
Roni berjalan sembari memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. Ia berjalan menenteng plastik kresek yang berisi obat dari bidan Sri.
sepanjang perjalanan, Ia memikirkan bagaimana caranya Ia agar dapat mengetahui siapa yang melakukan pemukulan kepadanya. Ia berspekulasi bahwa orang tersebut pastilah orang yang sama dengan yang mengintai rumahnya serta yang bercinta dengan bidan Sri..tapi siapa pelakunya masih Ia cari petunjuknya.
saat melintasi warung pak Joko, Roni singgah diwarung itu, Ia memesan lem pipa untuk menyambung pipa yang pecah.
sesampainya dirumah, malah menyambutnya dengan kekhawatiran. "ya Allah bang.. abang kemana saja..? masa benerin pipa sampai menghillang. adik tadi cariin abang kebelakang, tapi gak ketemu." ucap Mala panjang lebar.
Roni hanya tersenyum getir. "ini apaan bang..?"ucap Mala menunjuk kantong kresek yang dibawa dibawa suaminya.
"obat dik.."ucap Roni dengan memaksakan senyum.
"abang sakit..?" ucap Mala..? Ia begitu sangat khawatir terhadapa suaminya. hati Roni seperti tersayat dengan perhatian Mala. Ia tidak tau harus apa, apakah benci atau cinta. Ia benci dengan janin yang dikandungan Mala. Namun Ia juga cinta kepadanya, karena Mala juga tidak tahu apa yang dialaminya.
"tadi abang terjatuh saat ingin benerin pipa, trus kepentok batu, jadi kepala abang robek dikit. tapi sudah dijahit bidan Sri" ucap Roni berbohong.
Mala membulatkan matanya tak mengerti."abang jatuh dan terluka..? coba Mala liat..?" ucap Mala penasaran sekaligus khawatir. Ia mendekati Roni dan melihat kepala bagian belakang suaminya yang robek. ada perban kain kasa yang menutupi luka itu.
Mala memegangnya dengan lembut.."hati-hatilah saat bekerja bang..buat Mala khawatir saja. lalu memeluk Roni dengan Manja.
Roni menghela nafas beratnya. entah perasaan apa sekarang yang sedang dialaminya. "abang benerin pipanya dulu ya dik.. ucap Roni. Mala melepaskan pelukannya.
Mala merasakan ada perubahan dari sikap Roni kepadanya. selama ini Roni selalu bersikap manis, namun.seminggu ini, Ia lebih banyak diam. bahkan sudah seminggu lamanya Roni tidak menyentuhnya.
Mala memandang tubuh suaminya yang berjalan kearah pintu belakang dapur.
Mala mengikutinya, Ia melihat suaminya sedang berjongkok didekat pipa. "dik..tolong ambilkan gergaji besi sekalian dengan pipa bekas yang ada dikolong meja dapur." Mala mengangnguk mengerti.
setelah menemukan apa yang dicari, Ia menyerahkannya kepada Roni.
Roni meraihnya, lalu Ia mulai memyatukan pipa. setelah selesai Ia memandang pohon mangga yang ada diperbatasan tanah miliknya.
__ADS_1
"aku akan menebangnya esok hari, agar sipengintai tak dapat lagi memantau kondisi rumahku.." ucap Roni dalam hati.
****
Jatah cuti Roni masih ada dua hari lagi. namun Ia berangkat kegudang hari ini. Ia meminta ijin kepada bosnya untuk meminta kursi roda yang tersimpan dikantor disamping gudang.
sebelumnya Ia membayar hutangnya ke warung pak Joko saat membeli lem semalam. lalu menuju ketempat ptaktek bidan Sri.
Roni memasuki Ruang praktek bidan Sri, Ia menepati janjinya untuk membayar hutangnya kemarin. Ia melihat bidan Sri sepertinya habis keramas pagi ini. lalu Ia melirik dua ikat uang yang masih tersegel dengan nama sebuah bank. namun Roni berusaha untuk cuek.
"ini hutang saya semalam ya bu bidan.." ucap Roni sembari menyerahkan sejumlah uang kepada bidan Sri.
"iya bang.. makasih ya.."ucap Bidan Sri. Ia tampak bahagia sepertinya pagi ini.
"ya sudah saya permisi dulu.."ucap Roni..lalu beranjak pergi. Ia menuju gudang.
Roni telah sampai kantor berada sebalik dinding dengan gudang. Ia membukanya lalu mengambil kursi Roda. setelah itu mengunci kembali pintu gudanng kembali kerumah.
sesampainya dirumah, Ia mengangkat tubuh lumpuh bapak mertuanya keatas kursi roda, menjemurnya sebentar. lalu meminta mbah Karso bertumpu pada kaki kanan, tangan kanan memegang pegangan bagian sandaran kursi roda.
Mala memandang dengan perasaan senang..Ia merasa sangat beruntung Roni menjadi suaminya.
Mala melanjutkan aktifitas didapurnya. sesaat terlihat Roni sedang menelefon seseorang. yaitu seorang penebang kayu yang menggunakan mesin sinso..
Roni membawa kembali mertuanyankedalam kamar menggunakan kursi Roda, sedikit ada kemajuan, kaki kiri mbah Karso mulai sedikit bisa digerakkan dengang tertatih.
dengan memakan waktu yang lama, akhirnya Mbah Karso sampai di dalam kamar. Roni mengangkat tubuh renta itu dan membaringkannya diranjang.
Mbok Darmi menyusul kekamar, untuk menyuapi bubur kepada suaminya.
****
__ADS_1
seorang penebang kayu sudah datang, Ia sudah bersiap akan menebang pohon mangga itu.
"kenapa ditebang pohon mangganya bang..?" ucap Mala bingung..
"emmm..pohon Manganya terlalu tinghi dan rimbun, jadi terkesan sangat gelap" ucap Roni berbohong.
"ooooo...begitu.."ucap Mala sembari mangut-mangut..
Si penebang kayu telah menyalakan mesinnya, lalu memulai untuk menebang. saat piasu pemotong menyentuh kulit kayu pohon mangga, rantai pisau itu putus.
penebang pohon merasakan bahwa pohon itu seperti besi, bukan sebuah kulit kayu.
Ia memperbaikinya, lalu memulai lagi untuk memotong, dan kejadian serupa terulang. akhirnya si penebang kayu menyerah.
Hamdan yang kebetulan datang untuk melakukan therapi kepada mbah Karso melihat kejadian itu tanpa sengaja. Ia memandang pohon Mangga itu dengan teliti. terlihat ada beberapa makhluk yang menjadikan pohon mangga itu rumahnya. mereka sangat marah.
Hamdan mendekati pohon mangga. Ia memejamkan matanya lalu membaca suratu fatiha, iya khususkan kepada makhluk yang ada disitu "pergilah..cari tempat tinggalmu yang lakn. karena pemilik pohon ini akan menebangnya. dan terimalah hadiah suratul fatiha ini dari saya." setelah membaca suratu fatiha, Hamdan membuka kembali matanyaa.
Ia menghampiri si penebang. agar memotong pohon kayu dengan menggunakan kalimat ta'awudz "a'udzubillahiminassyaithanniraazim..".
lalu sipenebang mengikuti saran yang diberikan oleh Hamdan. Ia menghidupkan kembali mesin pemotong kayunya. lalu dengan mengucapkan Ta'awudz dan dwngan ijin Allah, dia berhasil menebang pohon mangga tersebut.
"terimakasih ya bang Hamdan, berkat pertolongan abang pohonnya bisa ditumbang." ucap Roni tulus kepada Hamdan.
"berterimakasihlah pada Dia yang telah meridhai segala usaha kita."ucap Hamdan kepada Roni.
Roni mengangguk mengerti.
"saya kedalam dulu, untuk melakukan therapi keoad mbah Karso. dan jika abang berkenan, bisakah abang Roni ikut saya juga kedalam. ada jal yang sangat ingin saya katakan." ucap Hamdan penuh harap.
Roni menganggukan kepalanya tanda setuju. "mari bang kita masuk kedalam rumah." ucap Roni, sembari beranjak masuk kedalam rumah, dan diikuti oleh Hamdan. mereka berjalan dengan beriringan.
__ADS_1
mereka berjalan sembari berbincang ringan, hingga akhirnya sampai didalam rumah. lalu memasuki kamar mbah karso yang akan melakukan therapi pijat refleksi.
diluar terdengar suara mesin pemotong kayu yang meraung-raung memekakkan telinga.