Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Perdebatan


__ADS_3

Reza menaiki mobilnya. Ia menuju warung Pak Joko. disana Ia akan mencuri dengar pembicaraan ibu-ibu, jika saja ada wanita didesa ini yang sedang hamil muda.


Ia menghentikan mobilnya, lalu memarkirkan dibahu jalan. "kebetulan lagi banyak ibu-ibu.." aku ingin berpura-pura belanja saja, agar dapat menguping mencari informasi." Reza turun dari mobil. memakai kaca mata hitam.


kehadirannya membuat mata para ibu-ibu terpana dengan ketampanannya, dan Ia menyadarinya.


Reza berpura-pura acuh tak acuh. Ia menuju rak-rak sembako disudut ruangan. Ia mencoba menguping pembicaraan, namun tak mendapatkan hasil.


untuk mengurangi kecurigaan para ibu-ibu, Ia membeli beberapa barang. setelah membayarnya, Ia meninggalkan warung. memasuki mobilnya."sial...kemana aku harus mencari tumbal pengganti..? ucapnya lirih.


Ia kembali pulang dengan perasaan kesal. "Rianti sudah tiga minggu lepas nifas, sebaiknya aku buahi saja dia, agar cepat kembali mengandung." ucapnya dalam hati, lalu menuju dapur.


disana ada Mira juga. entah iblis mana yang merasukinya, Ia menyeret Rianti, menuntaskan hasratnya didepan Mira. lalu menggilir Mira sekaligus. menyumpal mulut mereka dengan uang.


setelah melakukan aksi binatangnya. Ia meninggalkan kedua wanita itu begitu saja, tanpa merasa berdosa. karena Ia menganggap membayar keduanya.


Ia memasuki kamar yang terletak dilantai tiga. Ia melihat Nini Maru sedang tertidur lemah dengan wajah berantakannya. Ia tertidur bergelantungan diatas kipas angin yang terpasang dilangit-langit kamar.


kaki dan rambutnya terjulur menjuntai kebawah.


Reza menarik sedikit rambut Nini Maru yang terjuntai. " Ni...bangunlah..jangan enak-enakan tidur mulu.." ucap Reza kesal.


Nini Maru mengerjapkan mata bulat besarnya, serta memasang wajah jelek yang membuat kejelekannya berlipat ganda. Ia sangat kesal melihat Reza yang seenaknya saja mengganggu waktu istirahatnya.


"ada apa..? apakah kau sudah mendapatkan tumbal pengganti itu..? aku semakin lemah..tenagaku terkuras setelah pertempuran melawan Hamdan kemarin" ucap Nini Maru, masih dengan posisinya.


"dia enak-enakkan tidur, sementara aku yang pusing" Reza menggerutu.


Nini Maru yang mendengar ucapan Reza lalu merubah posisi tidurnya dari telentang menjdi duduk. Ia melayang turun kelantai, lalu merangkak mendekati Reza.


" jangan mencoba untuk menggerutu padaku.! kau telah mengikat hubungan buhul (perjanjian) denganku. Nini Maru mulai tersinggung.


"kau penuhi keinginanku, dan ku penuhi keinginanmu..atau kau ingin kehilangan segalanya dalam sekejap.." Ancam Nini Maru.


Reza mulai pusing..."tapi aku tak menemukan tumbal penggantinya ni.." ucapan Reza melemah.


Nini Maru menyeringai.."maka jangan salahkan aku jika mengambil janin didalam kandungan Mala.." Nini Maru mulai berang

__ADS_1


Reza membelalakkan matanya." tidak...aku tidak setuju..aku mencintai Mala..aku ingin anak itu lahir dengan selamat. aku sudah berkorban jauh saat ini.." ucap Reza dengan memohon.


Nini Maru menatap Reza dengan Amarah..wajahnya yang sebagian hangus terbakar sangat begitu tak sedap dipandang.."persetan dengan cintamu..jika kau mencintainya, kau tak mungkin tidur dengan wanita lain.." ucap Nini Maru tersenyum mengejek..


"sifat setanku karena berteman dengan setan sepertimu.." ucap Reza kesal..


"kau.....!" Nini Maru kesal dikatain Setan.


Reza memandang kembali dengan tatapan kesal. Ia sedang memikirkan solusinya. "ayolah Ni..usia kandungan Mira sudah 3 minggu..itu sudah bisa membuat Nini sedikit menambah energi." Reza mencoba melajukan tawaran.


Nini Maru memandang Reza dengan tatapan geram."baiklah...kali ini aku mengalah..tapi segera carikan aku tumbal janin yang lebih besar." ucap Nini Maru..mengakhiri perdebatannya. lalu kembali melayang..tidur terlentang menjuntailan rambut dan kakinya dibaling-baling kipas angin.


****


pagi ini...Mira berangkat bekerja seperti biasanya. Ia tak menyadari jika dirinya sedang mengandung. namu Reza mengetahuinya dari ucapan Nini Maru yang selalu cross chek kedalam rahim Mira.


Ia berjalan menyusuri jalanan Desa..entah mengapa Ia mersakan pagi ini begitu mual. la pusing. sebagai gadis remaja yang baru saja lulus SMA, Ia belum begitu faham tentang yang dialaminya.


"sebaiknya aku singgah ketempat praktek bidan Sri..aku ingin memeriksakan kesehatanku." Ia berjalan dengan mempercepat langkahnya.


sesampainya diruangan praktek Bidan Sri..Ia memanggil bidan tersebut. " bu...bu..bidan.." panggilnya lirih.


"eh..dik mira..datang sendiri saja saja dik..?" ucapnya ramah. sembari membuka pintu ruangan untuk pasien.


Mira mengangguk. lalu mengikuti bidan Sri dari arah belakang. Mira duduk, lalu melakukan registrasi.


"apa keluhannya dik..?" tanya Bidan Sri..dengan lembut.


"perut saya mual dan kepala saya pusing Bu.." ucapnya dengan polos.


bidan Sri mencatat keluhan pasiennya. lalu meminta Mira berbaring di ranjang pasien. Ia meletakkan stetoskop didada Mira untuk memeriksa kondisi detak jantungnya. lalu memasang alat pengukur tekanan darah.


setelah itu Ia melanjutkan pemeriksaan diarea perut mikik Mira, karena Ia mengeluhkan mual, mungkin saja gadis itu masuk angin. saat menekan perut itu, Ia merasakan ada yang berbeda.


Ia berhenti sejenak, memandang Mira. lalu menekan perut bagian bawah dan menyungkitnya. Mira merintih sakit..


"sakit.." ucap Bidan Sri dengan tatapan penuh arti.

__ADS_1


"iya.." jawab Mira polos.


[deggggh..] jantung bidan Sri berdetak. Ia mengetahui jika anak gadis pak Danu belum menikah..namun..


Bidan Sri mengambil tespack, sebuah alat tes kehamilan instan.lalu memberikannya kepada mira." coba kamu pipis dan tampung pipis kamu dalam wadah ini..dan nanti kamu celupkan alat ini sebatas ini ya."jemari tangan Sri menunjukkan arah batas alat itu untuk dicelupkan dalam wadah penampungan ini.


"apapun hasilnya kamu bawa kepada saya.."perintah Sri.


Mira yang begitu polos hanya mengangguk. Sri menanti dengan gusar.


tak selang waktu lama, Ia melihat Mira telah selesai dengan apa yang diperintahkannya. lalu menyerahkan alat tespack tersebut.


Sri yang menerimanya merasa syok. tangannya bergetar melihat hasil dari alat tersebut. dua garis merah, meski yang satunya masih samar. Sri menggelengkan kepalanya.


dengan menarik nafas dalam, Ia menghelanya dengan kasar, mencoba mengatur ritme detak jantungnya. "Mir..kamu mau bicara jujur dengan saya..?" ucap Sri dengan lembut dan hati-hati.


Mira mengangguk.. " kamu ada main dengan siapa..?" ucap Sri selembut mungkin..


Mira menundukkan kepalanya. Ia terisak.. lalu Sri datang menghampirinya. menenangkan gadis itu.


"bicara pada saya, saya akan menjamin kerahasiaanmu." Sri mencoba membujuk gadis yang kini juga sedang terguncang.


Mira masih dengan posisi menunduk dan terisak.." jujurlah dengan saya.." ucap Sri memohon.


"tu..tuan Reza.." ucap Mira terbata dan ketakutan. "a..apa..? mengapa bisa..?" Sri terperanjat dan begitu penasaran.


"saya bekerja dirumahnya, dan tuan Reza memberikan saya banyak uang.." ucap Mira dengan terisak.


Sri tak percaya jika gadis itu juga menjadi tempat penyaluran hasrat siduda tampan. Ia mengira Reza hanya bermain dengannya. "brengsek tu si duda.."tatapan mata Sri penuh amarah.


"kamu pertama kali melakukan itu saat sesudah menstruasi berapa hari..?" tanya Sri penasaran.


"sepuluh hari setelah selasai menstruasi.." jawab Mira dengan lemah.


"pantas saja langsung jadi, Ia melakukannya saat masa subur" Sri berguman dalam hatinya.


"bu bidan jangan sebarkan rahasia ini kepada siapapun ya.?" ucap Mira memohon.

__ADS_1


Sri mengangguk dan meyakinkan jika rahasiannya aman ditangan Sri. Ia memberikan obat yang sesuai untuk ibu hamil. Ia tidak mungkin mengajukan menggugurkan bayi itu, karena akan menjadi dosa yang berlipat.


__ADS_2