
Hari mulai gelap, Satria harus menghentikan perjalanannya, dan mencari tempat berlindung dari serangan hewan buas.
Satria melihat sebatang pohon yang tak begitu tinggi. Dengan dua cabang yang saling berseberangan.
"Apakah Kau bisa memanjat..?" tanya Satria kepada sang gadis.
Mirna menganggukkan kepalanya. Lalu beranjak dari tempatnya dan mulai memanjat.
"Kau tunggulah disana, aku akan mencari makanan untuk makan malam." ucap Satria, sembari meletakkan tas ranselnya. Ia hanya berbekal piasu sangkur saja.
Mirna hanya menuruti ucapan pemuda itu, dengan memnaggukkan kepalanya.
Satria menyusuri semak belukar, mencoba mencari hewan buruan. Tampak olehnya seekor ayam hutan yang sedang berkeliaran.
Ia membidik ayam hutan itu dengan pisau sangkurnya, lalu melemparkannya sembari bershalawat.
Taaaaak..
Piiiiaaaak...
Suara pekik ayam hutan itu, lalu menggelepar ditanah dan dengan cepat Satria mendekatinya dan menyembelihnya.
Lalu Ia berjalan sembari menenteng ayam hutan tersebut, mencari sumber air terdekat, dan membersihkan ayam hutan itu.
Saat Satria tiba ditempat Ia dan Mirna akan menginap Malam ini, ia melihat kepulan asap didekat pohon.
Karena merasa curiga, Satria segera menghampirnya. Ternyata Mirna sedang menghidupkan perapian. Akhirnya pemuda itu bernafas lega.
"Berikan padaku.." pinta Mirna, sembari mengulurkan tangannya dan meraih ayam hutan dalam genggaman Satria.
Pemuda itu memberikannya, tanpa berkata apapun.
Ia duduk bersandar dibatang pohon. Memandangi sang gadis yang sedang membolak-balikan ayam tersebut.
gadis itu menyeka keringat yang mengucur di pelipisnya, Ia tampak begitu cekatan dengan ketika sedang memasak.
Cantik.. Ya itulah yang dapat digambarkan untuk gadis itu. Siapapun yang melihatnya pasti akan goyah hatinya. Satria dalam dilema, menghadapi cobaan tersebut.
Tak berselang lama, aroma harum ayam bakar itu tercium begitu menggoda.dan tingkat kematangannya sudah sangat pas untuk dinikmati.
Mirna menyodorkannya kepada Satria, lalu pemuda itu menerimanya.
Satria mencubit daging tersebut. Lalu memakannya. "Apakah Kau mau..?" tanya Satria mencoba menawarkan.
__ADS_1
Mirna menganggukkan kepalanya. Ia juga merasa lapar, namun tak berani memintanya.
Mendapat tawaran dari pemuda itu, Ia pun tersenyum sumringah, lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri sang pemuda.
Gadis itu ikut menyomot daging ayam itu dan tampak terlihat lahab memakannya.
"Heeemm..sepertinya Ia sangat begitu lapar.." Satria berguman lirih dalam hatinya. Satria sengaja memperlambat makannya, agar memberi kesempatan untuk sang gadis makan lebih banyak.
"Jangan tergesah-gesah.. Nanti kamu tersedak.." ucap satria mengingatkan.
Uhuuuuuuk..
Baru saja Satria mengucapkan kata itu, Mirna beneran tersedak. Lalu Satria menyodorkan sebotol air minum yang dibawanya saat tadi pagi.
Mirna meraihnya, dan mencoba meminumnya. Lalu merasakan rasa sedikit lega.
Setelah meminum air itu, Ia merasakan sudah kenyang dan menyudahi makannya. Lalu bersandar dipohon tersebut. Tampak nafasnya naik turun. Semilir angin yang bertiup, membuat matanya mengantuk, dan lambat laun membuatnya tertidur.
Satria sudah menghabiskan ayam bakarnya. Lalu tampak safak menggantung dilangit kian memudar, dan telah masuk waktu maghrib.
Satria menunaikan kewajiban shalatnya. Setelah selesai, Ia bersandar dipohon yang sama dengan Mirna.
Gadis itu tampak terlelap. Tidak mungkin Ia membangunkannya agar naik keatas pohon.
satria kembali bersandar dipohon tersebut. Dalam cahaya api unggun, Ia memandangi wajah gadis itu. Dalam kondisi tidur lelap seperti itu, Ia terlihat sangat cantik. Bulu mata lentiknya tampak begitu sangat indah. Kulit putih halus kian bercahaya diterpa cahaya api unggun.
Sebagai lelaki normal, tentu saja hal tersebut begitu sangat menggiurkan. Dua bongkahan didadanya yang sangat menonjol tampak naik turun mengikuti nafasnya yang tampak begitu menggoda.
Leher jenjang yang sangat sempurnah, ditambah balutan pakaian yang hanya berupa kemben saja. Siapapun pasti akan terjerat akan pesonanya.
Satria membuka tas ranselnya, lalu mengambil jaketnya dan menutupkan ketubuh gadis itu. Ia hanya manusia biasa, kapanpun bisa saja khilaf jika disuguhi hal yang begitu menggiurkan.
Setelah menutup tubuh gadis itu, Ia kembali bersandar di pohon tersebut. Bayangan wajah Syafiyah kian menari dipelupuk matanya. "Bagaimana jika Ia mengetahui keberadaan Mirna..?" Satria berguman lirih dalam hatinya.
Namun Ia juga tak dapat memungkiri, jika Ia juga jatuh hati pada gadis yang kini berada disisinya.
Bukan karena pesona kecantikannya, namun entah mengapa Ia merasakan hatinya begitu sangat nyaman saat bersama gadis yang kini sedang tertidur pulas tersebut.
"Haruskah ada dua hati..?" ucap Satria berguman lirih dalam hatinya, sembari melirik kearah gadis tersebut.
Satria mencoba memejamkan matanya, namun kali ini bayangan Mala sang Ibu menari dipelupuk matanya. "Ibu.." ucapnya lirih.. Sembari berguman lirih, dan Ia tertidur dengan membawa wajah Ibunya dalam buaian lelap yang menenangkan.
Suara serangga malam bernyanyi mengalun merdu, mengiringi tidur kedua insan yang kini sudah berada dialam mimpi.
__ADS_1
Sementara itu, seorang gadis manis sedang berjuang menahan kerinduan terhadap pemuda pujaannya. Ia memeluk erat gulingnya, lalu menyebutkan nama pemuda itu.
"Kapankah Kau kembali..? Jangan biarkan aku lama menanti.." gadis itu berguman lirih.
Rasa kerinduan yang teramat dalam, begitu menggelora didadanya. Ia ingin segera bertemu dengan sang pemuda yang telah memberikannya harapan.
"Datanglah.. Aku merindukanmu.. Kupahat namamu dalam prasasti hatiku.. Jauh didalam palung hatiku, hanya ada cinta untukmu." ucapnya dengan tatapan sendu.
Hatinya begitu amat mendamba, mengharapakan agar sang kekasih segera datang, untuk memenuhi janjinya dalam mengikat satu hubungan kejenjang pernikahan.
Bayangan indah mengikat janji bersama, telah berada didepan matanya, meskipun Ia belum dapat mengetahui kabar kekasih hatinya.
Kesetiaan yang Ia tanamkan, kian tumbuh dan rasa cintanya semakin besar, menantikan masa indah itu tiba.
"Setelah pekerjaanku selesai, Aku akan menjenguk Ibunya kak Satria, Aku belum mengucapkan apapun tentang pernikahannya." gadis manis yang tak lain adalah Syafiyah berguman lirih.
Ia harus pandai merebut hati sang calon Ibu mertuanya, sebelum menjadi menantu sahnya.
Akhir-akhir ini Ia begitu sangat sibuk, sehingga tidak sempat mengunjungi Mala.
Dilain tempat. Mirna mengerjapkan matanya, Ia mendengar suara gemerisik dari semak belukar. Sementara iru, api unggun sudah tampak mulai padam.
Ia terkejut saat melihat Satria memberikannya penutup ditubuhnya.
Suara gemerisik itu semakin jelas terdengar. Mirna beranjak bangkit, lalu menghampiri Satria, Ia mencabut pisau sangkur yang terselip dipinggang Satria.
Dalam kegelapan, Ia melihat satu sosok bayangan yang melompat dari arah semak dan siap menerkam tubuh Satria.
Mirna memeluk tubuh pemuda itu, dan mengarahkan pisau sangkur itu kearah belakang.
Haaaauuum... Gggggrrrr...
Erangan seekor harimau yang tertusuk pisau sangkur itu saat ingin menerkam Satria, lalu Mirna merobek leher harimau yang tertancap pisau sangkur itu.
Merasa ada yang menekan tubuhnya, Satria tersentak bangun. Ia membolakan matanya, saat melihat sang gadis menindihnya.
Ia ingin marah, namun saat melihat seekor harimau bersimbah darah dan darah itu mengotori tubuh sang gadis, membuat Satria mengurungkan amarahnya.
Ia menyingkirkan harimau yang sudah tak bernyawa itu dengan menendangnya menggunakan kaki kanannya
setelah tubuh harimau itu menyingikir, maka Satria mencoba mendorong lembut tubuh Mirna, agar segera menyingkir dari tubuhnya.
"
__ADS_1