
Mentari pagi bersinar cukup cerah. Mala memasak sarapan, dan tampak Mirna keluar dari kamar Hadi, memperhatikan apa yang dikerjakan oleh Mala. Ia bingung dengan semua peralatan memasak itu, ingin membantu namun tak memahaminya.
"Sudah bangun.." sapa Mala kepada gadis itu.
Mirna hanya menganggukkan kepalanya. Lalu Mala menyelesaikan masakannya, dan menatanya dimeja makan.
Setelah itu, Ia membersihkan piring kotor, semuanya tak luput dari perhatian Mirna.
Setelah selesai, Mala melihat tas ransel milik Satria yang tergeletak begitu saja dilantai dapur, Ia memungutnya. Mala mencoba memeriksanya. Lalu tanpa sengaja Ia menyentuh benda didalam tas tersebut. Dengan cepat Ia mengeluarkannya.
Seketika Mala terperangah, karena benda tersebut adalah dua buah toples berwarna ungu yang kemarin hilang dan Bayu mengatakannya telah memberikannya kepada nenek Tua. Namun mengapa ada pada Satria..? Mala merasa bingung.
Saat bersamaan, Satria muncul didapur, untuk bersarapan. Ia menuju meja makan , dan duduk dikursi kosong, disana sudah ada Mirna yang duduk sedari tadi memandangi Mala.
Seketika Mala menoleh kearah Satria, sembari memegang dua buah toples tersebut. "Mengapa toples ini bisa bersamamu...?" tanya Mala penasaran.
Satria mengernyitkan keningnya, mencoba mengingatnya. "Oh... Itu temanku yang membawakannya, katanya Ia mendapatkannya dari orang baik hati, Ia yang membawakan makanan untukku saat berada di goa.." Satria berusaha jujur.
Mala tercengang mendengarnya. "Apakah temanmu itu seorang nenek tua..?" cecar Mala dengan tak sabar.
Satria memejamkam matanya, mencoba menelisik pandangan bathinnya. "Ya.. Seorang nenek Tua.." jawab Satria dengan singkat.
"Astagfirullah.. Berarti selama ini dia datang meminta nasi untuk makanan kamu.?" ucap Mala seakan tak percaya.
"Iya Bu, dia yang membantu Satria, dalam menyelesaikan misi." jawab Satria jujur.
Mala terdiam terpaku. Lalu bagaimana dengan cerita toples itu? Bahkan Ia memaksa Bayu menggantinya, dan Pria itu benar-benar menggantinya. Mala merasa menyesalinya, dan begitu merasa bersalah.
Lalu Ia meletakkan pakaian kotor satria didalam mesin cuci, dan dua buah toples ungu itu diwashtafel.
"Ya, sudah... Mari kita sarapan." Ajak Mala, lalu menuju meja makan, dan ketiganya menikmati sarapannya.
Setelah sarapan, Mirna mulai membantu Mala, dengan mengamati setiap apa yang dilakukan oleh wanita itu.
__ADS_1
"Bu... Satria ingin mengatakan sesuatu.." ucap dengan lirih.
Mala menoleh kepada puteranya, lalu duduk kembali. "Ada apa...? Katakanlah?" jawab Mala dengan penasaran.
"Maukah Ibu melamarkan Syafiyah untukku, esok lusa, karena Hadi juga akan ikut.. Maka menunggu Ia datang." ucap Satria dengan senyum yang ditahan.
Mirna menghentikan sejenak mencuci piringnya, mendengarkan perbincangan keduanya. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Entah apa yang sedang difikirkan gadis itu, wajahnya tampak berubah. Namun berusaha menyembunyikan.
"Baiklah... Ibu akan melamarkannya untukmu." jawab Mala bersemangat. Hal itu membuat Satria mengembangkan senyumnya.
Dalam rasa kebahagiaan itu, tiba-tiba Mala melirik kepada Mirna "Jika Hadi datang, bagaimana dengan Mirna.? Harus tidur dimana Ia..?" Mala mulai memikirkan gadis itu.
Mirna tersenyum dengan terpaksa. "Kamar sebelah dapur ini juga tidak mengapa Bu.." jawabnya untuk pertama kali, setelah beberapa hari tak pernah membuka mulutnya untuk berbicara.
Mala dan Satria saling pandang."Kamu tak mengapa dikamar itu...?" tanya Satria merasa iba.
"Sudah diberi tumpangan hidup saja sudah merupakan hal yang sangat baik." jawab Mirna dengan senyum yang dipaksa.
"Ya sudah.. Nanti kita perbaiki dan kita bersihkan, juga ditata ulang, agar kamu nyaman." jawab Mala menimpali, karena mereka tak memiliki pilihan lain.
Ditempat lain, Hadi berpamitan pulang kekampung halaman. "Kakak pulang dulu ya sayang... Mau ikut melamarkan calon kakak ipar." ucap Hadi kepada Shinta.
"Iya sayang... Tapi Aku gak ikut ya, soalnya baru kemarin dari sana, masih capek banget. titip salam saja sama semuanya." ucap Shinta dengan nada tulusnya.
Hadi menganggukkan kepalanya, lalu berpamitan untuk pergi, agar segera sampai, dan esoknya bisa menghadiri acara lamaran buat Satria.
Ia menempuh perjalanaan sendiri menuju kekampung halaman, terasa sunyi dan membosankan, Ia memilih memutar musik slow rock untuk menemani perjalanannya.
Sementara itu, Mala memesan segala perlengkapan hantaran untuk dibawa kekeluarga Syafiyah. Ia memesan semua yang diperlukan.
"Sayang... Apakah kamu dan Syafiyah sudah memutuskan berapa nilai Nominal uang yang akan kamu serahkan sebagai seserahan.?" ucap Mala dengan sedikit hati-hati, karena Ia memahami jika saat ini keuangan mereka sedang terpuruk.
"Belum Bu, tetapi nanti akan Satria usahakan berapapun yang diminta keluarganya." jawab Satria meyakinkan.
__ADS_1
Mala sedikit lega, meski ada rasa ragu. Apalagi Ia mengetahui jika Syafiyah kini menjabat sebagai kepala puskesmas, dan berpendidikan, tentu keluarganya akan meminta hantaran yang juga tinggi.
Satria mencoba mengecek sisa saldonya. Hanya tinggal 100 juta saja, karena sepertinya saldo direkening yang berhubungan dengan perusahaan telah dibekukan oleh Rakesh.
Mengingat jumlah biaya yang akan dikeluarkan untuk hantaran dan resepsi tentulah tidak mencukupi, dan Satria hanya mengelus dadanya, berharap akan ada keajaiban. Jika harus mencarinya dalam waktu singkat tentu tidaklah mungkin dapat secepatnya.
Mala mengeluarkan tabungannya, Ia mengambilnya karena ingin membantu membayar segala pesanan untuk hantaran.
Ia mengorbankan segalanya demi mewujudkan segala niat baik puteranya.
******
Hari berganti Malam, sekitar pukul 6 sore,Hadi telah sampai dirumah Mala. Ia tampak lelah. Lalu menuju masuk kedalam rumah.
"Assalammualaikum.." ucap Hadi dengan suara yang terdengar lelah.
"Waalaikumsalam..." sahut Mala yang keluar dari kamarnya dengan menggunakan mukena, karena akan bersiap untuk shalat Maghrib.
"Hadi... Kamu sudah sampai sayang..?" ucap Mala, sembari mengecup pipi puteranya.
Hadi membalas senyum lelahnya. Ya sudah, silahkan beristirahat sana Ya, Ibu mau shalat maghrib dahulu." ucap Mala dengan lembut.
Hadi hanya menuruti ucapan Ibunya, Ia beranjak menuju kamarnya, dan membaringkan tubuhnya.
Sedangkan Mirna sudah berada dikamar belakang. Matanya nanar memandangi langit-langit kamarnya. Rasa goresan luka dihatinya terlihat sangat jelas, namun bukankah Ia juga menyetujui, jika kelak menjadi yang kedua, bahkan yang ketiga.
Ia mencoba tersenyum, entah apa arti dari senyumannya, lalu Ia mencoba memejamkan matanya. "Kau milikku..." Mirna berguman lirih, dan mencoba menghantar tidur.
Sementara itu, Satria masih tampak gelisah dengan pembicaraannya siang tadi bersama Mala, sang Ibu. Ia membenarkan ucapan Ibunya, jika uang hantaran akan menjadi persoalan dibelakang nanti, maka Ia mencoba menghubungi Syafiyah, untuk mengkonfirmasi tentang rencana keluarga gadis itu dalam meminta uang hantaran lamaran.
"Sayang.. Maaf jika menganggu, bolehkan kakak bertanya dan mengetahui berapa uang hantaran yang diinginkan oleh keluargamu.?" Satria mengirimkan pesan tersebut via pesan WA.
Namun notif itu hanya satu centang, menandakan jika wanitanya sedang tidak online.
__ADS_1
Satria memejamkan matanya, mencoba membaca situasi saat ini dikediaman calon istrinya. Rumah itu tampak ramai dikunjungi oleh sanak kemuarganya. Satria memperkirakan jika itu menyambut kedatangan Ia dan keluarganya untuk acara lamaran dirumahmya.