
Syafiyah menatap layar phonselnya, lalu melihat notif apa saja ygng tertera disana. Namun tak ada satupun yang tertulis dari seorang pemuda yang menitipkan rindu dihatinya.
"Bagaimana kabarmu..? Apakah kamu baik-baik saja..?" Shafiyah dalam kegusaran hatinya, menatap hampa pada pandangannya. hatinya terasa sepi, meski berada dikeramaian.
Malam semakin larut, kegelapan kian pekat, dan suasana semakin mencekam dengan kesunyian yang nyata.
Seorang gadis dengan raut wajah murung dan tak bersemangat berbaring ditepian ranjangnya.
Seumur hidupnya Ia baru kali ini merasakan bagaimana rasanya rindu yang teramat dalam terhadap seseorang.
Gadis itu terlihat gelisah. Ia berulang kali merubah posisi tidurnya dengan sangat cepat. Sesaat Ia memeluk guling dengan berharap dapat melepaskan rindunya yang begitu teramat dalam.
"Hadirlah.. Meski dalam mimpi saja.." ucapnya lirih, penuh pengharapan. Kemudian Ia mencoba untuk memejamkan matanya, mencari sosok pemuda itu dalam mimpinya.
*****
******
Shafiyah berada dalam sebuah padang bunga liar, dan padang bunga liar itu tertutup kabut asap tebal. pandangannya terhalang sekian meter dari jarak pandang. Matanya mulai menyapu sekelilingnya, hanya ada kepekatan kabut.
"Dimana aku..? Mengapa tempat ini terasa asing bagiku..? Aku tidak mengenalnya.." Shafiyah tampak bingung dengan semuanya.
Kini Ia mulai beranjak dari tempatnya, mencoba menyusuri padang bunga dengan penuh bimbang.
Saat ini, dikejauhan tampak olehnya seorang pemuda sedang berdiri dengan posisi membelakanginya.
"Satria.. Itukah kau..?" ujarnya lirih, sembari mempercepat langkahnya untuk menyusul pemuda itu.
Gadis manis itu terus berlari untuk dapat menemukan sang pemuda yang kini sudah jauh berada didepannya, bahkan kabut asap telah menutupi sosoknya.
__ADS_1
"Satria.. Mengapa kau begitu cepat dalam langkahmu..? Tidakkah kau menungguku..?" guman sang gadis lirih, sembari menatap sekelilingnya yang penuh dengan kabut.
Shafiyah terus berjalan dengan langkah penuh, untuk dapat menemukan sang pemuda. Kini Ia melihat lagi sosok itu yang berada jauh didepannya.
Gadis terus berlari kecil.."Satria.. Tunggu aku.."Teriak sang gadis dengan sekuatnya berharap agar sang pemuda mendengarnya, jika kini Ia sedang berada ditempat yang sama.
Sesaat pemuda itu menghentikan langkahnya, namun tanpa menoleh kearahnya. Shafiyah semakin semangat untuk mengejarnya.
Tanpa menunggu lama, sang gadis telah sampai berada di belakang pemuda tersebut. "Mengapa kau berjalan begitu amat cepat..? Tidakkah kau menungguku..?" tanya gadis itu dengan nada lirih nan pilu.
Seketika pemuda itu menoleh kepadanya. "Bersabarlah.. Aku akan kembali, itu janji seorang lelaki.." ucap Pemuda itu dengan tenang.
Gadis itu meneteskan air matanya.."Aku akan sabar menantimu, namun jangan coba mengingkarinya.." ucap Shafiya dengan hati pilu.
Perasaannya tidak mampu Ia gambarkan seperti apa jika saat ini perasaannya sangat sakit, sakit menanggung rindu.
Gadis itu tak mampu mengendalikan dirinya, Ia memeluk sang pemuda dengan erat.."Aku mencintaimu, saat pertama kita bertemu.. Dan kuharap kau tau itu..?" ucapnya lirih dengan penuh ketulusan.
Gadis itu menengadahkan wajahnya, menatap pemuda sang pujaan hatinya.."Berjanjilah untuk segera kembali, jangan membuatku untuk menunggu terlalu lama, karena seorang wanita butuh kepastian, bukan sekedar ucapan manis.." ungkap Shafiyah dari hatinya yang terdalam.
"Janji seorang lelaki pantang untuk diingkari.. Nantikan aku dengan doa dan hatimu.." ucap Satria mencoba meyakinkan hati sang gadis.
Saat mereka sedang mencoba melepaskan rindu, tampak dua sosok gadis misterius didepan tempat mereka berdiri tengah memandang keduanya dengan tatapan dingin. Meski tertutup kabut, namun jelas terlihat jika kedua gadis itu memiliki paras ayu nan rupawan. Wajahnya bak seorang puteri khayangan, begitu sempurnah, dengan lekuk tubuh yang memesona.
Shafiya melepaskan pelukannya, memandang penuh heran kepada dua sosok gadis misterius yang kini berada didepannya.
"Siapa kedua gadis itu..? mereka terlalu cantik untuk ukuran manusia..? Mengapa mereka memandangku dengan tatapan seperti itu..?" tanya Shafiyah dengan penuh selidik. Seketika rasa cemburu menyelimuti ruang hatinya.
"Entahlah.. Aku tidak pernah mengenalnya, namun sepertinya pernah melihatnya, namun entah dimana aku lupa.." jawab Satria mencoba menjelaskan kepada gadis manis yang terlihat tampak terbakar api cemburu.
__ADS_1
Mata gadis itu yerus memandang dua sosok wanita cantik yang tampaknya mulai berjalan atau juga disebut melayang sejengkal dari atas tanah.
Semakin lama jarak keduanya semakin mendekat. Tampak dengan jelas bagaimana wajah keduanya yang begitu tetamat cantik. Bahkan kecantikannya tak dapat untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Rasa cemburu kian merasuk kedalam qalbu gadis itu.."Sepertinya mereka menyukaimu, dan tentu kamu tidak akan kuat untuk menerima godaannya." ucap Shafiyah lirih dengan senyum miris.
"Jangan begitu terlalu cemburu pada apa yang baru saja kamu lihat, sebelum semuanya terlihat sangat jelas. "ucap Satria mencoba menenangkan hati sang gadis.
Shafiyah hanya bisa tersenyum getir. Haruskah Ia mempercayai kekasihnya, atau tetap waspada terhadap apa yang dilihat dan didengarnya.
Kedua gadis misterius itu semakin dekat menghampiri Satria, lalu keduanya berdiri masing-masing disisi kanan dan kiri Satria, keduanya menggenggam lengan tangan Satria, sembari tersenyum manis menatap Shafiyah yang berdiri tegak dihadapan mereka.
Hati gadis itu semakin terbakar api cemburu. Apalagi tampak Satria seperti hanya diam saja saat kedua tangannya digamit mesra dua sosok gadis tersebut.
Shafiyah begitu amat kesal melihat semuanya. Lalu dengan cepat Ia kembali memeluk Satria.."Dia milikku.. Jangan pernah kalian merebutnya dariku.." ucap Shafiyah sembari mengeratkan pelukannya. Ia seolah tidak ingin berbagi apapun kepada dua sosok gadis misterius itu.
Namun keduanya hanya menatap tanpa ekspresi, dan juga tidak melepaskan gamitan tangannya dilengan Satria.
Diluar dugaan, Satria menyambut pelukan Shafiyah dengan erat, hingga kedua gadis misterius itu sontak juga ikut terseret dalam pelukannya.
Shafiyah membeliakkan matanya, Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi, saat Ia ingin protes, Satria dengan cepat mengecup ujung kepala Sahfiyah, yang membuat gadis itu menjadi bungkam tanpa sepatah katapun.
"Aku mencintaimu, hanya itu yang dapat kujelaskan padamu.." ucap Satria dengan penuh keyakinan hatinya. Ia mendekap erat sang gadis manis yang kini berada dalam dekapannya.
Sesaat terdengar suara kokokan ayam jago yang membuyarkan mimpi sang gadis. Ia tersentak, lalu menatap jam yang tertempel didinding kamarnya. waktu menunjukkan pukul 2 malam dini hari.
Shafiyah menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia mencoba mengingat mimpinya barusan. Ia masih belum dapat mampu menafsirkan arti mimpinya.
Ia kembali mendengar kokok ayam jago tersebut. Lalu Ia berdoa dalam hatinya "Ya Rabb.. Tujukkanlah kebenaran dari arti mimpiku.. Jika Satria adalah jodohku.. Maka mudahkanlah langkah kami dan jodoh kami.. Jika Ia bukan jodohku.. Maka tunjukkanlah segera.." ucap Shafiyah dalam doanya. Karena Ia menyadari nika kokok ayam jago itu melihat kehadiran sang malaikat turun kebumi membawa rahmat.
__ADS_1
Lalu gadis itu beranjak bangkit dan bersuci untuk menunaikan ibadah shalat sjnnah Tahajjudnya.