Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Pak Bayu


__ADS_3

Jayanti telah menyerahkan semua kepemilikan aset kepada Satria. "jangan tinggalkan Mama ." hanya itu kata yang terus diucapkan Jayanti saat memberikan semua surat-surat berkas dari notaris tentang kepemilikan warisan tersebut. Bahkan bagian untuk dirinya juga diberikan keoada Satria seluruhnya.


"tapi ini hak Mama" ucap Satria dengan bingung. Jayanti hanya menggelengkan kepalanya, lalu berlalu pergi.


Saat Satria meneliti surat tersebut, ada kejanggalan yang tertulis disana. Sebuah kalimat 'harta hibah'. Satria mengernyitkan keningnya.


" Mengapa harta Hibah..? Bukankah seharusnya tertulis sebagai ahli waris? Lalu mengapa ditulis dihibahkan..?" Satria bingung dengan semuanya.


 


Jayanti menelefon seseorang "bisa kita ketemu sekarng?" ucap Jayanti dengan lirih.


"ok. Saya kesana segera." Jayanti mengakhiri panggilan telefonnya.


Jayanti dengan tergesah-gesah menuruni anak tangga, lalu pergi menyetir mobilnya sendiri.


Disebuah cafe yang telah dijanjikan, Jayanti menemui seseorang. Tampak seorang pria telah menunggunya disana.


"sudah lama menunggu saya.?" sapa Jayanti, lalu menarik kursi kosong dan duduk dengan perasaan kalut. Raut wajahnya menunjukkan kegelisahan.


"terimakasih pak Bayu, sudah membantu saya selama ini." ucap Jayanti lirih.


Bayu menganggukkan kepalanya, sembari tersenyum datar.


"saya sudah menutup mulut mereka sesuai perintah nyonya tentang tes DNA tersebut. Yang penting Satria akan percaya dengan hasil tes DNA palsu tersebut." ucap Bayu dengan tenang.


Jayanti tersenyum puas. Wajahnya yampak berbinar. "Ia.. Setidaknya membuat Satria percaya dengan tes tersebut dan tidak bertanya terlalu jauh."


"tetapi, apakah ini tidak terlalu keterlaluan nyonya.? Ia juga berhak tau siapa jati dirinya." pak Bayu mencoba mengingatkan Jayanti.


Jayanti terdiam ." saya baru kehilangn mas Bram, dan luka itu masih basah. Saya tidak ingin kehilangan Satria. Saya Rela menukar harta warisan, asalakan Satria tetap milik saya." ucapnya lirih. Ada raut kesedihan disana.


"sudah lama sekali saya mendambakan kehadiran seorang anak, dan Satria adalah harta satu-satunya yang saya miliki. Maka pak Bayu harus merahasiakan ini semuanya." pinta Jayanti dengan mata berkaca-kaca.


pak Bayu merasa iba Ia juga yak tega jika harus menambah kesedihan Jayanti.

__ADS_1


"saya janji, jika waktunya nanti saya akan mengatakannya kepada Satria, dan Pak Bayu bisa memberikan keterangan kepada Satria." Ucap Jayanti lirih.


"saya hanya ingin menikmati sisa umur saya yang diprediksi dokter hanya beberapa bulan lagi. Kanker rahim saya sudah stadiun akhir, ijinkan saya menikmati momen saya bersama Satria." ucap Jayanti sembari terseduh.


Lalu Jayanti menyerahkan sebuah kotak kecil yang berisi foto milik Mala dan sebuah surat untuk Satria yang Ia selipkan didalam kotak tersebut kepada pak Bayu.


"berikan ini padanya ketika saya sudah tiada nanti. Kotak ini milik sahabatnya Hadi, saya yakkn jika itu adalah adiknya. Dan tolong antarkan Satria menemui dukun yang pernah kita temui wajtu melakukan ritual 'Pujon' tersebut." pinta Jayanti.


Pak Bayu mengangguk menyetujuinya. Ia memandang iba kepada majikannya itu.


"apakah pak Bayu masih mengingat jalan kerumah dukun tersebut?" Jayanti mencoba bertanya kepada pak Bayu.


"iya nyonya, saya masih mengingatnya." jawab pak Bayu lirih.


"sampaikan maafku kelak pada Satria, karena aku telah memisahkannya dari ibunya. Mungkin aku egois, tetapi aku menyanyanginya setulus hatiku" ucap Jayanti dengan isakannya.


Pak Bayu mengenggam tangan Jayanti erat. "berdoalah, semoga Allah mengangkat penyakit nyonya." ucap Pak Bayu memberikan dukungannya kepada Jayanti.


Jayanti semakin terseduh, air matanya tumpah bagaikan bah yang mengalir deras.


"Satria anak yang baik, yakinlah, Ia akan memaafkannya nyonya." ucap Pak Bayu mencoba menguatkan hati Jayanti.


"Saya berjanji akan menyampaikan semua amanah ini kepada Satria." ucap Pak Bayu tulus.


"terimakasih pak Bayu. Hanya bapak yang bisa saya percaya saat ini" ucapnya dengan tersedu.


Bayangan kematiannya seperti sudah berada diujung mata. Ia harus bersiap menghadapi kenyataan ini. Kanker rahim stadiun akhir yang telah menggerogoti tubuhnya, telah membuat daya tahan tubuhnya melemah saat ini.


Ia tak lagi membutuhkan harta warisan itu, Ia hanya ingin saat-saat terakhirnya nanti Satria menemaninya saat sakaratul maut menjemputnya.


Wajahnya semakin hari semakin layu. Selera makannya juga sudah berkurang.


Jayanti merahasiakan ini semua dari Satria. Meskipun Satria seorang calon dokter, Ia tidak ingin Satria mengetahui penyakitnya.


Pak Bayu menatap Jayanti dengan penuh makna. Selama bekerja dengan keluarga ini, tuan dan nyonya nya selalu memberikan dan memperlakukannya dengan baik. Merwka memberikan jaminan hidup yang layak bagi dirinya dan keluarganya.

__ADS_1


Pak Bayu menyadari, belajar dari kisah majikannya, memiliki banyak harta tidak dapat membeli nyawa seseorang. Karena sejua akan tinggal saat kita telah terkubur dengan tanah.


Jayanti beranjak dari duduknya "saya permisi dulu pak, ada sesuatu yang harus saya selesaikan." ucapnya dengan lemah.


Bayu juga bangkit dari duduknya, Ia menghampiri Jayanti. Meraih tubuh lemah itu dalam pelukannya. Entah perasaan apa yang menggelayuti hatinya terhadap Jayanti yang baru saja menjanda.


"Aku akan selalu bersamamu, dan mendukungmu. Bersemangatlah, dan berdoa pada-Nya agar diberikan mukjizat kesembuhan." ucap Bayu dengan lembut.


Kata-kata itu memberikan rasa hangat dihati Jayanti. Tanpa sadar Bayu mengecup lembut ujung kepala Jayanti. Lalu melepaskannya. "maaf.." ucap Bayu merundukkan kepalanya karena merasa lancang telah berbuat lebih pada majikannya itu.


Jayanti hanya menanggapi dengan senyum datar. Entah mengapa Ia juga pasrah saat Bayu memeluknya.


Lalu berbalik badan "saya permisi dulu pak Bayu." lalu Ia beranjak meninggalkan Bayu yang masih diam terpaku.


Setelah kepergian Jayanti, Bayu mengacak kasar rambutnya. Ia tidak mengerti dengan perasaannya terhadap Jayanti. Ia takut jika dianggap terlalu lancang dan membuat jarak diantara keduanya.


Bayu mengambil kotak pemberian Jayanti, lalu membawanya, dan Ia meninggalkan cafe.


-------


Jayanti menyetir dengan perasaan yang penuh debaran. Perlakuan Bayu terhadapnya barusan mengembalikan semangat hidupnya. Ia tersenyum sepanjang perjalanannya menuju rumah sakit.


Ia akan melakukan check rutin untuk kesehatannya. Meskipun dokter menyatakan hidupnya tinggal beberapa bulan lagi, namun dalam hatinya Ia berharap umtuk sembuh, agar dapat hidup lebih lama, lalu ingin menyaksikan Satria menikah dan menimang cucu.


Entahlah.. Terkadang Ia membayangkan hal-hal yang terlalu jauh.


Jayanti memasuki rumah sakit, Ia menuju ruangan dokter yang menangani specialis penyakit dalam dan kandungan. Ia akan merujuk pada ke dua dokter tersebut.


"selamat siang ibu Jayanti.? Apa kabar hari ini..?" sapa seorang dokter pria specialis penyakit dalam.


Rianti terlihat cerah wajahnya saat ini. Ternyata perlakuan Bayu tadi memberikan benih-benih semangat dalam hidupnya. Ia merasakan sebuah harapan untuk hidup kembali menyala.


"Alhamdulillah saya saat ini dalam kondisi baim dok." jawab Rianti.


Dokter itu tersenyum "tahukah ibu? Jika kesembuhan suatu penyakit itu berasal dari sikap optimis seorang pasien, rutin berobat, berdoa, lalu menyerahkan hasilnya pada sang pancipta-Nya." Dokter itu memberikan sugesti positif kepada Jayanti.

__ADS_1


Lalu Ia melakukan pemeriksaan dan therapi.


__ADS_2