar dimakan hewan liar.


Setelah menikmati sari ayam bakar tersebut, Peri itu memandang keatas awan,  tampak gumpalan asap hitam tersebut semakin membesar, dan tampak bergulung-gulung seolah-olah siap meluncur kapanpun.

__ADS_1


Widuri terus berjaga dan harus terjaga sepanjang waktu agar para penyusup atau penyerang tidak dapat mencari celah untuk masuk kedalam goa.


__ADS_2