
Satria bergegas ke puskesmas, Ia sedang ada agenda pertemuan untuk membahas pengadaan alat rontgen.. Ia ingin membuat puskesmas itu menjadi tempat yang bisa memfasilitasi segala keluhan dan kesehatan masyarakat.
Satria merencanakan mengadakan alat tersebut menggunakan uang pribadinya.
"Bu.. Satria berangkat dulu ya.. Ada agenda penting yang harus diselesaikan" ucap Satria sembari menyalim sang ibunda dan tampak terburu-buru.
Mala menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya.
Satria menyetir mobilnya dengan sangat terburu-buru, tampaknya Ia begitu amat berkejar dengan waktu.
Saat dipertengahan jalan, tampak olehnya seorang gadis sedang mendorong sepeda motor matic, sepertinya sedang mengalami mogok mesin.
Satria memperlambat laju mobilnya, lalu menepi ditepian jalan, setelah Ia mengetahui sang gadis menemukan bengkel yang baru saja buka.
Setelah gadis itu meletakkan sepeda motornya, Ia berjalan keluar dari bengkel, sepertinya sedang mencari tumpangan.
Satria menyetir mobilnya kembali, lalu berhenti tepat disisi sang gadis. Satria membuka pintu mobilnya, lalu meminta sang gadis agar naik kedalam mobilnya.
"Masuk.." ucap Satria tanpa ekspresi apapun.
Gadis itu melongo karena merasa bingung. Bagaimana mungkin Ia akan semobil bersama atasannya, hal ini akan membuat kehebohan di puskesmas, Karena seluruh penghuni puskesmas akan menyebarkan gosip miring tentangnya.
Satria adalah seorang pemimpin yang sangat dikagumi, dihargai dan tentunya memiliki wibawa yang sangat tinggi, ditambah nilai plus tampan.
Semua penghuni puskesmas, dari staf rendahan sampai atas, bahkan para demit juga mengakui ketampanannnya.
Jika sampai gadis sederhana berparas manis itu pergi ke puskesmas bareng dengan si pria yang berkpribadian dingin itu, tentunya akan menimbulkan gosip yang akan viral dan menjadi perbincangan disekitar puskesamas.
"Saya nunggu temen saja, Pak.." jawab Shafiyah mencoba menolak secara halus.
"haruskah saya sebagai atasan lebih dulu sampai dibandingkan kamu?" ucap Satria seperti sebuah intimidasi.
Shafiyah yang mendengarnya seketika menciut. Tidak mungkin juga jika atasannya lebih dulu sampai ditempat kerja dibanding dirinya.
Akhirnya Ia mengalah dan memilih ikut naik kedalam mobil.
Mobil Satria bergerak menuju puskesmas. Sepanjang perjalanan, mereka diam tanpa ada yang berbicara. Hingga akhirnya mereka sampai dihalaman parkir.
Shafiyah langsung turun, dan memastikan tidak ada satu orangpun yang melihatnya pergi kepuskesmas berbarengan dengan atasannya.
"Makasih, Pak.." ucap Shafiyah dengan terburu-buru dan tanpa menunggu jawaban apapun dari Satria, gadis itu nyelonong pergi begitu saja, dengan menutup pintu mobil yang sedikit kasar. Sehingga membuat Satria sedkit tersentak, karena suara dentuman pintu mobil yang ditutup kasar oleh gadis tersebut.
Satria menggelengkan kepalanya. Lalu Ia turun dari mobilnya. Gadis itu sudah menghilang dikoridor puskesmas.
Satria berjalan menyusuri koridor puskesmas dengan santainya. Namun..
Langkahnya terhenti.. Ia mendengar sayup-sayup senandung kerinduan seorang gadis dengan suara yang begitu merdu mengalun syahdu menyentuh kalbu.
Satria memandang hutan yang berada diseberang jalan puskesmas.
__ADS_1
matanya menatap nanar jauh kedalam hutan, menembus batas pandangan manusia biasa. Ia melihat sebuah siluet seorang gadis cantik sedang bersenandung sembari berayun disulur pobon beringin sembari memejamkan matanya.
Rambut sang gadis melambai-lambai tertiup angin. gadis itu tampak begitu menghayati senandung yang didendangkannya dengan penuh penghayatan jiwa.
"kutunggu dirimu
dipenantian panjangku
hadirlah membawa cinta
hingga akhinya kita bersatu
mengikat janji yang tertunda
Hadirlah... Aku menunggumu disini..
Dalam sepinya jiwaku..
mengisi ruang kosong dalam hatiku..
mengharapkan sentuhan belaian lembutmu..
Hadirlah duhaai sang belahan jiwa
hadirlah.. Hadirlah duhai Belahan jiwa..
sentuh hatiku dengan kasihmu..
waktunya hampir tiba..
dalam penyatuan jiwa..
mereguh asa..
dalam lenguhan jiwa yang meronta.."
Satria memejamkan matanya, mencoba menghayati setiap lirik yang didendangkan sang gadis.
"Siapa dia..? Mengapa senandung itu begitu menyentuh kalbu". Satria berguman lirih dan tidak pernah merasakan hatinya seresah ini.
"Pak.. Pak.. Rapat akan dimulai.." suara seorang staf laki-laki menyadarkan Satria dari perjalanan ghaibnya.
Seketika Satria tersadar, lalu mengerjapkan matanya, dan menganggukkan kepalanya.
Sebelum Ia meninggalkan koridor puskesmas, Ia menatap sejenak ke arah hutan tersebut, lalu berlalu pergi, dengan sejuta tanda tanya yang ingin Ia pecahkan.
🐛🐛🐛👻👻👻🐛🐛🐛
Semua telah berkumpul diruangan rapat. Kali ini agendanya Ialah tentang pengadaan alat rontgen untuk mempermudah menganalisa penyakit dalam dan juga pengadaan alat medis lainnya sebagai penunjang dari keefektifan pelayanan kesehatan.
__ADS_1
Untuk masalah bangunan, Puskesmas itu sudah tergolong sangat maju. Maka akan sangat sempurnah jika dilengkapi dengan fasilitas alat-alat canggih kedokteran yang dapat memudahkan pelayanan.
Saat itu, Shafiyah juga berada didalam ruang rapat.
Ia menatap Satria yang sedang melakukan presentasi menggunakan layar proyektor tentang apa saja langkah-langkah yang harus dilakukan, dana pengadaan, penggunaan, dan perawatan.
Shafiyah tidak menyangka begitu sangat tampannya Satria, dan juga genius. Bahkan memiliki jiwa sosial yang begitu tinggi, dimana pengadaan alat-alat yang direkomdasikannya terhitung sangat fantastis.
"Darimana Ia memiliki uang sebanyak itu..? Jika dilihat dari gajinya sebagai tenaga ASN, tentu tidak mudah dan sangat tidak mencukupi.. Lalu bagaimana mungkin Satria sanggup mengadakan begitu banyak alat-alat tersebut.?" Shafiyah berguman dalam hatinya.
Shafiyah bukannya mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Satria, namun malah berkelana sendiri alam fikirannya ketempat lain.
Hingga saat telah usai, dan orang-orang sudah beranjak pergi satu persatu, namun Shafiyah tak juga menyadarinya.
Hingga akhirnya seseorang menegurnya dengan nada dingin."Apakah sudah mengkhayalnya?" suara ketus dari seseorang yang kini tepat berada disisi kanannya.
Seketika Shafiyah membeliakkan matanya, lalu menoleh kearah sumber suara tersebut.
Deeeeeegh..
Lalu Ia tersentak dan kaget, dengan segera membuang pandangannya kearah lain, mencoba menghindari tatapan mata tersebut, yang baginya sangat menghipnotis.
Shafiyah beranjak bangkit dari duduknya, jantungnya seakan terhenti sejenak. Mata itu begitu jernih, bagaikan telaga kautsar yang menjanjikan..
Mata itu, begitu membius hati dan akal Shafiyah, sehingga tidak mampu menyembunyikan betapa Ia mengagumi sosok itu. Namun Shafiyah seketika menepis hatinya, Ia tidka ingin terlalu larut dalam hatinya.
"ayolah Fiyah.. Jangan terlalu baper, dia terlalu tampan untukmu, sedangkan kamu hanya berwajah pas-pasan saja" Shafiyah berguman lirih dalam hatinya, mencoba menyadarkan akal fikirannya yang terlalu jauh menggapai angan.
"Maaf pak.." ucap Shafiyah, lalu pergi nyelonong begitu saja.
Satria kembali menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum simpul, entah apa yang begitu menggelitik hatinya melihat gadis tersebut.
Gadis berwajah manis itu sungguh membuatnya begitu merasa penasaran. Apalagi Shafiyah yang tampak sering mencuri pandang padanya, namun menghindarinya jika sedang bersama.
Satria kembali menuju ruang kerjanya, Ia akan menghubungi Hadi, untuk menanyakan tentang pemesanan alat-alat medis yang sudah diagendakan.
"Hallo.. Assallammualikum.. Apa kabar Dik..?" ucap Satria membuka obrolannya.
"Waalaikumsalam kak.. Kabar kurang baik kak.." jawab Hadi lemah.
Seketika Satria mengundurkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.
"Ada yang bisa kakak bantu?" tanya Satria mencoba memahami kondisi sang Adik saat ini.
"Hadi mau minta bantuan sesuatu hal sama kakak.." ucap Hadi dengan nada serius.
"Baiklah.. Nanti tunggu kakak pulang kerja, kita akan bahas selanjutnya.."
"Baik Kak.." Ucap Hadi, lalu mengakhiri panggilan telefonnya.
__ADS_1
~Kehabisan bab judul.. Jadi Draft sajalah ya..😁😁😁~