
Pemuda bertampang seram itu terus berupaya mencapai puncak tebing. Tubuhnya yang penuh luka tak lagi Ia hiraukan. Ia begitu amat penasaran dengan pemilik senandung cinta yang begitu mendayu-dayu ditelinganya, hingga merasuk kedalam relung hatinya.
Berulang kali Ia memanjat tebing itu, berharap dapat sampai ke puncak, dan menemukan pemilik senandungnya.
Rey memperhatikan setiap detail tebing, Ia melihat akar pohon yang dapat dijadikannya sebagai pegangan untuk sampai ke atas tebing.
Rey menggapai sulur dan akar pohon yang dapat dijadikannya sebagai pegangan dan tali untuk sampai ke atas tebing.
Ia mulai memanjat tebing. Layaknya seorang rikc climbing yang profesional, Ia mulai menggapai lubang dan celah batu tebing yang dapat dijadikannya sebagai pijakan dan pegangan untuk mencapai puncaknya.
Dengan nafas yang tersengal, Ia mulai memanjat tebing dengan segala daya dan upayanya. Beberapa kali Ia tergelincir, lalu bebatuan kecil runtuh dan mengenai matanya.
Rasa perih tak mampu lagi Ia tahan, Ia melepsakan tangannya, dan...
Aaaaaaaaggh...
Suaranya melengking membahana memenuhi dasar jurang.
Buuugh.. Baaam..
Aaaggkh..
Suara dentuman tubuh Rey yang menghempas didasar jurang dan terguling hingga mendapat luka lebam dan memar yang cukup parah.
Sesaat Rey berdiam tak bergerak, Ia seperti sedang memulihkan tenaganya. Rasa sakit dan perih tak begitu Ia rasakan. Semuanya karena rasa penasaran yang begitu dalam.
Rey kembali bangkit, Ia mencoba duduk dan memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Ia mencoba berdiri dengan terhuyung dan berusaha sangat keras untuk berdiri tegak.
Ia merasa harus mencari cara untuk mencapai puncak tebing apapun caranya.
Rey kembali mencoba, pantang baginya menyerah sebelum mencapai tujuannya. Setelah menempuh segala daya dan upayanya, Ia akhirnya mencapai puncak tebing tersebut.
Lalu Ia merasa lelah yang mendera seluruh tubuhnya. Ia membaringkan tubuhnya diatas rerumputan.
Pemuda bertampang seram itu memejamkan matanya, sejenak Ia menghilangkan rasa yang begitu sangat menguras tenaganya. Sesaat Ia mengerjapkan kedua matanya, menatap lembayung senja yang menggantung indah dilangit.
__ADS_1
Hatinya merasakan sesuatu yang tak biasa, Ia begitu amat merasaka damai yang berbeda.
Sayup-sayup Ia mendengar suara senandung dari seorang gadis yang begitu sangat menggetarkan hatinya. Ia terperanjat dari rasa termangunya, lalu beranjak bangkit dan mengumpulkan segala tenaganya untuk mencari dimana pemilik suara itu.
Ia berjalan dengan tertatih, dan terus berusaha menyusuri hutan yang sangat lebat tersebut.
Lamanya Ia tidak pernah membersihkan diri, membuatnya begitu teramat dekil dan sangat Aroma anyir dari luka yang ditimbulkan oleh gigitan semut yang waktu itu membuat lubang disekujur tubuhnya, menambah sesuatu yang begitu teramat menjijikkan.
Pemuda yang kini sedang dilanda rasa penasaran, terus mengikuti suara senandung tersebut. Dimana Ia tak mampu menahan keinginannya untuk menemukan pemiliknya.
Namun saat masih beberpa puluh meter Ia melangkah, perutnya terasa sangat lapar dan ingin makan saat ini juga. Bagaimanapun, perjuangan butuh tenaga.
Rey mencari hewan buruan yang dapat dijadikannya sebagai bahan asupan energi untuk menambah vitalitas tubuhnya.
Matanya nanar mencari hewan apa saja yang dapat diburunya. Ia berjalan mencari sebuah ranting kayu untuk dijadikan sebagai alat berburu.
Setelah mendapatkan ranting yang cocok, Ia segera meruncingkannya menggunakan batuan yqng berbentuk pipih. Lalu kembali menatap hewan buruan yang dapat dijadikannya santapan.
Dikejauhan, tampak seekor babi hutan yang sedang mencari makanan, dengan mengendap-endap Ia menghampiri hewan tersebut.
Rey mencoba mengingat siapa sosok itu. "Mengapa sosok itu mirip dengan peliharaan Mama Rianti waktu dahulu..? Mengapa Ia berada disekitar sini..? Lalu, apa kabar mama saat ini..? Apakah Ia tidak mengingatku sama sekali..?" Rey seketika teringat akan mamanya.
Ia menatap langit yang mulai meremang. Ia teringat akan mamanya Rianti yang pernah memelihara Nini Maru, dan menyekap beberapa wanita yang dijadikan tawanan untuk menghasilkan janin dan sebagai tumbal untuk sumber kekayaan Mamanya.
Namun Rey tidak mengetahui siapa yang telah membuangnya ke hutan. Ia tidak yakin jika Mamanya yang melakukan itu kepadanya.
"Mama.. Bagaimana kabarmu saat ini..?" Rey berguman dalam hatinya. Lalu Ia kembali menatap hewan buruannya, namun hewan itu sudah menghilang.
Rey kembali berjalan menyusuri hutan yang oenuh rimbunan semak belukar dan pohon-pohon besar menjulang tinggi.
Langit sudah semakin gelap, pandangan mata sudah terhalang. Rey berusaha terus menajamkan insting dan pendengarannya untuk dapat mencari hewan buruan.
Namun tampaknya alam sedang tidak bersahabat saar ini.
Suara gemuruh dan sambaran halilintar dilangit, menandakan akan turun hujan dengan sangat lebat, sedangkan Ia belum mendapat asupan makanan sedikitpun.
__ADS_1
Perlahan rintikan hujan turun membasahi bumi. Pemuda Itu mulai tampak gelisah. Ia ingin mencari tempat berlindung. Saat akan beranjak dari tempatnya, Ia mendengar suara tangisan hewan liar dengan aroma pandan wangi. Seketika Ia tersenyum menyeringai. "Musang.." gumannya lirih dalam hati.
Rey berjalan mengendap dibawah rintikan hujan yang mulai turun membasahi bumi yang disertai kilatan cahaya halilintar.
Dalam kilatannya, Rey menangkap sosok berbulu yang hang berdiri menghadapnya dengan pandangan yang tetamat tajam.
Sosok itu semakin mendekat, lalu dengan kerjapan mata, sosok itu sudah berdiri tegak dihadapannya dengan jarak satu meter saja.
Sosok itu menatapnya sembari berkata " berhati-hatilah.. Akan datang seseorang yang menjadi lawanmu, jangan memberi ampun padanya, binasakan Ia sebisamu.." ujar sosok makhluk itu dengan suara parau dan menggeram.
Rey merasakan ada pesan tersirat dari setiap kalimat yang diucapkan oleh sosok makhluk itu.
"Si..siapa kamu..?" tanya Rey dengan rasa penasaran yang teramat dalam.
"Aku adalah orang yang paling dekatmu.. Bersiaplah untuk menghadapi segala sesuatunya dikedepan hari.." ungkapnya dengan suara geraman.
"Apa yang kau maksud dari ucapanmu itu..?"tanya Rey masih belum mengerti dengan segala sesuatunya.
"Aku adalah Ayahmu, orang yang membuatmu terlahir kedunia ini.. Kamu bukanlah manusia tulen, tetapi persilangan antara manusia dan iblis.. Oleh sebab itu kamu dapat mendengar senandung cinta dari gadis yang akan mengantarkanmu pada petaka yang amat dahsyat.." Sosok itu mulai memperingatkan Rey.
"A..apa..? Kamu adalah ayahku..? Apakah sebab itu aku sangat bertampang jelek..?!" ucap Rey dengan kesal. Ia sangat menyesali menjadi anak keturunan makhluk itu, sehingga Ia terlahir sangat buruk rupa.
"Sialan kau, enak saja kau mengataiku penyebab kejelekanmu.." maki Sosok tersebut.
Rey menatap dengan cibiran meski tak terlihat dikepekatan malam. Lalu Ia penasaran dengan gadis yang diaebutkan oleh sosok yang mengaku sebagai ayahnya itu.
"Apakah pemilik senandung itu gadis yang amat cantik..?" tanyanya penasaran.
"Ya.. Teramat cantik, dan kecantikannya akan menyilaukan matamu, hingga kau lupa bahaya telah mengintai didepanmu.." Sosok terus memperingatkan Rey.
"Namun aku penasaran akan kecantikannya, dan semakin membuatku untuk mencarinya.." ungkap Rey dengan tekad yang begitu bulat.
Sosok itu menggeram dengan geraman yang sangat meyeramkan. "Aku sudah mengingatkanmu, namu jika kau bersikeras, maka aku tidak akan terlibat didalamnya." ucap Sosok itu yang tak lain adalah genderuwo penghuni pohon pisang disamping rumah Mala.
"Tapi ijinkan aku melihat gadis itu, sekejap saja.."Rey mengatupkankan kedua tangannya dengan nada memohon.
__ADS_1
"Terserah kau saja..! Aku tidak mau terlibat.." lalu sosok itu menghilang dengan kerlingan mata.