Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Misteri Bukket Lili Putih


__ADS_3

Semenjak peristiwa percobaan pesenggamaan terpaksaan yang akan dilakukan oleh makhluk berbulu genderuwo, Mala semakin merasakan hidupnya penuh dengan bayang-bayang ketakutan.


Pagi ini Ia dengan cepat membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Pekerjaan rumah tangga dibantu oleh satu orang asisiten rumah tangga.


Setelah selesai dengan sarapannya, Ia bergegas pergi kepemkaman Rony.


Ia berjalan dengan begitu amat santai dengan membawa sekantong kembang berbagai rupa dan potongan daun pandan serya sebotol air untuk menyirami makam tersebut.


Sesampainya dimakam, mentari bersinar dengan sangat terang, cahayanya berpendar menerpa wajah nan ayu rupawan. Pemilik bola mata indah itu tampak begitu sendu. Ada berbagai masalah yang ingin diluahkannya, namun tak tau harus kepada siapa Ia mencurahkan segala isi hatinya yang kini sedang berkecamuk.


Ia berjalan dengan sangat lambat kepemakaman Roni. Sesampainya dimakam itu, Ia melihat lagi bukket bunga lili yang masih tampak segar tergeletak diatas makam Roni.


Lalu Ia melongok kedalam kantong kresek yang dibawanya yang berisi berbagai kembang dari bunga-bunga yang ditanamnya diperkarangan rumahnya.


Lalu..


Buket bunga lili putih itu tentulah sangat mahal harganya. Dimana Mala melihat buket itu sepertinya setiap pagi dikirim oleh seseorang.


"Siapakah pengirim buket bunga lili ini..?Apakah ada seorang wanita lain yang menjadi simpanan Bang Roni semasa Ia hidup dan masih sehat..?" Mala terus bertanya-tanya dalam hatinya. Ia memandang sekitar area pemakaman, tak ada satupun sosok yang Ia temukan selain dirinya.


Ia merunduk dan berjongkok disisi makam Roni, lalu membacakan berbagai doa yang Ia hafiahkan kepada Dia sang kekasih hatinya. Lalu Ia menaburkan segala bunga berbagai rupa dan potongan daun pandan diatas makam Roni, Suaminya.


Saat Ia menyiramkan air tersebut, Ia merasakan sekelebatan bayangan seseorang yang berada dibelakangnya. Mala lalu menolehkan wajahnya kebelakang, namun tak ada sesiapapun disana.


Setelah selesai berziarah, Ia merasakan ada seseorang di balik pohon beringin itu. Ia merasa ingin melihatnya. Lalu Ia melangkah mendekati pohon beringin tersebut.


Mala menatap pohon beringin itu dengan tatapan sendu."Siapa gerangan yang berada disana..? " Mala berguman lirih dalam hatinya.


Mala melangkah dengan sangat hati-hati dan penuh penasaran. Saat ia akan mencapai pohon beringin itu, Ia dikejutkan oleh seekor biawak yang melintas sembari membawa seekor tikus dimulutnya dengan suara cicitan kesakitan dari tikus tersebut.


Mala mendenguskan nafasnya yang terkejut karena hewan carnivora tersebut. Lalu Ia menghentikan langkahnya dan memilih untuk pulang.

__ADS_1


Saat Mala berbalik dari pohon itu, Ia merasakan seseorang memperhatikannya dari balik pohon itu.


Lalu Ia kembali berbalik, dan melangkahkan kakinya untuk melihat siapa disana.


Saat Ia sampai disana, tak seorangpun Ia temukan. Disisi lain, seorang pria berpakaian serba hitam menyelinap dibalik semak. Hatinya penuh debaran karena takut tertangkap basah.


Mala menghela nafasnya dengan berat. Lalu Ia kembali pulang.


*************


Siang ini, Cuaca bersinar sangat terik mentari seolah memamerkan cahayanya yang sangat menyengat. Seluruh makhluk merasa sangat gerah, dan ingin sesuatu yang menyejukkan tenggorakannya.


Mala begitu amat penasaran dengan siapa dibalik pemberi buket bunga lili tersebut. Ia merencanakan sesuatu. Ia ingin mengungkap misteri tersebut.


Mala mempersiapkan segala sesuatunya, Lalu Ia kembali ke pemakaman. Sebelumnya Ia memesan sebuah camera sensor tanpa kabel yang dapat tersambung kecamera phonsel.


Mala memasang camera sensor yang berukuran sangat kecil itu di pohon beringin. Setelah selesai dengan rencananya Ia kembali kerumah dengan perasaan debaran yang sangat begitu terasa didadanya. Gemuruh didadanya bagaikan seseoramg yang ingin menangkap basah siapa pelakunya.


Siang berganti malam. Mala seakan gelisah menunggu pagi tiba. Ia seakan tak sabar untuk melihat apa yang terjadi dipemakaman.


Sensor infrared dimalam hari menambah kengerian yang begitu teramat dalam. Mala mencoba menutup matanya dengan sebelah tangannya, namun penasaran dengan apa yang terjadi disana.saat malam hari.


Tampak olehnya selintas sosok pocong berwajah hancur sedang melompat kearah camera tersebut. Mala berteriak ketakutan, lalu melemparkan phonselnya keranjang. Hatinya berdebar dengan sangat kencang. Nafasnya terdengar begitu menderu.


Lama mala terdiam dalam ketakutannya. Namun rasa penasaran membuatnya ingin kembali mengambil phonselnya dan kembali melihat apa yang terjadi.


Dengan sisa keberaniannya, Ia kembali melihat isi layar phonselnya. Tanpa diduga, Ia semakin gemetaran menatap layar phonsel tersebut. Segala bentuk makhluk astral berseliweran disana bak sedang berpesta pora.


Mala kembali bergidik dan melemparkan phonselnya keranjang. Ia seperti terserang tremor yang tak dapat dikendalikannya. Lalu Ia memutuskan untuk tidur.


Mala menarik selimutnya, berusaha untuk menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal bedcover. Ia sangat ingin membuang semua bayangan makhluk astral tersebut.

__ADS_1


Saat akan memejamkan matanya, Ia merasakan jika selimutnya ada seseorang yang sedang menariknya. Dengan perlahan, selimut itu semakin mendekati mata kakinya dan terjatuh kebawah ranjang.


Mala gemetaran, lalu berusaha melirik siapa yang menarik selimutnya. Namun tak ada sesiapapun.


Mala semakin takut namun juga penasaran. Ia melongok kebawah ranjang, menarik selimutnya yang terjatuh dilantai. Namun selimut itu seolah tak mampu ditariknya, karena sepertinya seseorang juga menahannya.


Mala semakin kuat menarik selimutnya, namun selimut itu juga semakin sulit ditariknya.


Seketika sosok bayangan putih muncul dihadapannya, sosok pocong yang tadi berada dicamera sensornya itu ternyata telah melipir kerumahnya. Dengan menggunakan mulutnya, Ia menarik selimut itu dengan tatapan seringai yang mengerikan.


Mata mala terbeliak melihat pemandangan sosok pocong tersebut.


"Aaaaaa..." Mala berteriak dan melepaskan pegangan selimut yang Ia tarik. Lalu Pocong terjungkal kebelakang karena Mala yang tiba-tiba melepaskan tarikan selimut itu.


Dengan bersusah payah pocong itu bangkit dari lantai, dan berusaha mengejar Mala yang mencoba kabur.


Mala berlari keluar kamar, dan menuju pintu utama. Ia berlari kejalanan berharap ada seseorang yang menolongnya, sedang malam ini sangat sepi karena malam sudah merangkak pukul 11 malam.


Ia melihat pocong itu melompat dengan sangat cepat, sekali lompatan mencapai 10 meter jaraknya.


Mala semakin gemetar dan ketakutan, lalu Ia berlari sekuat tenaga menghindari kejaran pocong tersebut.


Lalu..


Buuuuggh.. Aaaaakh..


Mala menabrak seseorang dihadapannya. Lalu Ia mencoba berlindung dibalik punggung seorang pria, yang Ia yakini orang yang sama saat menolongnya malam itu. Mala yang gemetara, memegang ujung kaos hitam uang dikenakan oleh pria tersebut.


Pocong itu berhenti tepat dihadapan Pria tersebut. Dengan senyum seringai, Ia menatap marah, lalu melompat menjauh dan pergi meninggalkan keduanya.


Mala mengatur nafasnya yang tersengal karena ketakutan. Setelah nafasnya kembali normal, Mala menatap pria itu. "Te..terimakasih..." ucap Mala tergagap karena ketakutan.

__ADS_1


"Ya.." jawab pria itu singkat.


Mala lalu melangkah kembali kerumahnya dengan terus ditatapi oleh pria itu, hingga memastikan Mala aman sampai dirumah, Ia pun kembali pulang.


__ADS_2