
Suara lantunan adzan subuh berkumandang, Bayu tersentak dari tidurnya. Ia mengusap wajahnya, lalu berusaha bangkit dari tidurnya. Ia baranjak dari lantai, kamar Mala, tepat dipinggir bawah ranjang Mala.
Meskipun mereka sudah sah menjadi suami istri, namun Ia tidak memiliki keberanian untuk memyentuh wanita itu. Meskipun dahulu Ia pernah bersikap ceroboh, namun Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, membuat rasa benci wanita itu semakin dalam padanya.
Bahkan saat ini, pria itu tidak pernah membayangkan bagaimana Ia dapat tidur sekamar dengan wanita cantik ini, tentu semua ini hal yang tidak pernah Ia duga sebelumnya.
Bayu beranjak dari kamar Mala, lalu berusaha untuk bersuci dan berwudhu, namun, sebuah larangan kerasa dalam hatinya begitu kuat. Setiap kali Ia memaksa untuk melakukan ibadah shalatnya, keris didalam perutnya seolah meronta-ronta melarangnya, membuat rasa sakit dan nyeri yang teramat sangat didalam tubuhnya.
Akhirnya Bayu melewatkan ibadahnya, dan memilih untuk keluar kamar.
Tak berselang lama, Ia mendengar suara gemericik air, Ia memastikan bahwa itu Mala, yang sudah tersadar dari pingsannya, dan sedang bersuci hendak menunaikan ibadah sahalat subuh.
Bayu tampak gelisah. Ia bingung harus berbuat apa. Akhirnya Ia memilih untuk tiduran disofa.
Sesaat, Ia mendapatkan sebuah notif di pesan WA nya. Sebuah nomor yang sudah sangat lama sekali menghilang, bahkan memblokirnya.
"Mas.. Maafkan saya,atas segala kekhilafan yang pernah saya lakukan. Saya tidak ingin merusak persahabatan kita yang sudah kita jalin sejak lama." isi pesan pertama yang dikirim oleh seseorang.
Bayu mendapatkan notif kedua, pesan dari nomor yang sama. "Untuk membalas semua kekhilafanku, aku berniat mengembalikan semua uang kamu yqng pernah aku selewengkan. Namun, usaha property yang pernah kita bangun bersama sudqh aku rampungkan semuanya. Apakah kamu meminta semua modalmu, ayau terus melanjutkan bisnis property itu..?" isi pesan kedua dari orang yang sama.
Tak lama kemudian, masuk lagi isi pesan ketiga. "jika kamu ingin aku mengembalikan modal awalnya, aku akan mengembalikannya sejarang juga, dan nomor rekeningmu masih aku simpan jika masih memakai nomor yang lama. By Dika." isi pesan tarakhir dari orang bernama Dika.
__ADS_1
Seketika Bayu tersentak, Ia tidak menyangka, jika pernikahannya yang belum sehari dengan Mala, membawa kejutan tak terduga. "Apa bukti jika kamu benar Dika..?" Balas Bayu dengan jemarinya yang bergetar.
Lalu masuk notif pesan ke WA, sebuah notif dari Bank yang dulu tempat Ia pernah menabung.
Deeeeeeegh...
Detak jantung Bayu seakan berhenti dengan apa yang dilihatnya. Sebuah angka nominal yang pernah hilang dari hidupnya, dan angka nominal itu yang membuatnya terjerumus dilembah kesesatan, hingga bersekutu dengan Nini Maru.
"lima milyar..? Apakah angka 2 milyarnya adalah keuntungan dari bisnis property tersebut.?" Bayu berguman lirih, lalu mencoba mempertanyakan uang tersebut kepada Dika, namun nomor twrsebut sudah tidak dapat dihubungi kembali.
Bayu mencoba berulang kali menghubunginya, namun diluar jangkauan. Pria itu menghela nafasnya, Ia tak sanggup untuk berkata apapun lagi. "Uang halalku.. Itu pesangon dari Satria sat aku resigen, akhirnya kembali kepadaku.." Ia berguman lirih dalam hatinya.
Tak lama kemudian, Ia mendengar suara pintu kamar terbuka, Ia segera membenahi posisi duduknya. Tampak Mala keluar dari kamarnya, namun seolah tak melihatnya. Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, walau hanya sekedar menyapa.
Bayu menghela nafasnya dengan lembut. Ia mencoba memahami situasinya, jangankan wanita itu, Ia sendiri saja masih belum dapat menerima keadaan mereka yang terikat dalam ikatan pernikahan.
Sementara itu, hari mulai terang, mentari mulai menampakkan sinarnya. Bayu memilih itu keluar rumah, Ia ingin memberikan Mala waktu untuk menenangkan hatinya.
Bayu menghampiri mobilnya yang terparkir ditepi jalan, untung saja tidak ada pencuri ataunorang jahil yang melarikan mobilnya. Ia lupa membawa masuk mobil itu kehalaman rumah Mala.
Ia mengemudikan mobilnya kesebuah tempat, yaitu pemakaman. Namun tanpa bukket bunga liki, karena Ia tidak sempat memesannya, disebabkan peristiwa yang menimpanya.
__ADS_1
Ia berjalan menuju sebuah makam yang masih tampak basah. Sesampainya disana, Ia berhenti disebuah pohon kembang kamboja Bali yang tumbuh besar dan tinggi diarea pemakaman, Ia memetik beberapa kembangnya, lalu membawanya ke makam yang biasa Ia kunjungi setiap paginya.
Ia berjongkok disisi makam tersebut. "Hai.. Aku mengunjungi.. Maaf.. Aku tidak membawa bukket Lili untukmu.. Namun esok aku akan membawanya dua sekaligus." Ucap Bayu, berbica sendiri kepada makam yang tanahnya memerah.
"Apakah kamu marah padaku..? Aku tidak sengaja, ini diluar dari dugaanku, Aku berjanji padamu untuk menunggu sampai seratus hari kepergianmu.. Namun ini masih hari ke 80.. Sekua takdir yang tak dapat dielakkan.." Bayu kembali menghela nafasnya.
Ia mungkin merasa bersalah atas apa yang terjadi, namun tidak mungkin disesali.
"Aku tidak merebutnya darimu.. Ini semua karena genderuwo sialan itu, yang berusaha untuk menodainya. Aku hanya ingin memyelamatkannya, dan juga tidak menambah malu marwahnya jika sampai diarak keliling desa.." Bayu menghentikan ucapannya. Rasa didanya terasa semakin sesak.
" Aku tidak merebutnya darimu, percayalah.." ujarnya dengan lirih.
Semilir angin bertiup dengan sangat lembut, samar-samar terlihat bayangan putih dwngan aroma kasturi yang menenangkan, lalu tampak siluet wajah seorang pria yang sangat Ia kenal. Wajah itu tampak berseri, lalu perlahan melambaikan tangannya dengan seulas senyum tipis, dan menghilang diterpa sinar mentari.
"Roni.. Itukah kau.." ucap Bayu lirih, lalu mencoba mengejar bayangan itu, yang sudah jauh menghilang.
Bayu lalu diam terpaku ditempatnya, menarik nafasnya dengan lega, dan mencoba tersenyum membalas senyum sahabatnya itu, yang sudah menghilang jauh. Lalu Ia memutuskan untuk kembali pulang kerumah Reza, mempersiapkan segala sesuatu yang akan direncanakannya.
Saat mobilnya meninggalkan pagar pemakaman, tampak seorang wanita berhijab lebar memasuki pemakaman tersebut, menuju makam yang sama, dengan membawa satu keranjang kecil berisi kembang setaman dwngan racikan daun pandan wangi.
Ia menuju makam suaminya, Ia mencoba mengadukan prihal yang terjadi padanya. Namun Ia dikejutkan oleh jejak kaki yang ternyata sudah lebih dahulu berada dimakam ini jauh sebelum kedatangannya.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya orang misterius yang selalu mengunjungi makam Bang Roni..? Mala berguman lirih, namun Ia mencoba mengabaikannya sejenak. Ia ingin berkeluh kesah kepada suaminya, yang tentu saja tidak mendengar apa yang dikeluhkannya.
"Bang.. Maafkan Mala, jika tidak dapat menjaga cinta kita. Namun semua ini terjadi begitu saja. Bantu Mala bagaimana caranya untuk menjelaskan semua ini kepada anak-anak kita.." Mala berguman lirih, dengan hati yang bergetar. Bibirnya bagaikan tersengat listrik, membuatnya tak mampu lagi mengucapkan bait kata demi kata.