Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Pernikahan Tak Terduga


__ADS_3

Bimo yang baru saja datang karena mendengar kabar dari Warga, merasa sangat kaget dan tidak menyangka apa yang terjadi pada kakak sepupunya itu.


"Mbak.." sapa Bimo dengan nada lirih, Mala menegadahkan wajahnya, mengharapkan kali ini ada yang mempercayainya. Bimo mengerjapkan matanya, memandang kakak sepupunya, setidaknya disaat seperti ini, Ia masih dapat memberikan kekuatan kepada kakak sepupunya, mencoba mempercayainya, meskipun itu sangat sulit. Hanya itu yang mampu Ia lakukan.


Mala merasa sedikit lega, karena masih ada yang mempercayainya.


Tak berselang lama, wali hakim yang ditunggu-tunggupun datang. Mbak Ratna beranjak bangkit, tanpa meminta persetujuan Mala, Ia memasuki kamar dan memungut hijab Mala yang tercecer dilantai kamar. Ia membawanya kepada Mala, lalu membuka selimut yang menutupi wajah dan rambutnya. Lalu Ia mencoba membantu mengenakan hijab itu kepada sahabatnya yang masih tampak syok.


Entahlah.. Ratna sendiri tidak tahu dengan perasaannya kini, mungkin dengan menikah lagi, menjadi jalan terbaik bagi sahabatnya itu, dari pada harus diarak keliling desa, yang akan membuat cacat namanya seumur hidup.


Meskipun wanita paruh baya itu sedikit kecewa dengan Mala, namun Ia mencoba menjaga hati sahabatnya, Ia akan mengorek keterangan dari Mala setelah peristiwa ini selasai. Lalu Ia menyeka air mata sahabatnya itu. "persiapkan dirimu, dengan kehidupan barumu.." ucap Ratna dengan lirih.


Wali hakim yang berasal langsung dari KUA itu sudah datang dihadapan mereka.


Lalu warga membuat formasi lingkaran. Setelah merasa siap, maka ijab kabul dadakan itu pun dilakukan.


Wali hakim itu menuntun Bayu untuk mengucapkan ijab qabul yang akan dilaksankan segera.


Dengan sangat lancar, akhirnya Bayu mengucapkan ijab qabul untuk pernikahan tak terduganya.


Maka terdengar kata "Sah.." dari mulut wali hakim , yang diikuti oleh para saksi. Maka pernikahan Bayu dan Mala menjadi pernikahan fenomenal dan menjadi perbincangan dikalangan para ibu-ibu biang ghibah dan juga para jomblo ngenes dan duda kesepian yang kini harus menelan kekecewaan, karena wanita yang menjadi incaran mereka telah menikah malam ini.


Setelah pernikahan selesai, maka para warga dan wali hakim mulai meninggalkan rumah Mala satu persatu. Kini tinggal mbak Ratna dan Bimo yang masih bertahan menemani pengantin baru yang menikah tanpa perencanaan tersebut.


"Selamat ya mbak.. Apapun itu sudah menjadi takdir hidup mbak, yang harus mbak terima dan dijalani." ucap Bimo mencoba menguatkan hati Mala, yang kini tampak menangis tersedu. Ia tidak tau harus menerima dengan perasaan apa pernikahannya ini.


"Apakah kamu masih mempercayai Mbak..?" ucap Mala, mencoba membuka mulutnya yang sedari tadi diam membisu. Suaranya bergetar dengan isakan tangisnya yang masih terdengar sendu.

__ADS_1


Bimo menganggukkan kepalanya. "Aku percaya dengan Mbak.. Namun apapun itu, jalani saja takdir hidup mbak yang sekarang." Bimo mencoba memberikan kekuatan pada kakak sepupunya.


"Mbak pulang dulu ya Mala, semoga pernikahanmu selalu diberi keberkahan.." ucap Mbak Ratna, sembari membelai lembut kepala Mala.


Mala memandang nanar kepada Ratna, meminta sekali lagi agar sahabatnya itu mempercayainya. Mbak Ratna mencoba menganggukkan kepalanya, mencoba mempercayai sahabatnya, meskipun itu sulit.


Disisi lain, Mala seakan dunianya berputar, bagaimana mungkin Ia dapat hidup dengan seorang pria yang dahulu pernah hampir menodainya, bahkan pria itu bisa sampai ke desanya tanpa sepengetahuannya. Bahkan kini mereka harus hidup dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak pernah diduga sebelumnya.


"Mbak.. Bimo pulang dulu ya.. Kasihan Sri sendirian dirumah, ini sudah tengah malam." ucap Bimo, lalu beranjak berpamitan. Bimo juga menyalami suami baru kakak sepupunya itu.


Setelah tidak ada satupun orang dirumah Mala, keduanya terdiam dalam kebisuan. Tidak berani saling memandang satu sama lainnya.


Mala tidak tahu apa yang harus dilakukannya, Ia belum siap dengan pernikahannya yang sangat tidak terduga. Bahkan Ia tidak memiliki keberanian untuk memberi kabar ini kepada Hadi. Rasa malu yang sangat teramat dalam membuatnya begitu sangat terpukul.


Mala beranjak bangkit dari duduknya, lalu melangkah dengan lemah menuju kamarnya. Kepalanya teramat pusing memikirkan hal yang tak dapat diterima oleh akalnya. Tanpa diduga, Ia merasakan dunianya sangat gelap, lalu .....


Mala tersungkur dilantai, tanpa sempat Bayu menagkapnya.


Pria yang sedari tadi terdiam duduk dilantai, lalu bergegas menghampiri Mala yang sudah tak sadarkan diri. Ia memangku wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya tersebut.


Tanpa menunggu lama, Ia membawa Mala memasuki kamar, lalu membaringkan wanita itu ditepian ranjang.


Ia memandangi wajah wanita itu, Ia sangat mengerti, jika Mala sangat syok atas apa yang terjadi.


"Maafkan aku, jika telah menjadikanmu halal bagiku, namun semua ini bukan inginku.. Sebenarnya aku ingin memilikimu dengan kerelaan hatimu, bukan dengan cara seperti ini.. Namun takdir berkata lain, kita harus menikah dengan cara yang tidak diinginkan.." ucap Bayu dengan lirih.


Pria itu menghela nafasnya dengan berat. Ia tahu, jika ada banyak pria yang patah hati atas pernikahannya dengan Mala. Itu terlihat dari beberapa para warga pria yang tampak tak suka dengannya.

__ADS_1


Bayu keluar kamar, lalu memungut selimut yang tadi sempat Ia gunakan untuk menutupi aurat Mala karena robekan paksa dari genderuwo tersebut.


Lalu Ia membawanya kembali kedalam kamar, dan menyelimutkan ketubuh Mala. "Aku berjanji akan menjagamu, dan aku tidak akan menyentuhmu sebelum kamu benar-benar menerimaku.." ucap Bayu, lalu keluar dari kamar Mala.


Ia melihat pintu depan yang masih terbuka, dan mencoba menutupnya. Saat pintu akan ditutup, Ia melihat dua kelebatan bayangan berwarna hitam dan putih yang menuju arah samping rumah Mala, dengan cepat Ia menutup pintu rumah, lalu kembali memeriksa kondisi Mala, dan memastikan dua makhluk itu tidak mengganggu wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Diluar rumah, terjadi perdebatan antara Nini Maru dan Genderuwo. Keduanya tampak saling menyalahkan satu sama lain.


"Bagaimana ini..? Seharusnya saya dikamar itu, kenapa jadi dia..? Ini diluar ekspektasi Ni. ? Aku sangat kecewa.." ucap Genderuwo, dengan raut wajah kesalnya.


Nini Maru menatap dengan tajam. "Lagian siapa yang suruh kamu pakai wajah dia segala..? Kan jadi runyam masalahnya..!" ucap Nini Maru dengan nada kesal.


"Kan ide kamu, Ni.. Kamu bilang kalau aku harus tampil tampan dihadapannya. Ya aku menyerupai Dia.." jawab Genderuwo membela diri.


"Emang gak ada lagi rupanya yang tampan didesa ini, sampai harus pakai wajah Dia.." cecar Nini Maru dengan sengit.


"Gak ada Ni.. Disini wajahnya standar semua.." jawab Genderuwo, mencoba terus beralibi.


Nini Maru semakin kesal " kalau sudah begini harus bagaimana..? Bukan cuma kamu yang kesal, tapi aku juga.. Dia itu sudah Ku targetkan untuk menjadi abdiku setelah mendapatkan tumbal janin terakhirku.. Tetapi kamu mengacaukan segalanya.." ucap Nini Maru dengan kesal.


"Aku juga patah hati Ni.. Selama aku berdiam didekat rumahnya, jauh sebelum Rianti, aku itu sudah lama sekali menginginkannya, namun tidak kesampaian juga.." jawab Genderuwo dengan penuh kekecewaan.


"gak tau akh.. Semua serasa gelap.." ucap Nini Maru dengan nada putus asa.


"Ya sudahlah Ni.. Aku kerumah pria itu dulu, mau bersenang-senang dengan dua asisten rumah tangganya.." ucap Genderuwo, lalu pergi menghilang tanpa permisi dengan Nini Maru.


Iblis betina itu mendengus kesal, karena kecerobohan genderuwo, Ia harus gagal dapat mengambil janin ke tiga malam ini, dan juga gagal memiliki Bayu, sang manusia pujaannya.

__ADS_1


__ADS_2