
Hadi dipertemukan oleh rekan bisnis yang akan melakukan kerjasama dengan perusahaan mereka.
"perkenalkan pak Hadi, saya Chandra. perusahaan saya yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan yang bapak pimpin. Kami bergerak dibidang contraktor and Supplier, dimana kami akan menangani proyek pembangunan yang akan bapak laksanakan." ucap Seorang pria dewasa dengan tampang bersahaja. Ada keteduhan disana.
Pembahasan proyek pun berlangsung dengan khidmad. Setelah terjadi tandatangan kontrak, maka tinggal menunggu Surat perintah operasional saja.
Keduanya berjabat tangan, berharap kerjasama mereka akan berjalan dengan baik. lalu keduanya berpisah.
---------♡♡♡♡-----
"pa..pa.." sambut Shinta dengan pelukan. Hatinya saat ini sedang bahagia. Ia Mengeratkan pelukannya dengan isakan tangis yang tak mampu Ia ungkapkan dengan kata-kata.
Chandra mengendurkan pelukan Shinta. "Hei.. Mengapa puteri papa menangis.? Hal apa yang membuatmu menangis sayang..?" ucap Chandra dengan penasaran.
Shinta tak menjawab pertanyaan papanya, namun Ia semakin sesenggukan yang semakin membuat Chandra bingung.
Chandra membimbing Shinta ke sofa. Lalu memintanya untuk duduk dan menengkan dirinya.
"coba tenangkan dirimu? Setelah itu ceritakanlah pada papa. Apakah ada hubungannya dengan magangmu dikampung itu? semua berjalan dengan baikkan sayang.?" tanya Chandra dengan lembut.
Shinta menganggukkan kepalanya. Namun sesenggukannya masih terasa begitu kentara, dengan pundaknya yang sedikit berguncang.
"jika bukan masalah magangmu, lalu apa yang membuatmu menangis..?" tanya Chandra dengan penasaran.
"seseorang melamarku pa.. Ia ingin membawa keluarganya untuk meminta ijinmu..huuuuuuhuu.." tangis Shinta semakin kencang.
Chandra membawa kepala puterinya kepundaknya. Lalu membelai lembut rambut gadis itu dengam penuh kasih sayang seorang ayah.
"lalu mengapa kau menangis? bukankah itu hal yang membahagiakan untukmu?" tanya Chandra dengam lembut.
"apakah Ia benar bersungguh untuk menikahiku pa..? aku takut jika suatu saat nanti Ia akan mencari wanita lain karena sudah tidak suci lagi." ungkap Shinta dengan ragu.
"sebaiknya kamu mengatakannya dengan jujur, agak tidak terjadi ungkitan dimasa mendatang." ucap Chandra dengan tenang.
"dia sudah mengetahuinya, sebelum aku memberitahunya." ungkap Shinta dengan isakan yang kembali menderanya.
Chandra membelai lembut rambut Shinta ."jika Ia sudah mengetahuinya, lalu apa masalahnya..?" tanya Chandra dengan sangat hati-hati.
Shinta menatap lekat pada papanya. "apakah Cinta suci itu ada Pa..? Dan apakah ada pria yang masih dapat menerima gadis kotor sepertiku..?" tanya Shinta dengan penuh debaran.
"kamu bukan kotor sayang, kamu hanya direnggut paksa. Jika Ia memintamu untuk menjadi istrinya, sedangkan Ia mengetahui masa lalumu seperti apa, maka Ia adalah orang yang benar tulus padamu, percayalah.. Papa yakin akan hal itu. karena papa seorang pria." ucap Chandra, memberikan semangat kepada Shinta.
Shinta menatap Chandra, berusaha mempercayai setiap kata-kata yang diberikan oleh Papanya.
"jadi, kapan rencananya mereka akan datang kemari ..?" tanya Chandra kepada Shinta.
"mereka meminta secepatnya pa.. Apakah papa akan setuju..?" Shinta balik bertanya.
Chandra menyeka sisa air mata yang menempel dipipi puterinya. "semua keputusan ada ditanganmu. Papa hanya dapat mendoakan yang terbaik." ucap Chandra dengan senyum penuh kesahajaan.
Shinta tersenyum sangat manis. "kalau besok malam bagaimana pa.?" tanya Shinta sumringah.
Chandra melongo, "secepat itukah..?" ucap, Chandra tak percaya.
Shinta menganggukkan kepalanya. " iya pa.." jawab Shinta tegas.
"baiklah.. Papa mengijinkannya, beritahu keluarganya, untuk datang melamar puteri papa yang cantik jelita." ucap Chandra sembari tersenyum.
Ia beranjak bangkit dan ingin mengganti pakaiannya. "siapa pemuda itu wahai puteriku..?" tanya chandra dengan penasaran.
Shinta tersenyum malu-malu "temen kuliah Shinta dari kampung yang tempat Shinta magang." jawabnya sembari tersenyum.
Chandra menganggukkan kepalanya. "siapapun Ia, dan dari mana asalnya.. Yang terpenting dia menerimamu apa adanya." ucap Chandra dengan tulus.
Kini Shinta merasa bingung karena Ia akan mengurus acara pertunangan ini secara sendiri. Ia memulai untuk mencari decor dan sebagainya.
--------♡♡♡♡--------
"selamat ya Nak.. Akhirnya pengajuan kamu diterima oleh pihak perusahaan. Kini kamu sudah memiliki pekerjaan tetap. Jadi jikalaupun kamu menikah, tidak akan kesulitan memberikan kebutuhan istrimu " ucap Mala memberikan ucapan selamat kepada Hadi
"ini semua berkat doa kalian semua, hingga Adi mendapatkan apa yang Hadi inginkan. Terutama kak Satria yang sudah memberikan support yang luar biasa." ucap Hadi sembari melirik Satria, lalu nyengir.
Satria membalas senyum simpul. "sepertinya kakak tidak ada membantu apapun, itu semua karena memang keberuntungan dan dedikasi kamu yang tinggi." jawab Satria penuh sahaja.
__ADS_1
"kan kakak jago ngeramal, apa yang kakak ramal beneran terjadi .." jawab Hadi seenaknya.
Satria membulatkan matanya. "jangan aneh-aneh kamu Di. Emang kakak mbah dukun" jawab Satria tersenyum renyah. Hati serasa bahagia, dapat dikelilingi keluarganya yang tampak begitu ceria. Ia akan merindukan hal ini nantinya, jika Mala benar-benar kngin kembali ke kampung.
"bukan dukun si.. Tapi paranormal." Hadi terkekeh karena berhasil menggoda kakaknya yang terkadang sulit diajak bercanda.
"kapan kita rencana kerumah Shinta Ma..?" tanya Hadi sembari menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"apakah sudah ada kabar dari Shinta, jika sudah, kita akan segera melamarnya, ya selagi kita masih disini. Nanti kalau sudah pulang kampung akan sangat jauh kita berulang kembali" ucap Mala dengan tak sabar.
"sudah bu, papanya mengatakan bersiap kapan saja untuk menyambut kita. kalau begitu, bagaimana jika malam esok bu..?" rengek Hadi dengan manja
"baiklah.. esok malam kita datang kerumahnya untuk melamar dan membawa seserahan.
Hadi terdiam.. " tetapi aku belum cukup punya uang untuk melamarnya." ucap Hadi sembari nyengir.
Mala mengernyitkan keningnya. "emang kamu belum gajian kerja diperusahaan itu.?" tanya Mala menelisik.
Hadi kembali nyengir, malu-malu.. "belum Bu, kan 5 hari lagi baru akhir bulan. kemarin baru dapat bonus, tetapi kan tidak cukup untuk membeli cincin dan seserahan lainnya." ucap Hadi jujur.
Satria diam tak bergeming, namun mendengarkan dengan seksama apa yang sedang dibicarakan oleh Ibubdan adiknya. Sedangkan Roni sedang berfikir bagaimana caranya untuk membantu Hadi dalam acara lamaran esok.
"nanti Ayah akan coba telefon mandor Ayah, mungkin gaji ayah masih ada sisanya, nanti ayah akan minta, dan kekurangannya mungkin kamu jual saja mobil kamu yang dikampung." ucap Roni menimpali.
"mobilnya masuk bengkel yah, makanya Hadi menumpang kemari bersama Shinta." jawab Hadi terkekeh.
Mala da Roni hanya menggelengkan kepalanya. "jadi kamu ini kenapa tiba-tiba ngebet banget pengen ngelamar kalau uangnya belum ada..? Coba kamu tanya Shinta, dia mau gak dilamar seadanya. Kamu ceritakan saja semuanya. Lagiankan Ia sudah tau kondisi kita seperti apa dikampung halaman. Ya kalau jika Ia benar-benar mencintai kamu, dia akan menerima kamu apa adanya, bukan karena apa adanya. Ajak Ia ketemuan, nanti beritahu ibu apa hasilnya. Jika Ia menerimamu apa adanya, maka Ia tulus mencintaimu." ucap Mala kepada Hadi.
Roni tersenyum kepada Istrinya "seperti cinta kamu padaku kan Dik.? Terima aku apa adanya, padahal waktu itu kamu kembang desa yang diperebutkan.." ungkap Roni mengenang kisah cintanya bersama Mala.
Mala membulatkan matanya menatap Roni, Ia merasa malu jika Suaminya memuji Ia didepan anak-anaknya.
----------♡♡♡♡---------
Satria sedang menelefon seseorang. "ya.. Segera kirimkan, besok pagi saya ingin semuanya sudah beres." ucapnya, sembari menutup panggilan telefonnya.
Sesaat terdengar suara ketukan pintu. "masuk.." ucapnya, sembari duduk ditepian ranjang.
Terdengar handle pintu dibuka. Mala tampak masuk kedalam kamanya. Lalu menghampirinya. Ia duduk ditepian ranjang. "Malam sayang.." sapanya ramah.
"Sayang.. Kamu tidak keberatankan jika adikmu terlebih dahulu menikah dibanding kamu.?" ucap Mala hati-hati..
Satria menatap lekat pada Mala, ibunya. "mengapa aku harus marah bu..? Allah memberikan jodoh yang cepat kepada Hadi, lalu mengapa aku harus marah.? Santai saja bu, aku baik- baik saja." jawab Satria lembut.
Mala menarik nafasnya dengan dalam, lalu menghelanya. "syukurlah, jika kamu merasa baik-baik saja.
Kelak jika kamu menemukan jodohmu, maka aku ibu akan melamarkannya untukmu. " ucap Mala sembari tersenyum.
"kalau begitu ibu keluar dulu ya.." ucap Mala sembari beranjak dari dusuknya. Namun tangan Satria mencekalnya.
Satria menatap Mala penuh arti. Lalu Mala kembali duduk ditepian ranjang. "Bu.. Apakah ibu bersungguh ingin kembali ke kampung?" tanya Satria dengan nada lirih. Ada raut kesedihan diwajahnya.
Mala tak tega menatap mata itu." sayang.. Bukan ibu tidak ingin berlama tinggal disini. Tetapi ada hal yang ibu tidak bisa jelaskan kepadamu. Kamu dapat mengujungi ibu kapan saja, dan ibu juga akan berkunjung kepadamu kapanpun ibu mau." jawab Mala, mencoba memberikan pengertian kepada Satria.
Mala menghampiri Satria, lalu mengecup ujung kepalanya dengan cinta kasih seorang ibu. " ibu menyayangimu, sama seperti Hadi. Saat Sebelum ibu menemukanmu, itu adalah patah hati yang terdalam yang pernah ibu rasakan. Setiap saat dalam doaku, aku berharap kamu masih hidup, dan suatu saat akan bertemu. Dan saat kau datang memberi kabar, jika kamu adalah anak pertamaku yang pernah hilang, itu adalah kebhagiaan terbesar dalam hidupku.." ucap Mala sembari menatap lekat wajah Satria.
"tetapi setelah menemukanku, mengapa ibu tak ingin tinggal bersamaku..?" cecar Satria dengan cepat.
"ibu tidak dapat menjelaskannya, maafkan ibu.." ucapnya sembari beranjak ingin pergi.
"apakah karena harta ini..? Harta pemberian dari orang yang sudah mencuriku dari rahim Ibu..? Sehingga membuat ibu merasa tidak nyaman..?" ucap Satria penuh menyelidik.
"bukan..! Dan ibu ada alasan sendiri..! Sudahlah.. Jangan diperdebatkan, ibu akan menjelaskannya nanti. " ucap Mala sembari berlalu pergi.
Satria menengadahkan wajahnya ke atas. Ia merasakan perih dihatinya, karena keputusan Mala, Ibunya yang tetap kukuh untuk pulang kekampung halamannya setelah pertunangan Hadi.
-----------♡♡♡-----
"haaaah..?! Mengapa perusahaan mentransfer uang dalam jumlah uang begitu banyak..? bahkan belum saatnya." Hadi beguman bingung dalam hatinya saat melihat notifikasi banking.
"ada apa Di..? Kenapa wajahmu berubah panik..? tanya Roni saat melihat wajah Hadi yang berubah drastis.
"ini pa,. Mengapa perusahaan begitu sangat baik. mereka mentransfer uang dalam jumlah fantastis. Seolah-olah mereka mengetahui jika aku sedang membutuhkan uang. Padahal hari gajianku masih ada 4 hari lagi" ungkap Hadi dengan panik.
__ADS_1
Satria yang kebetulan mendengar obrolan itu hanya diam dan berlalu kekamarnya.
"pakeeet..." terdengar suara teriakan seorang kurir dari luar rumah.
Mala bergegas keluar memeriksa abang kurir yang membawakan paket.
sebuah mobil boks, membawa ada banyak paket berupa seserahan lamaran yang sangat banyak dan sudah lengkap dengan accecorisnya. Semua tampak indah dan mewah.
"Hadi.. Kemari sebentar, apakah kamu yang memesannya. Kurir ini mengatakan kamu yang memesannya dan alamatnya.sesuai dengan nama dan alamat disini." ucap Mala sedikit mengeraskan suaranya, agar terdengar oleh mereka.
Hadi dan Roni beranjak bangkit untuk melihatnya. Mereka terperangah seakan tak percaya melihat semuanya.
"aku tidak ada memesannya bu, mana mungkin aku memiliki uang sebanyak ini." uacap Hadi jujur.
"lalu siapa..?" tanya Mala penasaran.
Hadi menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"tanda tangani pak.. Ini semua sudah dibayar, tinggal menerimanya saja."
Hadi menatap bingung, lalu menandatanganinya.
pagi ini Ia merasakan kejutan demi kejutan yang tak terduga. Bahkan diantara seserahan lamaran itu, terdapat sepasang cincin berlian yang sangat mahal. "darimana pengirimnya mengetahui ukuran jariku.? sungguh aneh." lalu mereka memasukkan seserahan tersebut.
"ada banyak baranga hantaran untuk seserahan lamaran? Kapan kamu memesannya di..?" Tanya Roni terperangah.
"aku juga tidak mengetahuinya yah. Bisa jadi Shinta yang memesannya, Dia kan banyak uang. Mungkin agar dilihat keluarganya banyak hantaran dari pihak laki-laki."Hadi mencoba menerka-nerka.
"bisa jadi begitu. Apalagi Dia tau kamu berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Kan dia sudah tahu sendiri kondisi rumah kita bagaimana." Mala menimpali.
Satria mengintai dari balik kaca jendelanya dilantai dua. Ia sedang bertelefon kepada seseorang. "ya.. Sudah sampai.. Terimakasih." ucapnya sembari menutup telefonnya. Matanya menerawang jauh entah kemana. Lalu Ia beranjak pergi, ingin menyelesaikan sidang skripsinya. Ia ingin segera wisuda. Ada banyak hal yang sudah direncanakannya setelah wisuda nanti.
--------♡♡♡♡-----
Keluarga Shinta sudah menyiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan Hadi dan keluarganya. Sebuah hotel mewah sengaja dipesan oleh Chandra untuk acara pertungan Hadi dan Shinta.
Malam ini Shinta tampil sangat mempesona. Ia terlihat cantik nan anggun. Ia seperti sudah tak sabar menanti kehadiran Hadi dan keluarganya.
Setelah beberapa menit kemudian, tampak rombongan keluarga Hadi sudah datang. Shinta terlihat sangat antusias menyambutnya. Chandra masih sibuk melayani para tamu undangannya. Mala tampil sangat memukau malam ini. Karena ini adalah peryama kalinya Ia akan memiliki calon menantu.
Satria belum juga tampak hadir. Ia sepertinya tertinggal dari rombongan. Lalu mereka berbaur dengan keluarga Shinta. Sesaat Mala merasakan ingin sesak pipis. Ia membisikkan kepada Shinta untuk menunjukkan dimana kamar kecil.
Lalu Shinta mengantarkan calon ibu mertuanya kelorong kamar mandi hotel. Sesaat seseorang memanggilnya. Lalu Shinta meninggalkan Mala yang sudah masuk kekamar kecil.
Saat keluar dari Kamar kecil, Mala merasa bingung karena belum pernah masuk ke hotel mewah sebelumnya. Ia mencoba mengingat jalan menuju Aula pertunangan Hadi dan Shinta. lalu tanpa sengaja Ia menabrak tubuh seseorang. Sehingga orang tersebut sampai terdampar didinding.
"em..maaf, saya tidak sengaja.?" ucap Mala gugup.
Seorang pria tampan yang seusianya, sedang berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya agar berdiri tegak, karena Ia limbung saat Mala menabraknya tanpa sengaja.
Ia tersenyum, lalu membenahi tuxedo dan dasinya. "tidak apa-apa.." jawabnya dengan senyum sahaja.
"emm.. Kalau boleh tanya, ruangan Aula acara pertunangan dimana ya..? Saya lupa lorongnya.." ucap Mala jujur.
"oh.. ikuti lorong yang sebelah sini, maka kamu akan menemukannya." ucap Pria itu menjelaskan.
Pria itu menatap tak berkedip. "sepertinya aku mengenalinya." ucap pria itu dalam hatinya.
"apakah kamu Mala..?" tanyanya ragu.
Mala menatap heran. "ya.. Mengapa kamu mengenaliku..?" Mala bernalik bertanya.
Pria itu menggelengkan kepalanya. "apakah begitu cepat kamu melupakanku..? Sedangkan aku masih mengingatmu dengan jelas, hai kembang desa." ucap pria itu tersenyum sumringah.
Mala mencoba mengingatnya, menggali memory yang pernah tersimpan. "Chandra.." ucapnya ragu.
"ya.. " jawabnya canggung.
"mengapa kamu begitu mudah mengenaliku..?" tanya Mala penuh selidik.
"bagaimana mungkin aku dengan cepat melupakan wanita pemilik bola Mata indah, yang pernah mencuri hatiku." ucapnya tersenyum menggoda.
Mala terkekeh.. "kau masih sama seperti dulu.. Penggoda.!! Kalau begitu aku jalan terlebih dahulu, karena ada hal penting yang akan aku selesaikan. Permisi.." ucap Mala, sembari mengikuti lorong yang telah ditunjukkan oleh Chandra.
__ADS_1
Chandra menatap punggung wanita itu dengan terpana. "kau masih seperti dulu, dan secantik dahulu. Andai saja waktu itu..." Chandra menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya dengan kasar. Kini tubuh Mala sudah menghilang dari pandangannya.