
Widuri terbang menuju Goa, hari telah merangkak senja, dah waktu maghrib hampir tiba.
Peri itu mendapati Satria telah bersiap hendak shalat maghrib, kondisi goa semakin gelap karena tidak adanya pencahayaan.
Widuri lalu memberikan penerangan berupa suluh bambu melalui sihirnya. Seketika suasana yang semula gelap berubah menjadi terang.
Satria menyadari kehadiran sang Peri. "Dari mana sajakah kamu..? Mengapa begini hari baru kembali..?" tanya Satria dengan penuh selidik.
Widuri mendarat ringan disisi Satria, dan menjaga jarak agar tak bersentuhan dengan sang pemuda.
"Menemui seseorang.." jawab Widuri santai.
Satria mengernyitkan keningnya.."Siapa..?" cecar Satria dengan penasaran.
Widuri tersenyum. "Hemmm.. Ada deh.." jawab Widuri, lalu terbang menjauh dari sisi Satria.
Melihat Sang Peri menjauhinya, Pemuda itu hanya dapat pasrah saja. Ingin Ia mengorek keterangan dari Sang Peri, namun waktu maghrib telah tiba, dan Ia harus melaksanakan kewajibannya.
Setelah melaksanakan kewajibannya, kini Satria kembali menatap dinding goa yang bertuliskan rafal mantra ajian segoro geni. Ia terus bersemangat dan sedikit lagi sudah menghafalnya dengan penuh.
Setelah berulang-berulang, maka akhirnya Satria dapat menghafalnya.
Suasana malam di dalam goa, sangat dingin dan juga lembab. Rasa dinginnya menusuk hingga ketulang.
Satria mulai diserang rasa kantuk, namun rasa dingin membuatnya sulit untuk tidur. Widuri yqng melihat kegelisahan sang Pemuda, tanpa menunggu lama lalu menciptakan api unggun yang memberikan kehangatan didalam ruangan goa tersebut.
Satria menatapnya, lalu tersenyum manis, pertanda ucapan terima kasih. lalu Ia mencari posisi enak dan tertidur.
__ADS_1
Sementara itu, Widuri terus mengawasinya dan memastikan tidak ada gangguan apapun selama Satria akan menjalani misi tirakatnya. Dimana jika saja sampai puasanya batal dalam dipertengahan jalan, maka Ia dianggap gagal dan harus mengulangi puasanya dari awal.
Sementara itu, Satria yang terlelap dalam tidurnya, seakan berjalan disebuah kesebuah bukit yang tinggi. Diatas bukit itu terdengar suara rintihan-rintihan yang menyayat pilu.
Satria mencoba menyusuri suara rintihan tersebut, dan berusaha untuk menemukannya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok Nimi Maru yang menatap tajam padanya dengan seringai taring disudut bibirnya.
Iblis betina tampak memegang janin dan sedang menikmatinya, kedua bola matanya memerah dan memancarkan aura dendam dan kemarahan.
Iblis betina itu tampak mencabik-cabik daging sang janin, seolah ingin melampiaskan kemarahannya dan keksalannya.
Satria menatapnya kembali dengan tatapan yang tajam dan penuh amarah, namun rasa jijik saat melihat Nini Maru mencabik janin itu membuatnya semakin kuat ingin menghancurkan sang Iblis. Ia merasakan jika Iblis itu sangatlah kejam dan tidak memiliki rasa iba sedikitpun didunia perdemitan.
tanpa diduga, Nini Maru menyerangnya tanpa aba-aba dan membuat Satria tak sempat menghindarinya, namun belum sempat jemari keriput dengan kukunya yang runcing itu menggores kulit Satria, Sesosok kelebatan bayangan berwarna jingga memberikan benteng kepadanya untuk menjadi tameng dalam melindungi pemyda tersebut, lalu membawanya pergi menjauh menghindari Nini Maru.
Satria tersentak dari tidurnya, Ia melihat kesekeliling goq yang tampak lengaang. Ia mengusap wajahnya, Ia menyadari jika ini hanyalah sebuah mimpi belaka. Lalu Ia mencari keberadaan Widuri yang tidak terlihat disisinya.
Sesaat ekor matanya memandang kesudut ruangan mengarah kelorong pemandian kola. Satria menyusuri lorong yang menuju kolam tersebut.
Seketika Satria memalingkan wajahnya, bergegas menuju tempatnya beristirahat, tampak sebentar lagi waktu sahur akan tiba. Namun bayangan Widuri yang tak sengaja dilihatnya barusan telah merusak konsentrasinya.
Lalu seketika, rafal mantra itu menghilang dari ingatannya. Satria merasa kalut dengan apa yang dialaminya.
"Mengapa hafalanku hilang dengan tiba-tiba..?" Satria merasa kebingungan. Ia mencoba mengingatnya, dan kembali duduk menghadap dinding goa untuk kembali menghafal, namun sepertinya hafalan itu tidak mau lekat diingatannya, hambar begitu saja.
Satria mencoba meminta petunjuk atas apa yang telah berlaku padanya saat ini.
Tiba-tiba saja sebuah petunjuk kembali muncul didinding goa, dengan tulisan akasara Pallawa tersebut, dengan kata 'Sucikan'.
__ADS_1
Seketika Satria berusaha beristighfar dan berulang kali mencoba menenangkan dirinya. Ternyata Ia telah melakukan hal kekhilafan tidak mampu menjaga pandangan dan hasratnya dalam hal menghadapi wanita.
Saat bayangan tubuh polos Widuri yang tanpa sengaja dilihatnya dikolam renang tersebut muncul dibenaknya, Ia terus berusaha membuangnya, dan terus memohon ampunan agar diberikan kesempatan untuk kembali menghafal rafal mantra tersebut.
Saat bersamaan, Widuri datang dengan pesona keanggunan yang luar biasa. Bagaimana tidak seorang pria dapat menahan keelokan yang tersaji didepan matanya, dalam kondisi diruangan tertutup dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya tanpa sesiapa menghalanginya.
Widuri yang tanpa sengaja sedikitpun jika dirinya telah memberikan sebuah cobaan iman pada sang pemuda yang kini dalam masa transisi yang sangat sulit dalam mengendalikan mata pandangan dan hatinya, serta hasrat kelakiannya yang dapat meledak kapanpun jika disuguhkan sebuah sajian yang tampak menggiurkan.
Namun, selintas Satria melihat sayap Widuri yang terluka lebam dan sedikit luka robek.
"Apa yang terjadi padanya..? Mengapa Ia terluka parah..?"Satria berguman lirih dalam hatinya.
Widuri menyajikan nasi putih tanpa memandang sedikitpun kepada Satria. Ternyata Peri itu mengetahui apa yang sedang difikirkan Satria, dan Ia juga mengetahui jika Satria tanpa sengaja melihatnya saat sedang mandi didalam kolam malam tadi.
"Bersahurlah, aku akan pergi sejenak karena ada urusan yang masih ingin ku selesaikan.."Jawab Widuri datar.
Satria merasakan ada perubahan dalam diri Widuri, yang tidak terlihat seperti biasanya. Namun, apa..? Satria mencoba menerka dan menajamkan mata bathinnya.
"Haah..!" Seketika Satria tersentak, karena mendapati sebuah siluet jika Widuri benar-benar sedang mengalami pertempuran dengan Nini Maru yang berusaha menerobos goa.
Widuri menoleh kepada Satria. "Jangan fikirkan tentangku, berkonsentrasilah dalam misimu, aku akan berusaha menjagamu sampai semuanya selesai. Segeralah bersahur, agar tidak terburu-buru.. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Ujar Widuri , tanpa menoleh kepada Sang Pemuda yang kini menatapnya dengan penuh seksama.
Semua tampak hening, tanpa kata apapun. Seketika Widuri meninggalkan Satria, Ia mencoba menghindari pemuda itu, Ia tidak ingin kehadirannya akan menjadi penghalang konsentrasi bagi sang pemuda dalam menyelesaikan seluruh misinya yang baru saja akan dimulai.
Karena bagaimanapun, Satria hanyalah manusia biasa yang memiliki kodrat menyukai sebuah kecantikan dan keindahan, maka Widurilah yang harus memahami sisi kelemahan sang Pemuda.
Sedangkan didepannya nanti, masih banyak tantangan lain yang lebih dahsyat sedang menunggunya.
__ADS_1
Widuri terbang melayang meningalkan Satria yang terus menatap kepergiannya. Hingga akhirnya peri itu pergi dan menghilang.
Satria tersadar dari lamunannya, lalu segera bersahur, dan hanya memakan nasi putih saja. Setelah bersahur, dan menunggu waktu subih tiba, Ia mulai kembali lagi menghafal rafal mantra tersebut, yang mana tadi sempat menghilang dari ingatannya, karena sebuah kekhilafan.