
Shafiyah memandang kaca jendela puskesmas dengan tatapan kosong. Ia baru saja menerima serah jabatan untuk menggantikan posisi Satria.
Jika meminta, Ia akan memilih untuk tetap menjadi ASN biasa dengan seorang memiliki kepala bidang yang amat begitu Ia kagumi.
Mengundurkannya diri Satrumia dari jabatannya, membuat Shinta yang direkomendasikan sebagai pemegang tampuk kekuasaan.
"Apa kabarmu..? Mengapa tak ada pesan yang kau berukan..? Apakah kau baik-baik saja..?" gadis itu berguman lirih dalam hatinya dan merasakan relung hatinya hampa dan tak memiliki semangat dalam melakukan apapun.
Shafiyah merasakan getaran-getatan cinta yang tumbuh tanpa sebab dan begitu amat melambungkan hatinya. Namun semuanya sia-sia tanpa kehadiran sosok itu.
Syafiyah mencoba memikul tanggung jawab yang dipercayakan padanya. Sebisa dan semampunya Ia menjalankan tugasnya sebagai kepala Puskesmas didesa itu.
🦋🦋🦋🦋
Menjelang pukul 4 sore, Shafiyah sudah bersiap hendak pulang, Ia mendapatkan mobil dinas dari pemerintahan kabupaten. Lalu dengan mobil itu Ia bisa bertugas dengan baik, dan akan merasa senang bergerak jika ada tugas keluar daerah.
Syafiyah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, Ia tidak sengaja bertemu Mala yang baru saja keluar dari toko pak joko. Lalu Ia memperlambat laju mobilnya dan menepi.
Gadis itu membuka pintu mobilnya, lalu menunggu Mala yang berjalan semakin mendekat.
"Masuk Bu, biar sekalian saya antar." gadis itu menawarkan tumpangan.
Mala tersenyum. "Apakah tidak merepotkan..?" tanya Mala dengan lembut.
"Ayolah Bu, jangan sungkan.." ucap Syafiyah dengan ramah.
Mala akhirnya menerima tawaran itu, dan memasuki mobil.
Syafiyah mulai menyetir dengan perlahan. "Mengapa belanja sangat banyak sekali Bu..?" tanya gadis itu hati-hati, melirik barang belanjaan milik Mala.
Mala mencoba tersenyum, meski sebenarnya Ia merasakan kesepian saat ini.
"Ini bahan untuk membawakan bekal buat Hadi dan Istri dan mertuanya yang akan berangkat kekota besok pagi." jawab Mala dengan lirih.
Syafiyah memandang Mala dengan tatapan iba. Ia dapat merasakan perasaan wanita paruh baya itu yang kini pasti merasakan kesepian saat Hadi akan kembali besok.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Syafiyah sudah sampai didepan rumah Mala. Lalu mobilnya berhenti. Gadis itu mencoba membantu membawa barang belanjaan milik Mala hingga kedalam rumah. Tampak sunyi, hanya seorang pria paruh baya yang sedang rebahan diatas sofa, Syafiyah memastikan jika itu adalah ayah mertua Hadi.
"Kemana Hadi dan Istrinya Bu..? Tanya dengan lembut.
"Mereka kepemakaman ayahnya, karena esok harus pagi-pagi sekali berangkat" jawab Mala sembari membenahi belanjaannya dan memasukkan sebagiannya kedalam lemari es.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Kalau nanti Ibu ada butuh sesuatu, silahkan hubungi saya ya Bu, saya siap membantu.." ucap Syafiyah menawarkan diri.
Mala tersenyum tipis. "terimakasih, pasti nanti saya hubungi.." jawab Mala.
"Kalau begitu saya permisi dulu Bu, ada sesuatu yang perlu saya kerjakan.." Gadis itu berpamitan dan melangkah pergi.
"Syafiyah.." panggil Mala saat gadis itu sudah berjalan hendak pergi.
Syafiyah menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Mala "Iya Bu.." ucapnya dengan lembut.
"Terimakasih.." jawab Mala tulus.
Syafiyah mengerjapkan kedua matanya, sembari tersenyum manis, lalu beranjak pergi hendak meninggalkan rumah Mala.
Saat itu Ia tanpa sengaja melihat foto Satria yang menempel didinding ruangan utama.
Sebuah perasaan yang begitu mendebarkan dan tak tau apa membuatnya begitu merindukan pemuda itu.
Lalu Ia berusaha menutupinya dengan terus melangkah pergi meninggalkan rumah tersebut.
Disatu sisi, Chandra merasa uring-uringan, sebab esok Ia akan kemnali kekota bersama Hadi dan Shinta.
Melihat kondisi rumah sepi, Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Mala yang kini berada didapur.
Eheemmm..
Chandra mendehem, membuat Mala mengalihkan perhatiannya kepada Pria masa lalunya.
"Mala.. Apakah kamu tidak ingin ikut Hadi kekota..? Jika kamu disana nanti akan lebih baik karena Hadi akan menjagamu setiap saat." Chandra mulai mempengaruhi Mala.
__ADS_1
Mala masih tampak diam, Ia mencoba menarik nafasnya dalam dan menghelanya kasar. Lalu Ia menyelesaikan pekerjaannya.
"Mengapa kamu tidak menjawab pertanyaanku..?" Chandra semakin gemas dengan sikap diam Mala, lalu Ia mengambil kursi kosong dan duduk menatapinya.
Mala menatapnya dengan tatapan dingin "Aku akan teyap disini, menunggu makam Bang Roni dan menunggu kehadiran Satria.." jawab Mala mencoba menjelaskan.
"Itu hanya sebuah makam, dan orang yang sudah tiada tidak mungkin dapat hidup lagi.." Chandra terus memprovokasi.
"Raganya memang sudah tidak mampu bersama, namun kenangan dengannya akan tetap hidup dalam setiap detak jantung dan aliran darahku.." Mala terus berusaha meyakinkan hatinya.
Chandra semakin kesal dengan semua jawaban Mala. "Lalu.. Apakah kenanganmu bersamaku waktu dulu tetap hidup bersamamu..?" tanya Chandra penuh selidik.
Mala diam membisu, lalu mencoba menghindari Chandra dan beranjak dari dapur.
Namun, Chandra dengan sigap menarik pergelangan tangannya, sehingga membuat Mala menghentikan langkahnya.
"Lepaskan cengkramanmu, sama saat kau dulu meninggalkanku tanpa pesan apapun. Apakah kau tau bagaimana perasaanku waktu itu? kau pergi begitu saja tanpa memberi pesan dan meninggalkan semua apa yang sudah kita janjikan..? Aku sudah mengubur semua kenangan itu jauh sebelum Bang Roni datang mengobati lukaku." Jawab Mala tanpa menoleh kepada Chandra.
Chandra merasakan hatinya bagaikan tercabik-cabik. "Apakah tidak ada kesempatan kedua untukku..?" cecar Chandra dengan nada pengharapan.
"Lepaskan cengkramanmu.. Aku masih berduka, pantaskah itu diutarakan? Seolah merasa bahagia atas ketiadaannya." jawab Mala dengan linangan air mata, hatinya begitu perih dan terluka, seolah kepergian Roni adalah berkah bagi orang lain.
Chandra menlepaskan cengkramannya, lalu diam termangu, mentap Mala yang beranjak pergi meninggalkannya didapur itu sendirian.
Mala pergi memasuki kamarnya. Rasa kesal terhadap Chandra belum bisa Ia lupakan begitu saja.
wanita cantik itu tidak mengerti dengan jalan fikiran Chandra. Apakah pria itu datang kemari untuk berbelasungkawa atau justru bersuka cita atas meninggalnya Roni, suaminya.
Jikapun Chandra masih menyimpan rasa cinta pada dirinya, setidaknya Ia tidak mendesak atau mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan kondisinya saat ini.
Mala masih mencoba menahan kesabarannya, mengontrol dirinya agar tidak terpancing emosinya.
Sementara itu, Chandra dia termangu. Ia merasa jika Mala sudah begitu mudah mekupakannya. Bahkan Mala tidak lagi mengingat kisah masa lalu mereka yang begitu indah. Lalu mengapa Mala hanya mengingat pahitnya saja. Tidak adakah sepenggal cinta untuknya, untuk mengisi ruang kosong yang kini sedang dialami wanita itu.
Chandra sudah berusaha mencoba menguatkan hatinya. Bahkan pria itu rela menjadi single hingga tahun hanya untuk dapat merebut kembali cintanya yang hilang.
__ADS_1
"Apakah kau tidak menyadarinya..? Bahwa aku masih mencintaimu, sama seperti dahulu.." Chandra berguman lirih dalam hatinya.
Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk meluluhkan hati wanita pujaannya. Ia sudah kehabisan akal untuk terus merayu wanitanya.