Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
siluet


__ADS_3

Satria berpamitan kepada Mala untuk pergi ke puskesmas, karena hari ini Ia mulai menjabat sebagai kepala puskesmas.


"bu.. Satria ke puskesmas ya? Doain yang terbaik buat Satria" ucapnya sembari menyalim tangan Mala.


"iya Sayang.. Hati-hatinya, dan semangat bekerja" ucap Mala memberi semangat kepada puteranya.


Satria tersenyum sumringa, Ia tidak pernah membayangkan jika Ia akan terdampar dikampung yang jauh dari hiruk pikuk kota besar.


Namun semua itu Ia rasakan sangat begitu nyaman.


Saat Ia melintasi koridor puskesmas, semua mata tertuju padanya. Mereka tidak menyangka akan ada pria tampan yang memimpin puskesmas dikampung mereka.


Satria mencoba memberi senyuman kepada para bawahannya m, namun tetap menjaga wibawanya.


Satria memulai agenda pertamanya. Yaitu pemerataan pemberian obat cacing dan makanan bergizi gratis bagi sekolah-sekolah tingkat TK hingga SD, yang mana sumber dananya diambil dari donatur tetap dan APBD. Tujuannya Ialah agar anak tidak mengalami stanting atau gagal tumbuh dan tumbuh sehat.


Saat Ia sedang memeriksa semua agendanya, Ia mendengar sayup-sayup senandung cinta seorang gadis yang begitu mendayu-dayu dari sebelah utara.


Satria menghentikan ketikannya, lalu berajak bangkit dari duduknya. Ia menyingkap tirai , lalu memandang ke arah luar jendela. Ia memejamkan matanya, lalu mencari tahu sumber suara tersebut.


Satria menembus sebuah dimensi lain. Ia melihat samar-samar seorang gadis sedang bermain dengan sebuah buaian yang terbuat dari sulur pohon beringin. Wajah gadis itu tertutup oleh rambutnya yang panjang dan tertiup angin.


Saat Satria akan mendekatinya..


Tok...tok..tok..


Suara ketukan pintu membuyarkan perjalanan ghaibnya.


"ya masuk.." ucap Satria, lalu duduk kembali ke kursi kerjanya.


tampak seorang pegawai keuangan, melaporkan dana Kas puskesmas dan tentang pembahasan untuk masalah pembiayaan tentang agenda pemberian makanan bergizi untuk setiap posyandu yang setiap sebulan sekali dilaksanakan.


🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛


Satria pulang sedikit larut malam. Puskesmas ini puskesmas 24 jam. Sehingga pergantian Shift tetap ada.


Saat akan memasuki parkiran, desiran angin menyapa kulitnya..


Seeeerrr...


Sebuah bayangan hitam tampak melintas dan meninggalkan aroma wangi kenanga yang begitu khas.

__ADS_1


Satria mencoba tidak begitu perduli dengan kehadiran makhluk astral itu. Ia menganggap hal yang biasa bertemu dengan makhluk itu.


Satria kembali masuk kedalam mobilnya. lalu beranjak pergi.


Saat akan menujun jalan pulang, samar-samar Ia melihat seseorang berjalan tertatih. Satria merasa jika orang tersebut memerlukan bantuan. Satria turun dari mobil.


"perlu tumpangan pak..?" ucap Satria Ramah.


Pria itu mengehentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Satria. Wajah pria itu penuh darah. Ada luka menganga di bagian kepalanya.


"haaah..?!" Satria berjalan mundur 3 langkah. Ia sangat terkejut dengan penampakan itu. Seketika tertampang satu siluet 3 wajah dalam pandangan ghaibnya.


Tampak oleh seorang pria yang hendak menggagahi seirang wanita, lalu datang pria lain menyelamatkan wanita itu, dan terjadilah pembunuhan secara refleks.


Satria tersentak, lalu pria yang disapanya menghilang. "pria itu aku pernah melihatnya.. Tetapi dimana?" ucap Satria mencoba mengingatnya.


Seketika matanya terbelalak.. "ya.. Aku mengingatnya, bukankah itu ayahnya Rey, si pria brengsek.?! Bagaimana nasibnya sekarang? Tidak kabar tentangnya?" guman Satria sembari masuk lagi kedalam mobilnya.


Sesampainya dihalaman rumah, Ia melihat didekat rumpunan pohon pisang, seorang makhluk yang berbulu sedang menatapnya marah. "apa yang dilakukannya disana? Jika hanya untuk berdiam diri tidak masalah, asalkan jangan sampai mengganggu." guman Satria sembari melirik kepada makhluk itu.


Terdengar suara derap langkah kaki membukakan pintu. Tampak Mala, ibunya sudah menunggunya dengan senuym bahagia.


"mengapa kamu lama sekali pulang nya, Nak..?" ucap Mala khawatir.


Sssssshhhh...


Mala merasakan tubuhnya merinding. Namun Ia mencoba untuk bersikap biasa saja.


"ibu tidur duluan ya Sat.." ucap Mala, sembari menyapu tengkuknya.


Satria hanya mengangguk. Ia memasuki kamarnya, lalu menyalin pakaiannya, ingin mandi malam ini Ia meeasakan hawa dingin yang amat sangat menembus tulangnya. "mengapa terlalu dingin malam ini?" Satria berguman lirih, sembari menyalin pakaiannya.


Ia keluar menuju dapur. Ia ingin makan malam, saat akan menyingkap tudung saji, Ia melihat bayangan melintas dihadapannya. Seketika Ia mengarahkan pandangannya pada bayangan tersebut. Ia menuju kamar Ayah dan ibunya.


Satria menutup kembali tudung saji itu. Lalu mencoba mengintai apa yang sedang terjadi.


ingin Ia masuk kedalam ruangan kamar, namun terkunci, dan hal tidak sopan jika Ia menerobos masuk.


Namun Ia merasakan ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi diadalam kamar ayah dan ibunya.


Satria memasuki kamarnya. Lalu menguncinya. Ia duduk bersila, lalu memejamkan matanya. Ia mencoba berkonsentrasi tinggi, lalu menembus dimensi lain.

__ADS_1


Ia melepaskan sukmanya, menembus dinding kamar orangtuanya. Tampak olehnya sesosok pria berkaki palsu sedang memperhatikan Mala, ibunya yang sedang tidur terlelap.


"bukankah Ia yang kutemui dijalanan tadi, ayahnya Rey? Mengapa Ia berada disini.? Apa hubungannya dengan Ayah dan ibu..? Apakah penyakit ayah ada hubungannya dengannya.?" Satria berguman lirih.


Satria mendekati pria itu, tampak oleh jika pria ini adalah seorang pria brengsek yang pernah menodai ibunya disaat sedang tidak sadar. Dan itu sudah terjadi 2 kali.


"Dia yang juga ingin menodai ibu semasa dikota dulu.. Apakah Ia sekarang sudah tewas..?!" sukma Satria berguman lirih dan melihat sosok itu hendak mendekati Mala, ibunya. Dengan segera Satria menariknya, lalu memberikan sebuah tendengan tanpa bayangan kepada pria brengsek itu.


Pria itu terkejut, karena aksinya dipergoki Satria. Lalu bayangan itu menghilang menembus kegelapan malam.


Satria berusaha mengejarnya, namun sudah tertinggal jauh. sekilas Ia melirik sosok berbulu yang masih berdiam di rumpun pohon pisang tersebut. "awas saja jika makhluk itu memiliki niat jahat kepadaku kekuargaku.. Kupastikan Ia akan hangus terbakar." guman sukma Satria, dan mendapat tanggapan tatapan sinis dari makhluk itu.


🐛🐛🐛🐛🐛


Nini Maru terbang melayang menghampiri sosok berbulu yang berada dirumpun pohon pisang.


"bagaimana Ki..? Apakah ada perkembangan?" tanya Nini Maru kepada genderuwo tersebut.


"sepertinya bocah tengil itu mulai mencurigaiku Ni.. Dan Ia tidak dapat kita remehkan. Dia berbeda dengan anak bungsunya."Ucap sang genderuwo itu.


"untuk sementara kita kerumah Reza dulu, sekarang Bayu sudah menjadi titisan Ki kliwon. Saat ini aku harus mendapatkan tumbal janin, kamu tinggal bersama Danang tukang kebun si Bayu, kamu buat dia selalu berhasrat, agar dapat membuahi si Rumi. Aku sudah sangat lapar dengan tumbal janin tersebut." ucap Nini Maru dengan wajah lemah.


"jadi sekarang kita sana.?" tanya Genderuwo dengan penasaran.


Nini Maru menatap Ki kliwon."iya.. Masa besok.." sahutnya sembari mekayang diudara, laku diikuti oleh ki Kliwon. Mereka menuju rumah Reza yang kini didiami oleh Bayu.


"aku langsung kekamar Danang Ni.." ucap Genderuwo itu.


Nini Maru mengangguk setuju. Lalu Ia menyelinap di kadalam kamar lantai 3, kamar yang membuatnya nyaman.


Genderuwo memasuki kamar Danang. Dan tampak Ia sedang bergumul debgan Rumi, lalu Genderuwo itu memasuki tubuh permainan mereka, sehingga membuat keduanya semakin menggila.


Setelah mencapai puncak surgawinya, Rumi yang kelelahan tertidur pulas. Namun, berbeda dengan Danang, Ia masih menginginkan hal itu lagi. Ia meninggalkan Rumi yang tertidur, laku berjnisiatif menemui kamar Nia, gadis yang juga bekerja sebagai asisiten rumah tangga Bayu.


Ia mengetuk kamar gadis itu berulang kali. Terdengar derap langkah dari pemilik kamar tersebut untuk melihat siapa yang datang mencarinya.


Saat Ia membuka pintu..


Danang menyergapnya, laku membekap mulutnya. Dengan tanpa perasaan , Ia langsung menyerang gadis yang masih polos dan juga kondisi linglung karena masih baru bangun tidur.


terikan gadis itu tidak Ia perdulikan, hasratnya semakin menggila setelah jin genderuwo itu ikut menempelinya. Setelah mencapai keingjnannya, Ia pergi meninggalkan gadis itu dengan tersenyum seringainya, lalu menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Bayu yang melihat hal itu tampak bingung. I tidak mengira jika tukang kebunnya itu memiliki tabiat yang tak biasa.


__ADS_2