Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Berselisih Arah


__ADS_3

"silahkan, lakukan pengetesan darah anda sekarang. dan saya berharap darah anda sama dengan pasien tersebut. karena golongan darah pasien tergolong langka" ucap sang dokter.


Satria bergegas keruangan hematologi untuk melakukan pengetesan.


setelah mengetahui hasilnya, dokter menyatakan jika golongan darah mereka sama. sesuai prosedur, kondisi tubuh Satria yang sehat, meski babak belur, namun Ia dinyatakan dapat menjadi pendonor.


Satria merasa senang bercampur heran. karena golongan darah AB- adalah golongan darah paling langka. dimana hanya 1% saja orang yang memiliki golongan darah ini. jika Satria dan Hadi memiliki golongan darah yang sama, maka bukanlah hal yang hanya kebetulan saja.


lalu diadakan pengambilan darah untuk menjadi pendonor.


namun, Hadi yang banyak mengeluarkan darah, membutuhkan banyak darah.dan Hadi masih membutuhkan satu kantong darah lagi untuk pasca operasi.


Dokter meminta Satria untuk menghubungi keluarga Hadi yang lain. saat itu Shinta fatang menghampirinya gadis cantik yang menjadi bulan-bulanan Rey dan anak buahnya.


meski merasa malu karena auratnya telah terexpose, Ia memberanikan diri untuk mendekati Satria Ia melihat jika Satria sepertinya begitu peduli dengan Hadi.


"tenanglah..aku sudah menghubungi keluarganya. aku meminta bantuan papa untuk menjemput mereka menggunakan jet pribadi, agar segera sampai kemari tepat waktu." ucap Shinta, tanpa berani menatap wajah Satria.


"terimakasih, atas semua pertolonganmu.. suatu saat nanti, aku akan membalasnya" ucap Satria tulus meski tanpa melihat wajah Shinta.


[kriiiiiing ..] suara telefon berdering.


"Hallo sayang...tolong jemput mama saya di bandara, pak Seno gak bisa jemput, katanya mobil lagi dibengkel, terkena banjir yang melanda kota." ucap Jayanti dari seberang telefon.


"ma..mama sudah pulang dari Osaka..?" ucap Satria, antara senang dan sedih. karena harus meninggalkan Hadi yang akan melakukan operasi.


Hati Satria merasa bimbang, disatu sisi perintah mamanya, disisi lain Ia tidak ingin meninggalkan Hadi. hatinya begitu berat, jika dapat memilih, Ia akan memilih untuk menemani Hadi. namun Ia tidak ingin di cap anak durhaka.


"Pergilah..aku akan menjaga Hadi, untukmu.." ucap Shinta sembari memegang pundak Satria, dengan tatapan tulus.


Satria menoleh kearah Shinta. "terimakasih atas segalanya, aku titip Hadi ya..?" ucap Satria tanpa ekspresi, sembari beranjak pergi.


*****


Satria menyusuri koridor rumah sakit. Ia berjalan tergesah-gesah, karena Jayanti sudah mengomel diseberang telefon.


saat itu tanpa sengaja Ia menabrak seorang wanita yang menggunakan hijab lebar. gadget milik Satria terlempar dilantai. Ia memungut gadgetnya. saat itu wanita yang menabraknya seperti terisak dan terlihat begitu terburu-buru.


saat Satria ingin melihat pemilik isakan itu, Tubuh wanita yang Ia tabrak sudah menghilang di balik dinding pembatas koridor yang membentuk simpang.


[Seeeeer..] darah Satria berdesir.. Ia merasakan sesuatu.. entah perasaan apa.


"Isakan itu..sepertinya aku mengenalinya." ucap Satria. Ia berniat mengejar wanita itu, namun gadgetnya kembali berdering. Jayanti sudah berulang kali menelefonnya.


"iya Ma..Satria masih dijalan, terjebak macet.." Satria berbohong, lalu segera menuju parkiran dan melajukan mobilnya menuju Bandara.

__ADS_1


****


Mala bersama Roni menemui bagian Administrasi, menanyakan nama pasien yang akan melakukan operasi.


setelah mendapatkan informasi dari bagian administrasi, Mala dan Roni segera bergegas menuju ruangan operasi.


didepan ruangan, Mala bertemu dengan Shinta, yang sedari tadi telah menunggu disana.


"apakah ibu ini orangtuanya Hadi..?" ucap Shinta sopan.


"Iya.. kamu siapa..?" ucap Mala dengan suara bergetar, karena terisak sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


"Saya teman kampusnya Hadi bu.." ucap Shinta ramah, sembari mengulurkan tangannya kepada Mala dan Roni.


belum sempat mereka mengobrol lama, seorang perawat datang memberitahu jika Mala dan Roni harus melakukan tes darah.


"Permisi dulu ya Nak.." ibu Mau melakukan tes darah dulu." ucap Mala, dengan mata yang sembab.


"Iya bu.. silahkan.." jawab Shinta sopan.


Mala dan Roni segera melakukan tes darah.


setelah melalui pemeriksaan, hanya darah Mala yang sesuai dengan Hadi. maka Mala boleh mendonorkan darahnya untuk Hadi.


****


sesampainya dibandara Ia menemui Jayanti yang sudah lama menunggu. "maafin Satria ma, tadi Satria bantuin temen yang kecelakaan, dan bawa kerumah sakit." ucapnya berbohong tentang perkelahiannya.


"temen kamu yang mana..?" ucap Jayanti sembari berjalan menuju mobil.


"temen yang menginap dirumah kita." ucap Satria.


"kecelakaan karena apa..?" cecar Jayanti.


"eeemmm..kpeleset ma..trus pingsan." ucapnya berbohong.


saat akan memasuki mobil, Jayanti tanpa sengaja melihat wajah Satria yang penuh luka lebam. Ia memegang wajah Satria. "kamu kenapa sayang..? ini wajah kamu kenapa lebam semua..?" cecar Jayanti dengan penuh kekhawatiran.


"gak apa-apa ma.. " ucap Satria tenang.


"gak apa-apa gimana..? awas kamu ya kalau ikut tawuran..!" ucap Jayanti dengan penuh tekanan disetiap katanya.


"sudah yuuk.. Mama mau pulang atau gak ne.." ucap Satria bersikap sok manis. padahal selama ini Ia jarang bicara dengan mamanya.


Satria membawa Jayanti pulang kerumah. "papa mengapa gak ikut balik ma..?" ucap Satria memecah kebisuan.

__ADS_1


"masih ada yang harus ditanda tangani. kakekmu kirim salam sama kamu.." ucap Jayanti dengan datar. sepertinya Ia sedang lelah.


****


Satria memasuki kamarnya. Ia mengkhawatirkan kondisi Hadi. Ia ingin menghubungi Shinta, namun Ia sendiri tidak memiliki nomor gadis itu.


Ia berulang kali menghubungi nomor Hadi, namun tidak aktif. mungkin battreinya lowbet.


"aku harus menjenguk Hadi sekarang, aku ingin tau kondisinya saat ini." ucap Satria dengan panik.


Ia terburu-buru menuruni anak tangga, Jayanti sedang bertelefon dengan seseorang. saat melihat Satria, Ia menghentikan telefonnya. "Sayang...kamu mau kemana?" ucap Jayanti.


"mau kerumah sakit Ma..mau jenguk Hadi, teman Satria." ucap Satria.


"sayang..tadi pak Bayu nelfon, kalau pengiriman barang kekapal harus dilakukan sekarang."


"papa kamu belum bisa balik dalam seminggu ini. jadi tolong bantuin Mama handle pekerjaan Papa ya..?" ucap Jayanti dengan wajah memelas.


"Tapi Ma.." ucap Satria lemah.


"Please...Help Mom.." ucap Jayanti dengan wajah menghiba


"baiklah Ma.." ucap Satria mengalah.


Jayanti mengambil flashdisk yang berada didalam tasnya. "ini..disini semua file tentang barang yang akan dikirim. kamu buka dan pelajari nanti ya...?" Ucap Jayanti, sembari memberikan flashdisknya.


***


Satria telah sampai diruangan kerja papanya. Ia membuka setiap file yang tersimpan. Ia mulai mempelajari setiap perinciannya.


setiap satu bab nya, Ia mengirimkannya hasilnya kepada pak Bayu.


sebuah file menjadi perhatiannya. dengan rasa penasaran, Ia membukanya. terlihat sebuah Vedeo. Satria menontonnya.


Ia membelalakkan matanya, Ia melihat didalam vedeo tersebut, dimana proses Jayanti saat melahirkannya. tertulis disana tentang waktu pembuatan vedeonya. ada rasa haru. namun entah mengapa hatinya tidak begitu tersentuh.


Satria teringat akan suara isakan wanita berhijab yang Ia tabrak tadi, saat dikoridor rumah sakit.


"suara itu..aku seperti pernah mendengarnya." ucap Satria lirih. ada getaran yang sangat kuat, saat Satria tanpa sengaja menyentuh tubuh itu.


"besok aku akan menjenguk Hadi, mudah-mudahan orangtuanya sudah sampai."


"Ya Rabb..jaga Hadi..lancarkanlah operasinya."


"Aamiin.." Satria mengakhiri doanya.

__ADS_1


Satria kembali menganalisis file milik ayahnya. Ia bekerja keras mempelajarinya, agar esok dapat menjenguk Hadi.


__ADS_2