
Nini Maru melayang masuk melalaui kaca jendela mobil yang terbuka.
Ia masuk bagaikan angin. Kali ini Nini Maru muncul dengan aroma bunga kenanga. Aroma itu menyeruak memenuhi dalam mobil milik Shinta. Nini Maru duduk di jok tengah.
Shinta merasakan bulu kuduknya meremang, Shinta mengusap tengkuknya. "kenapa aku merasakan tengkukku meremang ya..?" Shinta berguman dalam hatinya.
Shinta menyetir mobil dengan perasaan yang tak nyaman. Ia merasakan ada kehadiran makhluk astral didekatnya. Ia merasakan ada penumpang gelap di dalam mobilnya.
Entah perasaan dari mana, Shinta ingin melihat penumpang yang ada didalam mobilnya. Shinta melirik melalui kaca spion tengah mobil.
"haaaah..!!"
Shinta terkejut dengan penampakan didalam mobilnya. Ia tak pernah membayangkan jika mendapat tumpangan yang sangat menakutkan. Saking kagetnya, Shinta membanting stir mobil ke kiri, lalu menabrak trotoar.
Shinta mengalami luka ringan, keningnya berdarah karena terkena stir. Shinta menyeka keningnya yang berdarah menggunakan jarinya.
"Sial...!! Kemana setan tadi..? karena Dia aku sampai terluka." Shinta menggerutu.
beberapa warga berkumpul untuk melihat kondisinya. Shinta menurunkan kaca mobil, melongok keluar.
"kamu tidak apa-apa nona.?" tanya seorang warga kepada Shinta.
"tidak apa-apa pak. Terimakasih atas empatinya." jawab Shinta sopan.
"syukurlah kalau begitu." ucap warga tersebut.q
Shinta menganggukkan kepalanya, lalu permisi hendak pulang.
Warga membubarkan diri setelah mengetahui Shinta baik-baik saja.
Shinta menghidupkan mesin mobilnya, meski masih belum hidup juga, Ia terus mencobanya. Hingga akhirnya mesin itu mendesing. Lalu Ia mengendarainya menuju pulang kerumah.
__ADS_1
Shinta memasuki kamarnya. Kamar yang sangat luas dan mewah. Ia merebahkan tubuhnya diranjang. Bayangan Kuntilanak yang menumpang dimobilnya tadi masih membayang diingatannya.
"dasar setan.. Karena ulahnya hampir saja aku celaka.!" Shinta masih merutuki kuntilanak tadi.
Tiba-tiba Shinta merasakan perutnya sangat mual.
beberapa hari ini Ia selalu tak berselera untuk makan.
Ia ingin beranjak dari ranjangnya. Namun Ia merasakan aroma wangi bunga kantil menyeruak memasuki ruangan kamarnya.
Shinta mengenduskan hidungnya. Saat ini, penciumannya mengarah pada jendela kamarnya yang terbuka. ternyata Ia lupa menutupnya. Ia pergi dari siang tadi, dan kembali malam. Lalu jendela terbiarkan terbuka.
Shinta melihat sesosok makhluk meluncur masuk melalui jeruji besi. Makhluk berambut panjang yang masuk bagaikan makhluk tak bertulang itu meluncur begitu saja kebawah jendela.
Lalu Ia bergerak merangkak mendekati Shinta. Shinta terpaku menatap makhluk itu. Ia tak mmapu menggerakkan tubuhnya. Bibirnya keluh tak mampu berbicara.
Makhluk dengan kuku runcing dan kulit keriput itu semakin mendekati ranjang Shinta. Sayangnya, Shinta adalah gadis yang dibesarkan dengan kemewahan harta benda, tanpa pembekalan ilmu agama.
Ia tidak pernah hafal ayat ataupun doa, yang Ia tahu hanya lagu-lagu lirik romansa ciptaan manusia.
Makhluk itu mulai menedang janin yang berada di rahim Shinta. Dan saat ini Shinta merasakan perutnya sangat sakit. Rasa sakit itu bagaikan tusukan seribu jarum yang sangat menyakitkan. Bahkan Ia merasakan perutnya seperti diremas-remas dengan tangan-tangan berjarum tajam.
Shinta meringis menahan sakit yang sangat luar biasa. Tubuhnya berkeringat dan semakin lemah. Wajahnya pucat pasi. Lalu Ia meradakan sesuatu meluncur dari rahimnya.
Segumpal daging berwarna merah dan darah mengucur sangat deras keluar dari mulut rahimnya.
Bersamaan dengan itu, makhluk berambut panjang itu juga keluar dari mulut rahim Shinta. Ia menyambut segumpal daging yang berlumuran darah tersebut. Ia mengunyah gumpalan daging itu dengan sangat lahabnya. Lalu Ia menyeruput darah yang keluar dari rahim Shinta dengan sangat rakus.
Shinta bergetar dan menggigil ketakutan. Ia melihat dengan jelas makhluk menjijikkan itu memakan janinnya.
Setelah puas dengan santapannya, Makhluk itu melayang keluar dari jendela yang terbuka. Setelah kepergian makhluk itu, Shinta tersadar.
Ia tersentak, dan baru menyadari jika ternyata Ia mengandung selama ini dan keguguran yang diakibatkan oleh makhluk itu.
__ADS_1
Shinta menggigil ketakutan, tubuhnya semakin lemah. Dan akhirnya Ia tak sadarkan diri.
jam menunjukkan pukul 10 pagi. Chandra, Papa Shinta sedang sarapan. Namun Ia juga tak melihat tanda-tanda Shinta turun untuk sarapan.
Ia yang pernah kehilangan Shinta dalam waktu yang lama, menjadikannya takut kehilangan puteri semata wayangnya itu untuk kedua kalinya.
Ia menghentikan sarapannya, lalu menuju kamar Shinta dilantai dua kamarnya. Ia mengetuk kamar itu benerapa kali. Namun tak ada jawaban.
Ia merasakan peeasaannya tak nyaman. Lalu Ia mencoba mendobrak pintu tersebut. Dan tampak didalam kamar, Shinta bersimbah darah diatas ranjang.
Chandra terperangah. Ialangsung bergegas menghampiri Shinta yang tak sadarkan diri. Chandra segera melarikan Shinta ke rumah sakit.
Dokter segera menangani Shinta. Ia meminta Chandra memeriksakan kondisi kesehatannya untuk melakukan donor darah. Dimana Shinta mengalami banyak kekurangan darah.
Setelah mendapat transfusi darah dan penanganan yang tepat., akhirnya Shinta kini sadar. Ia terperanjat karena mendapati dirinya berada dirumah sakit.
Chandra yang berada disisinya merasa lega. "akhirnya kamu sadar sayang." ucap Chandra sembari menggenggam jemari puterinya.
Shinta menatap nanar Papanya. Lalu air matanya mengalir tanpa mampu Ia tahan. Ia merasakan jika dirinya sudah hancur. Ia sudah entah berapa kali mengalami keguguran dan pelecehan selama didalam penyekapan. Dan bahkan saat ini ternyata Ia juga mengalami keguguran, mengandung benih dari pelecehan oleh Rey dan para bodyguard saat penyekapan waktu.
Ia tak mampu memandang dirinya sendiri. Ia merasa frustasi. Bagaimana mungkin nanti Ia menghadapi kehidupan dirinya dimasa depan. Apakah masih ada Pria yang mampu menerima kekurangannya, yang mana semua terjadi tanpa Ia sengaja.
Chandra mencoba menenangkan hati puterinya. Ia juga mengetahui dari dokter jika puterinya saat ini sedang keguguran. namun Ia merasa lega, karena benih itu jatuh dan tidak berkembang didalam rahim puterinya.
Chandra akan berusaha mengembalikan trauma dan rasa kepercayaan diri pada Shinta. Ia tidak ingin melihat puterinya berlarut-larut dalam kesedihan.
"Shinta malu Pa.. Shinta sudah tidak memiliki kehormatan lagi di mata pria manapun." ucap Shinta lirih sembari terisak.
Chandra bagai tersayat pilu mendengar ucapan puterinya. Ia sangat mengutuk orang yang telah membuat puterinya mengalami penderitaan. Ia saat ini sedang berusaha keras mencari keberadaan Rianti, Ia ingin menuntut balas akan perbuatan Rianti terhadap Shinta.
"jangan berputus asa. papa akan melakukan apapun untuk mengembalikan kepercayaan diri kamu, dan percayalah, akan ada pria yang menerima kamu dengan segala kekurangan yang kamu miliki. Pria itu adalah orang tulus mencintai kamu tanpa sebab." ucap Chandra. Sembari mengusap lembut ujung kepala puterinya.
__ADS_1
Shinta mencoba tersenyum datar. Mencoba meyakini ucapan papanya, meskipun Ia belum sepenuhnya percaya, jika ada pria yang seperti disebutkan papanya.
~kemunculan kuntilanak author ganti dengan wangi kembang ya. Karena seorang readers memberikan pengalamannya saat bertemu dengan sang kunti. Jadi aroma busuk di bab-bab awal anggap saja kuntilanaknya kecebur got, makanya aromanya busuk~