
Hadi keluar dari kamarnya, perutnya mulai keroncongan, Ia ingin makan, namun ada rasa malu.
"duuuh..gimana Nih..? perutku keroncongan" Hadi berguman, sembari memegangi perutnya yang yang kelaparan.
Hadi berjalan mondar-mandir dikoridor kamar. kamar Satria masih terkunci.
"aku harus gimana neh..? kalau gak makan, bisa gak tidur semalaman aku." ucapnya gelisah.
Hadi memiliki ide, Ia mencoba mengirimi Satria pesan. Ia mulai mengetik kalimat sindiran "kak, dimana ya ada jual nasi padang malam begini..?" lalu mengirimkannya.
bukannya membalas pesan Hadi, Satria malam membuka pintu kamarnya."lapar ya..?" goda Satria, dengan senyum manisnya.
Hadi cuma nyengir. namun apa boleh buat, kalau kenyataannya emang dia lagi lapar.
"yuuuk..kedapur. mungkin ada bahan yang bisa kita makan." ucap Satria sembari menuruni anak tangga, dan Hadi mengekorinya.
Satria menyingkap tudung saji, namun tak ada apapun disana.
"Bi Rumi..? apakah beliau pulang kampung,..? karena mama dan papa akan ke jepang..?" Satria bermonolog sendiri.
"sepertinya tidak ada apa-apa yan bisa kita makan. Di. Kita beli luar saja yukk?" Ucap Satria kepada Hadi.
Hadi memeriksa rice cooker, dan menemukan nasi disana.
"ini ada nasi kak, kita tinggal masak lauk saja."ucap Hadi, sembari menutup kembali tutup rice cooker.
Hadi menuju lemari es, memeriksa bahan masakan. Ia melihat banyak bahan didalam freezer.
"waaah..banyak banget kak bahan mentah.ada daging ayam, cumi, dan udang."
"sepertinya mama kak Satria sengaja mempersiapkannya." ucap Hadi gembira.
Satria hanya bengong saja. "trus mau diapakan bahan- bahan iti..?" ucap Satria
"kita masak ayam goreng kalasan saja. aku tau bahan-bahan dan cara memasaknya". uvap Hadi dengan sumringah.
Satria menaikkan kedua bahunya. menandakan kepasrahannya.
dengan cekatan, Hadi memasaknya. mwskipun anak laki-laki, sepertinya Ia sangat terbiasa didapur. hanya membutuhkan waktu 20 menit saja, Ia siap menyajikan auam goreng kalasan yang sangat harum dan menggugah selera.
Ayam goreng Kalasan, atau juga sering disebut ayam goreng lengkuas. rasanya sangat gurih dan harum.
Hadi menyajikannya di meja makan. Satria menatapnya dengan penuh takjub. "sepertinya kamu pintar memasak..? kenapa tidak mengambil jurusan Koki..?" ucap Satria.
Hadi tersenyum datar. "Aku ingin menjadi dokter, karena aku ingin banyak menyelamatkan banyak nyawa." ucap Hadi dengan raut wajah sedih.
Satria terdiam. memandang penuh arti dari setiap ucapan Hadi.
"Didesaku tidak memiliki seorang dokterpun. hanya ada seorang bidan, namun sudah cukup dewasa. Jika kelak tak ada yang menggantikannya, siapa yang akan menolong warga desa jika mereka sakit..?" ucap Hadi dengan penuh harapan besar.
Satria tercengang mendengar jawaban Hadi. "sungguh mulia cita-citamu semoga Allah mengabulkan segala niat baikmu. Aamiin" ucap Satria tulus.
" aamin.." Hadi menimpalinya.
__ADS_1
"Yuuuk kak..kita makan. dah laper banget.." ucap Hadi tak sabar untuk mencicipi masakannya sendiri.
Satria mengangguk, mencomot sepotong ayam goreng buatan Hadi. saat Ia menggigit dan merasakan setiap resapan bumbunya, Ia terdiam. mencoba mengingat-ngingat, dimana Ia pernah merasakan masakan ini.
"sepertinya kakak tidak asing dengan masakan ini..?"
"dimana ya kakak pernah memakannya..?" ucap Satria bingung. Ia merasakan seperti selalu merasakan lezatnya ayam goreng buatan Hadi. Dengan sekejap Ia begitu menyukai masakan ayam goreng Hadi.
"mungkin mama kakak suka memasaknya. "ucap Hadi.
Satria menggeleng. Ia tidak pernah melihat mamanya memasak masakan ini."Mama lebih suka masakan jepang." ucap Satria.
"waah..kalau ibu saya suka sekali dengan masakan ini Kak." ucap Hadi, sembari menguyah ayam gorengnya.
"oh ya..pasti Ibu kamu pandai memasak masakan tradisional..?" Ucap Satria memuji.
Hadi begitu senang mendengar pujian dari Satria untuk ibunya. "Bener kak.. ayam kalasan ini makanan favoritnya."
"kata Ibu, aetiap kali Ia mengandung, Ia tidak mau makan Jika tidak dengan ayam Kalasan ini." ucap Hadi bersemangat.
[Deeeegh..] jantung Satria berdegup kencang mendengar ucapan Hadi. ada desiran lembut menyentuh hatinya.
"Apakah seorang wanita hamil memiliki menu favoritenya saat mengandung..?" ucap Satria penasaran.
sebagai calon dokter obgyn, tentu Hadi faham akan hal seperti ini. "Iya kak.. jika ibu hamil menyukai suatu makanan favorite saat mengandung janinnya, maka kelak ketika anak itu lahir, Ia juga menyukai makanan favorite yang dibawanya sejak dalam kandungan" ucap Hadi menjelaskan.
"Mungkin saja mama kak Satria suka makan ayam goreng ini saat mengandung kakak." ucap Hadi yang terus nyerocos saja.
Satria terhenyak mendengar uacapan Hadi. "mungkin saja.."ucapnya lirih
Desiran-desiran lembut itu terus menyapa hatinya. entah mengapa Ia merasakan sesuatu yang begitu dalam. namun Ia sendiri tidak memahaminya.
Hadi telah selesai dengan kunyahannya. lalu membersihkan tangannya, sembari menunggu Satria selesai makan, Ia bercerita tentang Ibu dam desanya.
"Ibuku wanita paling cantik bagiku.. Ia memiliki dua bola mata yang Indah, bulu mata lentik. senyum yang mampu membuatku merasa teduh.." ucap Hadi sembari menerawang jauh.
Satria menghentikan suapannya. mencoba mencermati setiap ucapan Hadi. Hatinya begitu merindu, entah kepada siapa.
Ucapan Hadi begitu melekat diingatannya. Ia terkenang akan seseorang, yang selalu hadir dalam mimpinya.
"Namun.." Hadi menggantung ucapannya.
"Namun apa..?" ucap Satria tak sabar..
Hadi menampilkan raut wajah sedih. "Namun ibu selalu meneteskan air mata. aku sering melihatnya menangis saat shalat malam. sepertinya ada sesuatu yang dipintanya." ucap Hadi dengan wajah sendu.
"apakah suatu saat nanti, kakak boleh bertemu dengan ibumu..?" ucap Satria meluncur begitu saja. Ia begitu teramat penasaran dengan sosok ibu Hadi
Hadi membulatkan matanya. "boleh kak.. tapi rumah kami tidak semewah rumah kakak. ayahku hanya seorang karyawan biasa."
"apa kakak tidak malu, memiliki teman seperti aku..?" ucap Hadi Sedih.
Satria menggelengkan kepalanya, sembari tersenyum sarkas. "Allah saja tidak membandingkan satu hamba dari segi kekayaannya, namun ke taqwaannya. lalu siapa aku harus menilaimu dari itu semua." ucap Satria.
Hadi tersenyum saat mendengar ucapan bijak dari Satria.
__ADS_1
"ya sudah, kakak sudah selesai makan. kakak mau kekamar dulu, shalat isya."
"kalau kamu butuh sesuatu, panggil saja ya." ucap Satria, beranjak dari meja makan, sembari membereskan piring kotornya.
Hadi mengangguk, Ia begitu sangat mengagumi sosok Satria.
****
Satria duduk ditepi ranjangnya. Ia baru saja selesai melaksanakan shalat Isya.
Ia mengingat kembali tentang segala ucapan Hadi saat dimeja makan tadi.
"apakah Mama menyukai ayam goreng kalasan saat mengandungku..?" ucap Satria lirih. mengapa aku tiba-tiba begitu menyukai ayam buatan Hadi.?" ucapnya lirih.
"mengapa Ibu Hadi seperti yang didalam mimpiku.."Satria menatap nanar dinding kamarnya. hatinya begitu pilu.
Ia merasakan sesuatu yang kosong dalam hatinya. desiran-desiran lembut menyapa tubuhnya.
[kriiiiiiing...] suara handphone berdering.
Ia melihat satu panggilan masuk dari kode negara +81 "Mama". ucap Satri lirih.
Ia mengangkatnya dengan tidak bersemangat. entah mengapa, hatinya tidak begitu merasakan getaran kuat ketika bersama sang mama.
"Hallo ma.." ucapnya lemah.
"Hallo sayang... apa kabar kamu..? sudah makan..? jangan telat tidur, jangan keluyuran." cecar Jayanti dari seberang telefon.
"Iya ma.." ucap Satria sopan, meskipun Ia tak memiliki getaran yang kuat, hanya sedikit saja, namun Ia berusaha untuk menghargai mamanya.
"Kamu sakit sayang..? kangen sama Mama..?" cecar Jayanti lagi.
"nggak koq ma.. Mama baik-baik sajakan disana..?" ucap Satria dengan tenang.
"Iya sayang.. mama sama papa seminggu di Umeda, ada urusan penting."
"temen kamu itu jadi tinggal dirumah..?" cecar Jayanti.
Satria menghela nafasnya. "jadi Ma.."
"baguslah..kamu ada temennya. sudah dulu ya sayang.. Love u Sayang Mama" ucap Jayanti mengakhiri telefonnya.
"Love u to ma" ucap Satri lemah.
Ia meletakkan handphonenya di ranjang.."mengapa rasa cintaku pada mama hanya seujung kuku saja.." ucapnya, sembari memejamkan matanya.
bayangan wajah cantik itu hadir..dengan senyumnya yang begitu membuatnya nyaman. dua bola mata nan indah.. membuatnya merasa teduh. "siapa kamu..?" ucapnya lirih, lalu tertidur.
****
alram berbunyi. jam menunjukkan pukul 4.55 subuh. Satria bergegas bangun dan kekamar mandi.
Ia bersuci dan mengambil wudhu. setelah itu Ia menggelar sajadahnya. Ia melakukan shalat sunnah qabliyatan subuh setelah itu melakukan shalat fardhunya.
diakhir shalatnya. Ia memohon doa kepada sang penguasa alam semesta, Agar mempertemukannya dengan wanita yang selalu hadir didalam mimpinya.
__ADS_1
ditempat yang berbeda, sesorang juga melangitkan doanya, meminta agar dipertemukan dengan orang yang telah hilang dati dirinya.
doa kedua insan itu bertemu dilangit, menuju Rabbi-Nya.