Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Arwah Mira menghantui bidan Sri


__ADS_3

Sri baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia ingin membersihkan dirinya.


Sri menuju kamar mandi, Ia sangat lelah hari ini. Ia mulai mengguyur tubuhnya dengan air. kesegaran terasa ditubuhnya saat air menyentuh kulitnya.


Sri mempercepat mandinya, karena Ia ingin segera beristirahat. setelah selesai dengan ritual mandinya, Sri memakai skincare yang terdapat di rak kaca. Ia memoleskan kewajahnya.


samar-samar Ia melihat bayangan seseorang didalam cermin berdiri dibelakangnya. saat Ia menoleh, tidak ada sesiapa disana. Sri mempercepat polesan skincarenya. lalu bergegas keluar dari kamar mandi.


"Siapa tadi yang berdiri dibelakangku..? apakah itu arwah Mira..?" ucap Sri berguman lirih. Ia bergidik dan meremang bulu romanya.


Sri menuju kamarnya. Ia ingin segera berganti pakaian. saat membuka lemari pakaian..Ia dikejutkan oleh sesuatu.."aaaaaaghh.." teriaknya, hingga jatuh terduduk.


sosok Mira berdiri didalam lemari, wajah pucat dengan tatapan kosong. "tolong saya bu bidan.." suara Mira yang nyaring dengan nada lirih menggema keseluruh ruangan kamar.


nafas Sri memburu, Ia begitu amat ketakutan..dengan sisa keberaniannya Ia mencoba berinteraksi pada arwah Mira. "Apa yang harus aku lakukan untukmu..? agar arwahmu tenang..?" ucap Sri memberanikan diri dengan nafasnya yang tersengal.


"Re....za..." ucap arwah Mira..lalu menghilang.


Sri mengatur nafasnya, Ia menarik nafas dengan dalam, lalu menghelanya dengan kasar. berulangkali Ia melakukannya, hingga akhirnya Ia dapat mengontrol detak jantungnya.


Sri mendekati lemarinya, memastikan yidak ada arwah Mira lagi disana. setelah itu Ia mengambil sepasang piyama tanpa lengan dan bercelana pendek dengan bahan silky berwana peach. lalu mengenakannya. Ia menuju ranjangnya. duduk ditepian dan bersandar.


"bagaimana caraku untuk menolong arwah Mira yang penasaran" ucapnya lirih.


Sri mengingat kata terakhir yang diucapkan Mira, yaitu Reza. "ya..aku hampir saja melupakan perbuata duda itu terhadap Mira. aku harus membalaskannya." ucap Sri.


Sri mengatur sebuah rencana. Ia menghubungi Reza, duda tampan nan brengsek. sakuran telefon tersambung.."hallo Tuan Reza..bisakah kita bertemu malam ini..? sepertinya saya membutuhkan kehangatanmu.." ucap Sri manja.


"hallo bu Bidan yang cantik, siapa yang dapat menolak kehangatanku..aku akan segera menemuimu.." ucap Reza bersemangat dari seberang telefon.


"baiklah..aku menunggumu.."jawab Sri manja menggoda. lalu mengakhiri telefonnya.


Sri menyiapkan segala rencananya. Ia akan menyambut kedatangan Reza dengan pakaian yang menggoda.

__ADS_1


Reza telah sampai dikediaman Sri. jarak rumah yang tidak terlalu jauh membuat Reza memilih untuk menaiki motor, lalu memarkirkannya direrimbunan pohon agar tidak terihat warga.


Ia mengetuk pintu..[took...tok..] terdengar suara langkah kaki dari dalam untuk membuka pintu.


setelah pintu dibuka, terlihat Sri berada diambang pintu memyambutnya dengan menggunakan lingere berwarna hitam. tentu mendapatkan hidangan seprti itu membuat Reza semakin menggila. Ia menerobos masuk dengan rasa tak sabar.


"aaaw..sabarlah Tuan Reza..pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru."ucap Sri manja.


Reza seperti singa lapar yang tak sabar ingin melahab mangsanya. apalagi boneka barunya si Reni belum dapat di sentuhnya, karena proses pengguguran kemarin.


"Mari masuk kekamar saya Tuan Reza yang tampan, kita tuntaskan disana.." ucap Sri menggodanya.


Reza seperti kerbau yang dicocok hidungnya, menuruti saja perintah Sri dengan mengekorinya.


sesampai didalam kamar, Reza yang sudah tak sabar menyergap Sri, namun Sri dapat menghindarinya, hingga Reza terjerembab di ranjang.


Reza berusaha bangkit, dan mendekap kembali tubuh Sri. kali ini Sri tak menghindarinya. Sri mengambil dua gelas minuman yang sudah disediaknnya. lalu memberikannya kepada Reza.


minumlah Tuan..ini akan membuatmu menjadi pejantan tangguh..ucap Sri, lalu menegukkan minuman itu kepada Reza dengan sedikit paksaan. setelah itu memberinya segelas lagi, dan Reza meneguknya hingga habis.


aku ingin kita bermain dengan gayaku, kuharap Tuan menyetujuinya.Sri mengambil tali rafia yang sudah disiapkannya disisi ranjang. dengan sigap Ia mengikat tubuh Reza yang sudah seperti orang tak sadar. Ia mendorong tubuh Reza yg terikat dikasur dengan posisi telentang. lalu Sri memandanginya dengan senyum sinis.


tubuh Reza yang terikat tak mampu melawan. Ia mengharapkan sebuah pelampiasan untuk menyalurkan hasratanya. entah mengapa Ia tak dapat mengontrol hasratnya terus menerus tanpa henti untuk mencapai puncak. namun rasa kantuk menyerangnya, hingga ia tak sadarkan diri.


****


Reza terbangun, Ia mendapati dirinya sudah berada diatas sofa rumahnya. sepertinya seseorang telah membawanya kemari.


tetapi Ia mengingat tadi malam berada dirumah bidan Sri. "apa aku hanya bermimpi tadi malam..?" Reza mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.


namun Ia merasakan mengapa Ia sangat berhasrat. rasa itu timbul terus menerus tanpa dapat Ia kontrol. melihat Rianti yang baru saja datang, tanpa ampun Ia melampiaskannya pada Rianti. entah berapa kali Ia menuntaskanya, namun senjata itu tak mau juga turun. Ia kebingunngan. Rianti sudah tak sanggup lagi. namun Reza tak perduli.


lalu Ia pergi kekamarnya, dengan senjata yang terus berdiri. sesampai dikamarnya, Ia melampiaskannya pada Reni yang baru saja dua hari pasca keguguran.

__ADS_1


saat ini Ia seperti orang kesurupan. Ia kehabisan tenaga. namun senjatanya tak juga mau turun.


karena terlalu berlebihan, akhirnya Reza mengalami perih di senjatanya, darah mengalir dari daerah sensitifnya. Ia merasakan sakit yang luar biasa. panas, dan rasa gatal di area senjatanya. rasa gatal itu semakin parah.


Ia mengerang kesakitan. Ia tak mampu berjalan. Ia membaringkan tubuhnya dengan senjatanya yang masih berdiri. perlahan urat-urat didaerah sensitifnya berwarna kemerahan, lalu seperti lebam darah segar menyembur keluar.


"Reni ketakutan melihat Reza yang mengerang kesakitan. dengan segera Ia mengambil semua uang pemberian Reza, memasukkannya dalam tas sekolahnya, lalu bergegas turun melarikan diri.


Ia takut jika Reza mati, maka Ia yang akan dijadikan tersangka. Reni turun dengan tergesah-gesah, Ia menyelinap tanpa diketahui oleh orang lain.


melihat sepeda motor matic milik Reza terpakir diluar, Reni segera kabur membawa sepeda motor itu.


Reza merasakan tubuhnya amat panas. telah terjadi penyumbatan pembuluh darah. tubuhnya menggigil menahan sakit, keringat dingin mengucur ditubuhnya.


****


dua hari berlalu, Reza terbaring lemah, Rianti yang penasaran karena tuannya tak juga kunjung keluar kamar, mencoba mengecek kondisi Reza. saat Ia membuka pintu, Ia dikejutkan dengan pemandangan yang mengiris hati. Ia mendekati Reza yang pucat pasi. Ia mengambilkan air minum, lalu memberikannya kepada Reza.


Rianti melirik kepada senjata Reza yang melebam. Ia mengambil makanan, lalu menyuapkannya kepada Reza.


setelah tiga hari dalam perawatn Rianti, akhirnya kondisinya Reza mulai membaik, namun kenyataan buruk yang Ia terima Ialah, senjatanya tak mampu berfungsi lagi.


Reza merasa frustasi. selama ini senjatanya menjadi kebanggaannya. namun apa artinya Ia hidup, jika Ia tak mampu menjadi seorang pria tangguh.


dan yang menjadi masalah lain Ialah, Ia tak mampu lagi menyediakan tumbal janin bagi Nini Maru. ini akan berdampak pada kekayaannya, juga Ia khawatir jika Nini Maru mengancam mengambil janin Mala.


****


Sri merasa menang..Ia tersenyum licik, Ia dapat memastikan jika Reza saat ini sedang mendapatkan karma atas perbuatannya.


Sri telah mencampur obat perangsang dan obat kuat menjadi satu, dengan dosis yang berlebihan, serta memberi Reza obat tidur, agar Ia tak mampu melawan.


obat Kuat dan perangsang itu sudah melebihi dosis bahkan overdosis. sehingga menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. karena terjadi penyumbatan pembuluh darah pada area senjata itu, maka terjadilah pelemahan syaraf. hingga menyebabkan impoten atau lemah syahwat permanen.

__ADS_1


kini Reza tak lagi mampu melakukan aksi bejadnya. Ia kehilangan kesombongannya.


__ADS_2