
Hari yang ditetapkan telah tiba. Akhirnya Hadi dan Shinta telah mengucapkan janji setia dihadapan saksi.
resepsi yang diadakan cukup sangat meriah. Hadi dan Shinta terlihat sangat bahagia. Keduanya tidak menyangka akan dipertemukan dengan cara yang tak biasa.
Shinta tampil dengan sangat anggun dan mempesona dengan balutan baju pengantin nan mewah dan megah. Lalu bersanding dengan Hadi yang tampan. Mereka tampak sangat serasi.
Mala, memutuskan untuk tetap menggunakan cadarnya. Ia tidak ingin Chandra terus memperhatikannya. Ia tidak ingin pria itu menjadi de javu karenanya.
Roni yang duduk bersanding disisi Mala, tampak sangat bahagia. Ia tidak menyangka akan menjadi kakek nantinya. Namun Ia belum juga dapat menemukan ingatannya tentang siapa Chandra.
Chandra yang tampak gelisah dengan hatinya. Ia tidak mampu untuk tidak memandang pada wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
"aku sudah berusaha melupaknmu.. Melupakan tentang semua. Namun mengapa kita harus dipertemukan dalam satu ikatan hubungan keluarga." Chandra merasa hatinya nelangsa. Sesekali Ia meirik pada Mala yang berusaha menyambut para tamu undangan. Tampak Ia begitu sumringah, itu terlihat dari setiap gerakan matanya.
Diantara mereka yang berbahagia, ada seseorang yang tampak tidak begitu bersemangat.
Satria tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Dibalik kebahagiaan yang dirasakanannya ada sekelumit hati yang terluka. Ia memandangi Mala dari kejauhan. "aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak rela dengan semuanya." Satria berguman lirih.
Sesaat Ia sedang larut dalam kekacauan hatinya. Tiba-tiba Ia melihat sesosok makhluk yang juga ikut serta dalam resepsi pernikahan itu. semua orang tidak menyadari kehadirannya. Namun Satria dengan sangat jelas melihat makhluk itu berjalan melayang menghampiri Shinta.
"apa yang diinginkannya.? mengapa Ia mengikuti Shinta..? Sepertinya Ia memiliki niat yang tidak baik."Satria berguman dalam hatinya.
Satria mendekati panggung pelaminan. Matanya tajam menatap makhluk itu. Namun bukannya takut, makhluk itu sengaja membulatkan matanya, lalu dengan sengaja balik menatapnya.
"Siaaall.. Apa yang harus aku lakukan? Gak banget deh. Ini tempat ramai, masa iya aku perang ma dia." gerutu Satria dengan kesal. Satria melihat sepertinya makhluk menyeramkan yang tak lain adalah Nini Maru ingin memasuki rahim Shinta.
"hemmm.. Aku ada ide.." ucap Satria sumringah.
Satria mencoba berpura-pura ingin berfoto kepada pengantin dan memilih berdiri disampaing Shinta. Ia meminta Mala, Roni dan juga Chandra ikut berfoto bersama untuk kenangan keluarga.
Makhluk itu merasa curiga dengan gerak-gerik yang dilakukan Satria. Belum sempat Satria mencekalnya, Makhluk itu sudah terlebih dahulu menghilang. "dasar makhluk kampreet.. Awas kau.!!" gerutu Satria yang melihat Nini Maru melayang keluar Aula dan berdiri diambang pintu Aula.
Saat fotogrhafer memberikan arahan untuk bergaya, Satria malah memandangi Nini Maru yang tampak seperti sengaja didepan pintu. para tamu melewatinya tanpa mengetahuinya.
"siiiip.. Sudah..!!" ucap Fotogrhafer, sembari memberikan jempolnya.
Satria turun dari pelaminan. Lalu berjalan cepat ingin mengejar Nini Maru yang tampak sengaja mempermainkannya. Namun langkahnya terhenti, saat melihat sepasang suami istri paruh baya yang tampak bergaya dengan sangat elegan.
Satria memperhatikannya dengan seksama. Pasangan itu berjalan menuju arah pelaminan. Chandra tampak senang dengan kehadiran keduanya. Namun sesaat raut wajahnya tampak berubah.
"bagaimana jika mama tau kalau aku berbesan dengan Mala..? Bisa kacau nanti pesta ini." Chandra berguman dalam hatinya. Ia juga dapat melihat dari sorot mata Mala yang tampak gelisah.
Mala masih sangat jelas mengingat wanita itu. Wanita yang pernah menolaknya dan menepiskannya. Namun Ia berharap, jika Ibunda Chandra tidak mengenalinya.
Tampak Lili dan pria itu berjalan menghampiri Chandra. Mereka berpelukan satu sama lain. Lalu memberiakn ucapan selamat kepada Shinta cucunya dan Hadi.
Saat akan menyapa Mala, sang fotogrhafer meminta untuk melakukan sesi berfoto, sehingga menghalangi perkenalan Mala dan Lili.
Setelah melakukan sesi foto, akhirnya Lili menjabat tangan Mala dan pandangan mereka beradu. Namun Lili tidak mengetahui siapa wajah dibalik cadar itu. Saat berjabat tangan dengan Roni, Ia merasa seperti sudah tidak asing dengan wajah itu. Namun saat ini bukan waktunya untuk mengulik hal yang dianggapnya tidak penting.
Satria meninggalkan lokasi resepsi. Ia ingin mencari tau dimana keberadaan Nini Maru. Ia memastikan jika makhluk itu memimiliki niat yang sangat buruk. Namun sepertinya makhluk itu telah memilih untuk menghindarinya.
"apa sebenarnya yang telah direncanakan oleh makhluk itu.? Mengapa Ia mendekati Shinta..? Awas saja jika Ia berbuat hal yang mencelakakan Shinta, akan aku binasakan dia." geram Satria, sembari mengepalkan tinjunya.
"mungkin sebaiknya aku mempelajari ajian 'Segoro Geni' yang ditawarkan oleh Khadam Chakra Mahkhota.." Satria berguman lirih dalam hatinya.
Ajian Segoro Geni adalah satu ilmu kanuragan tingkat tinggi yang dimiliki oleh pencak silat kejawen kuno.
Menurut primbon jawa, ilmu kanuragan ini termasuk yang tua di ranah persilatan.
Bila diartikan adalah "Segoro (Lautan) dan Geni (Api)" jadi pengartiannya adalah "Lautan Berapi" kalian bisakan membayangan dimana harusnya laut berisi air dan ini adalah Api yang membara.
Konon ilmu kanuragan ini mampu melawan makhluk ghaib yang nakal dan ganas. Karena ajian ini mengandung hawa panas yang amat sangat, dimana makhluk ghaib itu asalnya ialah api dan dikalahkan dengan Api pula. Seperti layaknya kita manusia, diciptakan yang berasal dari tanah, lalu dikembalikan ke tanah.
Sekian informasinya tentang ilmu kanuragan 'Segoro Geni' yang didapat dari berbagai sumber yang terpercaya. Jika ada yang masih salah, silahkan dikoreksi. Karena Authornya hanyalah seorang amatiran belaka.
---------♡♡♡♡♡-------
Satria kembali kerumah dengan cepat. Ada sesuatu yang harus diselesaikannya sebelum semuanya terlambat.
"Maafkan kakak Hadi. Mungkin ini terlalu egois, tetapi kakak harus melakukannya." Satria berguman lirih. Lalu Ia menelefon seseorang.
"Baiklah.. Selesaikan semuanya dengan benar. nanti kabari saya lagi jika semuanya sudah beres.!" perintah Satria dengan tegas, sembari menutup telefonnya.
Satria duduk ditepian ranjang, Matanya menerawang jauh. "aku akan wisuda minggu depan, aku harus dapat menahan Ibu untuk kembali kekampung sebelum dapat menghadiri wisudaku." Satria menatap dinding kamarnya dengan tatapan kosong.
sayup-sayup Satria mendengar suara senandung cinta dikejauhan. Seolah-olah memanggilnya dan menuntunnya untuk datang.
"suara itu.. Mengapa begitu menyentuh hatiku..? Mengapa aku merasa begitu terikat dengannya..?" Satria berguman lirih.
__ADS_1
-----------♡♡♡-------
Acara resepsi telah usai. Hadi dan Shinta memasuki kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh pihak WO.
Suasana kamar ditata khusus dengan kesan romantis. Kelopak mawar merah ikut menjadi saksi perjalanan cinta dua insan yang sedang dimabuk asmara.
Keduanya tampak malu-malu. Shinta mulai menghapus sisa riasan wajahnya yang tampak tebal. Foundation itu begitu menghalangi pori-pori wajahnya untuk bernafas. Ia mengambil kapas pembersih dan menyemprotkan toner untuk membersihkan dari sisa make up wajahnya.
Hadi yang melihat hal itu merasa sangat terganggu. Ia tidak tahan harus menunggu lama apa yang dilakukan oleh Shinta.
Ia menghampiri wanita yang kini telah sah menjadi istrinya tersebut.
Hadi memeluk pinggang ramping Shinta, memberikan kecupan lembut pada leher jenjang wanita itu. "kamu sangat cantik malam ini sayang" bisik Hadi ditelinga Shinta, yang membuat sekujur tubuh wanita itu meremang.
Shinta merasakan jika Hadi sangat begitu memanjakannya dan memuliakannya sebagai seorang istri sekaligus wanita.
"sabar sayang, aku bersihkan wajahku dulu, make up ini sungguh mengangguku.."
"tapi kamu lebih mengangguku.." bisik Hadi.
Tanpa persetujuan dari Shinta, Ia membopong tubuh ramping itu keatas ranjang. Ia begitu terlihat sangat berhasrat. Mereka melakukan percumbuan dimalam nan syahdu..
Sesosok makhluk menyeramkan ikut mengintai disudut kamar yang kini menjadi tempat cumbu rayu dua insan tersebut. Makhluk itu ingin ikut bersama dengan permainan yang syahdu. Namun seketika Ia terpental jauh, karena Hadi terlebih dahulu membaca doa sebelum berjima'.
Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami."
Tujuan doa ini supaya Allah memberikan rezeki berupa keturunan dari hubungan suami istri. Serta diharapkan anak keturunan bisa dijauhkan dari setan dan terhindar dari hal-hal buruk.
Nini Maru merasa sangat kesal. Ia ingin ikut didalam permainan itu, karena Ia ingin menjadikan anak tersebut tumbal selanjutnya.
"sial..!! Kirain karena buru-buru dia lupa berdoa.." gerutu Nini Maru dengan kesal.
Malam ini Ia gagal untuk menjadi perusak. Lalu Ia memilih pergi, dan mencari kesempatan saat mereka khilaf.
-----------♡♡♡♡-------
Pagi ini Mala sedang berada didapur. Ia tengah membuat sarapan.
Satria turun dari kamarnya. Ia mencium aroma masakan dari dapur. Aku kenal wangi aroma itu, sepertinya ibu membuat ayam goreng kalasan.
"heeeem.. Harum banget bu masakannya.?" ucap Satria ketika sudah berada didekat Mala.
"eh.. Kamu sudah bangun sayang? Iya ne.. Sudah lama ibu gak masak ayam goreng kalasan, ini resep dari nenekmu." ungkap Mala sembari terus membolak balik gorengannya.
Satria berdiri di menyandar di pintu lemari pendingin. tangannya sedang bersedekap sembari memandangi wajah Mala yang sedang memasak.
"Bu.." ucap Satria ragu..
"Ya.." jawab Mala, sembari mengangkat ayam goreng dan meniriskannya.
"Ibu jangan pulang dulu ya..? Tunggu Satria wisuda, minggu depan acaranya. Ibu dan Ayah harus mendampingi Satria." pintanya lirih.
Mala meletakkan ayam goreng dan lalapan diatas meja makan. Lalu menoleh kepada Satria. "baiklah.. Ibu akan tunggu, dan ibu juga ingin melihat kamu wisuda." jawab Mala dengan senyum tulusnya.
Satria terperangah tak percaya. "benarkah.? Makasih bu..." ucap Satria sembari memeluk Mala.
"Iya sayang.. Mana mungkin ibu mengabaikanmu.." jawab Mala.
Roni keluar dari kamarnya. Lalu menghampiri meja makan.
"Bu.. Tadi abang dapat telefon dari mandor untuk meminta bantuan dari abang. Mereka kesulitan mencari pengganti abang." ucap Roni, sembari menarik kursi kosongnya. Matanya tampak sayu, karena mengantuk.
"sudahlah bang, jangan abang fikirin dulu, yang penting kesehatan abang dijaga." ucap Mala sembari duduk disisi Roni, dan Satria mengikuti duduk disisi Mala.
"tapi abang sehat koq dik.. Siapa bilang abang sakit? Abang masih kuat bekerja." jawab Roni percaya diri.
"ta...pi.." Mala tidak melanjutkan ucapannya, karena Satria menahan ibunya dengan menggenggam tangan Mala.
Satria mengerjapkan kedua matanya, meminta ibunya tidak untuk melanjutkan persebatan.
Roni memakann sarapannya. Setelah menghabiskannya, Ia pergi kekamar untuk tidur.
setelah Roni menghilang, Satria memandang Mala. " Bu.. Harap ibu bersabar menghadapi Ayah. Kondisinya belum begitu stabil. Kita harus menuruti saja apa yang menjadi keinginannya, agar Ayah tidak kefikiran. Karena jika Ia terlalu banyak berfikir, maka akan dapat mempengaruhi psikologisnya dan akan berdampak buruk bagi kesehatannya." Satria mencoba menjelaskan.
"maksud kamu apa Nak.?" Tanya Mala dengan perasaan bingung.
"sewaktu dikampung, ayah hampir mengalami gejala skizoprenia, dan orang yang pernah mengidapnya tidak dapat sembuh total dalam sekejab bu. Dan jikapun sembuh, maka tidak dapat 100% total. Maka kita harus tetap menjaga ke stabilan emosinya." Satria mencoba memberikan pengertian kepada Mala.
__ADS_1
Malah tercengang. Ia membulatkan matanya. Ia tak percaya jika harus mengalami hal ini.
"Bagaimana mungkin ini terjadi" Mala tampak bingung. Ia tidak mengira jika penyakit yang diderita Roni ternyata berdampak serius.
"Bu.." ucap Satria membuyarkan lamunan Mala.
"i..iya.." jawab Mala terbata.
"apakah sebelumnya ayah mengalami suatu peristiwa dahsyat? Sehingga membuatnya begitu terguncang.?" tanya Satria penuh selidik.
"emmm.. Ibu tidak tahu.." jawab Mala berbohong, sembari membereskan sisa sarapan mereka.
Ia meletakkan piring kotornya diwashtafel, mencoba menghindari pertanyaan Satria.
"mana mungkin aku menceritakan pembunuhan Reza kepada Satria, dan sebab itulah yang membuat bang Roni mulai berhalusinasi." Mala berguman lirih dalam hatinya.
-----------♡♡♡♡------
Seminggu kemudian...
Hari wisuda telah tiba.. Satria mendapatkan gelar Dokter Sp.PD.
Hari ini semua tampak bergembira. Hadi dan Shinta juga ikut menghadiri Wisuda Satria.
Seluruh orang tua mersakan kebahagiaan yang teramat sangat. Apalagi bagi Mala, dimana Satria mendapakan IPK 4.00 dengan nilai tertinggi.
disamping memberikan ucapan selamat kepada Satria, teman-teman kuliah juga mengucapakan selamat kepada Shinta dan Hadi yang kini sudah menikah. Mereka tidak menyangka jika orang yang pendiam itu bisa lebih dulu menikah. Kini keduanya bagaikan perangko yang selalu lengket.
-----------♡♡♡♡--
Hadi dan Shinta ikut ke kediaman Satria. Mereka sedang melakukan syukuran kecil-kecilan dengan makan bersama.
Saat sedang asyik menikmati makanan, Satria tiba-tiba ingin mengungkapkan sebuah permintaan yang tak pernah diduga oleh semuanya.
"karena semuanya sedang berkumpul, aku ingin memberikan sebuah berita. Jika aku akan ikut ibu pulang kekampung.." ucap Satria sembari menatap Mala.
"a..apa..? Lalu bagaimana rumah kakak dengan perusahaan yang kakak yang sedang kakak jalankan." tanya Hadi tak percaya.
Mala juga sangat terkejut dengan keputusan yang dibuat Satria.
Satria menatap semuanya dengan tatapan sayu.
"Hadi, kuliah kamu juga belum selesai, maka lebih baik kamu tinggal disini saja sembari menyelesaikan kuliahmu. Masalah tawaran jabatan di puskesmas yang dikampung sudah kakak ambil alih. setelah pulang kekampung, kakak akan menduduki jabatan itu sebagai pengganti bidan Sri." ucap Satria dengan datar.
"apa maksud kakak sebenarnya.?" tanya Hadi heran.
"sebenarnya kamu bekerja diperusahaan kakak, dan semuanya sesuai sekenario dari kakak. Saham perusahaan akan kakak berikan kepada kamu sebesar 50%, dan kamu lebih layak dan berpotensi untuk mengelolanya." ucap Satria dengan menatap Hadi penuh permohonan.
"ta..tapi kak.." ucap Hadi bergetar.
"ijinkan kakak merawat ibu, bukankah kamu sudah puas diasuhnya sampai seusia ini.? Maka berikan kakak kesempatan untuk merasakan kasih sayangnya" pinta Satria dengan menghiba.
Mala tak mampu menahan air matanya. "maafkan.. Maafkan ibu.. Jika ternyata kepulangan ibu kekampung halaman membuatmu merasa terabaikan, tetapi ibu tidak punya pilihan." ucapnya dengan isakan yang tak mampu lagi Ia cegah.
Satria menatap Mala dengan sayu. "ijinkan aku merawatmu bu, juga dengan ayah. Penyakit ayah perku pengawasan, karena sewaktu-waktu akan kambuh." pinta Satria dengan memohon.
Mala tak mampu lagi mengungkapkan perasaannya. Ia memeluk Satria dengan penuh cinta kasih seorang ibu.
Satria mengendurkan pelukannya, lalu mengambil surat perjanjian dan penyerahan saham untuk ditandatangani oleh Hadi.
"tanda tangani disini.." ucap satri sembari menunjukkan berkas mana yang harus ditanda tangani oleh Hadi.
"Ta..tapi kak.." ucap Hadi bergetar.
"tenanglah.. Kakak tidak merampas ibu darimu, lagipula kamu belum menyelesaikan kuliahmu, tidak mungkin kamu berulang dari kampung kemari. Bukankah begitu Shinta.?"
Shinta yang disebut namanya menjadi kebingungan. Ia tidak ingin terlibat didalam permasalahan keluarga mereka.
Shinta hanya terbengong mendengar ucapan Satria.
"coba saja kamu bayangkan. Shinta adalah gadis kota, biasa tinggal dikeramaian, dan tentunya Ia tidak ingin jauh dari papanya. Benarkah Shinta.?" Ucap Satria mulai memprovokasi Shinta.
"Haa..?" Shinta bertambang bingung. Namjn tatapan Satria mengisyratkan agar Shinta membantunya merayu Hadi.
"emm.. Em..iya sayang.. mungkin kita harus mendengarkan saran dari kak Satria demi kebaikan kita bersama." ucap Shinta yang tidak ingin menatap tatapan Satria yang penuh dengan intimidasi.
akhiranya dengan segala bujuk rayu Shinta, Hadi menyetujuinya. Lalu menandatangani surat perjanjian tersebut.
Satria tersenyum sumringah. "maafin kakak Hadi, jika kakak bersikap egois. Tetapi kakak juga ingin merasakan cinta ibu.." gumannya lirih dalam hati.
__ADS_1