
Satria bernafas lega setelah mengetahui hewan itu telah selamat dan pergi menjauh dari pohon tempatnya bertengger.
Rasa kantuk mulai menyerangnya. Chakra Mahkota kembali mendampinginya dan menghilang dari pandangan mata.
Satria tak mampu lagi mempertahankan rasa kantuknya yang amat tak tertahankan. Akhirnya kelopak mata itu mengatup dengan sempurnah.
********
Mentari pagi bersinar sangat cerah. Pendaran cahayanya yang berkilauan menerpa kulit Satria, seolah membelai lembut memberikan kehangatan seperti cinta kasih seorang ibu.
Satria mengerjapkan matanya, lalu melihat sunrise yang tampak elok menyembul dibalik bukit yang tampak begitu kokoh nan anggun.
Satria menggeliatkan tubuhnya. Ia mencoba mengumpulkan segala energi dan kesadarannya. Menghirup udara pagi dengan sangat dalam dan mencoba meresapi kesegarannya.
Satria merasa perutnya lapar, sebab Ia belum makan sedari malam. Karena perbekalan makananannya habis di serbu para kawanan kera.
Satria berniat turun dari dahan pohon. Lalu dengan cekatan Ia menuruni pohon dan mendarat sempurnah di atas tanah tanpa luka sedikitpun.
Satria mulai berfikir untuk mencari makanan, apakah itu buah-buahan hutan seperti pisang liar atau hewan buruan.
Satria berjalan menyusuri jalanan setapak yang semalam tempat Ia melintasi mencari sumber air.
Embun pagi masih bertengger didedaunan dan berkilau terkena terpaan sinar mentari. Satria memetik dedaunan tersebut, lalau menyesap embun tersebut untuk menghilangkan rasa hausnya.
Ia kini sampai disebuah aliran sungai jecil tempat Ia mengambil air minum semalam. Ia memperhatikan sekitarnya, memastikan tidak ada hewan buas yang juga ingin mengambil air disana.
Satria berniat ingin mencari ikan untuk sarapannya pagi ini.
Lalu dengan berhati- hati Ia menuruni anak sungai kecil tersebut. Ia berdiri ditepian anak sungai yang berarair jernih dengan bebatuan kecil. Ia melihat seekor ikan nila sedang berenang-berenang denagn ria dibalik melintasi bebatuan kecil tersebut.
Anak sungai dengan lebar 2 meter dengan kedalaman diatas peregelangan kaki orang dewasa. Airnya yang jernih itu mengalir sepanjang kawasan hutan dan sangat memanjakan mata memandang.
__ADS_1
Satria mengeluarkan pisau sangkurnya, lalu mecari sebatang dahan kecil untuk dijadikan tombak sebagai alat untuk menangkap ikan.
Ia pergi sedikit menjauh dari tepian anak sungai, lalu mencari dahan yang sesuai keinginnannya dan meruncingkan ujungnya untuk menjadi tombak.
Setelah selesai, Ia kembali ke tepian anak sungai, matanya menelusuri tiap sudut bebatuan untuk menemukan ikan nula yang tadi tampak berenang ria. Namu setelah lama mengamati, Ia tak juga menemukan ikan Nila yang tadi dilihatnya.
"Kemana menghilangnya ikan Nila tafi..? Mengapa begitu sangat cepat sekali menghilang..?" Satria berguman lirih dalam hatinya, sembari memegang tombak yang terbuat dari dahan dengan diameter 15 cm.
Setelah lama mengamati dan tak menemukan seekor ikanpun dialiran anak sungai itu, Ia memutuskan untuk menyusuri aliran anak sungai dan mendapat seeokor ikan untuk sarapannya pagi ini.
Satria masuk kedalam aliran anaknsungai tersebut. Rasa dingin merasuki kakinya dan menjalar keseluruh tubuhnya. Ia berjalan sembari terus mengamati dasar air sungai yang berharap akan ada seekor ikan yang berbaik hati untuk menyembul dan mengorbankan dirinya untuk disantap.
Setelah jauh menyusuri aliran anak sungai, tampak dikejauhan didepan matanya sesosok gadis berpakain bak peri sedang mendarat dianak sungai, Satria terkesima. Meski dari kejauhan, Ia mengetahui jika sosok itu sangatlah cantik.
Satria diam terpaku dan tak bergeming menatap sosok didepannya duduk ditepian anak sungai, lalu bermain gemericik air nan sejuk. Sesekali Ia memainkan air tersebut dan tampak sangat begitu bahagia.
Satria tersadar dari keterpanaannya, lalu beranjak dari sungai dan berjalan mengendap untuk melihat lebih dekat siapa sosok tersebut.
"Hah.. Sungguh cantik nian ciptaan-Mu ya Rabb." Satria terperangah menatap makhluk tersebut. Rambut panjang indah tergerai bagaikan mayang. leher jenjang dan kulit putih halus berkilau terkena terpaan sinar mentari. Bola mata indahnya mengerjap bagaikan puteri khayangan, sungguh sempurnah dan indah.
Satria tak kepas memandang sosok tersebut. Ia bagaikan tersisihir akan kecantikan dan kemolekan sosok peri tersebut.
"Siapa kiranya gerangan sosok itu..? " Satria berguman lirih dalam hatinya.
Tampak sosok itu beranjak dari tempat duduknya, lalu berdiri dan tiba-tiba berputar bak seorang penari, yang tampak sedang senang dan terus berputar sembari memejamkan matanya.
Tanpa diduga, sosok itu menoleh kearah tempat persembunyian Satria. Pemuda itu terperanjat, karena kepergok sedang mengintai.
Satria tergagap, lalu menatap dengan pandangan terpana kepada sosok yang kini memandangnya tanpa berkedip.
__ADS_1
Sosok itu tersenyum sangat indah.. Senyum yang sungguh menawan, lalu Ia berputar sekali lagi, membuat gaun yang dikenakannya mengembang dan terlihat sangat anggun. Lalu perlahan tubuhnya naik keudara dan perlahan menghilang.
Satria tersadar dari semua apa yang dilihatnya. Ia tidqk dapat mendeskripsikan apa yang baru dilihatnya.
namun sebuah nalurinya kuat mendorongnya agar segera turun ke dasar anak sungai.
Dengan dorongan nalurinya, Ia menuruni anak sungai, dan melihat seekor ikan nila yang berukuran besar sedang berenang didalam air. Wajahnya gampak sumringah melihat ikan tersebut. Dengan cekatan Satria mengarahkan mata tombaknya dan menombak ikan tersebut.
Traaaaak... Byyuuur...
Suara tombakan dan berpadu dengan semburan air yang memuncar kewajah Satria.
Dengan satu tombakan, ikan itu berhasil tertangkap dan menggelapar diujung mata tombak.
Satria tersenyum sumringah, lalu membersihkan ikan tersebut. Ia membawa ikan tersebut ketempat Ia menginap semalam.
Dengan persaaan riang, Ia kembali ketendanya yang semalam sudah teracak-acak.
Satria menghidupkan perapian, lalu mengambil ranting sebesar jari telunjuk dan menusukkan kedalm rongga mulut ikan agar memudahkan proses pemanggangan. Ia mulai memanggang ikan tersebut dengan sangat senang. Satu ekor ikan nila besar siap menjadi sarapannya pagi ini.
Aroma harum dari ikan yang dipanggangnya begitu menggugah selera. Satria dengan sangat bahagia mengangkat ikan panggang itu, lalu mendekatkan ke hidungnya. Aroma harumnya menggoda Ia untuk mencubit daging ikan tersebut dan mencicipinya. Ia memakannya dengan sangat lahap.
Setelah puas menyantab sarapannya, Ia duduk tersandar, lalu memikirkan siapa sesungguhnya makhluk yang dilihatnya di anak sungai tersebut.
Ia merasakan jika makhluk itu sengaja hadir untuk memberinya petunjuk tentang keberadaan ikan tersebut.
Sebagai lelaki normal, Ia tidak memungkiri jika makhluk itu sungguh sangatlah cantik. namun Ia juga harus waspada, tidak dapat sembarangan terlena dengan apa yang terlihat tampak indah.
Setelah merasa siap, Satria memunguti semua perlengkapannya, Ia akkan melanjutkan perjalanannya menuju bukit dihutan larangan tempat Ia harus mencari kitab segoro geni yang dikatakan tersimpan disalah satu goa yang ada disana.
Satria kembali menyusuri jalanan setapak, menuju tempat yang menjadi tujuan utamanya dalam menyelesaikan misi yang kini sedang diembannya.
__ADS_1
"Aku harus segera sampai kegoa sebelum gerhana bulan tiba.