Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Bram dan Jayanti


__ADS_3

disebuah pedalaman, sepasang suami Istri yang masih tergolong muda dan kaya raya, rela menempuh perjalanan jauh, demi untuk sebuah misi besar. mereka menemui seorang dukun sakti yang memiliki kemampuan dalam proses pemindahan janin, atau disebut 'Pujon'.


mereka mendengar informasi jika dukun itu dapat memindahkan janin dari ibu yang sedang mengandung kepada ibu yang tidak mengandung dan mengharapkan memiliki anak, dengan mahar uang sebesar 20 juta rupiah.


mereka telah sampai dikediaman mbah Kliwon, disebuah rumah reok yang terbuat dari bilah-bilah bambu.


hari sudah menjelang malam, ketika mereka sampai ditempat itu.


sebelumnya mereka telah berkomunikasi dan membahas kesepakatan yang akan dilakukan.


****


"bagaimana mbah..? apaka sudah siap..?" ucap seorang wanita cantik berusia 35 tahun, kepada seorang dukun.


"sudah..bersiaplah..saya akan melakukan ritualnya. pemindahan janin ini akan berlangsung sukses. percayakan kepada saya.." ucap Mbah kliwon, penuh percaya diri.


"sekarang bukalah pakaian dan berganti dengan kain kemben, lalu berbaringlah, pejamkan mata dan jangan berbicara. " perintah Mbah Kliwon.


Jayanti beranjak dari duduknya, menyalin pakaiannya didalam bilik anyaman bambi. setelah itu lalu berbaring didipan yang terbuat dari kayu beralaskan tikar pandan. disana ada Mbah Darsih yang akan membantu proses ritual pemindahan janinnya.


suasana hening, hanya suara jangkrik dan serangga malam yang terdengar.


Mbah Kliwon melakukan ritual pemindahan janin dengan memusatkan konsentrasi tinggi. Ia meminta bantuan kepada dedemit dan lelembut yang akan membantunya memindahkan janin tersebut.


Mbah Kliwon telah memilih korbannya. seketika perut Jayanti yang semula kempis kini langsung membesar, menjadi wanita yang mengandung sembilan bulan, dan seminggu lagi akan melahirkan.


"bukalah matamu.." perijtah Mbah Kliwon kepada Jayanti.


saat membuka matanya, Jayanti begitu sangat terkejut, Ia membulatkan matanya, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"mbah...beneran ini isinya anak mbah..?" ucap Jayanti kaget sekaligus senang, sembari memandangi perutnya yang membesar.


"ya iyalah..masa isinya ular.." Jawab Mbah Kliwon ketus.


Bram terperangah, Ia tak menyangka jika Mbah Kliwon adalah sosok sakti mandraguna. sebagai orang yang tinggal di kota besar, tentulah hal ini sangat mencengangkannya.


Bram mendekati Jayanti yang sedang berbaring dengan perut membesar. Ia mengelus perut Jayanti dengan lembut. "sayang...akhirnya kita memiliki anak..ucap Bram dengan mata berkaca-kaca. lalu memeluk istrinya.


mereka tengah berbahagia dengan penuh keharuan, meski menempuh jalan sesat. dibalik kebahagiaan mereka, ada seseorang yang hancur hatinya atas perbuatan keji mereka.


"semuanya sudah selesai, beberapa seminggu lagi, janin ini akan lahir. Ia berjenis kelamin laki-laki, sesuai permintaan kalian." ucap Mbah Kliwon menjelaskan.


keduanya saling berpelukan satu sama lainnya.


Jayanti yang sudah sangat lama menginginkan keturunan, tak henti-hentinya mengelus perutnya yang tiba-tiba membuncit dan siap melahirkan.


"Terimakasih mbah...berkat kesaktian mbah kami akhirnya meniliki anak." ucap Bram berkaca-kaca.


mbah Kliwon hanya tersenyum, Ia sudah biasa dipuji seperti itu.


Bram mengeluarkan sejumlah uang sebagai dari mahar perjanjian mereka. "ini maharnya mbah.." ucap Bram sembari memyerahkan amplop coklat berisi uang mahar.


"terimakasih atas kerjasamanya. saya senang jika pelanggan saya senang." ucap Mbah Kliwon tersenyum menyeringai.


lalu kedua sepasang suami Istri berpamitan untuk pulang.


****


- -seminggu kemudian- -


Jayanti yang sedang berbaring diranjang mewahnya, tiba-tiba mengalami kontraksi, Ia merasakan perutnya sangat sakit, Ia meringis sembari meremas tepian ranjangnya. Ia merintih kesakitan, sembari merapatkan giginya untuk menahan rasa sakit itu.


" Mas...mas..Bram..tolong Yanti, Mas" Jayanti memanggil Bram yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


Bram yang masih mendengkur, tak mendengar rintihan Jayanti.


Dengan sisa tenaganya, Jayanti mencoba menggangsur tubuhnya berat, Ia menghampiri Bram yang masih tertidur pulas. Setelah dekat dengan tubuh suaminya, Ia mengguncang lembut pundak suaminya.


"Mas...bangun Mas..perut Yanti sakit Mas.." ucap Jayanti, dengan wajah pucat. kontraksi itu semakin sangat terasa.


Bram akhirnya terbangun oleh tepukan Jayanti. sembari menggesek-gesekkan jemarinya dikedua matanya, Ia masih belum sadar sepenuhnya.


"Mas..perut Yanti sakit Mas.." ucap Rianti sembari meremas lengan Bram dengan kuat mendengar ucapan Jayanti, Bram seketika terlonjak, dan bangkit dari tidurnya.


"Mungkin kamu mau melahirkan sayang..Mas telfon supir dulu ya.." ucap Bram dengan sigap.


****


Disebuah rumah sakit ternama, Jayanti mengejan. Ia berusaha untuk mengeluarkan sekua tenaganya. Bram mengabadikan moment mengjarukan itu dengan mem-Vedeokannya sebahai barang bukti jika itu anak mereka.


"Ayo bu, lebih semangat lagi mengejannya, bayinya sudah terlihat kepalanya." ucap seorang Dokter kandungan.


"eeeeerrrgghh.." Jayanti mengejan dengan sisa tenaganya, akhirnya, Jayanti melahirkan bayi berjenis kelamin laki-laki yang tampan,


"uuuuuek....ueeek.." suara tangis sang bayi mungil. wajahnya yang tampan membuat mata akan terpana. bayi uang dikandung Jayanti selama seminggu itu akhirnya melihat dunia, Ia lahir tepat pada Pukul 1 Malam, sabtu Kliwon.


Bayi mungil nan tampan itu lahir pada hitungan Weton 17. Sabtu hitungan 9, dan Kliwon hitungan 8. Maka jumlah hitungan 17.


tanpa sepengetahuan siapapun, bayi mungil itu didamping Khodam Cakra Mahkota. Khodam itu memilih bayi mungil tanpa dosa ini untuk menjadi pendampingnya, karena kelak, bayi ini akan memiliki pribadi yang sangat luar biasa, dengan kekuatan spiritual yang tak tertandingi.


Khodam Cakra Mahkota, memilih mendampingi sang bayi hingga kapanpun. Ia akan melindungi si bayi dari apapun, kemanapun, dan sampai kapanpun.


"ini bayinya bu...selamat ya. " ucap perawat yang sudah membersihkan bayi mungil, sembari menyerahkan bayi itu kepada Jayanti.


"terimakasih . " ucap Jayanti sumringah.


Ia memandang kedua mata bayi mungilnya. mata itu memiliki sorot mata yang berbeda, sorot mata tajam, namun penuh keteduhan. Jayanti langsung jatuh cinta pada bayinya. Ia begitu menyanyangi bayinya.


Bram memeluk Jayanti. rasa bahagia yang tak terlukiskan. sudah sekian lamanya Ia menginginkan anak, maka ini menjadi hal yang sangat dinantikannya.


"Satria..kita beri nama Ia Satria." ucap Bram dengan mantab.


****


disebuah rumah mewah, ditengah kota. seorang ibu muda sedang merawat bayinya yang rewel. Ia begitu penuh cinta kasih merawat bayi itu.


"cuuup..cuup..sayang mama..jangan nangis ya sayang.." ucapnya sembari menggendong bayi mungil nan tampan.


Ia menggerakkan tubuhnya kesamping dan kekiri, agar bayinya tenang. Ia memberikan minum susu formula dalam botol dod. lalu bayi yang kehausan itu menghisap ****** dod dengan sangat lahabnya.


wanita Itu Ialah Jayanti, wanita yang menginginkan seorang anak untuk mendapatkan keturunan dengan jalan yang salah.


"Satria sudah tidur, sayang..?" ucap Bram yang muncul dari pintu kamar mandi.


"sudah sayang.. mama bahagia sekali pa, dapat merasakan bagaimana rasanya melahirkan dan menjadi seorang ibu." ucap Jayanti dengan penuh haru.


Bram mengecup kening istrinya. "papa akan lakukan apapun untuk membahagiakan kamu sauang." ucapnya dengan lembut.


Jayanti merasa kebahagiaannya kini telah lengkap. "Pa..kita jadi berkunjung ke Osaka, Jepang..?" ucap Jayanti dengan tatapan penuh harap.


"jadi sayang, semuanya sudah papa siapkan. besok kita berangkat. papa akan buktikan kepada orang tua papa, bahwa kamu benar-benar mengandung dan melahirkan normal, melalui vedeo kemaren." ucap Bram meyakinkan Jayanti.


"terimakasih pa..I Love U.. ucap Jayanti sembari tersenyum dan menuandarkan tubuhnya didada suaminya yang bidang sembari memberi susu formula pada bayi mungilnya.


****


Jayanti telah bersiap-siap untuk meninggalkan Indonesia, dan terbang ke Osaka jepang. Mereka akan membawa bayi mungil itu ikut bersama, sebagai pembuktian kepada keluarga mertuanya jika mereka berhasil melakukan program bayi tabung seperti yang mereka katakan pada Reksa, sang mertua.

__ADS_1


Vedeo yang dikirim Bram saat Jayanti melahirkan bayinya, mampu membuat kedua orang tuanya menyerajkan seluruh aset berharganya kepada mereka.


setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya mereka sampai di kota Umeda , Osaka, Jepang. di kota inilah mereka akan bertemu oleh Reksa, ayah dari Bram suaminya.


Bram dan Jayanti memasuki salah satu sebuah apertemen mewah yang terletak ditengah kota, Umeda. Osaka. mereka telah mengatur segalanya. kehadiran Satria dalam kehidupan mereka akan menjadi satu-satunya cara mendapatkan warisan dari Reska, ayah Bram.


didalam apertemen, yang lengkap dengan segala kemewahannya, mereka telah disambut oleh Reska dan Ayundi, Ayah dan Mama Bram.


Reska menyambut mereka dengan suka cita. apalagi Ia mendapatkan cucu laki-laki yang sangat tampan rupawan.


"ini beneran cucu Oma..?" ucap Ayundi dengan berbinar.


"Iya Ma..jelas Jayanti yang melahirkannya, masa iya Bram bohong sih..? kan kemaren ada vedeonya. setahun kami di Indonesia sesuai perjanjian denga papa, kami akan membawakan cucu untuk papa dan mama.


"tapi mengapa wajah bayi ini tidak mirip dengan kalian ya..?" ucap Ayundi memperhatikan wajah mungil bayi nan menggemaskan itu.


Bram dan Jayanti saling pandang. " mungkin masih bayi Ma, bisa berubah wajahnya.." ucap Jayanti, menyela ucapan ibu mertuanya.


Ayundi manggut-manggut mengerti. " mengapa tidak melahirkan cesar saja dan memilih melahirkan normal..?" ucap Ayundi.


"biar bisa merasakan bagaimana rasanya mengejan ma.." ucap Jayanti sekenanya. membuat semuanya tertawa mendengar jawaban Jayanti yang asal meluncur saja.


"sudah...sudah..jangan dibahas lagi, yang penting kita sudah memiliki cucu dari garis keturunan kita." sergah Reska, menghentikan perdebatan ibu dan anak menantunya, mengenai cucunya.


akhirnya Jayanti bernafas lega. ibu mertuanya tak lagi banyak bertanya. Satria junior yang mungil itu menangis karena kehausan. dengan sigap Jayanti membuatkan susu formula untuk bayinya.


****


sudah seminggu lebih Mala hanya diam termenung, meratapi nasibnya yang Malang. tatapannya kosong, air mata tak hentj mengalir dari pipinya. wajahnya kusut dan kedua matanya cekung.


kabar tentang bayi Mala yang hilang dengan cara ghaib membuat kegemparan diseluruh desa. bahkan sampai ke desa tetangga.


kabar itu akhirnya sampai ke telinga Hamdan. orang yang pernah mengobati Mbah Karso dalam pijat refleksi, sehingga membuat Mbah Karso mampu berjalan lagi.


"Assallammialaikum.." suara ucapan salam dari luar rumah. Roni yang masih memilih cuti, segera beranjak melihat siapa yang datang.


"waalaikum salam.." jawab Roni, dan berjalan menuju pintu depan. Ia melihat sosok Hamdan diambang pintu depan.


Roni sempat kaget karena mendapat kunjungan Hamdan dengan tiba-tiba. "eh Mas Hamdan, mari masuk .." ucap Roni dengan ramah dan menjabat tangan Hamdan.


Hamdan masuk kedalam rumah, lalu duduk dikursi tamu. "saya mendengar kalau bang Roni lagi mendapat musibah, maka saya berkunjung untuk menyampaikan bela sungkawa." ucap Hamdan membuka percakapannya dengan tulus.


Roni mengangguk dengan lemah.."terimakasih atas rasa empatinya mas.." ucap Roni lemah.


Hamdan menarik nafasnya dengan berat lalu menghelanya. "Bersabarlah, setiap ujian akan ada hikmah yang tersembunyi. saya membawakan sesuatu" Hamdan menjeda ucapannya.


Ia mengambil sesuatu didalam tas sandangnya, lalu mengekuarkan kantong plastik kresek. "Ini, ambillah..remas hingga halus dan mandikan pada istrimu, jangan lupa baca surah Ruq'yah, Al-fatiha, Ayat Qursi, Al-ikhlas, Al falaq, An nas, lalu tutup dengan shalawat. Insya allah kalian akan memiliki keturunan lagi." ucap Hamdan menjelaskan.


"Apa ini bang..?" ucap Roni penasaran.


"itu daun bidara, jangan sampai dilangkahi ya. yakin dan serahkan semuanya pada Allah, hanya Dia yang mengetahui segala-Nya.


Roni mengangguk mengerti. lalu Hamdan beranjak bangkit, dan permisi hendak pulang.


"saya permisi dulu, ada hal penting yang akan saya kerjakan. semoga Allah merahmati keluarga kalian..Ammiin..Assalammualaikum.." ucap Hamdan sembari melangkah keluar.


"Waalaikum salam." jawab Roni.


****


Roni mendekati Mala, membelai rambutnya dengan lembut, memeluknya dengan tulus."bersabarlah dik..yakinlah, akan ada kebahagiaan menanti kita, jika waktunya itu sudah tepat" ucap Roni membesarkan hati Mala.


Mala menatap dengan pandangan kosong. hatinya merasakan jika bayinya masih hidup. Ia merasakan ikatan bathin yang sangat kuat. Ia meyakini itu.

__ADS_1


dengan sabar, Roni merawat Mala. Ia pergi kekamar mandi, menyiapkan semua yang diperintahkan oleh Hamdan.


Ia membopong tubuh Mala kekamar mandi. Mala hanya pasrah saja. Ia kini seperti orang yang tak memiliki gairah hidup. Roni memandikan Mala dengan air bidara. Roni berharap Mala segera sembuh dari rasa traumanya dan menjalani hidup normal.


__ADS_2