Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
pengobatan Shinta


__ADS_3

Hamdan Dan Hadi telah mencari daun bidara untuk memandikan Shinta.


Hadi sudah memesannya secara online, namun dibatalkan karena alasan yang tidak masuk akal.


Hamdan mengajak Hadi kerumahnya, dikampung sebelah. Ia memiliki banyak daun bidara. Lalu mereka menuju rumah Hamdan. Shinta bersikeras ingin ikut, Ia tidak ingin jauh dari Hadi sedetikpun.


Shinta merasakan ketakutan yang luar biasa saat mengenang setiap peristiwa yang begitu sangat menakutkan.


Hadi akhirnya membawa Shinta kerumah Hamdan.


"Bu.. Kami kerumah Paman Hamdan ya..? Hari sudah mulai siang, jadi takut kesorean.." ucap Hadi kepada Mala.


"Iya.. Berhati-hatilah.. Karena Iblis itu tampak sangat menginginkan janin Shinta." Mala mencoba mewanti-wanti.


Hadi menganggukkan kepalanya. "Tenang saja Bu.. Tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang mampu melawan kekuatan Allah." ucap Hadi, lalu beranjak dari tempatnya.


Disepanjang perjalanan, mereka mengobrol dengan berbagai aneka perbincangan.


Hingga Akhinya Hadi menanyakan permasalahan Satria kakaknya yang menghilang misterius.


"Paman Ham.. Bisa bertanya sesuatu.?" Hadi bertanya ragu-ragu.


"Apa itu..? " jawab Hamdan singkat.


"Apakah paman Hamdan dapat melihat dimana keberadaan Ka Satria..?" ucap Hadi dengan penuh harap.


Hamdan menarik nafasnya dengan sangat dalam, lalu menghelanya dengan kasar.


"Dia berada disuatu tempat. Tempat yang bukan alam manusia sebenarnya berada. Setelah pengobatan Shinta selesai, nanti kita akan coba melakukan pemanggilan untuknya, agar Ia segera kembali kerumahnya yang sebenarnya." jawab Hamdan dengan nanar.


Hadi mencoba menganggukkan kepalanya. Berarti dugaannya benar, dan apa yang diucapkan oleh Ibunya itu benar.


Hadi melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati,Ia tidak ingin mengganggu kondisi kandungan Shinta yang memang harus dijaga.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya mereka sampai kediaman Hamdan. Sebuah rumah minimalis yang sangat terkesan arstestik kekinian.

__ADS_1


Hamdan membuka pintu rumahnya, lalu mempersilahkan kedua tamunya masuk.


Sementara itu, Ia pergi kebelakang rumah, untuk mengambil daun bidara yang Ia tanam dan tumbuh dengan sangat subur.


Saat Ia kebelakang rumah, Ia terperangah oleh apa yang sedang dilihatnya. Tampak olehnya pohon bidara yang Ia tanam sudah hancur, bahkan seperti habis ditebas seseorang.


Seketika Hamdan merasa heran. Dimana saat beberapa waktu yang lalu Ia tinggalkan, tumbuhan itu masih sangat bagus keadaannya. Berbeda halnya dengan saat sekarang, dimana tidak lagi tampak sebatangpun yang tersisa.


Tak lama kemudian, tampak dua orang wanita datang sembari berlari kecil menghampiri Hamdan.


Nafas mereka tampak tersengal. Lalu keduanya menghadap kepada Hamdan.


"Hamdan.. Maaf kan Ibu, karena sudah mengambil daun bidara untuk pengobatan kanker yang kinin telah ibu derita. Setelah ada minum teh bidara ini, rasa sakitnya mulai berkurang. Karena cuma nak Hamdan yang punya, ya saya ambil disini terus." ujarnya dengan jujur dan merasa bersalah.


wanita yang satunya juga tampak gelisah. "Ia Nak Hamdan..Ibu juga minta maaf ya, karena mengambil daun bidara kamu, Ibu ambil buat tumisan dan sayur lodeh."


Hamdan tidak tahu apakah harus marah atau mengikhlaskannya. Ia menyadari jika tanaman itu memang sudah diniatkan untuk disedekahkan bagi siapa saja yang membutuhkannya, tetapi bukan berarti harus sampai ditebas habis tak besisa. Sebagai tetangga kita juga harus memiliki etika dan akhlak dalam memanfaatkan segala sesuatu yang sudah menjadi hal umum.


"Saya tidak marah jika ibu-ibu memanfaat tumbuhan yang saya tanam. Semoga menjadi sedekah jariyah saya. Namun alangkah bijaknya nika tidak sampai ditebas habis, dan tidak menyisakan yang empunya tanaman..? Dan saya harap, ini menjadi pelajaran kedepannya. Dimana saat ini saya juga lagi membutuhkan daun itu untuk pengobatan istri keponakan saya." Hamdan berujar dengan sesopan mungkin.


Hamdan mendengus, mencoba bersabar. Karena Ia yakin, ini semua terjadi juga atas ijin Allah.


Hamdan mencoba berfikir, mengingat siapa saja yang pernah menanam daun bidara tersebut.


"Pak Jamal.. Ya.. Dia ada menanmnya." seketika Hamdan merasa lega.


Hamdan menemui Hadi dan Shinta yang kini sedang beristirahat di sofa.


"Hadi.. Paman pinjam dulu mobil kamu, dan minta kuncinya. Soalnya daun bidara milik paman sudah habis diambil tetangga tanpa sisa. Paman mau coba meminta ke rumah teman. Sekitar 15 menit dari rumah. Kalian menunggu didalam rumah saja, jangan kemana-mana." Titah Hamdan mengingatkan.


Hadi dan Shinta terperangah mendengan penuturan dari Hamdan. Namun mencoba untuk bersabar. Lalu keduanya mengangguk setuju, dan Hadi memberikan kunci mobil kepada Hamdan.


Hamdan meraihnya, lalu pergi menuju kerumah Jamal sahabatnya.


Sementara itu, Shinta merasakan sangat haus. Ia ingin sekali meminum air sejuk atau air es. Tubuhnya terasa sangat gerah.

__ADS_1


"Yank.. Aku pengen minum es dawet.." ucapnya manja.


"Haaah..? Dimana ada jual es dawet sayang..? Lagian Kakak juga tidak mengenal daerah sini." jawab Hadi dengan sabar.


"Tapi aku pengen kali lho yank.. Kalau anaknya nanti lahir ileran jangan salahkan aku ya.." ujar Shinta merengek sembari manyun.


Dia tidak tahu, entah mengapa Ia begitu menginginkan es dawet saat ini juga. Membayangkannya saja Ia sudah sangat senang, apalagi sampai keturutan.


Akhirnya Hadi tak mampu menolak keinginan Shinta. Ia beranjak dari duduknya, lalu ingin pergi mencari es dawet yang ada dipinggir jalan.


"Yank.. Ikut.." ucap Shinta manja. Apapun keinginannya, tak mampu bagi Hadi untuk menolaknya.


Mereka meninggalkan rumah Hamdan. Menyusuri jalanan yang masih tergolong sepi. Rumah penduduk masih tergolong sangat jarang. Mereka bertemu dengan dua orang ibu-ibu yang tadi datang kerumah Hamdan, yang meminta maaf atas habisnya daun bidara milik Hamdan.


"kalian ya keponakannya Hamdan..?" ymtanya seorang dari mereka. Lalu yang satunya melirik kearah perut Shinta.


"Sudah usia berapa kandungannya dik.?" tanya wanita satunya , dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Emmm..du.." suara Shinta tertahan ditenggorakannya.


"Dawet.. Kami lagi mencari dawet.." Sela Hadi dengan cepat. Lalu menarik pergelangan tangan Shinta agar menjauhi kedua orang tersebut.


"Maaf mbak.. Kami permisi dahulu.." ucap Hadi dengan cepat.


Shinta merasa bingung dengan sikap Hadi, karena terkesan seperti menghindari kedua orang itu.


Setelah cukup menjauh, Shinta yang sedari tadi penasaran tak mampu membendung rasa ingin tahunya.


"Ada apa yank..? Mengapa ayank tampak terburu-buru..?" tanya Shinta dengan wajah penasaran.


"Kakak kasih tahu ya yank.. Jangan pernah sebutkan usia kandungan kamu yang sebenarnya kepada orang lain, karena nantinya akan dapat dipindahkan atau diambil oleh mereka." Tutur Hadi dengan serius. Ilmu kedokteran tak cukup saja untuk memahaminya.


Shinta mengangukkan kepalanya, tanda mengerti. "Maaf, kalau Aku ceroboh.." jawab Shinta.merasa bersalah.


"Sudah.. Semua juga sudah berlalu, kita jadikan pelajaran. Karena kita tidak pernah tau isi kepala seseorang." Ucap Hadi, mencoba selembut mungkin memberi pengertian kepada Shinta.

__ADS_1


__ADS_2