
Satria pulang kerumah. Ia memarkirkan mobilnya dihalaman depan rumah, karena memang belum ada ruang parkir.
Satria menatap rumpun pisang yang baru saja ditebas oleh Parjo dan menyebabkannya kerasukan iblis penunggu pohon pisang itu.
"sepertinya iblis ini yang pernah kulihat saat bersama Rianti didalam kamar dan ruang bawah tanah."Satria berguman lirih.
Satria menghampiri rumpunan pohon pisang yang baru saja ditebas. Ia melihat siluet, jika pada saat hujan gerimis panas itu, Parjo tanpa tidak sengaja telah menebas makhluk itu dan membuatnya marah.
Dengan sangat cepat makhluk itu menyerang Parjo yang sudah merusak rumahnya dan juga melukainya. Sehingga membuat Parjo kesurupan.
Andai saja Parjo tadi tidak segera di atasi, maka automatis akan membuat Parjo terancam nyawanya. Karena makhluk itu berniat akan menawan jiwa Parjo sebagai balas dendamnya.
Mala keluar rumah, karena mendengar suara mobil Satria di depan rumah. "sudah pulang kamu Nak.?" ucap Mala santai.
Satria mengangguk, sembari tersenyum sumringah. "Bu.. Boleh Minta tolong Satria bawakan golok, garam kasar, dan pemantik api." pinta Satria dengan sangat sopan.
"Boleh sayang.. Bentar ya.." jawab Mala sembari masuk kesalam rumah, mencari benda yang diminta oleh Satria.
sekian menit kemudian, Mala muncul membawa benda yang diminta Satria. Mala menghampiri Satria dan memberikan semuanya.
Satria meraihnya, lalu membaca Ta'awudz "a'uzubillahhiminassyaithannirazim.." ucapnya sembari menebas habis tunas pisang tersebut.
Lalu Ia mengambil sebuah cangkul yang tergelatak begitu saja didekat dengan calon pondasi yang akan digali.
Satria mulai menggali setiap bonggol pisang tersebut, hingga tak bersisa, yang bertujuan agar tidak ada lagi tunas yang baru.
"bu.. Ibu punya cairan disenfektan? Atau pemutih pakaian?" tanya Satria lembut kepada Mala.
"Ada.. Buat apa..?"
"dimana ibu simpan? Biar Satria ambil. Untuk membunuh calon tunas pohon pisang ini." jawab Satria.
"coba biar Ibu ambilkan." ucap Mala sembari berlalu, masuk kerumah untuk mencari disinfektan.
Setelah mendapatkan benda yang dicarinya, Mala kembali menghampiri Satria. "ini Nak, pemutih pakaiannya." ucap Mala, sembari mengulurkan satu botol pemutih pakaian kepada Satria.
__ADS_1
Satria menyambutnya, lalu membuat lubang kecil ditengah tutupnya dengan bantuan sebuah paku yang dibakarnya menggunakan pemantik api. Setelah cukup panas, menusukkan paku tersebut ketutup botol.
Setelah itu, Satria menyemprotkan seluruh area tempat bonggol pisang yang sudah dicangkul olehnya, dengan bertujuan tidak akan ada lagi tunas batu uang tumbuh.
Setelah itu, Satria mengumpulkan ranting-ranting kecil dan meletakkan ditempat bekas rumpun pisang, lalu membuat perapian, sembari menaburkan garam kasar.
"Hai penghuni alahm ghaib yang ada disini, pergilah, aku ingin menjadikan tempat ini sebagai tempat tinggalku, maka, carilah tempat tinggalmu yang baru, jauh dari tempat ini. Kuhadiakan suratul fatiha kepadamu, dan terimalah.. Al fatiha.." lalu Satria melafalkan suratul fatiha yang Ia hadiakan kepada makhluk ghaib tersebut, dengan tujuan mengusir secara halus.
setelah selesai, Satria mengajak Mala untuk masuk kedalam rumah. "Ayo Bu masuk, hampir senja." ucap Satria dengan tenang.
Mala menganggukkannya. Lalu mengekori Satria.
Setelah sampai didalam rumah, Satria merasakan sesuatu yang lain, seperti ada yang menempel dipunggungnya. Sepertinya ada sosok makhluk tak kasat mata yang juga ikut mengekorinya.
Kemanapun Satria melangkah, rasa meremang itu seperti tetap ada. " Satria behenti didepan pintu kamarnya. "apa yang kau inginkan? Bukankah aku sudah memberimu hadiah dengan suratul fatiha? Lalu mengapa kau tetap mengekoriku?" Satria berguman dalam hatinya, yang tentu didrngar oleh Makhluk itu.
"pekerja itu telah merusak tempat tinggalku, bahkan aku akan menjadikannya tawanan, namun kai terlalu ikut campur dengan urusanku..!!" ucap Makhluk berbulu itu.
"Ini tanah milik ibuku, aku akan menjadikan tempat itu sebagai garasi mobilku, mengapa kamu sewot?!" balas Satria dengan sedikitgeram. Mereka bertengkar melalui percakapan ghaib.
Satria mendengauskan nafasnya kesal. Ia memasuki kamarnya, namun makhluk itu ikut menyelinap masuk kedalm kamar Satria.
melihat hal itu, Satria semakin geram."enyahlah iblis laknat..!! Atau aku akan mengusirmu dengan cara kasar?!" tanya Satria dengan tatapan geram. Makhluk itu menampakkan wujudnya. Mata merahnya dengan tubuh penuh bulu, aroma pandan wangi menyeruak keseruluruh ruangan kamarnya.
"Pergilah, atau aku akan membinasakanmu?!!" ancam Satria sekali lagi dengan tatapan tajamnya.
"aku akan pergi, tetapi dengan satu syarat..! Yaitu, aku akan membawa ibumu yang sangat cantik dan menggairahkan itu..! Bagaimana menurutmu? Apakah kaunsetuju?!" ucap Iblis tersebut.
Mendengar, kalimat itu, seketika darah Satria mendidih mendengarnya. "Dasar kau iblis laknat.!! Coba saja jika kau berani menyentuh ibuku, maka akan kupastikan kau hancur dan takkan kembali lagi." Ancam Satria dengan sangat geram.
Seketika Iblis itu tertawa, lalu menghilang. Satria mencoba mencari keberadaannya. Ia melihat dalam pandangan mata bathinnya, jika makhluk itu menuju rumah besar berlantai tiga yangbtak jauh dari rumahnya.
Dirumah itu, Satria juga melihat keberadaan Nini Maru yang sedang bergelantungan di sebuahbkipas angin yang melekat dilangit-langit sebuah ruangan yang tampak gelap.
"haah.. Apakah kedua iblis itu melakukan konspirasi untuk mengganggu keluarga ibu..? Papa sebenarnya yang terjadi dimasa lalu? Mengapa sampai kedua makhluk itu menaruh dendam kepada Ibu..?" Satria berguman lirih dalam hatinya.
__ADS_1
Sesaat itu, pandangannya tertuju pada kamar dilantai dua. Ia seperti melihat seirang pria tampan yang jika di taksir memeliki umur sebaya dengan ayahnya. Pria itu sedang berbaring disebuah ranjang, dengan posisi terlentang. Sepertinya pria itu sedang memiliki banyak permasalahan hidup.
"mengapa wajahnya seperti tidak asing bagiku? Sepertinya aku mengenalnya, tetapi siapa?" Satria mencoba mengingatnya, namun belum dapat dijangkaunya. Karena saat ini fikirannya sedang kalut memukirkan kondisi ibunya.
Satria tidak dapat membayangkan jika sampai Hadi yang harus menghadapi hal ini, mungkin saja adiknya itu akan kebingungan. Terlalu banyak yang harus dijaganya, dan semua dalam ancaman makhluk iblis laknatullah.
Pandangan bathin Satria keluar dari rumah tersebut. "bukankah ini rumah yang tidak jauh dari puskesmas.? sepertinya ada misteri tersembunyi dirumah itu." Satria memandangi rumah tersebut, yang kini telah diubah catnya menjadi lebih gelap.
"aku akan mencari tau besok tentang rumah itu." Satria berguman lirih dalam hatinya. Lalu kembali membuka matanya, dan menyudahi perjalanan ghaibnya.
🐛🐛🐛👻👻👻🐛🐛🐛
Waktu menunjukkan pukul 8 malam.
Mala sedang membuat makan malam. Ia memasak didapur dengan menu seadanya. Mala membuat mie goreng seafood dengan.
dengan bahan udang, cumi, dan telur sebagai pekengkapnya, Mala mulai menumiskan bumbu yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai merah yang dihaluskan. Ditambah irisian daun seledri dan daun bawang, menambah harumnya bumbu tersebut.
Mala sedang asyik menumis cumi dan udang, lalu memasukkan bahan mie sebagai bahan terakhir, seketika Ia merasakan ada sesesok makhluk sengaja menyenggolnya, sehingga membuat belanga tempatnya memasak itu tertumpah.
Lalu...
Praaaaaaannk...
suara belanga itu jatuh kelantai dapur, dan beserakan beserta isinya. Mala terperangah.
"aaaaaaaaagh.." suara Mala tercekat ditenggorokannya, bahan masakan yang panas itu mengenai telapak kakinya. Rasa panas dan perih menghampirinya.
Satria yang mendengar benda jatuh dan suara jeritan Mala, Ibunya bergegas keluar.
saat sampai diambang pintu dapur, Ia terperanjatnmelihat Ibunya terduduk dilantai dapur sembari memegangi kakinya yang terluka.
"Ibu.." seru Satria, lalu menghampiri Mala, dan....
Bersambung..
__ADS_1
Mau subuhan dulu rek..