Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Misteri Seikat Bunga


__ADS_3

Pagi itu Satria dan kekuarganya pergi berziarah kemakam Ayahnya. Masih dalam perjalanan menuju ke pemakaman, Ia sudah tak mampu membendung air matanya. Seketika Ia juga teringat akan Jayanti, Ibu yang telah melahirkannya, dan juga Bram yang juga merawatnya sedari dalam kandungan seminggu, hingga dewasa dan mewariskan kekayaan melimpah untuknya.


Satria berjanji dalam hatinya, akan mengunjungi makam Jayanti dan Bram, setelah Ia menyelesaikan misi melawan Nini Maru.


Sesampainya dipemakaman. Mereka menuju makam Roni yang masih basah, tanah itu masih merah. Sesaat Mala tertegun. Ia melihat ada 7 ikat bunga disana. Sepertinya setiap pagi ada seseorang yang mengunjungi makam Roni, suaminya, dan menaruh bukket bunga Lili putih yang hampir memenuhi tanah merah itu.



Mala tercenung melihat bukket-bukket bunga lily itu. "Siapa yang mengirimkan bukket-bukket ini Bu..?" tanya Hadi kepada Mala. Ia merasa bingung dengan segala yang dilihatnya.


"Ibu juga tidak tahu.." sahut Mala dengan perasaan yang penasaran.


Satria tidak begitu memperdulikan obrolan keduanya, Ia memilih untuk berdoa di makam sang Ayah.


"Maafkan Satria Yah, jika belum dapat menyembuhkan penyakitmu, hingga sampai Ajal menjemput. Namun yakinlah, Allah telah menghapus segala dosa-dosamu, karena orang yang mengalami skizoprenia tidak dimintai pertanggungjawaban amal dan perbuatannya." ucap Satria dalam hati.


Lalu Ia membacakan doa dan Ibu ayat yaitu suratul Fatiha.


Disisi lain, Hamdan memejamkan matanya, mencari sesuatu yang berkelebat dibalik pohon. Seketika Hamdan tersenyum, dan menggelengkan kepalanya sembari menatap pohon beringin didepannya.


Hal tersebut menjadi perhatian Chandra.


"Apa yang sedang kau lihat dibalik pohon itu..?" tanya Chandra dengan penasaran. Seketika Hadi dan Mala mengarahakan pandangannya kepohon beringin yang disebut Chandra.


"Tidak ada.. Hanya sulur-sulurnya yang memanjang dan menjadi tempat bermain para demit.." jawab Hamdan sekenanya.


Seketika Chandra menjadi keder mendengar penjelasan Hamdan.


Sedangkan Hadi dan Mala hanya saling pandang, karena demit yang dikatakan oleh Hamdan sudah pernah mereka lihat, maka tidak begitu terpengaruh, meskipun mereka tidak menyadari jika benar-benar ada seseorang dibalik sana.

__ADS_1


Disisi lain, Seseorang yang bersembunyi dibalik pohon itu tertegun. Ia mengintai dari balik pohon tersebut, lalu mencuri dengar pembicaraan mereka. Ia bahkan tidak menyangka jika pria tampan bersorban itu mampu melihatnya, bahkan mencoba melindungi keberadaannya, meskipun Ia mengetahuinya.


"Siapa beliau..? Apakah Ia dapat membantuku lepas dari jerat benang merah dengan Iblis betina itu..?" guman Pria yang bersembunyi dibalik pohon dalam hatinya.


sementara itu, Hamdan tersenyum membaca isi hati pria itu. "Jika kau butuh, datanglah padaku.." jawab Hamdan dengan percakapan bathin itu.


Bayu, Pria yang bersembunyi dibalik pohon tiba-tiba tersentak, Ia menyandarkan tubuhnya dibatang pohon itu. Ia memegangi sadanya yang terasa amat begitu gemetar. Ia tidak menyangka, jika Ia dapat berkomunikasi ghaib dengan pria didepannya.


Ia mengatur nafasnya, serasa sesak dan sulit bernafas. Ingin rasanya Ia segera kembali pulang, namun Rombongan peziarah itu belum juga pulang.


Tampak Mala dan Hadi bergantian menyiramkan air keatas makam tersebut, laku berdoa bagi si Mayit.


Setelah menunggu cukup Lama, akhirnya Satria dan keluarganya beranjak akan kembali pulang.


Namun, Mala mengambil satu bukket bunga lily yang masih tampak segar yang pastinya baru pagi ini diletakkan oleh sang pengirimnya. Ia mencium aroma bunga tersebut." siapapun kamu.. Terimakasih atas segalanya, semoga kamu mendapat balasan yang setimpal, seharum dan seputih bunga yang kau kirimkan.." Doa Mala dalam hatinya.


Lalu mereka beranjak meninggalkan lokasi pemakaman.


Saat melangkah pergi, Satria merasakan seseorang berada dibalik pohon itu, Ia berjalan dipaling belakang, lalu menoleh kearah pohon beringin, menembus penglihatannya.


sssssst...


Sebuah siluet wajah seseorang.. Namun belum sempat Satria menangkap jelas detail wajahnya, Mala mengamit tangannya.. lalu mengajaknya pulang, hingga pandangan wajah itu tiba-tiba buyar begitu saja.


Lalu mereka bergegas kembali pulang, karena ada Shinta yang sendirian dirumah, mereka takut ada hal-hal yang tidak baik jika mereka terlalu lama meninggalkannya.


Sementara itu, Bayu keluar dari persembunyiannya. Ia melangkah menuju pemakaman, mengangkat bukket yang tadi sempat dicium aromanya oleh Mala. Ia mencoba ikut merasakan aromanya.


Lalu memandang kearah makam Roni. "Hai..teman.. Maafkan aku, jika sewaktu hidupmu, aku pernah berbuat khilaf bidadarimu. Ia terlalu menggoda Imanku, aku tak mampu menahannya waktu itu, maafkan atas khilafku.." Bayu berguman lirih dalam hatinya.

__ADS_1


"Apakah kamu akan marah jika aku ingin menjaganya.? Aku berjanji akan melindungi dan takkan menyakitinya. Aku meminta restumu, jika kau mengijinkannya, beri aku pertanda.. Meski hanya lewat mimpi.." Bayu melanjutkan ucapannya.


Pria itu merapatkan kedua bibirnya, ada sebuah perasaan yang tak mampu Ia lukiskan saat Mala mengambil bukket miliknya, lalu menyesapi aromanya. Itu sangat begitu indah. lalu Ia tersenyum sumringah, dan ingin beranjak dari tempatnya. "Aku pulang dulu, esok aku akan mengunjungimu lagi, damailah disana, aku tidak akan merebutnya darimu, jika tak mendapat restumu. Bye" ucapnya lirih, lalu Ia melangkah untuk pergi.


Disisi lain, Satria dan keluarganya telah kembali kerumah. Mala menyiapkan sarapan untuk mereka. Ayam goreng kalasan yang menjadi kesukaan Hadi dan Satria menjadi menu hari ini. Dimana rasa kebahagiaan akan hadirnya Satria harus dirayakannya meski hanya dengan menu yag sederhana.


"Terimakasihku pada-Mu ya Rabb, kau kembalikan puteraku dengan kondisi selamat. Hampir saja aku merutuki-Mu karena Kau telah mengambil apa semua yang ku miliki. Aku tau semua titipan-Mu, tetapi tangguhkanlah, hingga aku merasa cukup untuk bersama mereka, jangan uji aku diluar dari kemampuanku.." Mala berguman dalam hatinya, sembari terus meracik bumbu masakannya.


Tanpa Ia sadari, bulir-bulir bening membasahi pipi putih nan halus diwajahnya. Ia hampir saja tidak sanggup berdiri dan berpijak saat menerima semua cobaan yang diberikan kepadanya.


Shinta yang masih terlihat lemah, berjalan menghampirinya didapur. "Ibu masak apa..?" tanyanya dengan lirih, sepertinya kondisinya masih belum pulih.


Mala buru-buru menyeka air matanya, lalu menatap anak menantunya. "Masak kesukaan Hadi dan Satria, juga kesukaan kamu..?" jawab Mala dengan tersenyum manis.


"Haaah.. Kak Satria sudah pulang dari Jepang Bu..?" tanya Shinta penasaran.


Mala ngengir kuda, Ia.. Tadi malam Ia baru sampai.." jawab Mala dengan gugup.


"Waaah.. Syukurlah.. Akhiranya kembali juga.." jawab Shinta dengan tersenyum. Lalu melihat wajah Ibu mertuanya yang tampak sembab sehabis menangisi sesuatu. "Ibu menangis..?" jawab Shinta dengan lembut.


Mala hanya menggigit bibirnya, menahan bulir bening yang masih tak mampu Ia bendung, lalu meluncur begitu saja.


Shinta menghampiri Ibu mertuanya, Ia memahami begitu menderitanya perasaan sang wanita cantik itu atas kepergian Roni sang ayah mertuanya.


Shinta menarik lembut kepala ibu mertuanya, membawa dalam pelukannya. "Menangislah Bu, jika itu membuatmu lebih lega.." ucap Shinta, lalu membelai lembut punggung Mala. Wanita tersedu hingga air matanya membasahi pundak Shinta.


Mala menumpahkan seluruh kesedihannya dalam pelukan sang menantu. Ia butuh pekukan itu. Selama ini Ia menyimpan semuanya sendiri dalam kepedihan, tak ada tempat mencurahkan segala masalah yang dihadapinya.


Hadi yang tak sengaja melihatnya, tertegun dalam diam, ternyata selama ini, Ibunya begitu sangat menderita, dan membutuhkan seseorang untuk bersandar. Apalagi selama merawat ayahnya ketika hidup, tentu merupakan hal sangat berat dan harus dipikulnya sendiri. Ternyata Ia membutuhkan seseorang..

__ADS_1


__ADS_2