
Hadi mencengkram kerah baju pria itu, lalu dengan geram menariknya "heiii..jangan mengambil kesempatan dari peristiwa ini untuk mencuri perhatian ibuku." ucap Hadi dengan geram, dan menarik paksa pria itu untuk melepaskan pelukannya dari ibunya.
Saat mata mereka beradu, keduanya sama terkejutnya, dan saling kebingungan..
"kak..kak Satria..?" Teriak Hadi tak percaya.
"Hadi..? Mengapa kamu ada disini..?" tanya Satria bingung.
Mereka berpelukan layaknya teletubies..saling melepas rindu setelah lama tak bertemu.
Saking kangennya, Hadi sampai mencubit kedua pipi Satria dengan gemas.
"aku sudah berulang kali menghubungimu, namun tidak tersambung." ungkap Satria.
Hadi terdiam sejenak. "aku kerampokan saat menuju pulang" jawab Hadi lirih.
"oh iya kak, ini ibuku.." ucap Hadi memperkenalkan Mala sebagai ibunya.
Satria menyalim Mala. "kakak tidak menyangka, jika orang yang telah mendonorkan darahnya pada kakak adalah ibumu.." Satria menatap lekat pada Mala. Ada getaran indah didalam hatinya.
Mala mendekati Satria, lalu memegang pipi kanannya. "semoga kamu senantiasa dalam keberkahan ya Nak." doanya untuk Satria.
"terimakasih bu, untuk doa dan darah yang kimi menyatu dalam tubuhku.." ucap Satria lirih.
Mala membalas dengan senyum tulusnya.
Hadi terperangah.. "kenapa bisa..? Dan kapan kejadiannya.?" cecar Hadi bingung.
Satria lupa mengatakan kepada Hadi jika Ia pernah kecelakaan saat Hadi dilakukan operasi. Saat itu Satria terburu-buru kerumah sakit dan ingin menjenguk Hadi, namun naas, mobilnya menabrak trotoar karena menghindari pengemudi motor yang ingin menyalip.
Hadi terperangah mendengarnya. Ia tidak menyangka jika Satria begitu memperhatikannya. Bahkan Ia sempat menduga jika saat itu Satria lupa menjenguknya.
Hadi kembali memeluk Satria. "maaf, hampir saja waktu itu aku sempat Su'udzon sama kakak" ucap Hadi tulus. Ia menangis haru, karena mengetahui betapa pedulinya Satria pada dirinya.
Satria menepuk punggung Hadi, "jangan kekencengan peluknya, sesak tau..!" ucap Satria tersengal.
Hadi terkekeh, lalu melepaskan pelukannya.
"sorry, baper..sampai terhura aku mendengarnya kak.." jawab Hadi seenaknya.
Satria membalas dengan nyengir kuda, karena Ia masih merasa sedikit sesak dengan pelukan Hadi yang begitu bersemangat.
Maklum, tubuh Hadi sedikit lebih tinggi dan kekar dari Satria. Karena Hadi mengambil bentuk tubuh Roni, tinggi kekar. Sedangkan Satria mengambil bentuk tubuh Mala, jadi sedikit lebih pendek dari Hadi, ya kira-kira cuma beda tipislah. Namun tetap kekar ya pembaca. Jadi jangan terlalu dihayati atau dibayang-bayangin kali gitu.
Shinta yang sedari tadi diam mematung, melihat jika ada kemiripan antara Satria dan Mala. Bentuk mata dan hidung yang terbilang sangat mirip.
"Shinta..kamu ada disini juga..?" ucap Satria yang kaget saat melihat Shinta ternyata sedari tadi berada disana.
"emm..iya. soalnya kita satu kelompok maganganya." jawab Shinta gugup.
"ooo..begitu. Bisa kebetulan juga ya.." jawab Satria sembari melirik kepada Hadi. Ia dapat menebak isi hati Shinta, yang kini sedang mengagumi Hadi. Setelah melakukan pemurnian Dzikirnya, Ia memiliki kemapuan untuk dapat menebak isi hati seseorang.
Mala permisi kedapur, mempersiapkan makan malam mereka. Shinta yang ingin mencari perhatian, ikut membantu Mala memasak.
__ADS_1
Ya..namanya juga mengincar anaknya, jadi harus pinter-pinter ngambil hati calon mertua..
Sesaat Satria merasakan sebuah hawa negatif yang sangat mengerikan berada didalam kamar Roni.
Ia tersentak kaget, lalu beranjak bangkit. "ada yang tidak beres..!!" Satria mencoba menajamkan mata bathinnya.
Hadi yang tidak mengerti apa yang diucapkan Satria ikut beranjak bangkit dari duduknya.
"ada apa kak..?" tanya Hadi bingung.
"ada sesuatu didalam kamar ibumu.." jawab Satria dengan tatapan serius.
Hadi segera bergegas mendekati pintu kamar yang berjarak 3 langkah dari sofa. "ayo kita periksa.." ajak Hadi dengan segera.
Lalu mereka membuka pintu kamar Mala. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat sosok mengerikan sudah berada disisi ranjang tempat Roni terbaring.
Bayangan itu semakin lama semakin membentuk sebuah sosok yang menyeramkan.
latah Hadi kembali kambuh. Bukan cuma saja gemetaran, Saking takutnya, kali ini Ia membacakan doa sebelum belajar.
Bagaimana tidak Ia gemetar, sosok itu begitu amat mengerikan. wujud dengan taring panjang, kuku runcing dan wajah yang sangat menakutkan.
Masih ingat dengan visualnya kan.. Jangan dibayangin ya.. Ntar dia-nya mampir..
Hadi mencengkram lengan Satria. "kenapa tu setan serem banget sih kak.." ucapnya gemetar.
"namanya setan ya serem, kalau cantik itu bidadari." jawab Satria tanpa menoleh kearah Hadi. Pandangannya fokus pada makhluk itu.
Hadi terjerembab dilantai, Ia meringis kesakitan.
Suara berisik membuat Mala dan Shinta penasaran. Mereka meninggalkan dapur dan memeriksa keruangan utama.
Saat itu mereka melihat Hadi yang terjerembab sembari meringis menahan sakit. "ya Allah Hadi, ada apa sayang.." ucap Mala, sembari membantu Hadi berdiri.
Sesaat mata Mala melihat kearah kamar, Ia terperangah, dimana melihat Satria sedang bertarung melawan makhluk mengerikan.
Ia pernah melihat makhluk itu sebelumnya. "bukankah Ia yang dulu pernah hadir saat aku mengandung..? Mengapa Ia muncul kembali..?" ucap Mala dengan gemetar.
Shinta yang penasaran juga ikut melihatnya.
"haah..Makhluk ini pernah menganggangguku.." ucap Shinta dengan panik. Mala dan Shinta saling pandang. Mengapa mereka bisa mengalami hal yang sama.
Hadi memegangi lengan Mala, Ia tampak pucat ketakutan.
Melihat hal itu, Shinta menggenggam jemari Hadi, agar Mengurangi rasa takut yang dialami Hadi. Dan benar saja, Hadi merasa sedikit nyaman, dan tidak begitu gugup.
"apa yang kau inginkan.? Mengapa kau menganggu keluarga ini..?" ucap Satria, sembari memegang kedua tangan makhluk itu dari arah belakang.
"aku diutus seseorang untuk membinasakan kalian semua. Sehingga tidak ada satupun keturunan mbah Karso yang selamat. Dan kedatanganmu sudah lama dinantikan. hihihihi..." Makhluk itu tertawa mengerikan.
Seketika semua yang ada disitu merasa kaget mendengar ucapan makhluk itu. "apa maksudmu..?" tanya Satria penasaran. Saat Satria lengah, makhluk itu meloloskan diri, dan menghilang.
__ADS_1
"apa yang dimaksudnya dengan menantikan kehadiranku..? Keturunan Mbah Karso..?" Satria masih bingung dengan semuanya.
Mala yang mendengar ucapan makhluk itu merasa ketakutan. "mengapa Ia menaruh dendam padaku..? Sehingga ingin melenyapkan garis keturunan dari bapak..? Dendam apa yang membuatnya begitu penuh amarah.??" Mala berguman lirih dalam hatinya.
"apa Maksud ucapan setan itu apa bu..?" tanya Hadi, yang sudah mulai merasa baikan..
"sepertinya ada yang menaruh dendam pada almarhum si mbah dahulu. Sehingga Ia melampiaskannya kepada anak keturunanya." jawab Mala dengan gemetar.
Mala menghampiri Satria. "mengapa Ia melibatkanmu..? Ada hubungan apa ini semua denganmu..?" tanya Mala pada Satria.
Satria mengelengkan kepalanya. "aku sendiri tidak tahu.." jawab Mala.
"lalu apa sebenarnya tujuanmu datang kemari..?"
"aku sedang mencari ibu Kandungku.. Seseorang mengatakan padaku, jika Ia tinggal didesa ini. Dan aku juga tidak mengerti, mengapa aku sampai terdampar dirumah ini.." jawab Satria dengan debaran hati yang tak menentu. Ia tak sanggup menatap mata indah milik Mala.
"maksud kakak, tentang ketidak percayaan kakak terhadap jati diri kakak, dan saat menemui dokter fadly kemarin..?" Hadi menyela.
"ya.. " jawab Satria singkat.
"lalu bagaimana perasaan mama kakak..?"
"Mama sudah meninggal, dan mengungkapkan jika aku benar bukan gen-nya." jawab satria
"aa..apa.?"! Jawab Hadi dan Shinta secara bersamaan.. Mereka tam percaya mendengar penuturan Satria.
"lalu siapa yang kakak cari disini..?" tanya Hadi semakin penasaran.
"orang itu menyebutkan, jkka ibuku bernama Mala, dan ayahku bernama Roni..?
"apaaaa..?!" Hadi dan Mala, dan Shinta menjawab serempak. Mengalahkan paduan suara saat hari kemerdekaan.
Mala yang mendengarnya merasa kaget. Ia gemetar saat menatap Satria.
Begitu juga denhan Hadi dan Shinta. Mereka juga tak kalah kagetnya.
"apa buktinya kau mengatakan itu..?" tanya Mala bergetar dengan wajah yang pucat pasi.
"seorang bernama Rianti mengatakannya padaku, Ia melakukan 'pujon' kepada Seorang wanita bernama Mala, karena Ia merasa kesal, karena pria idamannya yang bernama Reza mencintai Wanita bernama Mala secara rahasia." Satria membeberkan segalanya.
Mala tak kuasa menahan air matanya.. "benarkah itu kaj..?! Apakah aku hanya bermimpi..? Akulah wanita bernama Mala itu.." ucap Mala dengan terisak, Sembari meraih tubuh Satria dengan erat.
"meskipun kau menghilang, tetapi hatiku masih meyakini jika kau masih hidup dan terus tumbuh. Dan kini kau hadir saat penantian panjangku hampir punah.." Mala menatap Satria dengan dengan penuh kerinduan dan derai air mata.
Satria uang mendengar penuturan Mala yak mampu menahan haru.."i..ibu.." ucapnya dengan bergetar..
"ternyata dugaanku selama ini benar, saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku merasakan getaran yang berbeda. Dan ternyata ikatan bathin seorang anak dan ibunya tidak dapat di bohongi." ucap Satria. Lalu memeluk Mala dengan erat.
"bolehkah aku memanggilmu ibu..?" tanya Satria dengan gemetar.
Mala menjawab dengan anggukan. Ia tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi.
Hadi yang terbawa perasaan ikut menangis haru. Ia tak menyangka jika kenyataannya Ia memiliki hubungan darah dengan Satria, bahkan satu rahim yang sama.
__ADS_1
Shinta menatap haru sekaligus bingung..
Bersambung...😴😴😴😴