
Siang ini, segala bahan bangunan yang diperlukan untuk merenovasi rumah Mala sudah berdatangan. Satu persatu mobil pengangkut bahan material menurunkannya.
Mala mulai mengecek bahan apa saja terdapat di nota bon. Setelah semuanya sesuai dengan pesanan, Mala kembali masuk kedalam rumah, untuk membuatkan minuman kepda para tukang.
Hujan turun rintik-rintik ditengah siang benderang. Rintikan yang bercampur dengan terik mentari, disebut dengan kata hujan panas. Sebutan itu sudah melekat dan menjadi sebutan yang umum disemua lapisana masyarakat.
tiga orang pekerja sedang akan melakukan pembuatan pondasi. Setelah pengukuran, ternyata rumpun pisang itu harus dimusnakan, karena tepat mengenai pondasi.
Mereka mulai menarik benang dan memasang tali untuk pengukur dan menjadi patokan penggalian.
Seorang pekerja yang bertugas sebagai kernet bangunan, mengambil sebilah golok dan memulai untuk menebas pohon pisang, serta memusnahkannya. Saat Ia menebas pohon pisang yang terakhir, yang batang pohonnya lebih besar, tiba-tiba sang kernet itu mengalami kejang-kejang, matanya terbeliak keatas lalu tersungkur.
Rekan kerja yang melihatnya langsung mengahampiri dan berteriak minta tolong.
"kang.. Kang Doni, tolongin saya kang, Parjo ambruk.." seru Bimo yang saat itu melihat Parjo tiba-tiba ambruk dan kejang-kejang.
Doni yang mendengar panggilan dari Bimo segera berlari menghampiri keduanya.
Doni yang melihat parjo kejang dang matanya terbeliak keatas menjadi panik..
"ayo bantu, kita bawa Parjo keteras."titah Doni kepada Bimo.
Bimo menganggukkan kepalanya. Meskipun Bimo sudah menikahi bidan Sri, namun Ia tetap bekerja apa yang Ia bisa, sebagai bentuk pertanggungjawabannya sebagai seorang suami.
Bimo dan Doni membawa Paijo keteras. Lalu mereka mencoba menghubungi puskesmas untuk membawa ambulance ke kerumah Mala karena ada pasien yang akan dirawat.
Mala yang mendengar kegaduhan merasa terusik, Ia keluar dari rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi. "ada apa kang.?" tanya Mala penasaran kepada Doni.
"ini Mbak Mala, Parjo tiba-tiba saja kejang dan seperti ini." Doni mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
"apakah Dia memiliki penyakit sawan? Sehingga seperti itu.?" ucap Mala penasaran.
"gak tau juga Mbak.. Tapi saya sudah panggil ambulance." ucap Doni berusaha tenang.
Mala menganggukkan kepalanya, pertanda setuju kepada tindakan Doni.
🐛🐛🐛👻👻👻🐛🐛🐛
tok..tok..tok..
__ADS_1
"masuk.." ucap Satria dengan datar.
lalu tampak seorang staf meminta tanda tangan satria. "Pak, tolong tanda tangani, surat ikin mobil ambulance. " staf tersebut.
"kemana..?" tanya Satria dengan tenang.
"kerumah bapak..!" jawab staf itu dengan datar.
Satria membelalakkan matanya, lalu menatap surat itu dan membaca isinya." siapa yang sakit?" tanya Satria mulai was-was..
"Parjo, pekerja yang membangun rumah bapak." jawabnya tegas.
"ok.. Segera laksanankan..!" titah Satria, lalu membubuhkan tanda tangannya.
"baik, pak.. Terimakasih.." mengambil surat ijin tersebut dan dan segera keluar.
Satria mencoba memejamkan matanya, mencari tau apa yang sedang terjadi. "haah..! Jadi itu penyebabnya..?" Satria berguman lirih dalam hatinya.
Karena jarak rumah Satria dan puskesmas sangat dekat, maka sirene ambulance sudah terdengar dihalaman puskesmas.
Satria menyingkap tirai, dan memandang dari jendela kaca. Tampak troly pasien sudah meluncur didepan ambulance, dan dua orang pria turun dari mobil ambulance, lalu membopong tubuh Parjo.
lalu troly pasien didorong cepat oleh dua orang pasien. Tampak Parjo kejang-kejang dan meracau tak jelas. Tubuhnya panas dan matanya menatap tajam kelangit.
Namun baru saja sampai didepan ruang UGD, Parjo mengamuk tidak jelas.
Perawat dan dokter mulai kebingungan. Bahkan Parjo mulai menggeram, mencakar dan ingin menerkam siapa saja. Matanya tajam menatap siapapun.
Kejadian itu membuat kegaduhan yang sangat parah. Para pasien yang sedang dirawat merasa terganggu. Bahkan para pasien yang sedang mengantri untuk perawatan ikut menyaksikan peristiwa aneh tersebut.
Mendengar kegaduhan yang terjadi, Satria mencoba keluar dari ruang kerjanya. Lalu Ia menghampiri Parjo yang sedang mengamuk.
Saat melihat Satria datang menuju padanya, Parjo bangkit, lalu mencoba menyerang Satria.
Semua yang ada disana merasa panik, mereka mencoba menahan Parjo, namun tidak dapat dicegah, tenaganya 10 kali lipat lebih kuat dari mereka.
Saat jarak Paijo dan Satria sudah dekat, Satria diam tak bergeming ditempat, saat tangan Paijo ingin mencapai wajah Satria, dengan cepat Satria menangkap pergelangan tangan Paijo, berbalik menatap tajam, lalu menyilangkannya, sehingga tubuh Paijo terkunci oleh Satria yang kini sudah berada dibelakangnya.
""Bantu saya memegangnya.." ucap Satria kepada mereka yang ada ruangan itu.
__ADS_1
Lalu 3 orang pria maju untuk membantu Satria. Saat mereka sudah mengunci tubuh Parjo. Satria menghadap pada wajah Parjo.
"pergilah.. Jangan mengganggu.." ucap Satria, lalu seperti sebuah gerakan sedang menarik sesuatu keluar dari ubun-ubun Parjo.
Setelah beberpa menit lamanya, tiba-tiba saja Parjo melemah, lalu ambruk dan ditampung oleh ketiga pria itua.
"baringkan Ia diranjang pasien." Titah Satria dwngan tenang.
Semua irang memandang takjub pada Sattia. Mereka tidak menduga, jika Satria begitu lihai dalam hal medis juga hal magic.
Mereka berdecak kagum. Mereka tidak pernah menduga sama sekali, jika pemuda tampan yang merupakan pimpinan puskesmas itu adalah orang yang sangat multitalenta.
Satria meninggalkan ruangan itu, dan menuju je ruangan kejanya.
Kabar tentang kejadian itu, dwngan cepat merebak keseluruh desa. Ada yang menanggapi positif, dan tidak sedikit juga yang menanggapi negatif.
Apalagi mereka mengenal Satria dengan masih penuh tanda tanya tentang kebenaran jika Satria anak korban Pujon beberapa puluh tahun yang lalu. Bahkan ada yang memfitnah, jika Satria anak hasil selingkuhan Mala.
Namu bagi orang yang sudah bermukim lama dikampung itu, akan mempercayainya, berbeda dengan mereka warga baru dan tidak mengetahui kejadian sebenarnya, maka akan sangat mudah menyimpulkan hal negatif pada sebuah peristiwa.
Satria mencoba menelefon Mala, Ibunya.
Kriiiiiing...
"Hallo.. Ada apa Nak.?" suara lembut seorang wanita dari ujung seberang telefon.
"Bu.. Apakah mereka para pekerja bangunan tadi menebas pohon pisang yang disamping rumah?" tanya Satria dengan tenang.
"Iya Nak.. Emangnya kenapa..?" tanya Mala penasaran.
"emmm.. Tidak apa-apa Bu.. Ya sudah, Satria cuma mau tanya itu saja Bu. Satria kerja lagi ya Bu.. Bilang kepada pekerja iru besok saja baru dilanjutin kerjanya." ucap Satria menjelaskan.
"iya Nak, nanti ibu sampaikan." jawab Mala
"bye Ibu.. Asssalammualaikum.." ucap Satria, sembari menutup panggilan telefonnya.
"waalakum.salam.." jawab Mala.
Satria menyandarkan tubuhnya disandaran kursi kerjanya.
__ADS_1
"ternyata mereka mengenai makhluk berbulu itu, menyebabkan Ia marah, dan menyerang Parjo" Satria berguman lirih dalam hatinya.
"aku harus menetralkan hawa negatif itu, sebelum para pekerja itu menggali pondasi, agar tidak terjadi hal yang serupa." Satria berguman lirih.