
Hari ini Roni libur bekerja. tubuhnya terasa lelah. Ia memerlukan waktu untuk beristirahat.
Roni menemui mbah Karso yang sedang berbaring dikamar sebelah. Menurut keterangan Hamdan, mbah Karso harus dilatih berjalan, agar sarafnya tidak kaku.
Roni mengangkat tubuh sepuh mbah Karso, Ia menjemur mertuanya di bawah sinar mentari pagi, lalu meletakkan tubuh mbah Karso pada kursi plastik santai.
menurut para peneliti dari Edinburgh University. Skotlandia menemukan bahwa kulit yang terpapar cahaya sinar matahari selama 20 menit, pembuluh darah merilis sebuah zat kimia penting disebut Nitra Oksida. zat ini berfungsi untuk menurunkan tekanan darah, mengurangi resiko serangan jantung, stroke dan penggumpalan darah.
~pantesan saja para petani tubuhnya lebih sehat daripada mereka yang bekerja di kantor ber-AC ya pemirsa.~
Roni berfikir bagaimana caranya agar bapak mertuanya segera sembuh dan dapat berjalan kembali.
Ia teringat sebuah kursi Roda yang ada digudang pupuk milik ibu majikannya. Ia akan meminta kursi roda tersebut esok. dimana nantinya kursi roda itu akan dijadikan sebagai alat membantu mbah Karso melatih berjalan.
setelah 20 menit berjemur dibawah sinar mentari, Roni mencoba memapah mertuanya, meski kaki kiri mbah karso lemah, namun Ia menutun bagaimana kaki kanan mbah Karso menjadi penopang tubuhnya.
Roni terus menyemangati bapak mertuanya agar segera sembuh.
setelah mampu membawa mbah Karso masuk kedalam rumah dengan terseok-seok, Roni meletakkan mbah Karso diranjang. kini gikiran mbah Karso untuk mandi dan sarapan.
mbok Darmi sudah menyiapkan sarapan, Sedangkan Mala, istrinya ingin mencuci pakaian. lama Ia menghidupkan mesin pompa air yang terhubung kesumur belakang, namun airnya tak mau keluar juga.
"bang..tolong adik dulu bang.." ucap Mala dari kamar mandi.
"ada apa dik..?"ucap Roni menghampiri. Ia melihat rasa sesak di dada Mala. mungkin karena kehamilannya yang sudah mulai membesar.
sebenarnya ada rasa sakit melihat perut Mala yang semakin membesar, namun Ia tak memiliki bukti yamg kuat. ini masih praduga saja.
"airnya gak mau keluar dari tadi bang. adik mau mencuci pakaian." ucap Mala dengan nada lirih.
Roni menatap wajah cantik istrinya entah dengan perasaan yang tak dapat diartikan. terkadang kecantikan tak selamanya membawa kebaikan, namun sebaliknya.
"ya sudah..adik matikan dulu saklarnya. nanti abag periksa pipa diluar. mungkin ada yang bocor atau pecah." ucap Roni dengan nada yang sebisa mungkin Ia jaga.
__ADS_1
Ia merasa Mala adalah korban dalam hal ini. jikapun Ia melaporkan kasus ini kepolisi atas korban pemerkosaan, sedangkan Mala sebagai korbannya saja tidak mengetahui bahwa Ia pernah diperkosa, karena Ia dalam kondisi terlelap karena memakan pil tidur.
Roni bergegas ke belakang dapur, menuju Sumur belakang. Ia memeriksa setiap inci dari pipa tersebut, jika saja ada yang pecah atau bocor.
Roni menemukan pipa itu pecah, seperti pijakan kaki orang dewasa. ada tapak sendal disana. karena tanah sedikit basah, maka tapak sendal itu meninggal jejak diatas tanah. Ia memeriksanya. memastikan itu tapak sendal seorang pria. "tapak sendal siapa ini? jika milik bapak mertua tidak mungkin, karena napak sedang stroke?" ucap Roni sembari berfikir.
"sepertinya tapak ini sering melalui tempat ini. tapi apa yang dilakukannya disini..?" ucap Roni pada dirinya.
Roni memperhatikan kemana arah langkah jejak tapak tersebut.
Roni memgikutinya, lalu berhenti sampai dipohon mangga. Roni mengamati pohon mangga itu, fan alangkah terkejutnya Roni, Ia baru menyadari jika jendela dapurnya terekspos dari balik pohon mangga. "brengsek..sepertinya Ia selalu mengintai dari pohon mangga ini. aku akan menebang pohon mangga ini." ucap Roni kesal.
lalu Ia melihat jalanan setapak, Ia mengikutinya. "mengapa ada jalan setapak disini..? siapa yang sering melaluinya.? sepertinya warga desa tidak pernah melalui jalan ini.?" ucap Roni penasaran.
Ia terus mengikuti kemana arah jalan itu sampai berakhir.
Roni terus berjalan disemak belukar, hampir 300 meter Ia berjalan didalam semak belukar tersebut, lalu tiba-tiba...[buuuuukh...] sebuah hantaman benda tumpul dikepalanya. Ia limbung lalu pemandangannya menjadi gelap, dan terjatuh tak sadarkan diri.
sesosok pria berbadan kekar menyeret tubuh Roni yang tak sadarkan diri. lalu membuangnya keparit jalan.
Roni mengerjapkan matanya, Ia memandang kesekeliling. Ia melihat jika Ia berada didalam parit yang tidak berair dan ditumbuhi reerumputan. ternyata Ia berada ditepi jalan utama desa. "siapa yang membawaku kemari.?" ucap Roni, sembari memegangi kepalanya yang sakit.
warga yang melintas tidak melihat keberadaan Roni, karena tubuhnya tertutup oleh rerumputan. Roni berusaha untuk bangkit, dengan berjalan terhuyung-huyung Ia mencoba mencapai jalan utama.
Ia memegang kepalanya seperti berdarah, karena hantaman sebuah benda. Ia berinisiatif untuk kerumah bidan Sri melakukan perobatan. sebelum Ia mencapai rumah bidan Sri, Ia menemukan tanaman perdu daun senduduk (singgani). Ia memetik beberapa lembar daun senduduk dan mengunyahnya hingga *****. lalu Ia menempelkan dikepalanya yang luka dengan cara ditekan. kegunaannya daun senduduk yang dikunyah hingga *****, dapat menghentikan pendarahan karena luka robek.
dengan tubuh yang terhuyung, Ia akhirnya sampai dirumah bidan Sri. saat akan memasuki riangan praktek, Ia mendengar suara tawa bidan Sri.
Roni mencoba menunggu dibangku antrian "mungkin bu bidan sedang ada pasien."ucap Roni, sembari menyandarkan kepalanya ke dinding.
setelah 10 menit lamanya menunggu akhirnya Ia melihat seorang pasien keluar dari kamar tersebut. seorang pria berbadan kekar dengan menggunakan jaket hoodie dan memakai kacamata hitam.
Roni yang kepalanya sedikit pusing tidak begitu memperhatikan siapa pria itu.
__ADS_1
lalu Ia memasuki ruangan praktek bidan Sri.
Bidan Sri sedikit kaget dengan kemunculan Roni. Ia membenahi roknya sedikit terangkat.
"a..ada apa bang Roni..? bang Roni sakit apa..?" ucap Bidan Sri dengan kikuk.
Roni menghela nafasnya dengan kasar. "kancing bajunya benahi dulu bu bidan" ucap Roni sinis.
"ooo...iya..iya.." ucap bidan Sri sembari memutar tubuhnya, lalu membenahi kancing bajunya yang lepas dua. wajahnya bersemu merah menahan malu.
setelah membenahi pakaiannya, Bidan Sri kembali menanyakan kondisi Roni.
"bang Roni sakit apa..? ucap Bidan Sri salah tingkah. seperti orang yang sedang tertangkap basah.
"tolong jahit kepala belakang saya, ada luka robek" ucap Roni dengan datar.
"emangnya kenapa bisa robek bang.? uvap Bidan sri penasaran.
"tadi tanpa sengaja, saya terjatuh dan kepala saya terbentur batu." ucap Roni berbohong.
lalu Bidan Sri membersihkan kepala Roni dengan menggunakan cairan alkohol setelah itu menjahitnya.
setelah selesai menjahit kepala Roni yang luka, bidan Sri meracik obat yang akan diberikan kepada Roni.
"ini antibiotiknya dihabiskan ya bang..dan aturan minum obatnya ada ditertulis disetiap bungkusnya.
Roni mengangguk mengerti.
"biaya perobatannya esok saya bayar ya?sekalian pergi kerja." ucap Roni tanpa ekspresi.
Bidan Sri mengangguk menyetujui.
Roni beranjak keluar dari ruang praktek bidan Sri. saat Ia berjalan dihalaman tempat praktek bidan Sri, Ia menemui jejak sendal yang sama dengan yang ditemui saat Ia menyusuri jalanan setapak.
__ADS_1
"sial...berarti tadi yang kulihat tadi adalah orang yang sama yang melakukan pengintaian dirumahku. jangan Ia yang memukul kepalaku tadi.
Ia ingin berbalik menemui bidan Sri, tetapi Ia menghentikan langkahnya. "tidak mungkin bidan Sri mau jujur siapa yang sedang berada di ruang prakteknya, sepertinya mereka habis bercinta. aku akan cari tau sendir" ucap Roni. lalu melanjutkan langkahnya kembali pulang.