Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Pengakuan Jayanti


__ADS_3

Satria memasuki rumah sakit. Ia menuju ruangan tempat Jayanti dirawat.


Diruangan itu, Satria tertegun, matanya memandang iba kepada Jayanti. Wanita yang pernah menjadi tempat persinggahan dirahimnya.


Wanita itu juga yang telah melahirkannya, mungkin saat itu Ia juga bertaruh nyawa, untuk dapat membuat Satria melihat dunia.


Ada begitu banyak sekali selang dan jarum infus terpasang di dipergelangan tangan dan tubuh lainnya.


Dokter memberitahukan, jika kondisi Jayanti sudah tidak mampu diselamatkan, hanya sebuah keajaiban.


Jayanti memasuki fase kritis. sel kanker telah menyebar keseluruh tubuh Jayanti. Harapan hidupnya hanya sekian persen saja.


Satria berjalan lemah menghampiri ranjang tempat Jayanti terbaring.


Mata itu masih terpejam. Ada beberapa perawat yang sedang memeriksanya. Lalu mereka pergi dari ruangan itu.


Satria memandang wajah Jayanti. ada seribu pertanyaan yang ingin Ia ajukan pada wanita itu. Namun Ia tak mampu. Karena wanita kini terbaring dengan lemah.


Satria meraih jemari tangan Jayanti. Membawanya pada genggamannya. Lalu meletakkannya dipipi sisi kirinya. "bangunlah Ma.. Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan. tentang kebenaran siapa aku.." ucap Satria lirih.


"aku tau cinta kasihmu tulus padaku, namun aku juga ingin tau asal siapa gen ku..?" Pinta Satria dengan lembut. Ia berbicara pada sosok wanita yang masih tak sadarkan diri.


Sudah beberapa hari Jayanti koma. Maka dari itu pihak rumah sakit mengabari Satria, karena Jayanti mencantumkan nama ahli warisnya saat mendaftarkan diri menjadi pasien rumah sakit itu.


Satria mengecup Jemari Jayanti dengan lembut. " Bangunlah Ma.. Aku berjanji memaaafkanmu.." ucapnya dengan lirih.


Seketika mata Jayanti bergerak pelan. Jemarinya merespon untuk bergerak.


Dokter yang memantau perkembangannya melalui layar monitor, segera bergegas menuju ruangan tempat dimana Jayanti dirawat.


Mereka melakukan pemeriksaan dengan intensif. Dan benar saja, Jayanti mengalami kemajuan.


Jayanti mengerjapkan bola matanya. Ia melihat dengan samar orang-orang disekitarnya.


"mama sudah sadar..?" ucap Satria dengan lembut.


"kamukah itu Satria..?" ucap Jayanti dengan lirih, dan hampir tidak terdengar.


" Iya ma.." jawab Satria dengan perasaan yang sangat khawatir.


Air mata mengalir begitu saja dari sudut mata Jayanti. Entah perasaan apa sekarang yang tengah dirasakannya.


Jayanti menarik tangan Satria ke wajahnya. Ia meletakkan dipipinya. Meresapi kehangatan yang mungkin hanya sebentar atau mungkin juga terakhir kali Ia rasakan.


Ia diam sejenak dalam keheningan. Ia sedang menyusun kalimat untuk merangkai setiap untaian kata yang mungkkn akan berat untuk Ia ucapkan.

__ADS_1


"mendekatlah pada Mama.. Ada sesuatu hal yang ingin mama sampaikan padamu." ucap Jayanti dengan lirih.


Satria mendekatkan dirinya dan membaringkan kepalanya didekat telinga Jayanti.


"Mama tau ini berat bagi kamu dan juga Mama. Tetapi waktu Mama sudah tidak banyak lagi. Mama harap kamu memamaafkan Mama setelah mengetahui segalanya." ucap Jayanti dengan lirih.


Air matanya masih mengalir disudut matanya. Satria mencoba menyekanya.


"kamu bukan darah daging Mama..!!" ucap Jayanti terbata.


Duuuuuarrrrr..


Bagaikan disambar petir disiang yang gak bolong..


Satria akhirnya harus menerima kenyataan yang selama ini Ia cari. Dan itu keluar langsung dari mulut Jayanti.


"ternyata dugaanku benar..!" Satria berguman lirih dalam hatinya. Matanya mulai sembab, Menahan bulir kristal yang akan tertumpah.


"namun kamu terlahir dari rahimku, maka kamu adalah muhrimku, dimana mama juga memberikan Asi eksklusif untukmu." ucap Jayanti dengan lemah.


Satria memandang wajah Jayanti yang masih berbicara dengan mata terpejam.


"ba..bagaimana ini bisa terjadi..?" Satria mencoba mencari jawabannya. Ia sangat penasaran dengan cerita yang masih mengambang.


"Mama membayar mahal untuk itu." ucap Jayanti dengan lemah.


Satria masih terus penasaran dengan apa yang diungkapkan oleh Jayanti. Meski hatinya bimbang, ada juga kesedihan dan juga hancur, mengetahui jika kebenarannya Ia dipisahkan dari ibu kandungnya sejak didalam kandungan.


"mama mengandungmu hanya dalam waktu seminggu saja." ucap Jayanti


Bahkan hal ini diluar perkiraan Satria. Karena dokter fadly menyebutkan Jayanti mengandungnya selama 2 minggu.


Butir kristal itu tak mampu Ia tahan. Ia jatuh membasahi pipinya


Dan Hal ini tentu juga membingungkannya. Dimana apa yang Ia dengar adalah hal yang mustahil didunia kedokteran.


"siapa kedua orangtuaku, Ma..?" ucap satria terbata.


Jayanti menoleh kearah Satria. "ada disebuah Desa. Dimana tentunya sangat jauh. temui pak Bayu untuk mengantarkanmu kepada dukun itu, mungkin Ia mengetahui sesuatu dimana alamat orang tua kandungmu." ucap Jayanti dengan pandangan sayu.


Satria menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya."mengapa Mama sampai melakukan ini..?" tanya Satria dengan lirih.


"karena Mama takut dipaksa bercerai oleh kakek dari ayahmu. Mereka mengancam akan memaksa papamu untuk menceraikan Mama jika tidak memiliki keturunan. Sehingga mama memilih untuk melakukan jalan pintas." jawab Jayanti.


"apakah kira-kira dukun itu masih hidup..?" ucap Satria kepada Jayanti dengan perasaan ragu. Mengingat jika peristiwa itu sudah 21 tahun yang lalu.

__ADS_1


Jayanti tampak berfikir dan membenarkan perkataan Satria. Karena saat Ia melakukan ritual Pujon, Dukun itu sudah terlihat sepuh.


"Jika kamu tidak menemukan dukun itu, maka carilah orang yang bernama Rianti. Dia adalah tetangga ibumu, juga mengenal dekat ibumu." ucap Jayanti dengan lemah.


Sesekali Ia menarik nafasnya, dengan berat.


"Rianti..? " tanya Satria bingung.


Jayanti melirik kepada Satria. Temukan handphone Mama, disana ada tersimpan nomor WA Rianti, mintalah padanya agar Ia memberikan alamat kedua orangtuamu." ucap Jayanti semakin melemah. Matanya terasa berat. Ia merapatkan matanya.


"dimana alamat Rianti..?" Tanya Satria dengan selidik.


Jayanti menyebutkan alamat itu dengan sangat lirih, hampir tidak terdengar. Namun Satria menangkapnya dengan merapatkan telinganya ke pipi Jayanti.


Ia terkejut dengan apa yang didengarnya. "wanita itu..? bukankah itu alamat tempat wanita yang pertama kali memberitahuku tentang kebenaran ini..? Tetapi Ia menghilang secara tiba-tiba dari dalam sel penjara. Kemana aku harus mencarinya?" Satria merasakan pusing dikepalanya.


"tapi Ma, seperti apa gambaran wajah ibuku..?" ucap Satria dengan penasaran. Ia ingin mengetahui ciri-ciri tentang ibunya.


Namun Jayanti terdiam dalam kebisuan. Tak ada jawaban. Satria merasakan sesuatu yang lain terjadi.


"ma... Mama.."Satria menepuk lembut pipi Jayanti. Ia gugup. "Ma..jangan pergi Ma.. Tidak.. Tidak.. Ma..mama.." Satria merasakan dunianya tak berpijak.


Satria memeriksa detak jantung Jayanti, dengan menempelkan telinganya didada Jayanti. Ia juga mengecek denyut nadi Jayanti.


"Ma.. Mengapa harus seperti ini..? Kemana aku harus mencari orang bernama Rianti Ma..? Bahkan mama pergi tanpa memberitahuku.." Satria terisak menahan pilu.


Langit seolah runtuh, Ia merasakan kesakitan dihatinya, meskipun Jayanti bukanlah ibu kandungnya, namun ada AsI yang mengalir ditubuh Satria.


Dokter yang mengetahui pasien mereka telah meninggal dunia, lalu segera mencabut semua alat yang terpasang ditubuh Jayanti.


Mereka memberikan ucapan belasungkawa kepada Satria. Mereka meminta maaf atas kejadian ini, dan mereka sudah melakukan seoptimal mungkin.


Satria merasakan kesendirian yang teramat sangat. Ia tidak tau harus berbagi cerita dengan siapa. Ia teringat akan Hadi. Ya Hadi.


Satria menghubungi Hadi, Ia ingin meminta bantuan Hadi untuk penyambutan kepulangan jenazah Jayanti ke tanah air.


berulangkali Satria menghubungi, namun nomor itu tidak tersambung. "Hadi.. Please angkat, atau aktifkan nomormu..? Aku butuh kamu saat ini.."Satria berguman lirih. Ia dalam kegelisahan.


Satria menghubungi Ayunda dan Rakes opa dan omanya. Mengabarkan jika Jayanti telah tiada.


Keduanya sangat terkejut, karena Jayanti merahasiakan perobatannya di Jepang. Padahal mereka berada menetap disana.


Dengan sekejab mereka menemui Satria. Lalu membantu mengurusi jenazah Jayanti dan segala prosedur yang harus dilalui untuk dapat membawa pulang jenazah Jayanti ke tanah air.


Satria kini mendapatkan jawaban dari apa yang Ia cari selama ini.. Namun..semuanya masih misteri..

__ADS_1


__ADS_2