Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Dilema-4


__ADS_3

Setelah kepergian Satria, Rakesh dan Ayunda saling berpandangan. ada banyak pertanyaan yang sedang bergelayut didalam hati mereka.


"Bagaimana mungkin Jayanti melahirkannya, namun bukan anaknya Bram dan juga bukan anak Jayanti." ucap Rakesh bingung.


"Apakah mungkin Tuan Bram dan Nyonya Jayanti memindahkan janin dari rahim wanita lain kedalam rahimnya. Dalam ilmu kedokteran disebut 'Embrio transfer' dan bahasa trendnya sekarang surrogate mother." ucap dokter yang melakukan ter DNA tersebut.


Rakesh dan Ayunda tercengang mendengarnya. "Bagaimana mungkin itu bisa dilakukan..?" ucap Ayunda penasaran.


"Ini jaman canggih, apa saja bisa dilakukan oleh manusia, kecuali membuat nyawa saja mereka tak mampu melakukannya." jawab Dokter tersebut.


"Jika benar begitu, Lalu apa status Satria..?" tanya Rakesh penasaran."


"Tentunya dalam hukum negara dan dan hukum Agama berbeda." jawab Pengacara itu." Maka sebabnya Tuan Bram dan Nyonya Jayanti membuat harta Hibah, bukan warisan." pengacara itu menjelaskan.


Rakesh dan Ayunda saling bertatapan. Mereka menjadi dilema akan keputusan apa yang harus diambil.


"Sudalah Tuan, lagipula Tuan sudah berusia senja, jika bukan kepada Satria, lalu kepada siapa harta ini diwariskan..? Lagipula jika benar Satria terlahir dari rahim Jayanti, terima sajalah kenyataannya, dan mencoba ikhlas." ucap Pengacara itu, lalu berpamitan pergi, karena akan melakukan tugas lainny.


"Jika Tuan berbah fikiran, silahkan hubungi saya lagi." ucap pengacara itu dengan sembari berpamitan dan berlalu, begitu juga dengan dojter tersebut, ikut berpamitan.


Ayunda berjalan gontai, Ia duduk disofa sembari memijat keningnya. Ia sangat merasakan kepalanya begitu sakit memikirkan semuanya.


Saat dalam kekalutan, tiba-tiba saja suara seseorang sedang mengetuk pintu...


Tok..tok..tok..


"Assalammualikum..." ucap seorang pria paruh baya dari ambang pintu.


"Waalaikumsalam.." jawab Ayunda dan Rakesh dengan serentak.


Lalu keduanya mengamati seorang pria dewasa sedang berdiri tegak didepan pintu rumah. "Bayu...?" seru Rakesh sembari mengernyitkan keningnya, mencoba mengingat siapa pria yang berdiri disana.


Lalu pria itu masuk kedalam rumah dan dan menyalim keduanya. Tampak Ia membawa sebuah kotak kayu berwarna coklat, dan menghampiri kedua insan berusia senja itu.


Ia meletakkan kotak kayu tersebut diatas meja, dan membukanya. Rakesh dan Ayunda saling berpandangan melihat apa isi dari kotak kayu tersebut.


******

__ADS_1


Satria telah sampai dirumah Chandra. Ia pulang dengan perasaan lega. Ia tidak menyesali jika harua melepaskan semua aset yang dihibahkan kepadanya. Ia menganggap semua itu hanyalah titipan semata dan tidak perlu diperebutkan.


Bagi Satria, terbebasnya Hadi dari segala tuntutan Opanya sudah merupakan hal yang sangat membahagiakan. Ia disambut oleh Mala dan yang lainnya dengan penuh debaran.


"Bagaimana sayang..? Apakah Opa kamu mencabut tuntutan untuk Hadi...?" cecar Mala dengan rasa penasaran.


"Sudah aman Bu, meskipun saya harus melepaskan segalanya, itu tidak menjadi masalah. Sebenarnya jika Satria bersikeras, Rakesh tidak dapat menuntut hal apapun darinya. Karena harta itu sudah dihibahkan dan memiliki kekuatan hukum, namun bukan sifatnya memeperebutkan sesuatu yang bersifat duniawi


"Syukurlah.. Jika masalah uang dan harta, maka kita bisa memulainya dari awal. Ada lahan peninggalan almarhum ayahmu, kita bisa menjualnya dan membuka usaha atau membuka ruang praktek untuk kamu.." ucap Mala memberi semangat kepada puteranya.


"untuk masalah itu Ibu tidak perlu takut, aku bisa memulai segalanya dari awal." jawab Satria tanpa penyesalan apapun.


Mala memeluk erat tubuh puteranya. Mencoba memberikan kekuatan sebagai bentuk cinta kasih seorang Ibu.


"Besok sebelum subuh, kita sudah berangkat kembali pulang Bu." ucap Satria memberitahu.


Mala melepaskan pelukannya, lalu menganggukkan kepalanya, Pertanda setuju.


"Mengapa begitu cepat Bu..? Menginaplah barang semalam lagi disini, Aku masih kangen sama Ibu.." Ucap Shinta manja, sembari mendekap Mala dari arah belakang, dan menopangkan dagunya dipundak sang Ibu mertua.


"Benarkah..?" jawab Shinta, sembari mengangkat dagunya dan mengernyitkan keningnya. "Apakah itu janji kepada seorang gadis...? Siapa Dia?" cecar Shinta dengan penasaran.


Tak hanya Shinta yang penasaran, Hadi, dan Mala juga merasa penasaran, kecuali Mirna yang merasa masa bodoh dengan semuanya.


Satria menghela nafasnya dengan berat, Ia begitu malu mengungkapkannya. Namun melihat tatapan mereka yang penasaran, membuatnya tak tega. "Syafiyah.. " jawab Satria sembari merundukkan kepalanya, dan tersenyum simpul.


"Apaaaa...?" teriak ketiganya yang merasa kaget akan kejujuran Satria.


"Ya ampun.. Sayang.. Anak Ibu ternyata diam-diam sudah memiliki kekasih." ucap Mala merasa bahagia. Ia mengira anak lelakinya itu tidak akan pernah menikah, karena selama ini tak pernah membawa seorang gadis kerumahnya.


"Wah.. Diam-diam ternyata cinlok ya Kak.." ledek Hadi sembari tersenyum penuh makna. Ia seolah melupakan semua


Seketika wajah Satria bersemu merah. Ia begitu amat malu dengan semuanya. Namun sudah saatnya Ia harus jujur, jika Ia akan memberikan seorang menantu lagi setelah Hadi, untuk Ibunya.


******


Sebelum subuh, Satria, Mala, dan Mirna berpamitan untuk pulang. Meski masih berat, namun Shinta harus merelakan Mala kembali pulang kekampung.

__ADS_1


Setelah berpamitan, Satria dan kedua wanita itu menempuh perjalanan pulang, meski lelah, namun mereka tetap semangat.


Langit tampak senja, setelah menempuh selama 9 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga dirumah. Mereka tak sabar untuk segera beristirahat.


Mala meminta Mirna agar tidur dikamar Hadi, untuk sementara waktu.


Lalu Mala memasuki kamarnya. Ia menatap ruangan kamar itu, tampak terasa berbeda. "Kemana Ia pergi...? Mengapa tak memberi kabar?" Mala berguman dalam hatinya. Lalu berusaha merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah setelah melakukan perjalanan panjang.


Setelah waktu Isya tiba, Mala melaksanakan kewajibannya, dan segera menjemput mimpinya.


Satria keluar dari kamarnya, melihat kamar ibunya tertutup, Ia memastikan jika Ibunya sudah terlelap tidur dan begitu juga dengan Mirna.


Satria keluar dari menuju halaman rumah, menaiki mobinya, dan mengemudi dengan kecepatan sedang.


Ia menuju sebuah rumah. Dimana rumah panggung yang terbuat dari kayu tersebut, tampak tertutup pintunya.


Lalu Ia memarkirkan mobilnya dihalaman rumah tersebut. Ia turun dari mobilnya dan melangkah dengan ragu. "Akan gadis itu menerimaku, dengan segala yang kini ku alami...? Aku bukanlah Satria yang dulu, yang memiliki harta melimpah." sedikit keraguan bersemayam didalam didadanya.


Namun Ia mencoba memberanikan dirinya dengan terus tetap melangkah.


Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan seorang gadis. Ia segera beranjak dari ranjangnya, lalu menuju pintu, untuk melihat siapa tamunya.


Saat Ia membuka pintu, lalu Ia membolakan matanya sembari menutup mulut dengan kedua tangannya, saat melihat siapa datang.


"Kak Satria..." ucapnya lirih, lalu menghamburkan dirinya kedalam pelukan pemuda itu, Ia tak mampu mengatakan apapun, Ia melepaskan semua kerinduan yqng selama ini Ia pendam. Gadis itu menangis tersedu, menahan segala gejolak didadanya.


Pemuda diam terpaku, membairkan sang gadis melepaskan rasa rindunya yang membuncah. Hingga akhirnya gadis itu melepaskan pelukannya. "Mengapa begitu sangat lama tidak memberikan kabar.?" ucap Gadis itu, dengan tatapan sendunya.


"Maaf, telah membuatmu menunggu begitu lama..." ucap Satria dengan penuh penyesalan, sembari membelai lembut rambut sang gadis.


"lalu Satria mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari saku celananya, dan membukanya. "Maukah Kau halal untukku..?" ucap Satria sembari memperlihatkan sebentuk cincin bermata berlian yang sudah lama dibeli dan disimpannya, yang mana Ia berniat akan diberikannya kepada gadis yang akan dinikahinya.


Syafiyah terperangah dan tak percaya dengan apa Yang dilihatnya. "Simpanlah... Bawa keluarga Kakak kemari bersama, untuk resmi melamarku." jawab Syafiyah dengan tersipu Malu.


Satria mengembangkan senyumnya. "Baiklah... Dua hari lagi Aku akan datang membawa keluargaku.." Janji Satria kepada gadis itu. Lalu keduanya saling membalas senyum sumringah, dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2