Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Siapa Menyangka


__ADS_3

Jayanti melajukan mobilnya pulang kerumah. Ia masih tidak terima dengan keputusan dari pihak kampus yang hanya sebelah pihak saja.


"Anakku orang yang kalem, tidak mungkin Ia melakukan hal yang sangat fatal."


"apalagi perkelahian..? ngomong saja irit banget, gimana mau berkelahi..?" Jayanti berguman dengan kesal.


"atau jangan-jangan, wajah lebamnya yang kemarin ku lihat saat menjemputku dibandara karena perkelahian itu..?" Jayanti mencoba mengingat waktu itu, dimana Satria berkilah tentang lukanya.


Ia tak menyangka jika benar anak satu-satunya itu terlibat perkelahian dengan orang yang berpengaruh di kampus tersebut. "apa sebenarnya yang menjadi permasalahan Satria dengan anak konglemerat tersebut..? seperti apa kekayaannya sehingga tak mampu membuat para Dekan dan Rektor tidak berkutik..?" Jayanti begitu amat penasaran.


****


sesampainya didepan rumahnya, Jayanti memasukkan mobilnya ke garasi. Ia bergegas menuju kamar Satria. Ia membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. terlihat Satria sedang duduk di ranjangnya, mengotak ngatik gadgetnya.


"ma.." ucapnya, sembari membenahi posisi duduknya.


Jayanti masuk kedalam kamar dengan perasaan galau. "boleh mama bicara..?" Ucap Jayanti lembut. bagaimanapun Ia mencintai puteranya tersebut.


"boleh ma.." ucap Satria sopan.


Jayanti menarik nafas beratnya. lalu menghelanya dengan kasar. mencoba menjaga ritme detak jantungnya.


"mengapa kamu sampai terlibat perkelahian oleh anak pemegang saham kampus tersebut..?" ucap Jayanti dengan lembut, namun penuh penekanan.


Satria menatap netra Mamanya, Ia sedikit terkejut karena ternyata ibunya tahu juga, jika Ia sedang terlibat perkelahian. "apakah mama juga tau kalau Satria terkena skorsing..?" ucap Satria datar.


"ya.. tolong jelaskan pada mama apa penyebabnya..? ucap Jayanti tanpa menoleh kearah Satria.


Satria menarik nafasnya dan menghelanya.. "apa mama tidak percaya dengan Satria lagi..?" ucap Satria datar.


"bukan itu yang hendak Mama dengar..? apakah kamu berkelahi hanya memperebutkan wanita..?" ucap Jayanti sedikit menaikkan ritme bicaranya.


"Jika Satria benar-benar anak mama, Satria harap Mama masih percaya terhadap Satria. " ucap Satria dengan dingin.


Jayanti terperanjat dengan ucapan Satria. meskipun itu diucapkannya hanya sebuah ungkapan yang tidak sengaja Ia ucapkan.


"Mama percaya kok.. mama percaya pada kamu sayang. kan kamu anak mama, masa iya mama tidak percaya pada kamu." ucap Jayanti, tiba-tiba saja berubah dengan drastis.


"ya sudah.. mama keluar bentar. ada urusan yang sangat penting." ucap Jayanti seperti terburu-buru.


Satria menjadi bingung dengan sikap mamanya yang tiba-tiba berubah dengan cepat.


Jayanti segera beranjak dari kamar Satria, lalu bergegas turun kelantai dasar.


Ia memegangi dadanya yang bergemuruh. "huuh..hampir saja aku terjebak dengan pertanyaan Satria." Jayanti berguman lirih.


Ia teringat akan nomor seseorang yang diberikan oleh Dekan tersebut. "Rere..siapa dia..? sepertinya aku harus segera menemuinya." Jayanti berguman lirih, mengambil phonselnya, lalu menghubungi nomor tersebut.

__ADS_1


[kriiiiing...] panggilan keluar tersambung.


"hallo.."suara dingin dari seorang wanita diseberang sana.


Jayanti mencoba memgingat sipemilik suara.


"sepertinya aku mengenali suara itu..? tapi dimana..?" Jayanti mencoba mengingatnya. namun fikirannya buntu.


"Ya hallo.. apa saya sedang bicara dengan nyonya Rere..?" ucap Jayanti sopan.


"Ya.. saya sendiri.. ada keperluan apa anda menghubungi saya..?" ucap wanita dari seberang telefon.


Jayanti terdiam sejenak. "Ya..ada hal yang sangat penting.. apakah kita bisa saling bicara secara empat mata..?" ucap Jayanti dengan sesopan mungkin, meskipun lawan bicaranya terdengar sedikit dingin.


"oh..silahkan..dimana anda ingin pertemuan ini kita adakan..?" ucap Rianti dengan nada tegas.


"saya akan share location.." ucap Jayanti.


"Baiklah..tunggu saya.disana." ucap Rianti dengan nada perintah. lalu mengakhiri obrolan telefonnya.


****


Jayanti telah lama menunggu tamunya, disebuah Restaurant mewah dengan tema outdoor. tak lama setelahnya, Rianti muncul dwngan dua orang bodyguard, berjalan dengan anggun dengan gaya glamour bak artis ibukota.


Jayanti memandang terperangah tentang siapa orang yang ditunggunya. setelah mendekat, mereka sama terkejutnya. "kau..?" ucap Rianti setengah nada tinggi, sembari menunjuk orang yang menjadi lawan bicaranya.


Rianti mencibir wanita dihadapannya. Kini Ia merasa lebih tinggi derajatnya dari Jayanti. "ternyata kamu orang yang ingin ku temui" ucap Rianti sembari menghisap rokok dari Vape sebagai alatnya.


lalu menghembuskannya begitu saja.


seorang bodyguard menarik kursi untuk sang Nyonya, lalu dengan melambaikan tangan kebelakang, memerintahkan kepada kedua bodyguardnya agar menjauh.


lalu keduanya menjauh, namu tetap mengawasi.


"woow.. sejak kapan kamu dapat berubah sedrastis ini..?" Jayanti membuka pembicaraan dengan menatap sinis.


Rianti menghisap kembali rokok electriknya, lalu menghmbuskan asapnya yang membuat Jayanti terbatuk dan mengibaskan asap itu dengan telapak tangannya.


"Ada perlu apa kau menemuiku.." ucap Rianti dengan nada angkuh.


Jayanti menarik nafasnya, dan menghela dengan berat. " tarik kembali perintah skorsing untuk Satria." ucap Jayanti dengan nada menghiba.


Rianti terkekeh mendengarnya. "owww..ternyata dia anakmu..? sudah dewasa dia ternyata rupanya.?!"


"dan juga sok jagoan..!!" ucap Rianti mencibir.


"Maafkanlah atas ke khilafannya, aku memohon maaf atas namanya, dan jangan pernah menyakitinya." ucap Jayanti memohon.

__ADS_1


Rianti terkekeh mendengarnya. "ternyata kau menyayanginya juga ya..?" ku fikir hanya untuk dijadikan tameng saja." ucap Rianti menyindir.


"kauu..!! jangan kau ungkit lagi masalah itu.. bukankah aku sudah membayarmu waktu itu..?! ucap Jayanti tak terima dengan sindiran Rianti.


"tapi dia tetap bukan darah dagingmu..!" ucap Rianti tersenyum sinis.


Jayanti membelalakkan matanya. "tapi dia terlahir dari rahimku.." jawab jayanti sengit.


Rianti terkekeh mendengar ucapan Jayanti. "dengan cara mencuri dari rahim orang lain.." ucap Rianti santai.


"itu juga karena saranmu..!!"


"Dan kau menyetujuinya.."haha.. ucap Rianti tertawa datar.


kedua wanita itu terlibat perdebatan sengit, sehingga menjadi perhatian pengunjung lain.


"jangan coba membuka rahasia ini kepada siapapun, karena aku juga akan menyeretmu..!" ucap Jayanti berang.


Rianti memandang remeh lawan bicaranya. "aku tidak takut denganmu..!" ucapnya santai.


Jayanti beranjak bangkit dan hendak meninggalkan Rianti. "aku akan selesaikan urusan Satria dikampus dengan caraku.!" ucap Jayanti sembari beranjak pergi.


Rianti menatap penuh kebencian pada Jayanti, yang mana dianggap kacang lupa kulitnya.


****


Rianti teringat akan kisah 21 tahun yang silam. dimana Ia begitu merasa sakit hati, melihat kenyataan dikamar rahasia Reza, yang mana dimasa itu menjadi majikannya. saat itu Rianti sangat mencintai Reza, namun kenyataannya, Reza tergila-gila pada Mala yang sejatinya adalah istri Roni.


dan kenyataan pahit lainnya, selama ini Jayanti dijadikan alat pencetak janin sebagai jalan untuk menyelamatkan bayi yang dikandung mala karena menjadi incaran nini maru.


merasa tak dianggap oleh Reza, Rianti menjadi dendam kepada Mala, dan berusaha untuk melenyapkan janin dikandungan Mala dengan cara rapih.


saat Itu Ia mendengar, jika ada dukun sakti yang memiliki ilmu tersebut.


Rianti menghubungi Jayanti, sahabat karibnya yang telah sukses menikah dengan orang kota dan kaya raya. namun mereka memiliki masalah dari keluarga mertuanya, yang mana akan menurunkan warisan kepada dirinya dan suaminya, jika mereka memiliki anak.


Jayanti yang saat itu sudah lama berumah tangga, namun belum dikarunia anak, merasa putus asa. apalagi mendapat tekanan dari keluarga mertuanya.


Jayanti sering curhat dengan Rianti masa itu. dengan curhatan Jayanti, maka Rianti mendapat ide untuk mentransfer janin Mala kepada sahabatnya Jayanti.


setelah menceritakan semuanya kepada Jayanti, akhirnya Bram suami Jayanti juga menyetujuinya.


lalu mereka membuat kesepakatan untuk melakukan ritual Pujon.


Rianti yang sudah mendapatkan identitas Mala dan juga fotonya, mengirimkannya kepada sang dukun.


setelah proses ritual berhasil, Bram mentransfer sejumlah uang yang sesuai kesepakatan mereka.

__ADS_1


__ADS_2