Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Pengintai


__ADS_3

Setelah Sattia berpamitan bekerja, Mala menyiapkan sarapan untuk Roni. Ia memasuki kamar, lalu membangunkan suaminya. "Bang.. bangun, mandi dulu ya.." bujuk Mala kepada Roni.


Pria itu hanya mengerjapkan matanya, lalu begitu sulit untuk membukanya. Matanya terasa berat, kepalanya juga begitu terasa amat pusing. Mala merasa begitu miris menghadapi kenyataan tentang suaminya. Saat ini cintanya sedang uji.


Karena Roni tak bangun juga, maka Mala berinisiatif untuk membersihkan tubuh Roni menggunakan kain basah saja.


Mala memasak air, setelah mendidih, Ia lalu menacampurnya dengan air dingin. Setelah cukup hangat, Ia membawanya ke kamar.


Ia melucuti seluruh pakaian Roni, lalu membersihkan tubuh Roni menggunakan kain basah tersebut. Saat Ia menyapu pada bagian sensitif milik suaminya, Ia begitu bergetar. Sudah lama rasanya Ia tak pernah merasakan kehangatan itu. Namun Ia mencoba menepusnya, karena kondisi suaminya sudah mulai berubah dari keadaan sebelumnya.


Setelah selesai dengan baktinya, Ia mencoba menyuapi sang suami. Namun tidak juga ada tanggapan.


Mala meletakkan sarapan itu diatas nakas. Ia menyingkap tirai jendela. Membiarkan cahaya mentari masuk kedalm kamar. Berniat ke toko pak Joko. Untuk membeli bahan makanann untuk menu siang ini.


Ia berfikir jika Roni ditinggalnya sendirian, Ia takut jika tiba-tiba terbangun dan kabur. Maka Mala mengunci kamar dan pintu depan.


Setelah merasa semuanya cukup aman meninggalkan Roni, Mala berjalan keluar menuju toko pak Joko.


Sesampai dipertengahn jalan, sebuah mobi yang terparkir ditepi jalan masih tampak setia disana.


Pemilik mobil itu menatap nanar pada Mala. Hijab yang digunakan Mala berkibar saat semilir angin menyapanya.


"oh Juwitaku.. Akhirnya kau keluar juga, lama aku menantimu disini. Matamu begitu indah, menyihirku dari saat pertama kita bertemu." Pria itu begitu fokus menatap tak berkedip melihat Mala yang berjalan dengan anggunnya.


Gejolak dijiwanya, meronta-ronta ingin menyapa sang pujaan hatinya. Namun Ia tak memiliki keberanian apapun, hanya memandangnya saja membuat hatinya merasa lega. Mungkin kini Ia berubah menjadi lelaki pengecut sejak saat kejadian malam itu. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.


"Biarlah aku begini, menjadi pemuja rahasiamu, menyimpan rasa yang kupunya, jika ada garis hidupku berjodoh denganmu, semua pasti akan terjadi dengan sendirinya." pria itu memegang dadanya yang penuh getaran cinta. Setelah memastikan Mala menuju toko pak Joko, Ia mencoba mengamatinya saja.


Hingga beberapa lamanya, Mala sudah selesai, berbelanja. Mala kembali pulang.


Saat akan kembali pulang, tentu Mala akan melintasi dari sisi mobilnya. Hal ini yang sangat dinantikannya. Ia sengaja inngin membuka sedkit kaca pintu mobilnya. Ia ingin merasakan aroma parfum dari tubuh wanita pujaannya. Aroma khas kasturi, yang membuat dirinya akan mengingat sepanjang waktu.


Saat Mala sudah berjarak 30 meter dibelakang dari mobilnya, pria itu terus memantaunya dari kaca spionnya.


Namun naas, sebuah sepeda motor yang dikendarai anak remaja, tanpa sengaja oleng dan menyerempetnya.


Lalu...


Braaaak...


"Aaaaa..." teriak Mala yang tersungkur ditepi jalan.


Remaja itu segera bangkit kabur.


Bayu merasa bimbang, apakah Ia datang membantu atau hanya melihat saja. Jalanan yang masih sepi, karena sekuruh warganya sedang jam bekerja, membuat Bayu mencoba turun membantu.


Ia menurukan sedikit kepala topinya, memakai masker dan kaca mata hitamnya.

__ADS_1


Ia turun dari mobilnya, lalu menghampiri Mala yang meringis kesakitan, hanya luka ringan.


Bayu melihat barang belanjaan milik Mala berhamburan. Ia mencoba mengulurkan tangannya pada wanita itu. Tanpa bicara sepatah katapun.


Mala menyambut uluran tangan pria tersebut. Saat kulit telapak tangan itu bersentuhan, Bayu merasakan dirinya bagaikan tersengat aliran listrik.


Setelah berhasil membatuh Mala berdiri, tampak Mala memegang pinggangnya, mungkin Ia sedikit terkilir. Bayu membantu memunguti belanjaan Mala yang berhamburan dengan kantong kresek. Setelah selesai, Ia memberikannya kepada Mala.


Mala menyambutnya. "terimakasih" ucap Mala sembari tersenyum tulus.


Bayu menganggukan kepalanya, tanpa berbicara apaun. Ia tidak memiliki keberanian untuk itu.


Mala berlalu, menggalkannya yang masih berdiri terpaku menatap kepergian Mala, hingga menghilang dipersimpangan.


Setelah Mala memasuki halaman rumahnya, Bayu memilih untuk pergi.


Ia memutuskan untuk pergi bertemu dengan orang yang akan menjual ayam cemani kepadanya.


Malam ini Ia akan menyajikan sesaji untuk makhluk terkutuk itu.


Setelah menempuh perjalanan 30 menit, Ia akhirnya bertemu dengan seorang yang menjadi penjual ayam cemani.


Tampak seorang pria tua sudah lama menunggunya. "baru sampai Mas?" sapa pria tua itu ramah.


"iya pak.. maaf lama menunggu" jawab Bayu sopan.


"iya. Gak apa-apa Mas.." jawab si bapak ramah.


"250 rb seekornya Mas." jawab si Bapak.


Bayu merogoh saku celananya, lalu memberikan sejumlah uang yang diminta.


"ini pak, termakasih ya.." ucap Bayu kepada si Bapak.


Saat akan pergi, Ia melihat sebuah pohon kembang kenanga yang tumbuh subur didepan ruamah si bapak. Ia menghentikan langkahnya. Lalu menghampiri pohon kembang tersebut.


"pak boleh minta kembangnya?" tanya Bayu sopan.


"oh boleh.. Ambil saja, dibelakang juga ada yang sudah saya bibitkan, hasil dari cangkokan. Jika Mas mau biar saya ambilkan." ucap Sang Bapak, sembari berjalan kebelakang rumah.


Rumah berdinding papan itu tampak sudah sangat usang termakan usia.


Bayu mengekori si Bapak, menuju kebun belakang diucapkannya.


Ia terperangah melihat kebun itu, karena ada.banyak sekali kembang yang diperkukannya. Semua sangat lengkap.


Ternyata si bapak ini juga pemasok kembang ke kota. Namun Bayu bingung, mengapa rumah si bapak terlihat begitu rapuh.

__ADS_1


"jika Ia menjadi pengusaha kembang dan sebagai pemasok kebutuhan kembang dikota, mengapa rumahnya serapuh ini? Kemana hasil usahany? tapi kenapa Koq aku jadi kepo ya.?" guman Bayu dalam hatinya.


Setelah memilih bibit tanaman kembang yang dibutuhkannya, dari kembang kenanga, kantil sepasang, mawar merah san putih dan juga bibit kembang kenanga, Bayu membayar seluruhnya.


"terimakasih ya Mas.." ucap Sang Bapak merasa senang.


Bayu menganggukkan kepalanya.


Lalu membawa semua bibit-bibit tanaman itu kedalam bagasi mobilnya.


🐛🐛👻👻👻👻🐛🐛


Bayu sampai dirumahnya, Ia memarkirkan mobil digarasi.


Ia turun, lalu berteriak memanggil kang Danang. Namun tidak sahutan dari tukan kebun tersebut.


"kemana sih kang Danang? Koq dipanggil tidak menyahut." Bayu menggerutu dengan kesal.


Ia mengeluarkan segala bibit tanaman yang akan ditanamnya.


Bayu melangkah masuk menuju rumahnya. Ia mencari keberadaan kang Danang. "mungkin Ia sedang berada dikamar." guman Bayu.


Lalu menuju kamar Danang dibagian belakang yang bersebelahan dengan gudang.


Tok..tok..tok..


Setelah mengetuk cukup lama, Namun Ia tidak menemukan jawaban. Bayu mencoba membukanya, namun tak menemukan kang Danang disana.


"Dimana kang Danang? Mengapa Ia tidak ada dikamarnya?" Bayu merasa heran.


Lalu Ia berjalan menuju dapur dengan perasaan kesal. Ia hendak mengambil air minum, namun saat Ia melintasi kamar Rumi dan Nia, Ia mendengar suara rintihan-rintihan manja dari dalam kamar tersebut.


Karena merasa penasaran, Bayu mencoba ingin melihatbapa yang sedang terjadi, dengan memberanikan diri, Ia membuka pintu kamar tersebut.


Ternyata karena mengetahui Bayu akan keluar cukup lama sedari pagi tadi, Danang lupa mengunci pintu kamar Rumi dan Nia.


kreeeeeek.. Braaak...


Bayu terperangah menatap apa yang dilihatnya. Dimana Danang sedang bercocok tanam kepada kedua asisiten rumah tangganya.


ketiga insan yang sedang bercinta itu tak kalah kagetnya, karena ketahuan berbuat tidak senonoh dirumahnya.


Mereka pucat pasi, termasuk Danang yang sangat paling kalut.


Bayu menarik nafasnya dengan berat.


"Kang Danang.. Siap Bercocok tanam dikamar, jangan lupa bercocok tanam dikebun belakang, saya sudah membawa beberapa bibit kembang disana.!!" ucap Bayu, lalu meninggalkan kamar itu begitu saja.

__ADS_1


Bayu menuju kamarnya. "gila tu kang Danang, sampai bertiga gitu." Bayu bergidik membayangkannya. Lalu begegas menuju kamarnya.


Setelah


__ADS_2