
Yusuf yang tak kuasa menahan kesedihannya, menagis sesenggukan sembari mendekap tubuh Maryam yang sudah tak lagi bernyawa.
"Mengapa bisa sampai kecolongan..? Bukankah Yusuf sendiri tidak tidur dannterus terjaga..?" suara bisik-bisik dari para tetangga yang sama sekali tidak menyangka akan kehilangan salah satu warganyanya yang sedang mengandung dalam waktu yang begitu singkat.
"Desa kita sudah tidak aman lagi. Ini harus segera dicari solusinya, kita harus meningkatkan ronda dikampung ini untuk mencegah kejadian serupa terulang lagi." Budi menimpali ucapan warganya.
lalu Amran mencoba berfikir sejenak, "Fardhu kifayahnya kita selesaikan sekarang juga.." ujar Amran mengingatkan.
Sesaat Yusuf tersentak. "Tidak.. Saya tidak mau.. Biarkan saya bersama istri saya sampai esok pagi.." ucap Yusuf menyela dengan nada penolakan.
Amran menatap dengan penuh kecemasan.."Tetapi kasihan jasad istrimu, Ia akan merasa tersiksa jika diperlama.." jawab pria paruh baya itu mengingatkan.
Yusuf masih tetap dengan pendiriannya."Aku tidak mau..! esok pagi saja selesaikan fardhu kifayahnya.." jawab Yusuf dengan berang.
Warga tak dapat berbuat apapun. Lalu mereka satu persatu meninggalkan rumah Yusuf yang kini sedang dalam kondisi tidak labil.
"Bagaimana ini Pak Budi..? Apakah kita meninggalkan Yususf seorang diri dirumahnya..? Sedangkan dia dalam kondisi yang tidak labil.." ujar Paijo kepada Pak RT tersebut.
Pak Budi mencoba berfikir untuk mencarikan solusi bagi Yusuf, yang terus ingin menunggui jasad istrinya.
"Sebaiknya mas Paijo dan mas Bimo berjaga disini saja dulu, dan untuk mengantisipasi hal-hal lain yang tidak diinginkan." jawab Pak Budi dengan tegas.
"Baiklah, Pak.. Kami akan berjaga disini.." jawab keduanya dengan patuh.
Lalu sebagian warga mulai berpamitan pulang, karena hari semakin larut dan malam.
Paijo dan Bimo memilih untuk berjaga diteras rumah yusuf. Bimo merasakan kantuk mulai menyerangnya, Ia menangkupkan sarungnya dan bergulung didalamnya. Ia berulang kali menguap dan matanya mulai tak mampu diajak kompromi lagi.
"Dingin banget ya Mas Paijo.., "Ucap Bimo, sembari mengatupkan kedua lututnya, lalu menopangkan dagu diatas kedua lututnya.
Tak lama kemuduan, Ia pun mulai tertidur lelap. Paijo yang melihat sahabatnya sudah terlelap hanya dapat menggelengkan kepalanya.."Ya salam.. Katanya mau berjaga malam, tapi belum lagi tengah malam sudah molor.. Dasar mah Bimo.." ujar Paijo dengan ngedumel.
Akhirnya Paijo harus rela berjaga malam sendirian, diselimuti dinginnya angin malam dan kesunyian.
__ADS_1
Sesaat Ia mendengar suara rintihan Yusuf yang terus merintih menangisi jasad sang istri. sepertinya pria itu belum mengikhlaskan kepergian sang istri yang meninggal secara mendadak.
"Dasar kuntilanak sialan..! Bisa-bisanya Ia meneror warga desa dengan memakan para janin.." Paijo menggerutu dengan kesal.
Bersamaan dengan itu, Paijo mencium aroma kembang kenanga yang sangat harum menyeruak disekitar teras. Paijo menyapu tengkuknya yang tiba-tiba meremang.
"Mengapa aku jadi merinding sih..? Mana sendirian lagi.. Si Bimo juga molor." Paijo mulai merasa tak nyaman.
Suara Yususf juga sudah tidak terdengar lagi. Sepertinya Ia sudah tertidur karena kelelahan menangis.
Paijo merasakan sesuatu yang sedang tidak baik sedang terjadi. firasatnya mengatakan Ia harus melihat kondisi Yusuf.
Namun langkahnya seperti berat, Ia seperti terkena pukau, ingin bergerak namun tak dapat digerakkan seperti ada yang menahan kakinya.
Paijo terus berperang pada hatinya, mencoba melawan sesuatu yang menghalangi langkahnya, hingga akhirnya kesadarannya terkumpul, Ia memaksa masuk kedalam rumah, lalu mengecek kondisi Yusuf tak lagi terdengar suara tangisannya.
Saat melongok kedalam kamar, alangkah terkejutnya Paijo, saat melihat kuntilanak itu kembali berada didalam kamar, dan Yusuf tidak menyadarinya karena tertidur.
Kuntilanak itu menghisap darah yang masih merembes dari sisa pendarahan saat keguguran. Dan Iblis betina itu menyeruput darah itu dengan sangat rakus dari liang milik Maryam.
Paijo ingin berteriak sekuatnya, namun suaranya tercekat ditenggorokannya. Tubuhnya seolah terpaku diam tak bergeming. Pria paruh baya itu gemetaran, tak mampu dengan apa yang disaksikannya.
Setelah menyelesaikan aksinya, Iblis itu kembali pergi melalui ventilasi udara yang sedikit lebar dari dinding kamar tersebut.
Setelah kepergian kuntilanak tersebut, tubuh Paijo seketika melunglai kelantai. Ia seperti orang linglung yang tak mampu mengatakan apapun.
srmentara itu, Bimo mengerjapkan matanya, Ia merasa terganganggu karena gigitan seekor nyamuk dipipinya.
Saat menepuk serangga penghisap darah tersebut, Ia ikut terbangun karena kaget dengan tepukan tangannya sendiri.
Saat Ia membuka matanya, Ia melihat Paijo tak lagi bersamanya. "Kemana mas Paijo..? Apakah dia pulang diam-diam saat aku ketiduran..?" Ucap Bimo, sembari mengusap-usap kedua matanya dengan punggung jemari telunjuk dan jari tengahnya.
Ia beranjak bangkit, lalu mencoba memeriksa kedalam rumah Yusuf yang tampak sepi dan lengang.
__ADS_1
Saat Ia berada diambang pintu, Ia melihat Paijo yang terkapar dilantai dengan mata terbuka, namun dengan pandangan kosong.
Seketika Bimo tersentak dan membulatkan kedua bola matanya, lalu berlari menghampiri Paino dan segera memangku kepala sahabatnya itu.
"Mas.. Mas.. Mas. Paijo.. sadar Mas..!" ucap Bimo sembari menepuk-nepuk pipi Paijo.
Setelah cukup lama, akhirnya usahanya berhasil juga. Paijo mulai tersadar secara perlahan. Saat Ia mulai sadar, nafasnya memburu dan tidak terkontrol.
Bimo kembali menyadarkan Paijo.."Mas.. Sadarlah.. Ini aku Bimo..!" ucap Bimo dengan nada keras.
Seketika Paijo milai mengatur nafasnya.."Astaghfirullahaladzim.." ucap Paijo yang mulai terkontrol kesadarannya.
Perlahan Ia bangkit dan hendak duduk, lalu Bimo membantunya untuk duduk dengan benar.
"Kamu kenapa bisa terkapar dilantai Mas..?" tanya Bimo penasaran, saat melihat Paijo sudah mulai penuh kesadarannya.
Paijo seketika melirik kearah jenazah Maryam yang sedang dipangku oleh Yusuf dalam kondisi tertidur.
"Kuntilanak itu datang lagi.. Ia menghisab darah sisa keguguran Maryam.." jawab Paijo sembari bergidik, dan merinding mengenang kejadian yang baru saja dilihatnya.
"Haaah..?!" Bimo terkejut mendengar penuturan dari Paijo.
Ia tak habis fikir, mengapa Kuntilanak itu begitu sangat rakusnya, dan seperti tidak merasa puas untuk terus menggerus mangsanya.
"Apakah ada orang yang memelihara pesugihan dikampung kita ini Mas..? Atau bisa jadi itu jin peliharaan yang sudah tidak diurus lagi.." Bimo mulai menerka-nerka.
"Bisa jadi.. Bukankah dulu almarhum Pamanmu si Mbah Karso pernah terdengar memeliharanya..? Namun semenjak berbesan dengan Syech Maulana Ia bertaubat. " Paijo mencoba mengulik kisah almarhum ayah Mala.
"Mungkin saja mas.. Mana tau dia dendam karena dibuang dan melampiaskannya dengan meneror warga kampung." Bimo mencoba membenarkan analisa Paijo.
Lalu keduanya memandang jasad Maryam yang terbujur kaku diatas pembaringan.
"Kasihan sekali dia, masih muda sudah harus secepat itu pergi." ucap Paijo dengan lirih.
__ADS_1
"Ya.. Kita harus segera mencari solusi untuk memusnahkan kuntilanak itu.." Bimo menimpali.
Lalu, terdengar suara dentuman keras diatas atap seng rumah Yusuf bersamaan dengan ucapan Bimo barusan, sehingga membuat kedua peronda itu saling pandang dan terdiam.