
Bayu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak ingin kejadian kemarin akan terulang lagi dan membuatnya harus berulang ketempat si penjual ayam tersebut.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya Bayu memasuki jalanan utama kampung.
Ia berniat untuk singgah diwarung pak Joko, berniat membeli beberapa keperluan sebagai pelengkap sesaji. Seperti pisang, kopi hitam, kelapa bulat, dan juga sebungkus rokok.
Sebelum turun dari mobil, Ia memakai kacamata hitam, topi, dan juga masker. selama Ia tinggal dikampung ini, belum ada warga yang melihat wajah asli Bayu. Ia selalu memakai perlengkapan penutup wajahnya.
Ia sibuk membeli beberapa bahan yang dibutuhkannya. Memasuki rak-rak barang dagangan yang tersusun rapi dan berjejer dengan saling berhadapan.
Tanpa sengaja Ia menyenggol seseorang yang juga sedang berbelanja dan memilih barang yang sama sepertinya, yaitu sebuah pisau cutter.
saat mata mereka beradu..
Deeeeeegh..
Jantung Bayu seakan berhenti berdetak. Menatap mata indah yang kini berada tepat dihadapannya.
Pemilik bola mata indah itu tersenyum. "ya sudah, ambil saja, bahannya juga tinggal satu, saya lain kali saja." ucap sang wanita, sembari melepaskan barang yang sama-sama mereka inginkan.
Jika memilih, Bayu akan lebih mengalah untuk memberikan barang itu kepada wanita pujaannya, namun Ia sangat menginginkannya untuk malam ini. Mala berlalu meninggalkan koridor rak, dengan aroma kasturi, khas parfum Mala. Dan diikuti tatapan sendu oleh Bayu.
Setelah meneyelesaikan belanjanya, Bayu membayar dikasir.
"semuanya 100 ribu Mas.." ucap Pak Joko sembari mentotal seluruh menggunakan kalkulator.
Bayu menyerahkan selembar uang ratusan ribu, dan tanpa sepatah katapun Ia berlalu, memasukkan seluruh belanjanya kedalam bagasi.
Saat akan memasuki mobil, Ia mekihat Mala dari kaca spion sedang berjalan mengarah pulang. Iangin rasanya Ia mengejar wanita idamannya, namun Ia juga harus berburu waktu, agar tidak kemalaman.
🐛🐛🐛🐛👻👻👻👻🐛🐛🐛🐛
Bayu memarkirkan mobilnya didepan garasi rumah. Membuka bagasi, lalu mengambil kotak kayu yang berisi 3 ekor ayam cemani.
Ia mengambil kain penutup, lalu menutup kitak kayu tersebut, membawanya dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri.
Bayu memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Ia menaiki anak tangga, lalu bergegas masuk kedalam kamar.
Bayu membuka kantong kresek berisi belanjaan yang dibelinya diwarung pak Joko. Ia mengambil sebilah pisau cutter, dan meletakkannya disisi dekat peti kayu yang tergeletak diatas lantai.
__ADS_1
Bayu kembali keluar dari kamarnya. Ia menuju dapur untuk mencari sesuatu yang diperlukannya.
Sesampainya didapur, Ia mengambil 3 buah gelas, 1 buah wadah plastik berukuran besar, satu tempayan plastik berbentuk bundar dengan ukuran besar.
Setelah mendapatkana yang diinginikannya, Ia kembali kekamar dengan tergesah-gesah.
Saat melintasi kamar Rumi dan Nia, Ia mendengar suara-suaranrintihan manja dari dalam kamar. Bayu menggelengkan kamarnya, Ia sudah dapat menebak apa yang sedang terjadi didalamnya. Dipastikan Danang sedang menunggangi kedua wanita itu.
Bayu mengabaikan mereka, lalu mengambil kesempatan agar tidak dilihat oleh mereka tentang apa yang akan dilakukannya.
Malam ini malam Jum'at kliwon, Bayu harus bekejar waktu agar tidak kembali terlewatkan.
Sesampainya dikamar, Ia segera mengunci pintu kamar. Lalu menghampiri kotak kayu dan mengambil seekor ayam cemani.
Bayu meletakkan ke 3 gelas diatas wadah plastik berukuran besar tersebut. Lalu Ia memulai penyembelihan ayam tersebut, menampung darah hitam ayam tersebut dalam satu ekor satu gelas.
Ia melakukan hal yang sama untuk kedua ekor ayam lainnya.
Setelah menyelesaikan penyembelihan, Bayu mengambil ke 3 gelas berisi darahbayam cemani dan menyimpannya diatas meja nakas.
Kemudian Bayu membawa ke 3 ekor ayam tersebut dalam wadah plastik dan keluar dari kamarnya.
Bayu mengetuk pintu kamar tersebut dengan kasar. Tak lama kemudian Rumi membuka pintu kamarnya dengan tambut acak-acakkan.
"ada apa Tuan..?" tanya Rumi gemetar.
"mana Danang, suruh keluar, saya ada perku, temui saya didiapur." ucap Bayu dengan tatapan dingin.
"i..iya Tuan.." jawab Rumi terbata. Lalu Ia kembali kedalam kamar, memanggil Danang tang bersembunyi dibalik kamar mandi.
Danang euar dengan raut wajah lesu, mungkin kelelahan setelah habis bertempur dengan kedua wanita itu.
Danang menghampiri Bayu yang sudah berdiri tegak di dekat washtafel.
"a..ada apa Tuan memanggil saya?" tanya Danang tergagap.
"kemari..!" ucap Bayu dengan dingin.
Danang datang menghampiri, lalu membuat jarak yang begitu sangat dekat dengan Bayu.
__ADS_1
"Ini kamu bersihkan, lalau bakar setengah matang, setelah itu antarkan kekamar saya, jangan sampai lewat jam 5 sore..dengar..!!" titah Bayu dengan nada dingin.
"Baik Tuan, akan saya laksanakan."
"bagus..!" jawab Bayu datar.
Danang melongok isi wadah plastik tersebut. Terdapat 3 ekor ayam cemani yang berwrna hitam legam. "ini ayam apaan sih? Koq warnanya hitam legam seperti ini, dan apakah Tuan Bayu mau memakannya.?" Danang berguman lirih.
Bayu sudah meninggalkan dapur. Ia menuju taman belakang, untuk memetik beberapa kembang setaman yang pernah dibelinya oleh bapak tua tersebut.
Tampak tanaman kembang itu tumbuh subur. Sepertinya Danang merawatnya dengan baik.
Setelah memetik kembang sesuai dengan jumlahnya, Bayu kembali keatas, untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Sesampainya dikamar, Ia mulai menyusun sesaji dan pada wadah plastik berbentuk bundar. Ia membuka kantong plastik yang berisi kemenyan, minyak duyung, kopi pahit hitam, buah kelapa, pisang, dan rokok.
🐛🐛🐛🐛🐛🐛👻👻👻👻🐛🐛🐛
Danang memulai proses merebus air hingga mendidih, lalu menyiramkan kedalam wadah plastik yang berisi 3 ekor ayam cemani. Ia mulai mencabuti bulu ayam tersebut satu persatu hingga bersih.
"sebenarnya untuk apasih semua ayam ini? Terkadang Tuan ganteng terlihat aneh. Tapi mengapa Ia tidak memiliki teman wanita ya..? Masa iya orang setampan Tuan tidak memilimj minat terhadap wanita.." Danng mengomel sembari membersihkan bulu ayam tersebut.
Setelah selesai, Ia ingin membuat perapian di ditaman belakang. Ia mengambil satu bungkus arang yang sudah disiapakan oleh Bayu saat berbelanja di warung pak joko.
Tok..tok..tok..
"Deq Rumi... Bisa keluar sebentar, kakang mau minta bantu ne.." ucap Danang lembut.
Sesaat terdengar suara derap langkah membuka pintu kamar. "Iya kang.. Ada apa..?" tanya Rumi dengan gemulai.
"ini dik, tolong buatkan bumbu ayam bakar, ayamnya ada diatas washtafel." ucap Danang menjelaskan.
"oh.. Bisa kang.. Apa sih yang enggak buat akang.." jawab Rumi manja, sembari mencolek dagu Danang, yang membuat pria itu klimpungan.
Rumi segera menuju dapur, menyiapkan bumbu yang diminta Danang. Ia terperangah Saat melihatbayam cemani yang ada didalam wadah plastik tersebut. "kenapa ayam ink hitam legam..? Kang Danang aneh-aneh saja sih.." Rumi merasa bergidik. Ia mulai membuat bumbunya.
Setelah selesai, Ia membaluri ke 3 ayam cemani tersebut dengan bumbu. Saat membaluri bagian kepalanya, Rumi tersentak kaget, hingga bergerak mundur beberapa langkah. Nafasnya tersengal karena merasa sangat takut, Ia melihat mata ayam itu terbuka lebar dan memandangnya tajam.
Seketika Rumi meninggalkan ayam tersebut begitu saja. Ia menyambar serbet dan membersihkan tangannya sembari menuju kamar, lalu masuk kedalam kamar dengan tergesah-gesah. Ia duduk ditepian ranjang dengan nafas tersengal. Ia masih syok dengan kejadian yang baru saja dialaminya.
__ADS_1