Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Kaget-2


__ADS_3

"Tidurlah, kamu pasti lelah. Esok kita kerumah Ibumu.." ucap Hamdan, lalu beranjak dari duduknya dan menuju kamar tidurnya, untuk menjemput peraduannya.


Hadi berusaha untuk memejamkan matanya. Rasa kantuk mulai menyerangnya, Ia pun memilih untuk masuk kedalam kamar tamu, tempat dimana Shinta sudah terlelap.


Sementara itu, Chandra ternyata mencuri dengar pembicaraan Hamdan dan Hadi. Ia begitu sangat penasaran dengan sosok suami baru Mala, namun rasa kantuk dmtak dapat lagi Ia tahan, Ia memilih untuk tidur.


Keesokan paginya, Hadi dikejutkan oleh panggilan seseorang dari pintu luar kamarnya. Ia menngerjapkan matanya, lalu menggeliatkan tubuhnya, mencoba mengumpulkan kesadarannya dan beranjak dari ranjangnya untuk melihat siapa yang memanggil dirinya.


Tampak diambang pintu Hamdan sudah berdiri tegak " Sudah shalat subuh..?" tanya Hamdan dengan lembut.


Hadi menggelengkan kepalanya.."Belum.." jawabnya dengan lirih, sembari menguap dan menutup mulutnya dengan cepat.


"Kalau begitu segera shalat, hari sudah siang.." Ucap Hamdan mengingatkan.


"Emang sudah jam berapa Paman..?" tanya Hadi penasaran.


"pukul 9 pagi.." jawab Hamdan sembari menunjuk jam dinding yang berada yepat dibelakangnya.


"Haaah..?! Aku kesiangan..?!" Ucap Hadi terperanjat.


Suara kaget Hadi membangunkan Chandra dan Shinta yang tertidur lelap.


"Ada apa..?" tanya Chandra penasaran dengan wajah acak-acakan.


"Bersiaplah Pa, kita akan kerumah Ibu setelah Aku shalat subuh.." ucap Hadi sembari beranjak dari ambang pintu, dan menuju kamar mandi untuk bersuci.


*****


Semuanya telah bersiap dan memasuki mobil. Rada tak sabar ingin bertemu Mala sudah begitu sangat kuat di hati Hadi.


Mobil Hadi meluncur membelah jalanan kampung. Jarak rumah Hamdan dan Mala sedikit lumayan jauh, namun karena jalanan yang sudah beraspal mempercepat perjalanan mereka.


Sebuah gapura pertanda mereka sudah memasuki batas perkampungan sebelah, yang memisahkan dua kecamatan.


Setelah beberapa jauh memasuki perkampungan, Hadi memandang sisi sebelah kanannya. Tampak olehnya sebuah padang rumput yang tampak akan dibangun sebuah griya hunian bersubsidi.


"Wah.. Sepertinya ada kemajuan dikampung halamanku, seorang investor membuat perumahan disini.." ujar Hadi sembari menyetir dan membaca sebuah spanduk yang bertuliskan 'Griya Berkah'.


Lalu tampak sebuah mobil mewah terparkir diarea tersebut, dan seorang pria berpakaian kemeja hitam yang terlihat pas body, serta menggunakan topi hitam sedang berdiri tegak dengan posisi memunggungi mereka, tampak pria itu sedang mengawasi proses pengurukan tanah merah.


"Iya.. Mungkin investor dari luar kampung ini.." Chandra menimpali.

__ADS_1


Lalu mobil Hadi meluncur memasuki kampung menuju rumah Mala.


Tak berselang lama, mobil Hadi memasuki halaman rumah Mala, lalu berhenti.


Suara deru mesin mobil Hadi membuat Mala merasa penasaran, sebab suara itu bukanlah suara mesin Bayu.


Mala bergegas keluar dari rumah untuk melihat siapa yang datang berkunjung.


Sesaat Mala tersentak kaget, melihat Hadi dan rombongan yang tiba-tiba saja datang. Sebab Hadi tak memberitahu Ibunya jika Ia akan datang berkunjung hari ini.


"Hadi..?!" ucap Mala, antara senang, takut, malu bercampur menjadi satu. Apalagi melihat menantunya, Chandra sang besan dan juga Hamdan sang mantan kakak iparnya.


Mala berdiri terpaku memandang para tamunya. Ia tak mampu menatap mereka.


Lalu Hadi dan yang lainnya melangkah menuju rumah. Setelah berada diambang pintu, Hadi menyalim Ibunya."Assalammualikum Bu, apa kabar..?" tanya Hadi dengan tenang.


"Wa.. Waalaikumsalam... Alhamdulillah baik.." jawab Mala terbata.


Shinta menghampirinya, hanya memberikan kecupan dipipi kanan dan kirinya, tanpa mebgucapkan sepatah katapun.


"Mari masuk.." ajaknya, dengan perasaan yang tak mampu Ia lukiskan, sembari memberi jalan masuk kepada para tamunya.


Lalu Hadi masuk dan diikuti yang lainnya dengan ucapan salam yang hampir bersamaan.


Shinta mengekorinya dari arah belakang, bersikap seperti biasanya, seolah-olah tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada Ibu mertuanya.


Shinta membantu membuatkan minuman, sedangkan Mala mengeluarkan makanan ringan yang disimpan ditoples.


Shinta membantu membawa minuman dan Mala membawa makanan ringan itu ke depan, agar para tamu Ibu mertuanya menikmati dan beristirahat sejenak.


Setelah menyodorkan makanan dan minuman, Mala berpamitan ke dapur, beralasan akan memasak untuk makan siang mereka.


Hadi menyadari jika Ibunya sedang berusaha menghindari mereka.


Lalu Shinta mengekori Ibu mertuanya kembali. Ia ikut membantu memasak untuk sajian makan siang mereka.


Tak berselang lama, terdengar suara deru mesin memasuki halaman rumah, tepat pukul 12 siang.


ketiga pria yang berada diruang tamu serentak menoleh kearah kaca jendela, dan mengintai siapa yang datang.


Deeeeeegh...

__ADS_1


Jantung Hadi seakan bagaikan gemuruh, saat melihat mobil bwrwarna hitam itu berhenti dihalaman rumah Ibunya, dan gemuruh didadanya bertambah saat melihat sosok pria berpakaian hitam yqng menegenakan topi hitam itu turun dari mobil dan melangkah menuju rumah Ibunya sembari menenteng beberapa kantong kresek berisi makanan.


"Bukankah Dia yang ku lihat di area proyek perumahan tadi..? Mengapa Ia datang kemari.?" Hadi berguman dalam hatinya. "Apakah jangan-jangan Ia adalah Pak Bayu, pria yang sudah menikahi Ibu.." Hadi menerka-nerka dalam hatinya, sebab pria itu memakai topi yang sedikit menutupi wajahnya.


"Assallammualaikum.." ucap pria itu dengan tenang, dan melihat kearah semua pria yang sedang duduk disofa.


"Waalaikum salam.." jawab ketiganya serentak, sembari memandang wajah pria itu.


Dengan perasaan kikuk, Bayu mengulurkan tangannya menyalami ke tiga pria tersebut, sembari tersenyum miris.


Ia menuju ke dapur, lalu meletakkan beberapa kantong kresek berisi lauk pauk yang dibelinya dan diletakkan diatas meja makan.


"Itu lauk pauk, untuk makan siang.." ucapnya tanpa menoleh kepada Mala.


Shinta merasakan ada kejanggalan antara hubungan Mala Ibu mertuanya dengan suami barunya, namun Ia hanya menerka saja.


Bayu kembali ke sofa, bersikap layaknya seorang pria yang harus berani menghadapi segala sesuatunya.


"Maaf, Apakah ada yang bisa saya bantu..?" ucap Bayu dengan sopan. Bayu melirik kepada Hadi, Ia seperti sering melihatnya.. Namun entah dimana..


Seketika ingatan Bayu teringat akan foto keluarga Mala "Apakah ini adiknya Satria..?" Bayu berguman lirih. Ia mencoba mengingat siapa sosok Hadi, karena Ia tidak pernah bertemu dengan Hadi sebelumnya, jikapun pernah hanya sekilas saja, tanpa mengingatnya dengan jelas.


Sementara itu, Chandra orang yang paling terkejut, karena Ia pernah melakukan kontrak kerjasama dengan Bayu, saat menjabat diperusahaan Bram dan Jayanti.


Namun yang paling membingungkan, mengapa sampai Mala dan Bayu bisa menikah, dan sejak kapan mereka berkenalan.


"Apakah pria ini alasan Mala menolakku..? Pandai juga Mala memilih pria tampan, namun aku juga tak kalah tampan dari Dia." Chandra berguman lirih dalam hatinya.


Saat menatap Chandra, Bayu mencoba mengingatnya, seperti pernah mengenal. "Apakah ini Pak Chandra..?" tanya Bayu dengan ramah. "Wah.. Kebetulan sekali kita bertemu disini.. Kemarin saya mencari kontraktor untuk pembangunan proyek saya, dan masih belum ketemu yang cocok. Apakah bapak bersedia bekerjasama dengan saya." cecar Bayu tanpa mengetahui hubungan apa Chandra dan Mala.


Tentu saja Chandra ogah bekerjasama dengan orang yang sudah mencuri wanitanya. "Maaf, saya tidak bisa, saya banyak proyek dikota." jawab Chandra ketus, dan jawaban itu mendapat perhatian dari Hadi dan Hamdan yang sedari tadi membisu.


Tampak sekali dengan jelas gurat kecemburuan Chandra yang tersimpan untuk Bayu.


Bayu tersenyum tipis.."Tak mengapa, mungkin saya harus mencari lagi kontraktor yang bisa diajak kerjasama." jawab Bayu mencoba setenang mungkin.


Bayu dapat merasakan ada sikap kesal pada diri Chandra untuknya, namun entah apa penyebabnya.


"Apakah Kamu Hadi..?" tanya Bayu mencoba menerka, karena Ia membaca nama Hadi di foto wedding yang berukuran besar didinding itu.


"Iya.. Saya Hadi.." jawab Hadi dengan suara yang sedikit bergetar. Entah perasaan apa yang kini didalam hatinya.

__ADS_1


Hamdan yang sedari tadi terdiam terus menatap Bayu, Ia mencoba melihat sebilah keris yang bersemayam didalam tubuh Pria, tampak keris itu seperti bergerak perlahan, seakan mengetahui jika Seseorang sedang menatapnya dengan pandangan tak suka..


__ADS_2