
Satria terus berjalan tanpa lelah. Perjalanannya kali sangatlah berbeda dari hari sebelumnya. Bagaimana tidak, seirang gadis cantik bermata jeli dengan selalu menebarkan aroma yang menenangkan selalu mengiringi perjalanannya.
"Sepertinya hari akan gelap, aku harus mencari tempat berlindung, untuk menghindari hewan buas." ucap Satria sembari mencari pohon yang yang berbatang besar dan berdahan kokoh untuk tempatnya tidur.
"Tidur saja dibawah pohon rindang.. Tidak perlu kau memanjat keatas." Saran peri tersebut.
Satria menoleh kearah tempat yang ditunjuk oleh peri tersebut. "terlalu berbahaya untukku, hewan buas akan memangsaku disaat aku tertidur." jawab Satria dengan mempertimbangkan segala resikonya.
"Aku akan menjagamu.. ku pastikan tidak ada seekor seranggapun yang akan menyentuh kulitmu, apalagi binatang buas." jawab peri itu, sembari terbang melayang kearah pohon rindang yang ditunjuknya.
Satria terperangah mendengar ucapan peri tersebut, lalu mengekorinya dari arah belakang.
Tanah dibawah pohon itu tampak keras, tidak lembab, sepertinya sangat cocok untuk Ia beristirahat malam ini.
Satria meletakkan tas ranselnya, lalu ingin duduk dan berselunjur disana. Namun belum sempat Ia meletakkan bokongnya, peri itu sudah menyihirnya dengan memberikan alas permadani berwarna biru, sehingga Satria memiliki alas untuknya beristirahat.
Lalu Satria beristirahat disana. Duduk bersandar dibatang pohon. Matanya menatap lurus kedepan. Mentap langit senja yang kian mulai memudar.
lembayung jingga menggantung indah dilangit, lalu terlukis wajah seseorang disana. Wajah itu begitu sendu, menantikan seseorang yang kini kini sedang berjuang dalam sebuah misi keluarga.
"Syafiyah.. Apakah kau merindukanku..?" Gumannya lirih, sembari menekuk kedua lututnya, lalu menopangkan dagunya disana, dan mencoba memejamkan kedua matanya, mencari wajah manis sang gadis dikedua kelopak matanya.
Hari semakin mengarak maghrib, waktu shalat telah tiba. Satria mencoba bertayamum saja. Setelah selesai, Ia menunaikan kewajibannya, sembari berdoa mengharapkan kelancaran segala urusannya.
Satria kembali duduk merenung, lalu sang Peri bermata jeli itu datang menghampirinya.
"Boleh ku tau siapa namamu..?" tanya Peri itu, sembari duduk disisi kiri Satria.
"Satria.. Kita belum berkenalan ya.." jawab Satria, lalu menoleh kearah sang peri, dan mengulurkan tangannya.
"Widuri." balas Sang Peri, sembari mengerjapkan dua bola matanya yang indah.
__ADS_1
Satria terkesima melihat keindahan bola mata itu, "Nama yang indah.. Seindah pemilik nama itu" ujar Satria, yang membuat sang peri merona wajahnya.
Sang peri menatap lekat pada pemuda dihadapannya. "Apa yang kau renungkan..?" tanyanya lembut, suaranya yang merdu bagaikan serunai syahdu, mendayu indah ditelinganya.
Satria menarik nafasnya dengan dalam, lalu menghelanya dengan berat.."Perjalananku ini meninggalkan dua orang wanita yang sama-sama kucintai.. Aku berharap keduanya dalam kondisi baik-baik saja.."ujar Satria dengan perasaan gundah.
Sang peri menoleh kepada Satria. "Pasti mereka wanita yang sangat beruntung, mendapat cinta darimu, sedangkan masih ada wanita lain yang meminta sedikit cintamu untuk mereka." ujar peri itu dengan senyum tipis.
Satria mengernyitkan kedua alisnya. "Mereka..? Maksudmu apa..?" tanya Satria dengan penasaran.
"Nanti kamu akan mengerti apa yang terjadi.." jawab peri tersebut yang tak lain bernama Widuri.
Satria terdiam mencoba mencerna apa yang diungkapkan oleh peri bernama Widuri tersebut.
"Sudahlah.. Kamu tidak perlu memikirkannya, lebih baik kamu beristirahat saja, karena esok akan ada perjalanan yang melelahkan." ujar Widuri, sembari membelai lembut rambut sang pemuda.
Mendapatkan perlakuan yang hangat, membuat Satria merasa mengantuk, lalu terbuai dalam mimpinya.
Widuri menatap wajah tampan itu, lalu memberikan kecupan hangat disana. Ia mencoba menjaga sang pemuda agar selalu aman dari apapun.
Dipertengan malam, terdengar sayup-sayup suara senandung cinta yang menggambarkan kerinduan seseorang yang teramat dalam. Sang peri tersenyum mendengar senandung itu, lalu semakin kuat menangkupkan sayapnya, agar sang pemuda tak mendengarnya .
Satria tampak tidur terlelap dan dalam terbuai dalam kehangatan yang begitu nyaman. Aroma khas yang menenangkan yang berasal dari sang peri memberikan rasa rileksasi terhadap dirinya.
Hingga waktu subuh telah tiba, suara ayam hutan bersahut-sahutan, memberi kabar kepada seluruh penghuni alam, jika waktu subuh telah tiba.
Satria mengerjapkan matanya, lalu melihat dirinya sedang berbaring menghadap wajah seorang wanita dari dunia lain yang begitu ayu rupawan, sedang menatapnya dengan penuh makna.
"Bagaimana tidurmu Satria..?" tanya peri itu dengan lembut, lalu mengkatupkan sayapnya dan menyimpannya dipunggungnya.
Satria beranjak bangkit dari berbaringannya, lalu menggeliatkan tubuhnya. Sepertinya waktu subuh telah tiba, aku harus shalat." ucapnya bergegas untuk kembali bertayamum, ia menempelkan telapak tangannya diatas kulit pohon yang dianggapnya berdebu.
__ADS_1
Setelah selesai bertayamum, Ia menunaikan kewajibannya, dan kembali berdoa, agar hidupnya selalu diberkahi.
Sang fajar menyingsing diufuk timur, memberikan kehangatan pada siapa saja yang membutuhkannya.
"Sepertinya aku harus melanjutkan perjalananku, apakah kau masih ingin ikut..?" tanya Satria kepada Widuri yang kini sedang duduk menjuntaikan kakinya dari atas ranting kayu, yaang sepertinya tak merasa berat dengan bobot tubuh sang peri.
Widuri turun melayang dari atas ranting, lalu menghampiri Satria, mendarat sempurnah di atas tanah, lalu memegang pundak kiri sang pemuda dan berputar kearah belakang.
Tanpa diduga, peri itu mendekap tubuh Satria dari arah belakang, membuat pemuda merasakan sensasi yang berbeda dipagi hari. "Aku akan mengabdikan diriku untukmu, seumur hidupmu.." jawab peri itu berbisik lembut ditelinga Satria.
Tubuh pemuda itu gemetar mendapat perlakuan yang tak biasa dari seorang peri. Meskipun itu hanya makhluk yang berasal dari bangsa jin dan sejenisnya, namun wujudnya tetaplah wanita, dan Satria seorang pria normal, tentulah hal itu membuat sesuatu yang tak biasa.
"Baiklah.. Tetapi tetaplah menjaga jarak diantara kita, jangan pernah membuatku tersiksa seperti ini.." ujar Satria dengan sopan.
Seketika Widuri melepaskan pelukannya, lalu berjalan disisi Satria. "Baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan ini.." ujar Widuri, lalu mengamit tangan Satria dan mengajaknya menyusuri jalanan.
Satria tak dapat menolak ajakan Widuri, Ia terus saja mengekori peri cantik itu menyusuri jalanan yang penuh semak belukar. Sesekali Widuri membuka jalan untuk Satria dengan sihirnya.
"Terimakasih, atas segala bantuanmu.." ucap Satria tulus.
Widuri itu mengerjapkan kedua matanya yang indah dan tersenyum manis.
Satria membalas senyum itu, lalu melangkah menyusuri jalanan yang sudah terbentang dihapannya.
Setelah lama berjalan, Satria mendengar suara senandung cinta yang sering Ia dengarkan. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar.
"Apakah kau mendengar seseorang sedang bersenandung..?" Tanya Widuri dengan tatapan hangat.
"Iya.. Aku mendengarnya, bahkan sejak lama, sebelum aku ke bukit ini.." jawab Satria mengakui.
Widuri tersenyum penuh arti. "Ada seseorang yang sedang menunggumu disana.." jawab Widuri dengan santai, lalu mengepakkan sayapnya, dan bertengger diranting kayu jauh didepan jalan.
__ADS_1
Satria yang belum sempat bertanya tentang siapa seseorang yang dimaksud Widuri, merasa Jika peri itu sedang memberikannya permainan teka-teki.