
"Pak Bayu, bagaimana jika kita langsung mencari dimana rumah dukun itu..?" Pinta Satria kepada Pak Bayu.
Bayu tampak diam sejenak. "baiklah.. Kapan Mas Satria akan melakukan perjalanan ini..?"pak Bayu balik bertanya.
"lebih cepat lebih baik.." jawab Satria dengan cepat.
"baiklah saya handle dulu pekerjaan diperusahaan, biar sekretaris yang mengurusnya. Setelah itu kita berangkat." Pak bayu memberikan pendapatnya.
"baiklah pak.. Saya tunggu.." ucap Satria dengan wajahbtak sabar.
Mereka mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan yang sangat melelahkan.
Hari mulai senja, jalanan tampak suram dan semakin meremang.
Kini mereka memasuki perkampungan yang sangat sepi dari rumah penduduk. Satria yang biasa tinggal diperkotaan, tentu merasakan hal yang sangat berbeda saat melihat pemandangan alam hutan liar.
Beberapa ekor kera sedang nangkring didahan pohon, berlompatan kesana kemari, dan terkadang berayun dari satu dahan ke dahan lainnya.
"gak pernah lihat kera ya Mas.." ucap pak Bayu kepada Satria. Ia melihat Satria begitu sangat senang melihat hewan itu bergelantungan dengan bebas.
Satria tersenyum mendengar penuturan pak Bayu. "Kalau binatang Kera ya baru kali ini, Pak. Tapi kalau yang mirip dengannya sudah pernah lihat, tetapi lebih besar." jawab Satria.
"ma..maksud Mas Satria apa..? orang hutan atau king kong gitu..?" Pak Bayu mengernyitkan keningnya, Ia seperti sangat penasaran.
Satria terkekeh melihat wajah pak Bayu yang tampak lucu saat penasaran.
"bukan pak, bahkan bukan keduanya.." jawab Satria yang membuat pak Bayu semakin penasaran.
Pak Bayu menoleh ke arah Satria. "ya jangan buat saya penasaran kenapa sih Mas.." ucap Bayu gemas, melihat Satria yang sengaja membuatnya semakin penasaran.
"kalau menurut bapak, yang mirip dengan itu, kira-kira apa..?" Satria malah bermain tebak-tebakkan kepada pak Bayu.
Pak Bayu semakin ngeblank untuk mencari jawabannya. "nyerah deh Mas, gak tau.. Sumpah..!!" jawab Pak Bayu serius.
Satria semakin semangat mengerjai pak Bayu, sehingga perjalanannya yang tadi membosankan berubah menjadi semangat.
"itu lho pak.. Genderuwo..!!" ucap Satria seenaknya.
chiiiiiiiiit..
deeeegh..
Pak Bayu mengerem mendadak dan jantungnya juga seakan berhenti berdetak .
Satria terguncang sampai hampir membentur kaca depan mobil, karena pak Bayu melakukan pengereman mendadak.
Pak Bayu terlihat gemetar dan wajahnya pucat. "Mas Satria ya jangan bercanda begitulah Mas. Apalagi ini sudah senja, dan kita masih dijalanan sepi." Pak bayu berkata dengan nada gemetaran. Ternyata Ia begitu sangat ketakutan dengan lelucon yang diberikan oleh Satria.
Lalu pak Bayu kembali menyetir dengan perasaan yang sudah mulai tidak nyaman. Ia merasakan bahwa hawa negatif sedang berada disekitarnya.
Sedangkan Satria merasa tidak sedang bercanda, karena Ia memang pernah melihatnya, saat makhluk itu bercinta dengan Rianti.
Tetapi melihat wajah Pak Bayu yang pucat pasi, membuatnya tak tega.
"maaf pak, jika bercanda saya keterlaluan." ucap Satria. Ia merasa bersalah karena telah membuat pak Bayu ketakutan.
"Iya Mas.. Gak apa-apa.. Tapi jangan disebut-sebut barang begituan, dia bisa muncul kapanpun saat kita membicarakannya." pak Bayu mencoba mengingatkan.
"Masa sih pak, disebut-sebut saja langsung nongol..?" Satria jadi penasaran.
deeeegh...
Pak Bayu melihat seseorang melintas dengan sangat lambat.
Ia menajamkan penerangan mobilnya. "Mas..coba lihat yang didepan.. Sepertinya ada yang tidak beres.." Pak Bayu mulai keringat dingin.
__ADS_1
Satria memandang kearah tempat mata Pak Bayu yang sedang ketakutan.
Benar saja, Sesosok makhluk berbulu sedang berjalan sangat lamban. Ia merundukkan kepalanya.
"coba klakson pak.." pinta Satria.
Tiiiin..tiiinnnn..
Pak Bayu mencoba mengikuti Saran Satria.
Makhluk jenis genderuwo itu menoleh kearah mereka. Sontak pak Bayu langsung terpekik, Ia memeluk Satria dengan erat. Ia meracau tak jelas karena ketakutan.
"Mas...mas.. Beneran kan setannya muncul. Sudah saya bilang jangan disebut-sebut.." pak Bayu gemetaran, sembari menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Satria.
Satria mencoba menenangkan pak Bayu. "tenanglah pak, jangan panik. Kita makhluk yang lebih mulia dari mereka." Satria mencoba memberikan suntikan kata pamungkasnya.
Satria melihat ke arah depan, namun genderuwo itu tidak tampak lagi. "dimana dia..? Mengapa tiba-tiba saja menghilang?" Satria mengedarkan pandangannya.
Seketika Ia merasakan jika makhluk itu berada dibelakang kemudi. Ia dapat merasakan kehadirannya hanya dengan merasakan bagian punggungnya seperti terasa ada yang menempel.
Jika Ia gegabah, maka pak Bayu akan semakin ketakutan.
Satria mencoba melirik dari dashboard kaca mobil. Makhluk itu duduk di jok tengah. "ya Salam.. Beneran dia disitu..?!" ucap Satria dengan kesal.
"Satria memejamkan matanya, mencoba berkomunikasi dengan makhluk itu.."pergilah, aku tidak berniat menganggumu.." satria berguman lirih, lalu membaca surah fatiha sebagai salam perkenalan.
Dengan menggeram, makhluk, itu akhirnya pergi.
Satria mengguncang pak Bayu. "pak.. Pak.. Kita lanjutkan perjalanan kita. Makhluk itu sudah tidak ada.." Satria mencoba memberitahu.
"beneran Mas..? Gak bohong ucap pak Bayu ketakukutan.
"beneran, gak bohong, coba bapak buka mata bapak, dan lihat kedepan.. Ucap Satria menegaskan.
Akhirnya pak Bayu membuka matanya. Mencoba memandang kedepan.
"sudah aman pak.. Mari kita lanjutkan perjalanan menuju rumah dukun itu.
Pak bayu mengangguk menyetujui.
Mereka sampai disebuah perkampungan yang masih sangat jauh dari kata maju. Perkampungan yang hanya ada beberapa kepala keluarga saja.
Namun yang mengherankan, hanya sebuah rumah yang tampak terang, dengan penerangan seadanya. Sedangkan rumah yang lainnya tampak gelap.
Sesampainya mereka dikampung itu, hari sudah gelap. "yang mana rumahnya pak..?" ucap Satria penasaran dan tak sabar.
"kalau tidak salah yang berbilik anyaman bambu itu Mas." ucap Pa Bayu dengan yakin.
"kita kesana.." ucap Satroa, lalu turun dari mobilnya.
Rumah itu tampak reot. "mengapa rumahnya sangat memprihatinkan? Bukankah Ia sering mendapatkan harga penawaran tinggi dalam setiap pasien yang datang meminta pertolongannya" Satria berguman lirih dalam hatinya..
Tok..tok..tok..
Pak Bayu mengetuk pintu rumah yang sudah tampak rapuh.
"permisi.. Apa ada orang didalam?" ucap pak Bayu dengan sopan.
Sepasang langkah kaki yang sangat lemah, terdengar melangkah kearah pintu.
Kreeeeeeeek..
Terdengar suara pintu dibuka. Seorang wanita sepuh yang sudah terlihat sangat lemah membukakan pintu rumahnya.
Ditangannya terdapat sebuah lampu pelita yang berbahan minyak tanah. Pelita itu terbuat dari kaleng bekas susu. Asap hitam tampak mengepul dengan menyisakan polusi karbonmonoksida dari proses pembakaran sumbu tersebut.
__ADS_1
"mencari siapa ya nak bagus..?" ucapnya lemah.
"maaf mbah, kami mencari ki Kliwon ada..?" jawab Pak Bayu sopan.
wanita sepuh itu memandangi tamunya dengan seksama.
"mari, silahkan masuk." Ia mempersilahkan tamunya masuk.
Satria dan Pak Bayu memasuki rumah yang sangat tidak layak huni. Dimana atap rumahnya sudah banyak yang bocor, bahkan sebagian dinding rumahnya juga ada yang berlubang karena proses pelapukan.
Lantai rumahnya yang terbuat dari semen kasar, banyak sudah pecah dan membentuk lubang. Debu terlihat sangat tebal disetiap dinding rumah dan perabotan.
"dimana ki kliwonnya mbah..?" tanya pak Bayu dengan sangat hati-hati..
"ada.. Apa mau bertemu sekarang..?" ucap Wanita sepuh itu.
"iya mbah, sekarang juga boleh." jawab pak Bayu.
"ikuti saya." ucapnya dengan suara yang sangat lemah.
Satria dan Pak Bayu mengikuti langkah lamban wanita sepuh itu.
Ia menyingkap sebuah kain yang sudah usang. Kain itu digunakan sebagai penutup pintu menuju sebuah ruangan.
saat memasuki ruangan itu, Satria dan pak Bayu dikejutkan oleh pemandangan.yang sangat menakutkan.
"hhaaah..!!" teriak keduanya.
Pak Bayu sampai terlonjak karena kaget. latahnya kembali kumat. Ia memegangi lengan Satria dan menyembunyikan wajahnya di pundak Satria.
"ya Ampun Mas Satria, ini apalagi sih..? Perasaan waktu saya kemari bersama pak Bram dan nyonya tidak ada menemukan hal-hal aneh seperti ini." ucap Pak Bayu dengan nada bergetar.
Tampak didepan mereka, seorang pria yang sudah sangat sepuh, terbaring dengan lemah disebuah lantai beralaskan tikar pandan dan kasur yang sudah sangat tipis dan berbau tak sedap.
Pak Bayu sampai menutup hidungnya karena tidak tahan dengan baunya.
Satria merasakan sesak yang sangat luar biasa karena menghirup aroma yang dihasilkan dari perpaduan antara kasur yang sudah sangat lembab dan aroma tubuh pria sepuh yang sudah tidak berdaya lagi.
tubuhnya terbaring lemah, dengan menyisakan kulit sebagai pembalut tulang yang sangat keriput.
"apa yang terjadi pada ki kliwon mbah..?" ucap Satria dengan hati-hati.
"Ia mendapatkan serangan ghaib dari seseorang yang memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi dari seseorang." wanita sepuh itu menggantung ucapannya.
"Malam setelalah Ia melakukan 'Pujon', saat 21 tahun yang lalu, Ia langsung mengalami kelumpuhan. Sepertinya Ia sedang dipergoki oleh seseorang yang tidak terima dengan apa yang dilakukan ki kliwon."
"sepertinya salah satu keluarga dari wanita korban yang dilakukan ' Pujon'." Wanita sepuh itu mengakhiri kisah ki Kliwon.
"dan ki Kliwon juga memiliki ilmu keabadian, sehingga Ia sulit untuk meninggal, sebelum ilmunya itu diturunkan kepada generasinya,. Sedangkan keturunan saya sudah meninggal terlebih dahulu dari kami." wanita sepuh itu menuturkan kisah kehidupan mereka.
Satria dan pak Bayu saling pandang.
"berarti benar jika mbah Kliwon melakukan Pujon terhadap ibu kandungku.?! ya Rabb.. Berilah petunjuk-Mu padaku." Satria berguman lirih dalam hatinya.
"apakah si mbah tau dimana alamat wanita korban 'Pujon' ki Kliwon..?" tanya Satria dengan penuh harapan.
Wanita sepuh itu menggelengkan kepalanya. "hanya ki Kliwon yang tau.. Dan seorang wanita bernama Rianti." jawab wanita sepuh itu.
Satria melenguh lemah. hatinya hampir patah untuk menemukan ibu kandungnya.
Menanyai ki Kliwon tentu sudah tidak mungkin lagi, karena ki Kliwon sudah seperti mayat hidup.
Satria hanya mendapatkan harapan hampa.
.
~buat pembaca, pernah gak merasakan, saat berbincang menyebut suatu makhluk halus, tiba-tiba merasakan merinding..? Kalau author karena terlalu berimajinasi membayangkan sosoknya terkadang dapat merinding sendiri.~
__ADS_1