
Adzan shbuh berkumandang, Satria baru selesai mengantarkan Syafiyah, dan kini Ia sudah berada didepan dirumah.
Hadi memandangnya bingung, sebab setelah sampai dirumah tadi, kakaknya tiba-tiba menghilang membawa mobil dan pergi entah kemana.
Ditengah kecemasan mereka, untung saja Hamdan menenangkan mereka, dan menyatakan jika Satria sedang ada urusan penting dan mendadak.
Setelah Satria kembali dengan selamat, lalu mereka mengajaknya untuk shalat berjamaah di mushollah. Para pria berangkat ke mushollah, sedangkan Mala dan Shinta memilih shalat didalam rumah saja.
🦋🦋🦋🦋🦋
waktu seakan berputar dengan cepat. Mala telah selasai menunaikan kewajibannya sebagai muslimah, dan kini Ia menuju dapur untuk memasak sarapan untuk semuanya.
Mala mulai memasak dan Shinta datang membantunya. Setelah selesai, mereka menyajikannya, dan terdengar pembicaraan yang sangat serius.
Lalu ke empat pria itu meminta Mala dan Shinta bergabung untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan kali ini.
"Bu.. Satria akan mengatakan sesuatu. Mungkin terasa berat bagi ibu, namun ini terpaksa dan bersifat mendesak." Satria berusaha tenang, agar tak membuat ibunya kaget.
Mala menatap kepada Satria, penuh tanda tanya tentang apa yang akan dikatakan oleh Satria.
"Satria mungkin akan melakukan sebuah perjalanan panjang, untuk menyelesaikan tirakat dan pemurnian ilmu segoro geni yang mana kitabnya ada didalam sebuah goa diatas bukit dihutan sana.." ucap Satria dengan tenang.
Mala tersentak, barus saja Ia merasa senang dengan kehadiran Satria, kini Ia harus kehilangan lagi, dan Satria akan pergi lagi untuk meninggalkannya.
"Mengapa kau datang dan pergi begitu saja? Tidakkah kau dapat tinggal lebih lama disini bersama ibu..? Dari sejak kandungan kau sudah menghilang, lalu datang, dan pergi lagi.. Mengapa..? Mengapa Ibu tidak bisa memilikimu dengan utuh..? ini sungguh tidak adil.." cecar Mala dengan perasaan yang hancur lebur.
Ia tak sanggup lagi menerima dan mendengar semua ucapan Satria, Ia beranjak bangkit dari tempat duduknya, lalu berlari kekamar mengurung diri. Mala sangat terpukul dengan kenyataan yang saat ini sedang dihadapinya. Air mata kepedihan telah meluncur deras dikedua pipinya, Ia meratapi nasibnya yang malang.
Semua yang ada diruangan makan terdiam membisu, saat ini mereka mengerti apa yang dirasakan oleh Mala. Wanita cantik itu baru saja berduka akan kehilangan Roni, suaminya. Lalu Satria menghilang sebulan lamanya, dan kini saat harapannya mulai tumbuh dengan kepulangan Satria, tiba-tiba saja Satria ingin pergi dengan waktu yang belum ditentukan kapan kembali.
"Hari sudah hampir siang..saya harus segera berangkat, agar waktu yang ditentukan tidak meleset dari perkiraan. Dimana waktu terjadinya gerhana bulan total akan segera tiba, dan saya harus dapat menyelesaikan misi ini." ujar Satria dengan setenang mungkin.
__ADS_1
"Lalu bagaimana nasib Mala jika kamu pergi, pasti ibumu sangat kesepian, lebih baik kamu carikan saja jodoh untuknya.." ucap Chandra keceplosan.
Seketika semua memandang kepadanya, tak terkecuali Shinta yang wajahnya sudah merah padam karena ucapan Papanya.
Semua yang berada diruangan itu sudah mengerti apa maksud dari ucapan Chandra, apalagi mereka sangat tau seperti apa dulu hubungan Chandra pada ibunya.
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Chandra ada benarnya, karena Hadi juga memiliki kehidupan sendiri dan pekerjaan yang tidak mungkin ia tinggalkan. Namun mereka tidak dapat memaksa kehendak ibunya, karena ini masalah hati, dan terlalu cepat.
"Cobalah ketuk pintunya, dan jelaskan dengan perlahan, sekoga ibumu mengerti tentang kepergianmu kali ini untuk menghancurkan Nini Maru." ujar Hamdan dengan tenang.
Satria menyelesaikan sarapannya, lalu mencoba mengetuk pintu kamar Mala, ibunya.
Tok..tok..tok..
"Bu..bisa bicara sebentar.. Ada yang perlu Satria bicarakan berdua dengan ibu." ucap Satria dengan lembut.
Lama tak ada sahutan, Mala sepertinya sedang terluka dan hatinya serasa hancur.
Kreeeeeek...
Suara derit pintu berbunyi, tampak Mala berdiri diambang pintu. Tampak matanya sembab, sepertinya habis menangis.
"Boleh Satria masuk..?" tanya Satria lirih.
Tak ada jawaban, hanya Ibunya berjalan masuk kedalam kamarnya, Satria mengekorinya dari arah belakang. Lalu menutup pintunya.
Mala duduk ditepian ranjang, tak sedikitpun Mala hendak melihat wajah Satria, hatinya teramat hancur.
"Bu.. Satria meminta restu ibu untuk melakukan tirakat. Semua ini untuk menghancurkan Nini Maru. Satria butuh doa restu Ibu, agar semuanya berjalan dengan apa yang diharapkan." Satria mencoba memberikan pengertian kepasa Ibunya.
Air mata Mala masih mengalir disela-sela sudut matanya. Sesekali Ia tersengguk dengan merapatkan giginya agar suaranya tidak terdengar sedang menangis.
__ADS_1
"Hari semakin siang, Satria harus segera bergegas menuju ketempat itu, mohon ibu meridhainya, agar kita semua terputus dari balas dendam makhluk iblis itu." ucap Satria dengan setenang mungkin.
Mala menyeka air matanya, lalu memandang pada Satria. "Tapi kamu janji jangan lama, dan setelah kembali, jangan pernah tinggalkan ibu lagi..?" Ucap Mala ditengah sedu sedannya.
Satria menatap Ibunya dengan tatapan lembut, penuh cinta dan sebenarnya Ia juga tak rela jika harus berpisah dari ibunya, namun ada tugas yang harus Ia emban dari para leluhurnya.
"Insya Allah, Satria janji akan menjaga ibu sepenuhnya setelah menyelesaikan tugas ini." jawab Satria penuh keyakinan.
Mala menghamburkan pelukannya ditubuh Satria, memeluk erat puteranya, seolah tak ingin lepas sedetikpun. Sesekali terdengar senggukannya.
Lalu Ia melepaskan pelukannya. "Pergilah.. Ibu akan merestuimu dengan doa." ucapnya, sembari memegang lembut pipi kiri Satria.
"Terimakasih Bu, Doa restumu adalah jalanku menuju Ridha-Nya." ucap Satria sembari mengecup punggung telapak tangan ibunya.
Satria beranjak bangkit. "Sudah saatnya Satria pergi, jaga diri ibu, dan jika selama Satria pergi, Ibu menemukan cinta yang baru, maka terimalah, agar ibu tidak kesepian selama penantian menunggu Satria." ujarnya dengan tenang.
Tentu perkataan Satria menimbulkan tanda tanya yang besar bagi Mala. "Maksud kamu cinta yang baru itu apa?" Mala mengernyitkan keningnya.
Satria hanya membalasnya dengan tersenyum. "Tidak apa-apa.. Nanti ibu juga akan memahaminya, jika waktunya tiba." jawab Satria tersenyum dengan lembut.
Mala mengecup kening Satria lembut. "Berjuanglah, ada doa dan ridha ibu yang tulus menyertaimu." ucapnya sekali lagi.
Satria mengangguk. Lalu mereka keluar dari kamar.
Diluar kamar, tampak mereka sudah menyambut dengan sangat was-was. Namun berbeda dari yang lain, Chandra berharap agar Satria segera pergi ke gunung, karena Ia akan bebas mendekati Mala.
"Ayo.. Kita berangkat." ucap Satria kepada semuanya.
Mereka semua mengucap syukur, akhirnya Mala merelakan Satria untuk mengemban misi yang sangat sulit.
Lalu mereka masuk kedalam mobil, dan akan mengantarkan Satria di pangkal hutan, lalu merelakannya pergi naik kepuncak gunung, untuk mencari kitab 'Segoro Geni' yang konon katanya tersimpan di dalam sebuah goa.
__ADS_1