
Sepeninggalan Satria ke hutan larangan. Mala merasakan hidupnya akan kesepian. Dimana Hadi akan kembali kekota untuk bekerja, dan ini akan membuat hari-harinya begitu teramat kesepian.
Mala larut dalam lamunannya, Ia membayangkan hari-hari yang akan dilaluinya kelak. Saat itu Chandra yang melihat Mala diam termenung di meja makan, mencoba menghampirinya. "Hai.. Kamu sedang melamunkan apa..?" tanya Chandra yang mengambil kesempatan saat Hamdan Dan Hadi mengantar Satria ketepi hutan.
Mala tersentak dari lamunannya. Ia memandang kearah Chandra yang tiba-tiba saja muncul dihadapannya.
Pria dari masa lalunya itu duduk dikursi kosong yang tepat menghadapnya. Dalam prinsip hidupnya, tak dapat ketika gadisnya, dapat jandanyapun jadilah.
"Mala.. Apakah kamu tidak merasa kesepian jika nanti Hadi balik ke kota..? Sedangkan Satria sudah pergi backpaker dan tidak tahu kapan akan kembali." Chandra mulai menghasut Mala.
Mala mengernyitkan keningnya, menatap curiga pada Chandra. "Maksudnya apa ya..?" ucap Mala, sembari menyeka air matanya karena masih merasa kehilangan Satria yang baru saja berpamitan untuk mengembara.
"Eemm.. Ya maksud aku apakah kamu tidak berniat untuk menikah lagi..? Agar kamu tidak kesepian, dan tentunya ada orang yang mengisi hari-harimu.
Mala tercengang mendengar penuturan Chandra yang menurutnya begitu sangat sensitif. Apalagi saat ini Ia masih merasakan berduka saat kepergian Roni dan juga Satria, tapi Chandra seolah mengambil kesempatan dalam kesempitan dari masalah yang kini dihadapinya.
Mala mendenguskan nafasnya, menatap pria yang dulu pernah Ia cintai. "Maafkan aku, untuk hal ini hatiku masih diselimuti rasa berduka oleh kepergian bang Roni, dan aku butuh waktu untuk membuka hatiku.." jawab Mala berusaha sopan, meski hatinya mencelus.
"Tapi Mala.. Aku masih sama seperti dahulu, mencintaimu dan tetap akan mencintaimu sampai kapanpun.. Jika kau merasa sudah siap ingin membina hubungan lagi, aku siap menjadi pendampingmu.." ucap Chandra memelas.
Disisi lain, Shinta yang berniat ke dapur, tiba-yiba menghentikan langkahnya. Ia tanpa sengaja mendengar ucapan dari Papanya yang sepertinya sedang merayu ibu mertuanya.
"Ya Rabb.. Mengapa Papa merayu Ibu mertuaku..? Apalagi dalam kondisi seperti ini.. Papa bener-bener keterlaluan.." Shinta berguman lirih dalam hatinya.
Sebelum suasana semakin tidak mengenakan, Shinta muncul dari balik pintu penghubung dapur dan ruamg keluarga.
"Bu.. Kita ke toko pak Joko yuk, mau cari bahan untuk masak siang ini.." ucap Shinta menyelah pembicaraan keduanya.
Mala mengambil kesempatan dari ajakan Shinta, lalu beranjak bangkit dari duduknya."Ayolah.. Kita harus membuat menu makan siang ini." ujar Mala melangkah pergi.
__ADS_1
Sementara itu, Chandra menatap kesal pada Shinta, yang mana Ia tau itu adalah akal-akalannya saja agar Papanya tidak berduaan dengan Mala yang merupakan ibu mertuanya.
Shinta membalas tatapan Papanya dengan nyengir penuh kemenangan, yang membuat pria itu semakin kesal.
Mala dan Shinta bergegas menuju ke toko pak Joko.
"kita menaiki mobil saja Bu, agar lekas sampai.." ucap Shinta, lalu mengeluarkan mobil milik Satria dari garasi, dan membawa Mala ke toko Pak Joko.
Sesampainya disana, kondisi sudah sepi, sebagian ibu-ibu sudah pulang dari berbelanja. Lalu mereka turun dari mobil dan menuju kedalam toko sembako milik pak Joko. Mereka mulai memilih belanjaan mereka.
"Ibu ambil minyak goreng dirak sana, kamu pilih ikan dan sayur ya.." pinta Mala kepada menantu perempuannya.
Shinta mengangguk mengerti. Ia memilih ikan gurami yang akan dimasak asam pedas dan tumis kangkung rica-rica.
Mala sibuk memilih minyak goreng dan juga bahan lainnya. Ia ingin mengambil sebotol kecap dan saos pedas yang ada dirak atas, namun ketinggiannya tak dapat terjangkau. Lalu sebuah tangan meraih botol yang diinginkan oeh Mala.
Seorang Pria berpakaian serba hitam, kacamata hitam dan masker yang selalu menutupi wajahnya.
Pria itu pergi begitu saja setelah mengambilkan dua botol bahan yang diperlukan Mala saat ini.
"Hei.. Tunggu.. " ucap Mala menahan pria itu.
Pria itu menghentikan langkahnya, tanpa menoleh kearah Mala.
"Terimakasih atas pertolongan waktu itu.." ucap Mala lirih dan tulus.
Pria itu hanya diam membisu, lalu pergi meninggalkan Mala yang masih berdiri termangu.
Mala menatap punggung pria misterius itu, bahkan ingatan Mala jauh melangkah kebeberapa bulqn yang lalu, saat Pria itu juga pernah menolongnya saat diserempet dari motor, dan terjatuh.
__ADS_1
"Siapa dia..? Bahkan aku lupa menanyakan namanya." ucap Mala dengan lirih. Lalu wanita cantik itu membeli gula pasir dan lainnya.
Setelah semuanya selesai, Ia kemeja kasir untuk menemui Shinta yang sudah memilih bahan yang akan dibutuhkannya untuk makan siang ini.
Saat Mala membawa semua bahan keperluannya, Ia melirik sekilas pria misterius itu yang tampak membawa berbagai bahan keperluan, lalu sebelum menutup pintu mobilnya, Ia menoleh sebentar menatap Mala, lalu Mala yang kepergok meliriknya segera memalingkan wajahnya kearah lain. Lalu terdengar suara pintu mobil ditutup, dan deru mesin mobil yang meninggalkan toko sembako.
Setelah mobil itu beranjak pergi, Mala menyempatkan menoleh kearah badan belakang mobil, dan tanpa Mala sadari, pemilik mobil itu melihatnya dari kaca spion, dan terselip senyum yang penuh makna disana.
Shinta sibuk memasukkan barang belanjaan mereka kedalam kantong plastik. Mala yang menyadarinya segela membantu Shinta, lalu setelah menyelesaikan pembayarannya, mereka segera kembali pulang.
Disatu sisi, Bayu yang baru saja bertemu wanita pujaannya begitu tampak sangat gugup.
Ia tidak tahu harus mengatakan apa tentang perasaannya. Ia mengetahui jika hatinya cukup berdegub kencang dengan apa baru saja terjadi.
"Oh, Juwitaku.. Adakah kau merasakan perasaan yang mengalir didalam aliran darahku.
Disetiap denyutan jantungku yang selalu terpatri indah namamu..
adakah rindu dihatimu yang selalu membuatku menghamba, mendambakanmu..
Wajah indahmu tak pernah lepas dari ingatanku..
Inilah aku, yang selalu memujamu..
Tanpa pernah kau menyadarinya.."
Bayu meratap perih pada hatinya yang nelangsa. Pria itu segera melajukan mobilnya, menuju rumahnya. Ia membeli beberpa bahan sebagai asupan bergizi untuk asisten rumah tangganya yang mengalami keguguran tempo hari.
Ia memanggil Rumi agar memasakkan bubur kacang hijau dan kacang merah, sebagai penambah asupan energi dan sumber zat gizi lainnya, agar Nia segera pulih kembali.
__ADS_1
sementara itu, Mala yang kini sedang bersiap untuk memasak menu makan siang, bersiap meracik bumbu dan bahan yang dipilih oleh Shinta. Namun tiba-tiba saja Ia terbayang sosok pria misterius itu, seketika Ia menghentikan pekerjaannya, lalu menarik nafasnya dalam, dan kemudian melanjutkan memasaknya.