
Suara dentingan peralatan medis milik Syafiyah yang terjatuh terdengan oleh Amran, ayah Syafiyah.
Pria paruh baya itu beranjak dari kamarnya, dan mengucek kedua matanya, lalu berjalan menuju ruang tengah.
"Haaah..."
Alangkah terperangahnya Ia saat menyaksikan makhluk palasik yang sedang menatap keji pada puterinya.
Setakut-takutnya Ia, namun sebagai seorang pria sekaligus Ayah, Amran harus melindunginya.
Gemetar, takut, ya.. Yentu saja.. Namun Ia berusaha bersikap mengontrol semuanya.
Palasik biasanya takut jika diusir menggunkan sapu yang terbuat dari ijuk pohon enau. Maka Amran kemudian mengambil sebatang sapu ijuk dan mencoba mengusir hantu palasik tersebut.
Namun belum sempat Ia meraih sapu itu, palasik sudah hendak menyerang Syafiyah.
Syafiyah sektika berteriak karena ketakutan. Ia sudah tak mampu lagi menahan rasa takutnya.
Namun diluar dugaan sebuah cahaya mobil kembali masuk kedalam halaman rumah. Satria turun dari mobil dan bergegas masuk kedalam rumah Syafiyah.
Ia menyaksikan jika Iblis tersebut sedang melayang diruangan rumah Sang gadis manis.
Dengan cepat Satria mengambil sebuah tasbih yang digengamnya, lalu melemparkannya pada palasik tersebut.
Wuuuuusssh...
Dengan gerakan yang begitu sangat cepat, tasbih itu mengenai jantung dari palasik yang tergantung bebas tanpa penutup.
Aaaaaargh...
Palasik itu merasa kepanasan dan sakit yang amat luar biasa. Ia melayang-layang dan berputar diruangan rumah milik Syafiyah. Amran mengambil kesempatan untuk meraih sapu ijuk dan dan bersiap untuk menghalau palasik tersebut.
Satria kemudian mendekati palasik tersebut, lalu meraih sapu dari genggaman Amran dan segera mengahantamkan keorgan tubih iblis tersebut.
Ijuk sapu yang mengenainya begitu menjadi hal yang sangat menyakitkan. Salah satu dari ijuk tersebut menempel diparu-parunya, dan membuatnya meringis kesakitan. Taring disudut bibirnya tampak begitu sangat menakutkan. Lalu Ia terbang melayang keluar melalui pintu rumah.
Syafiyah yang sudah pucat pasi mersakan sendi-sendinya tak lagi mampu menopang berat tubuhnya, Ia terduduk dilantai.
Amran segera menghampirinya. Lalu berusaha memberikan rasa nyaman pada sang puteri.
Satria membangunkan Danang yang ternyata terlelap saat sedari tadi. Lalu Ia memeriksa Nia yang sedikit dingin hawa tubuhnya.
Danang bingung dengan apa yang terjadi. Ia menatap dengan rasa kantuk yang menderanya. "Kamu tidak menyadari jika kekasihmu dalam bahaya. Palasik itu telah menghisap darah nifas gadis ini."ucap Satria.
__ADS_1
Amran masih bingung dengan apa yang terjadi, apalagi Ia baru menyadari jika ada pasien lain anaknya didalam rumah.
"Pak Amran.. Tolong ambilkan saya segelas air putih. ."titah Satria kepada Amran yang masih dalam kondisi bingun. Namun Ia beranjak bangkit, pergi kedapur dan mengambil segelas air putih.
Setelah mendapatkannya, Ia memneriakn kepada Satria.
Lalu Sattia mengambil sebuah tasbih yang merupakan pemberian khadam almarhum kakeknya. Satria duduk bersila, lalu berdzikir sebentar dan memasukkan tasbih itu kedalam gelas yang berisi air putih.
Satria mengerti bahaya dari seseorang yang terhisap palasik. Dimana.korbannya akan mengalami demam tinggi dengan cekung dibagian ubun-ubunnya dan terasa lembut. Ia ingin melakukan pengobatan agar tidak terlambat.
Satria memercikkan air itu ketubuh Nia, lalu dengan cepat Nia tersadar. Ia mengerjapkan matanya, lalu melihat sekitarnya.
Alangkah kagetnya Ia saat melihat seorang pemuda tampan berada tepat dihadapannya. Ia juga bingung sedang berada dimana saat ini.
"Bangunlah.." ujar Satria dengan tenang.
Nia menuruti ucapan Satria, lalu bangkit dari tidurnya, dan berusaha duduk yang dibantu oleh Danang.
"Minumlah ini.. Dan bacalah bismillah sebelumnya." titah Satria kepada Nia.
Nia mengangguk, lalu mengambil air pemberian dari Satria dan meminumnya. Setelah air itu habis diteguknya, Ia merasakan tubuhnya kembali segar.
Lalu Satria melepaskan segala alat infus yang terpasang. "Kalian harus pulang kerumah. Dimana rumah kalian biar saya yang antarkan."titah Satria.
Satria memandang sejenak keduanya. Bagaimana bisa mereka melakukan perbuatan terlarang itu, sedangkan mereka bekerja dirumah seseorang. Sungguh tragis nasib Nia sebagai seorang gadis.
"Besiaplah, saya akan mengantarkan kalian."ujar Satria kepada keduanya.
Lalu keduanya bersiap-siap dan akan segera pilang.
Sementara itu Satria menghampiri Syafiyah yang masih syok berat. "Heeii.. Sadarlah..mau membantuku mengantarkan pasien ini.? Semuanya sudah baik-baik saja, kamu jangan khawatir."ucap Satria, sembari menyentuh lembut pipi sang gadis.
Deeeeeegh...
Kembali Satria membuat jantung gadis itu seperti berhenti berdetak, namun mengalirkan energi yang luar biasa.
"Apakah kamu sudah siap..?" tanya Satria dengan lembut.
Syafiyahnhanya mampu mengangguk, lidahnya begitu keluh menghadapi tatapan Satria. Ia menguatkan hatinya agar dapat membantu Satria.
Lalu keduanya beranjak bangkit, dan Ia membimbing Nia untuk mencapai mobil.
"Pak, Saya bawa Syafiyah dahulu, untuk mengantarkan pasien ini.." ujarnya dengan.sopan.
__ADS_1
Amran menganggukkan kepalanya. Lalu bwranjak keluar menyusul yang lainnya.
Danang mendekatinya, "Saya bawa motor pak, jadi saya naik motor saja." ucap Danang kepada Satria.
Satria menanggapinya dengan anggukan. Lalu mereka melakukan perjalanan ke rumah majikan kedua pemuda pemudi itu.
Sesampainya didepan rumah majikan mereka, Syafiyah turun, dan membimbing Nia, sedangkan Satria memilih berada didalam mobil.
Tak lama kotor Dananga datang menyusul. Lalu Ia menyambut Nia dan membimbingnya untuk masuk kerumah majikannya.
Hari sudah menunjukkan pukul 4 subuh. Satria meminta Syafiyah agar segera masuk kedalam mobil. Namun sebelumnya, Ia melihat sebuah bayangan dilantai dua kamar seorang pria. Sepertinya pria itu baru bangkit dari tidurnya.
"Siapa dia..? Mengapa mirip dengan seseorang yang sangat kukenal..?" Satria berguman lirih dalam hatinya. Belum sepat Ia menelisik pria dilantai dua kamar itu, Syafiyah sudah membuyarkannya.
"Pak..mari kita pulang.. Sudah hampir subuh.." ucap Syafiyah dengan kikuk.
Lalu Satria mengangguk, dan masih menyisakan misteri tentang siapa pria yang berada dilantai 2 tersebut.
Satria melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah, seolah ada sesuatu yang ingin diungkapnya kepada gadis manis itu. Tiba-tiba Ia menghentikan mobilnya, dan menepi dijalan.
Satria menatap sang gadis.. Lalu..
"Maukah kau menungguku..? Setelah perjalanan panjangku nanti, aku akan melamarmu untuk menjadi istriku.." ucap Satria dengan gemuruh dihatinya. Kalimat keramat yang tak pernah Ia ucapkan kepada siapapun.
Syafiyah laksana mendengar sambaran petir, dimana kalimat yang diucapkan Satria datang tiba-tiba menyambarnya dengan gemuruh yang membuatnya begitu sangat tersentak.
Syafiyah memberanikan diri menatap wajah pemuda itu, memastikan ini bukan sebuah mimpi. Ia berulang kali menepuk pipinya, memastikan semua bukanlah ilusi.
"Bolehkah kau mencubit sedikit pipiku? Agar aku merasa ini bukanlah mimpi belaka." ucap Stafiyah dengan lirih.
Satria menuruti pemintaan gadis itu. Memberikan cubitan kecil dipergelang tangan Sang gadis.
"aaaaw..sakit.." rintih Syafiyah, setelah menyadari jika ini bukan mimpi belaka.
"Harus berapa lama aku menunggu..? Aku seorang gadis, dan butuh kepastian, bukan janji.." ucapnya dengan lirih, diiringj deguban jantungnya yang seakan seperti genderang mau perang.
"Tidak akan lama.. Ini janji seorang lelaki.." jawab Satria bersungguh.
"Benarkah..?" ucap Sayfiyah, seolah hampir tak terdengar.
Satria menganggukkan kepalanya, lalu membelai lembut ujung kepala sang gadis. "Aku mencintaimu, sejak saat kuta bertemu.." ucapnya menegaskan.
Hati Syafiyah seakan salju yan meleleh terkena sinar mentari. Ia seperti mengambang diudara. Bagaimana mungkin seorang pemuda setampan Satria dapat jatuh cinta dengan gadis biasa sepertinya, yang tak mungkin terjadi.
__ADS_1
Namun.. Takdir berkta lain, pemuda itu menyatakan cinta padanya, bukankah hal itu sangat mengejutkannya. Syafiyah merasakan bunga-bunga sedang bertebaran didadanya.