Kuntilanak Pemakan Janin

Kuntilanak Pemakan Janin
Wasiat


__ADS_3

Satria menatap pria sepuh itu dengan begitu seksama.


"Siapakah engkau..? Mengapa membawaku kemari..?" tanya Satria dengan penuh penasaran.


Pria itu menatapnya dengan penuh cinta kasih..


"Perkenalkan.. Aku Khadam syekh Maulana.. Aku membawamu kemari untuk menyampaikan wasiat yang sudah lama terkubur dan belum tersampaikan."jawab Khadam syekh Maulana.


"Siapa Syekh Maulana..?" tanya Satria masih bingung.


"Syekh Maulana adalah almarhum kakekmu dari sebelah ayahmu Roni. Ia mengutusku untuk mendampingimu, garis keturunan yang terpilih." jawab Khadam syekh Maulana.


"Berarti kakekku..?" Tanya Satri memperjelas pertanyaannya.


"Ya.. Kakekmu.." jawabnya singkat.


Satria menganggukkan kepalanya dengan penuh seksama.


"Jika kakekku seorang Syekh, lalu mengapa Ayahku mengalami depresi..? Hal apa yang membuatnya begitu sangat terpukul?" tanya Satria dengan penuh selidik.


Khadam tersebut menatap dengan begitu sendu dan tenang. " Ayahmu melakukan salah satu dosa besar dengan menghilangkan nyawa seseorang, lalu hal tersebut menjadi bahan pemikirannya yang tak mampu Ia kendalikan." jawab Khadam tersebut.


"Apakah masih bisa disembuhkan.?" tanya Satria penuh harap. Karena jika menurut medis, hal itu tidaklah mungkin terjadi.


Khadam itu hanya menatap dengan senyum teduhnya. "Kembalikan saja semuanya kepada kehendak sang Khalik.. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha.." jawab Khadam itu yang membuat Satria semakin penasaran.


Khadam itu mengetahui rasa penasaran Satria yang begitu besar, namun semuanya hanya akan menjadi misteri yang harus diselesaikannya.


"Mendekatlah.. Aku akan memberikanmu sebuah wasiat. Kau harus mengemban tugas untuk mengalahkan dan memusnakan jin Syetan yang menjadi peliharaan Besan Syekh Maulana yang merupakan Ayah dari Ibumu, Mala." ucap Khadam itu dengan lembut.


Satria menuruti apa yang sedang diucapkan oleh Khadam itu. Ia mendekati Pria itu, duduk bersila, dan lutut mereka merapat.


Kahadam itu memberikan sebuah tasbih uang terbuat dari batu giok.


Setiap butir tasbih yang berjumlah 99 butir itu tertulis 'Asmahul husna, Allah' .


Tasbih itu begitu indah berkilau. Membuatnya sangat begitu menentramkan.


Sebelum Satria berhenti mengagumi keindahan tasbih itu, Khadam Syekh Maulana menekan kening Satria, lalu sebuah cahaya putih berkilau melesak masuk kedalam tubuhnya.


Satria merasa bergetar, tubuhnya seolah-olah seperti mendapat lkan sebuah energi yang sangat besar.

__ADS_1


Satria merasakan aliran darahnya terasa sangat sejuk, merasuk ke qalbu..


Satria memejamkan matanya, mencoba meresapi segala apa yang dirasakannya saat ini.


Setelah semuanya begitu terasa damai, maka, Khadam itu menepuknya.


"Sadarlah.. Masih ada lagi yang harus aku tunjukkan padamu." ucap sang khadam, yang membuat Satria tersentak.


Khadam itu mengulurkan tangannya kepada Satria. Lalu Satria meraihnya. " Marilah ikuti aku.."titah sang khadam.


Lalu mereka melakukan perjalanan ghaib yang sama seperti saat Ia mencapai kemurnian dahulu. Namun berbedanya, Ia melakukan perjalanan menuju sebuah hutan.


Dihutan itu Satria disuguhi pemandangan yang biasa-biasa saja. Pohon-pohon besar dan semak belukar.


Sampai saat tiba Ia melihat sebuah goa yang dulu pernah Ia masuki saat pencapaian kemurnian. Didalam goa itu, Ia melihat seorang gadis cantik yang sangat rupawan. Gadis itu sedang berbaring ditepian ranjang yang terbuat dari pahatan batuan cadas.


"Siapa gadis cantik itu, wahai Khadam..?" Satria bertanya dengan wajah penuh penasaran.


Khadam itu hanya menatap sendu.."Ada masanya nanti kau akan mengenalinya, dan saat itu kau akan mengetahui siapa dia.." Jawab sang Khadam, sembari tersenyum simpul.


"Tetapi aku sering melihatnya dalam khayalku.. Dan terkadang hatiku bergetar saat melihatnya sekilas.." ujar Satria berusaha jujur.


Satria hanya mengangguk, dan sembari memandangi wajah cantik sang gadis yang kini sedang memandang langit-langit goa.


lalu Khadam itu membawa Satria berjalan menuju lorong goa yang sangat gelap dan peengap. Disana ada delapan kerangkeng besi yang tampak kokoh.


Didalamnya ada 6 orang yang sudah dewasa. Sepertinya mereka lebih tua dari Satria.


"Lihatlah ke enam jiwa itu, mereka membutuhkanmu, mereka meminta untuk dibebaskan.. Dan kau harus membebaskannya.." ucap Sang Khadam memberikan penjelasan.


"Bagaimana caraku untuk membebaskan mereka..? Tanya Satria, sembari memandangi ke enam jiwa yang masih terkungkung dalam kerangkeng besi ghaib.


"Aku akan memberitahunya setelah kita pulang dari perjalanan ini." Ucap Sang Khadam.


Satria hanya menngguk mematuhi ucpan Khadam itu.


"Lalu, bagaimana dengan Jiwa pria berkaki palsu itu..?" tanya Satria penasaran.


Khadam itu menatap Satria dengan tatapan tenang.


"Dia adalah penyebab Ayahmu menjadi seorang pembunuh, dan Dia juga orang yang hampir menodai Ibumu, dan Dia juga yang telah membuat keenam niwa saudaramu terkurung didalam kerangkeng besi itu.. Lalu, semua keputusan ada padamu, apakah kau akan ikut membebaskannya, atau membiarkannya tetap berada disana selamanya.. Dan terus menjadi pengabdi Setan yang abadi.." ucap Sang Khadam menjelaskan.

__ADS_1


Satria mendengarkan penjelasan Khadam itu dengan seksama. Ia menatap jiwa pria yang berada alam kerangkeng tersebut. "Sungguh keji dan biadab perbuatan jiwa manusia itu selama hidupnya.. Bahkan sudah matipun masih saja merepotkan..!" Satria berguman lirih.


"Semua keputusan ada pada dirimu..!" ucap


Lalu Khadam itu mengajak kembali Satria kedalam ruangan Altarnya.


Mereka kembali duduk bersila, dan saling berhadapan.


Kahadam itu memejamkan matanya, mengangkat kedua tangannya dan direntangkan kedepan, meminta Satria untuk merentangkan juga kedua tangannya dan menyatu dengan telapak tangannya.


Saat telapak tangan mereka beradu, Satria kembali merasakan sebuah energi hangat merasuk kedalam tubuhnya.


Satria tampak berkeringat, Ia begitu amat meresapi energi tersebut, tubuh Satria bertambah menjadi prima.


Khadam itu menghentikan kegiatan mereka. Lalu kembali meletakkan kedua tangan diatas lutut dengan gerakan seperti Yoga.


Lalu Khadam itu membuka matanya, menatap Satria yang Kini Juga sedang menatapnya.


"Kamu harus dapat menghancurkan makhluk jin ifrit tersebut.." ucap Sang Khadam.


Satria mengernyitkan keningnya. "Siapa..?" tanya Satria penasaran.


"Nini Maru..! Namun Kamu harus dapat mengetahui caranya. Ada sebuah ajian yang yang dapat menghancurkannya, dan kamu harus dapat mempelajarinya." Ucap Khadam itu memberi penjelasan.


"Ajian apa itu Wahai Khadam..?" tanya Satria dengan penasaran..


"Ajian Segoro Geni.. Ajian ini mampu membinasakan makhluk halus." jawab sang Khadam.


Satria menatap penasaran.." Apakah mudah menggunakannya..?" tanya Satria.


"Kamu harus melewati serangkaian proses dan tahapan-tahapan yang harus kamu lalui.." jawab Khadam tersebut.


Khadam itu menatap tenang kepada Satria. Lalu kembali menjelaskan cara mendapatkan ajian 'Segoro geni'.


"Kamu harus bertirakat disebuah tempat sunyi yang tidak terjangkau oleh manusia. Kamu harus benar-benar menenangkan diri dari hiruk pikuk dunia.. Apakah kamu sanggup.?" tanya Khadam itu dengan selidik.


"Tetapi bagaimana dengan pekerjaan saya.? Saya sedang menjabat kepala puskesmas, dimana jabatan saya sangat berguna bagi khalayak ramai. Dan ada cita-cita yang belum sempat saya tunaikan.. Berikan saya waktu untuk mengambil keputusan ini.." jawab Satria dengan sangat hati-hati.


Khadam itu menatap Satria dengan tatapan dingin.. Sedingin salju..


.

__ADS_1


__ADS_2