
Amran.. Pria berusia separuh baya itu masih dalam kondisi bingung.
Ia menatap satu persatu warga yang berkerumun dirumahnya.
"A..ada apa ini..? Mengapa ada banyak orang dirumah saya..?" tanya Amran bingung.
Shafiyah mendekati sang ayah. "Tidak ada apa-apa Yah.. Hanya saja tadi Ayah mengigau dan semua orang merasa panik.." jawab Shafiyah mencoba menenangkan Ayahnya.
warga yang berkumpul didalam rumah Amran merasakan sesuatu yang janggal pada Satria.
Bagaimana mungkin pemuda tampan itu mampu menyembuhkan Amran dengan begitu mudahnya.
Mereka ada yang merasa takjub, ada juga yang mencibir. Mereka yang mencibir menduga kika Satria mewarisi ilmu hitam dari Mbah Karso yang merupakan kakeknya.
Kasak kusuk mulai terjadi. Mereka menatap Satria penuh tanda tanya. Jika dibanding Hadi, anak yang memang jelas kelahirannya, Satria sangatlah berbeda dari sikap dan gaya bicaranya.
Pada wajah dan fisik, keduanya tampak mirip, namun ilmu kebathinan yang dimiliki oleh Satria tidak ada pada diri Hadi.
Tentu hal ini menjadi tanda tanya besar bagi para warga. Apalagi Satria tergolong sangat muda, dan masih banyak para sepuh desa yang tidak memiliki kemampuan yang dimiliki oleh Satria.
Satria menyesap segala isi hati yang berdendang disetiap hati para warga. Satria merasakan jika hal yang baru saja dilakukannya menimbulkan sebuah polemik.
"Siapa kamu hai anak muda..?" Tanya Amran kepada Satria. Ia belum pernah bertemu dengan Satria sekalipun.
"Saya anaknya Bu Mala, pemilik rumah ini yang dahulu dijualnya kepada bapak.." ucap Satria sopan.
Amran mengangguk mengerti. Ia menatap Satria penuh makna. Ada rasa yang ingin Ia ungkapkan, namun ragu dan takut menyakiti.
Sebenarnya Amran ingin menjual rumah ini kembali. Karena selama Ia tinggal dirumah ini, ada banyak kejadian janggal yang Ia alami.
terkadang Ia melihat hal-hal yang mistis dan menyeramkan.
"Jika ingin mengungkapkan uneg-uneg bapak silahkan saja.. Saya akan mendengarkannya.." ucap Satria dengan senyum ringan.
Amran terkeperangah mendengar ucapn Satria, Ia tidak menduga jika Satria mampu membaca isi hatinya. "Siapa pemuda ini sebenarnya..? Mengapa Ia seperti mengerti apa yang sedang aku rasakan.." Amran berguman lirih dalam hatinya.
Satria memandangnya dengan ramah.
Sebagian warga mulai berpulangan satu persatu. Kini Shafiyah duduk disisi Ayahnya.
Amran berusaha bangkit dari duduknya, Ia duduk bersandar didinding. Lalu menselunjurkan kakinya.
Ia berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk diutarakannya kepada pemuda itu, tanpa harus menyinggung perasaannya.
Karena bagaimanapun, pemuda itu adalah keturunan pemilik rumah yang Ia tempati.
"Saya ingin menjual kembali rumah ini, saya ingin pindah dari sini.." ucap Amran merasa sungkan.
Satria tersenyum ringan. "Tidak apa, saya akan membelinya kembali, kapan saja Bapak ingin memjualnya hubungi saya." ucap Satria.
Amran tersenyum kikuk.. Ia merasa tak enak hati akan ucapannya.
Satria beranjak dari duduknya, lalu berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
"Saya pulang dulu Pak, jika ada sesuatu yang dibutuhkan silahkan hubungi saya.." ucap Satria menegaskan.
Amran menganggukkan kepalanya. Ia menatap pemuda didepannya dengan tatapan dalam.
Satria melangkah meninggalkan rumah tersebut. Saat Ia melintasi kamar depan, sesaat Ia mendengar sesuatu.
Sssssshhhhh....
Satria menhentikan langkahnya, memandang pintu kamar yang tampak gelap dan tertutup.
Shafiyah menghampirinya. "Ada apa Pak..?" tanya Shafiyah penasaran.
"Siapa yang menempati kamar ini..?" tanya Satria kepada Shafiyah.
Shafiyah menatap Satria, netra matanya tampak meminta sesuatu.
"Tidak ada.. Kamar ini terkunci sejak kami membelinya, beberapa kali kami ingin membukanya, namun tidak dapat dibuka. Memangnya kenapa kak..?" ucap Shafiyah dengan lirih dan berkata jujur.
"emmm.. Tidak ada apa-apa.. Hanya bertanya saja.." jawab Satria berbohong.
Satria tidak ingin mengorek terlalu jauh, karena hanya akan memberikan rasa takut pada gadis tersebut.
"Saya permisi dulu.. Ada yang harus saya kerjakan dirumah." ucap Satria berpamitan pada sang gadis.
Shafiyah mengangguk, lalu megantar Satria sampai kedepan halaman.
Satria membuka pintu mobil dan bersiap akan masuk.
"Pak..." panggil Satria dengan lirih
"Ya..." jawab Satria, sembari menoleh kearah Shafiyah.
"Terimakasih atas segalanya.." ucap Shafiyah lirih.
Satria tersenyum, sembari mengerjapkan kedua matanya.
Sesaat Ia merasakan ada debaran-debaran kecil menggelitik hatinya.
Ia memasuki mobil dengan perasaan yang tak dapat diartikannya, Ia tersenyum dan tak mampu menutupi perasaannya, jika gadis manis itu membuatnya sedikit berbunga.
Satria mengklakson Shafiyah, meninggalkan rumah itu menuju kembali pulang.
Saat diperjalanan, Satria terperanjat saat melihat dashboar, seseorang berwajah pucat duduk di jok tengah.
"haah..!" Mata satria menatap kearah sosok itu. Tatapan dingin dan penuh tatapan kosong.
Sesaat Satria memperlambat laju mobilnya, lalu menepikannya dipinggir jalan. "Kakek.." ucap Satria, sembari tetap menatap dashboar mobil.
Sosok itu menatap Satria dengan tatapan kosong dan penuh harapan.
"Hancurkan makhluk iblis itu.." ucap sosok Mbah Karso dengan lirih.
Satria terperangah, lalu Ia menoleh kearah jok mobil tempat sosok mbah Karso duduk. Namun sosok itu telah menghilang.
__ADS_1
Satria mengatur detak jantungnya agar berdetak normal.
Ia mencoba mencari tau pesan tersirat dari apa yang di sampaikan oleh sosok Mbah Karso.
"Tirakat.. Haruskah aku melakukannya.?" ucap Satria dengan penuh tanda tanya.
Ia kembali menyetir mobilnya, lalu menuju pulang kerumah.
Sesampainya dirumah, Ia turun dari mobil, dan menuju pintu rumah. Saat melihat sekeliling rumah yang masih dalam tahap renovasi, Satria melihat sekelebat bayangan hitam berada diatas bubungan rumah.
Satria memundurkan langkahnya, untuk memperjelas dengan apa yang dilihatnya.
Satria menatap sosok hitam tersebut. Lalu terdengar suara kikikan yang menakutkan.
"Kau...!!" ucap Satria penuh amarah..
Wuuuuuuuussshhh...
Seketika sosok hitam itu menghilang, ditelan kegelapan malam.
Satria dalam kondisi yang sangat penuh amarah, Ia mengingat akan Hadi yang baru saja kehilangan calon bayinya. Semua itu karena perbuatan iblis betina tersebut.
Satria melangkah mendekati pintu masuk, lalu terdengar suara cicit beberapa ekor kelelewar yang sedang bergelantungan diatas fentilasi udara yang berada tepat diatas pintu masuk.
Kehadiran Satria mengagetkan mereka yang sedang berniat masuk kedalam rumah milik Ibunya.
Satria sempat terkejut dengan hewan nokturnal tersebut, namun Ia mencoba menepisnya.
Tok...tok..tok..
Satria mengetuk pintu rumah. Lama tak mendapat jawaban.
Tok...tok..tok...
Satria kembali mengetuk pintu rumahnya.
"Bu... Ibu.. Ini Satria.." ucap Satria dengan suara sedkit keras, agar Mala mendengarnya.
Sepertinya Mala Ketiduran. Sehingga tidaj mendengar ketukan pintu..
Sesaat Satria mencium aroma kembang kantil dan melati.
Satria menajamkan Indra penciumannya. Ia mencium asal sumber wangi itu.
Satria menghentikan pengendusanya. Ia melihat sosok makhluk menyeramkan.
Nini Maru sudah berdiri disamping sisi dinding sebelah kiri ruamah.
Satria yang menayadari kehadirannya, lalu menatap makhluk itu dengan penuh amarah.
Satria beranjak ingin menghampiri makhluk itu. Saat menyadari jika Satria akan melenyapkannya..
Nini Maru sudah terlebih dahulu menghilang. Membuat amarah Satria.
__ADS_1